
Saat ini El sudah berhadapan langsung dengan Tommy, Orang yang seumur hidupnya selalu di cari-cari oleh El karena membunuh ibunya serta menjadi penyebab kematian ibu dari Luna.
"Wajah yang benar-benar mirip. Seandainya dulu Bram tidak membuangmu mungkin saat ini kamu sudah berkumpul dengan kedua orangtua mu di neraka!" Ucap Tommy sambil berdecih meremehkan seekor singa jantan yang sedang lapar dan berdiri tepat dihadapannya saat ini.
"Kamu tau kenapa ayahku dengan sengaja membuangku saat itu? Tidak ada alasan lain selain untuk membantaimu sampai tetes darah terakhir, Dan hari yang dinantikan itu tiba." balas El berdiri tegap dihadapan Tommy, Jika ia mau dengan sangat mudah ia bisa menyuruh semua anak buahnya untuk datang dan menyiksa Tommy detik ini juga namun El lebih ingin menyiksa pria yang seumuran demgan ayahnya itu dengan tangannya sendiri.
"Jangan sombong anak muda! Ayahmu dulu bukan seorang pembual handal sepertimu. Bram, Anakmu sangat lancang. harusnya kamu ceritakan padanya tentang persahabatan kita dan harusnya kamu mengajarinya sopan santun pada orang yang lebih tua. Panggil aku paman, Karena aku adalah sahabat ayah mu dulu." Kata Tommy terus mengoceh mempermainkan emosi El.
"Bahkan jika dipanggil binatangpun tidak akan pantas diberikan untuk mu karena binatang masih memiliki hati sedangkan kamu tidak."
***
Sementara itu dirumah sakit Luna mengalami kejang, Dokter yang menanganinya menyarankan untuk segera melakukan operasi sc.
Dara berulang kali menghubungi El namun tidak diangkat, Kenan dan Daniel juga sama. Dara benar-benar bingung, Khawatir dan panik saat ini.
"Bu, Kita harus cepat atau kita akan kehilangan keduanya." Kata Dokter terus memburu makin membuat Dara tertekan.
"Ra, Gimana keadaan Luna?" Tanya Daniel yang baru datang sambil berlari.
"Dan, Kamu disini? Luna kejang dia harus dioperasi saat ini juga tapi aku gak busa ngubungin bang El." Jelas Dara sambil menangis, Daniel memeluk tubuh Dara sebelum ia mendatangi Dokter yang menangangi Luna.
"Tolong temani Zea sebentar, Dia ada di ruang 10. Aku mau ketemu Dokter yang menangani Luna." Kata Daniel melepaskan pelukannya dari Dara.
"Zea? Zea kenapa?" Tanyanya langsung kaget bukan main.
"Zea pingsan, Kata Dokter dia dehidrasi."
"Ya.....Ya udah aku, Aku langsung kesana ya." Daniel mengangguk lalu Dara pergi keruangan Zea dirawat saat ini dan Daniel juga bergegas menemui Dokter yang menangani Luna.
"Dok gimana keadaan Luna saat ini?" Tanya Daniel yang saat ini sedang berada di ruang rawat Luna.
"Pak, Tolong segera hubungi pak El karena ibu Luna sedang kritis."
"Lakukan operasinya sekarang. Saya yang menjadi wali dan bertanggung jawab atas Luna, Saya kakaknya." Kata Daniel, Mendengar hal itu Dokter mengangguk dan langsung menyuruh para perawat untuk menyiapkan operasi. Daniel menghampiri Luna sebelum Luna dibawa masuk keruang operasi.
"El sedang berjuang, Maka kamu juga harus berjuang bersama anak kamu." Kata Daniel sambil menggenggam tangan Luna setelah itu Luna dibawa masuk keruang operasi.
***
Pertarungan antara El dan Tommy benar-benar sengit, Pria itu tua namun tenaganya tidak kalah dengan El.
"Harusnya aku bu*uh saja gadis kecil itu atau wanita hamil yang sedang serat itu untuk menghancurkan mu!" Tambahnya lagi, Mendengar hal itu darah El mendidih ia langdung berlari kearah Tommy dan kembali menghajar pria itu hingga pria itu tidak punya kesempatan untuk melawa dan akhirnya terkulai lemas.
