
Saat ini El dan Daniel sudah berdiri didalam ring tinju bersiap untuk memulai pergulatan antar pria.
"El, Inget kan omongan gue? Awas aja lu kalo bar-bar gue korup duit perusahaan lu 5M." Ancam Daniel saat mereka sudah saling berhadapan.
"Mending sekalian gue bantai aja kalo gitu daripada lo bikin bangkrut perusahaan gue." Sahut El tegas.
"Elaaah ni mulut ngapain pake acara ijin segala coba mau korup. Gini aturannya, Lo boleh mukul gue tapi jangan sekali-kali sentil daerah rawan gue yaitu muka gue karena muka gue sangat berharga. Kedua, Lo boleh mukul tapi gak boleh kuat-kuat apalagi sampai gue bonyok awas aja. Ket....-"
"Lo mending duduk dipojok sana daripada bikin gue khilaf entar." Sahut El mulai kesal dengan tingkah Daniel.
"Gue cuma jaga-jaga doang, Daripada gue koma lagi entar di Rumah Sakit." Jawab Daniel tidak mau kalah.
"Daerah rawan lo muka doang kan? Kalo gitu jangan salahin gue kalo kena daerah rawan lainnya." Ucap El melirik kearah sana, Dengan cepat Daniel menutupi tempat itu dengan kedua tangannya.
"Bazingan! Ini paling rawan bangke! Harga diri gue sebagai pria sejati." Umpat Daniel kesal.
"Kalian mau gelud atau mau ngegosip? Dari tadi nungguin gak mulai-mulai. Keburu abis minuman gue ini nungguin kalian gelud." Tegur Rendy dari pinggir Ring sambil memegangi sekaleng soda dingin.
"Gue lagi wanti-wanti El, Kalo kalah jangan malu apalagi baper. Menang kalah itu hal biasa gak perl....-"
Buuuukkkkkkk
Suara tinjuan El mendarat bebas di perut Daniel membuat Daniel tersentak memegangi perutnya.
"Bang.......Ke!" Ucap Daniel kesakitan sedangkan El hanya mengangkat alisnya melihat sahabatnya menahan sakit.
"Maju." Kata El menunggu Daniel menyerang. Daniel mulai berdiri tegap dan bersiap menyerang El.
***
Walaupun tidak menang melawan El, Tapi setidaknya Daniel juga tidak dibuat babak belur oleh El.
Saat ini giliran El melawan Ken. Dua pria yang memiliki ukuran tubuh hampir sama juga otot-otot yang sama besarnya.
"Ini baru pertandingan asli." Celetuk Rendy antusias menonton membuat Daniel tertohok.
"Boleh gak gue ngomong?" Tanya Daniel melihat kearah Rendy.
"Ngomonglah, Ngapain izin segala." Sahut Rendy tidak melihat kearah lawan bicaranya.
"LO BANGKE." Kata Daniel mengumpat kakak iparnya sendiri, Membuat Rendy langsung melihat kearahnya.
"Lo kenapa?" Tanya Rendy heran.
"Lo gak liat tadi gimana gulat gue sama El huh? Dan bisa-bisanya lo bilang kalo mereka gulat sebenernya. Terus tadi menurut lo gue sama El main petak umpet huh?" Protes Daniel tidak terima dengan ucapan Rendy.
"Lahiya, El gak pake tenaga gitu ngelawan lo." Jawab Rendy tidak mau kalah sama sekali.
"Lo iparnya siapa sih emang? Gue apa El?"
"Halah ngambek. Dah sini gue sayang-sayang, biar gak cemburu lagi."
"ZYZYYYKKKK! NAZZZEEEESSSS!" Sahut Daniel menjauh dari Rendy membuat Rendy tertawa nyaring.
Sedangkan dua saudara ipar itu sedang saling menghujat El dan Ken sudah mulai saling bertukar hantam dan tinjuan satu sama lain.
"Segini aja? Ayo maju, Hajar gue." Kata Ken menantang El padahal sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah segar akibat pukulan keras dari El. El memeringkan kepalanya melihat dalam kearah bola mata Ken. Pria itu sedang melampiaskan rasa sedihnya, Ia pasrah menerima semua rasa sakit dari pukulan yang diberikan oleh El.
"Ayo lagi, Jangan berenti. Come on bigboss give your strongest blow." Tambah Ken sambil tersenyum palsu.
El menyunggingkan senyum dari sudut bibirnya sambil berjalan kearah Ken.
Tidak membuang waktu El menghantam perut Ken hingga pria itu mundur dr tempatnya berdiri.
"Gue gak ngelawan orang yang lemah. Lo lemah sekarang bikin gue eneg." Ucap El sambil terus maju menghampiri Ken yang sedang memegangi perutnya.