"Bukan karena aku lemah atau tidak sanggup menghabisi mu! Hanya saja seekor singa tidak pernah melawan seekor anjing!" Kata El berdiri meninggalkan Tommy yang tubuhnya bersimbah darah karena El...
Dan saat itu juga Kenan datang dengan beberapa orang polisi yang ia bawa. Kenan berlari menghampiri El ingin mengajak El kembali ke rumah sakit karena saat ini Luna sedang sangat membutuhkannya namun matanya teruju pada tangan Tommy yang mengharahkan senjata apinya tepat kearah El.
"EL!!!!!!" Teriak Kenan dan tebakan itu tepat mengenai sasarannya. Tidak ada pilihan lain untuk para polisi selain juga melepaskan tembakan kearah Tommy dan membuat Tommy mati ditempat membawa dendam yang tidak bisa ia selesaikan.
"Ken, Ken lo denger gue kan? Lo harus bertahan." Kata El menahan tubuh Kenan yang terjatuh. Peluru itu tepat mengenai tubub Kenan saat Kenan mencoba menyelamatkan El.
"Gu....eh Kenan Ab....ner. Dan gu....e pen....uhi jan...ji gue un....tuk bawa lo pul....ang." Katanya tersenyum konyol seperti biasanya lalu ia tidak sadarkan diri. El langsung membawanya pergi kerumah sakit terdekat agar nyawanya bisa segera tertolong.
***
"Mommy, Daddy." Ucap Zea lemas, Perlahan ia membuka mata dan Dara setia menunggunya disana sambil terus menggenggam tangan kecil itu.
"Zea, Sayang kamu sudah sadar nak." Ucap Dara langsung memeluk tubuh kecil Zea yang benar-benar masih lemas.
"Bunda, Daddy dan mommy dimana?" Tanya gadis kecil itu dalam pelukan Dara. Betapa sakit hati Dara ingin menjawab pertanyaan Zea karena saat ini kedua orangtuanya sedang berjuangan hidup dan mati.
"Mommy lagi di operasi karena ade Zea akan lahir dan daddy lagi urus penjahat yang nyulik Zea. Oh iya, Zea gak apa-apakan? Ada yang sakit gak?" Tanya Dara mengalihkan perhatian Zea agar tidak terus-terusan bertanya tentang kedua orangtuanya karena saat ini Dara pun tidak tau keadaan Luna juga El.
"Zea gak apa-apa bunda. Bunda, Boleh Zea liat mommy?" Tanyanya lagi menatap Dara dengan mata sayu membuat Dara tidak bisa jika harus berkata tidak pada gadis kecil itu.
"Sebentar ya bunda panggilin Dokter dulu buat meriksa keadaan Zea, Kalo dokter bolehin pasti bunda ajak Zea nemuin bunda." Zea mengangguk pintar, Menuruti semua ucapan Dara. Dara langsung memanggil Dokter yang bertugas dan tidak lama Dokter itupun datang dan langsung memeriksa keadaan Zea.
"Kondisinya sudah kembali normal namun jika harus melepaskan infusnya saat ini juga ia tetap harus dalam pemantauan karena ia mengalami dehidrasi berat saat baru datang tadi jadi ia harus banyak minum air." Kata Dokter, Dara mengangguk faham dan Dokter itu pergi setelah melepaskan cairan infus ditangan Zea karena Zea terus memaksa ingin melihat Luna.
"Janji sama bunda Zea harus nurut apa kata om Dokter barusan ya." Kata Dara sebelum membawa Zea. Zea mengangguk setuju dengan syarat yang diberikan oleh Dokter tersebut. Lalu Dara menggendong gadis kecilnya itu untuk menyusul Daniel yang menunggu Luna sendirian.
***
"Dok! Tolong, Tolong selamatkan teman saya Dok. Apapun caranya tolong selamatkan teman saya." Kata El saat tiba dirumah sakit.
"Harap tenang pak, Kami akan langsung melakukan operasi pengangkatan peluru dalam tubuh pasien. Dan sepertinya anda juga membutuhkan pengobatan untuk diri anda sendiri." Ucap Dokter yang ingin segera menuju ruang operasi karena Kenan kehilangan banyak darah selama dalam perjalanan. El mengusap wajahnya kasar, Semua kegilaan ini benar-benar membuatnya stres.
Bersambung.....