"Lo lemah! Bahkan Eriska malu ngeliat keadaan lo sekarang ini." Tegas El mencuri perhatian Ken, Membuat Ken memasang raut wajah serius dan kesal.
Ken mengepal kuat kedua tangannya, Dengan sekuat tenaga Ken memberikan pukulannya pada El hingga membuat El terjatuh.
"Heiiiii! Kalian apa-apaan sih?!" Teriak Rendy yang kaget saat melihat Ken dan El seperti orang yang benar-benar berkelahi.
"Mereka beneran bang?" Tanya Daniel ikut heran melihat kedua sahabatya.
"Lo gak liat barusan Ken ninju perut El sekuat itu?" Sahut Rendy yang mulai berdiri dari tempat duduknya serius melihat kearah Ken dan El.
"Segini doang? Lo bahkan bukan lawan yang pantes buat gue." Kata El lalu membalas pukulan Ken dengan kuat hingga pria itu jatuh kelantai.
"Bangun! Ris, Kamu liat? Pria yang kamu cintai ini ternyata lemah. Kerjanya cuma meratapi kepergian kamu, Sangat menyedihkan!" Kata El, Mendengar hal itu Ken bangun san langsung menghadiahi tinjuan keras diwajah El hingga menyebabkan hidung pria itu berdarah.
"Bang, Sampe bedarah-darah gitu mereka pisahin napa." Kata Daniel mulai tidak nyaman dengan pemandangan yang ada dihadapan nya. Rendy hanya diam sambil terus melihat kearah El dan Ken yang saat ini sudah kembali adu jotos.
"El lagi bantuin Ken." Ucap Rendy sambil tetap melihat kearah dua pria itu.
"Bantuin? Mereka gelud beneran gitu." Sahut Daniel masih belum mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Rendy.
"Biarin mereka begitu."
"Heeeee? Kalian mengerikan." Balas Daniel kembali duduk sambil memegangi perutnya yang masih terasa nyeri akibat pukulan lemah dari El.
Sementara itu El dan Ken benar-benar melakukan gelud layaknya lawan. Tidak lagi saling menahan pukulan satu sama lain, Semua benar-benar terjadi secara real.
Hinggak akhirnya keduanya terbaring dilantai yang sama sambil menatap langit-langit sasana.
"Udah merasa baikan?" Tanya El santai.
"Lo calon mertua terbangke yang pernah ada." Sahut Ken tertawa. Melihat hal itu Rendy dan Daniel ikut menyusul mereka.
"Udah seneng-senengnya?" Tanya Rendy duduk disamping El.
"Ken udah nyerah." Jawab El tertawa.
"Bangke! Lu duluan yang bilang nyerah." Kata Ken tidak terima dengan ucapan El.
"Mau gue tambah?" Tanya Rendy melihat kearah Ken dan El.
"NO!" Jawab mereka secara bersamaan membuat Daniel dan Rendy tertawa dan begitu juga dengan El dan Ken.
Sahabat itu selalu punya cara untuk membuat kita bahagia dan membuat kita lebih berharga .
Sahabat itu gak harus sama, Cukup sama-sama mengerti, Percaya dan menghargai.
***
Setelah selesai dengan hangout ala handsome squad, Mereka berempat pergi kesebuah cafe untuk kembali berkumpul ria.
"Untung muka gue gak bonyok, Gak bikin ilfeel kalo jalan." Celetuk Daniel yang saat ini sedang makan makanan nya.
"Lo mau tebar pesona emang?" Tanya Ken santai mulai membuat kerusuhan.
"Bangke! Gue lagi makan jangan sampai gue nyumpah ya." Sahut Daniel kesal.
"Lah lu barusan nyumpah Tejoooo." Sahut Rendy membuat Ken dan El tertawa sambil menggeleng-geleng kan kepalnya.
"Gue heran sama kalian, Kalian kalo lagi ngumpul betiga kenapa selalu gue yang dihujat? Kenapa gue yang selalu kena bully? Bang gue ade ipar lo kan? El gue ini udah kek ade lo sendiri lho. Dan lu Ken, Lu kalo ada apa-apa larinya ke gue, Cerita ke gue. Terus kenapa gue yang dihujat mulu?" Protes Daniel meletakan sendoknya.
"Ututututu ade Daniel malah? Cini-cini abang suapin pake sekop mau?" Jawab Rendy tertawa nyaring membuat kedua pria lainnya ikut tertawa kecuali Daniel yang memasang wajah murka.
"Au ah, Kalian semua krejiii." Jawab Daniel santai kembali melanjutkan makannya.
*Persahabatan bukan tentang bagaimana kita mempercayainya, Tapi tentang bagaimana kita dipercaya olehnya.
**Bersambung***