
Setelah pesta pernikahan Ken selesai, Daniel, El, Dara dan Luna bersiap untuk kembali ke tanah air.
"Padahal gue masih kangen pengen ngebully kalian lagi kek dulu." Kata Ken santai menepuk pundak Daniel dan El saat mengantarkan kedua sahabatnya itu ke bandara.
"Gue kangen maen sama lo dalam ring." Balas El tersenyum.
"Gue kangen nonton kalian gelut terus ujung-ujungnya kalian bully gue. Halah udah tau jalan pikiran lo bedua, kalian itu sama-sama licik sama-sama picik. Nih untung kurang satu lagi manusia bar-barnya. Kalo full, heh! Udah bisa dipastiin siapa manusia yang paling teraniaya disini." Kata Daniel terus menerus bicara dengan memasang wajah cuek sambil melihat kesembarang arah. Mendengar hal tersebut tentu El dan Kenan tertawa puas karena Daniel cukup tau diri dan sadar keadaan tanpa harus di ingatkan oleh El ataupun Kenan.
"Kalo anda tidak menikmati hidup ngapain anda hidup?" Tukas Ken santai membuat gelak tawa puas dari El.
Sebnernya tuh gini, bukan mental gue yang down tapi mulut lo pada yang rem nya blong!" Balas Daniel kesal pada kedua sahabatnya.
"Ululu abang Daniel marah, jangan marah. Entar keliatan tuanya lho." Ejek Ken makin menjadi.
"Sorry, telinga gue gak bisa denger gombalan badjingan begitu." Sahut Daniel ketus.
"Terus El, terusin lo ketawa puas-puas. Disini lo nistain gue, entar kalo udah pulang ke Indonesia lo ngerengek dibawah ketek gue, bangke emang!" Sambung Daniel yang kesal melihat El selalu menertawaknnya.
"Bangke kapan gue begitu! Si*lan! mulut lo minta di vacum cleaner biar bersih."
"Baru dikatain begitu udah ngegas kan, apa kabar gue yang dari kemaren hari kalian bully huh?!"
"Kalian ghibah nya ngelebih-lebihin kita deh, Serius. Omongan gak pernah ada habisnya, nyambung mulu." Celetuk Dara yang menghampiri El, Daniel dan Ken.
"Hai mantan terindah, walau sekarang kita udah sama-sama saling memiliki orang yang kita cintai. Aku selalu berharap, aku masih ada di hati kamu." Kata Ken menggoda Dara dihadapan Daniel membuat Daniel menggulung lengan kemeja putihnya.
"Ehhhemmm....." Kata Vanny berdeham dari arah belakang Ken sambil melipat kedua tangan didepan dada dan langsung membuat Ken kaget dan langsung berbalik badan.
"MAMVUS!" Kata Daniel tersenyum penuh kemenangan sambil merangkul istrinya.
"You are my life." Ucap Ken yang langsung mencium pipi istrinya.
Tidak lama terdengar pemberitahuan jika pesawat dengan tujuan Indonesia akan segera berangkat. Perpisahan pun harus terjadi walau masih ada rasa rindu di hati mereka.
"Titip salam buat pacar gue ya Dad." Kata Ken memeluk El.
"Itu calon mantu gue entar." Ucap Dani membantah yang dikatakan oleh Ken.
"Wah, beneran? Kalian udah jodohin mereka? Davin atau Devan?" Tanya Ken dengan wajah serius.
"Daniel dipercaya." Celetuk Dara santai diikuti tawa dari El dan Luna.
"Ya siapa tau aja kan emang udah kalian jodohin dari kecil." Sahut Kenan tertawa.
"Tapi seru juga tuh kalo misal mereka berjodoh." Sambung Luna ikut bicara.
"Kita bahas jodoh-jodohan nya nanti aja ya, entar keburu pesawatnya terbang kita gak bisa nyusul." Kata El mengakhiri pembicaraan mereka.
"Kalo lo mau biar gue sewain jet." Sahut Ken menyombong.
"Halah, telat udah beli tiket juga!" Sambar Daniel kesal membuat Ken dan Vanny tertawa. Setelah semua selesai berpamitan, El, Daniel, Dara dan Luna segera berangkat.
***
"Kamu gak tidur sayang?" Tanya El yang saat ini sedang berada didalam pesawat.
"Aku gak ngantuk sayang." Sahut Luna lembut sambil tersenyum lalu merebahkan kepala di bahu El sambil memeluk erat lengan El.
"Sayang, lucu kali ya kalo misalnya anak kita berjodoh sama anaknya Dara." Kata Luna tersenyum lucu sendiri memikirkan semua ucapannya. Mendengar hal itu El ikut tersenyum lalu mengecup pucuk kepala istrinya.
"Mana kita tau kedepannya gimana. Kali aja Davin bakal jadi menantu kita, atau Devan."
"Kalo pun bakal terjadi hal itu, besar kemungkinan pasti Davin yang bakalan dipilih sama Zea." Mendengar hal itu Luna melihat kearah El.
"Kenapa harus Davin?" Tanya Luna.
"Kan sama Devan kerjaannya berantem mulu kalo ketemu." Sahut El singkat.
"Eh, jangan salah. Masih gak percaya gak kalo benci itu bisa jadi cinta?"
"Ummmm.....Iya sih, contohnya kita." Sahut El tertawa.
"Kak Daniel dan Dara juga." Sambung Luna menunjuk kearah Daniel dan Dara.
"Siapapun jodoh mereka kelak, semoga itu yang baik dari yang terbaik. Dan satu lagi, siapapun yang bakal jadi jodoh Zea, harus bisa ngalahin daddy nya di ring tinju." Kata El tersenyum membuat Luna mengerucutkan dahi mendengar persyaratan tersebut.
***
Setibanya di Indonesia mereka langsung pulang ke rumah masing-masing. Selain lelah karena jarak yang ditempuh cukup jauh merek juga sangat merindukan anak-anak mereka yang sudah tidak sabar menunggu kedatangan orang tua mereka.
"Ayah sama bunda pulang." Teriak Davin saat melihat mobil ayahnya tiba di halaman parkir. Dengan cepat anak itu berlari membuka pintu diikuti adiknya yang menuruni anak tangga.
"Bunda...." Teriak Davin dan Devan saat Dara turun dari mobil. Keduanya berlari kearah Dara lalu memeluk Dara dengan sangat erat. Melepas rindu karena ditinggal selama 3 hari bukanlah hal yang mudah untuk kedua anak kembar itu, karena mereka berdua sangat manja pada ibu mereka.
"Kalian berdua cuma kangen sama bunda? Sama ayah enggak kangen?" Tanya Daniel menghampiri istri dan kedua anaknya yang sedang berpelukan melepas rindu.
Davin dan Devan melepaskan pelukan mereka pada Dara lalu berpindah pada ayah mereka.
"Kangen lah yah." Sahut si kembar secara bersamaan. Daniel mencium pipi kedua anaknya lalu membawa mereka masuk kedalam rumah.
***
Hal yang sama juga terjadi dirumah El. Zea langsung bermanja pada kedua orang tuanya yang baru saja tiba dirumah.
"Gimana ujiannya? Pasti lancar dong, anak Daddy kan hebat." Kata El yakin membuat Zea tertawa mendengar pujian ayahnya.
"Anak Mommy juga Daddy." Sambung Luna sambil menggendong Calla.
"Iya dong Daddy, siapa dulu daddy dan mommy nya. Tapi si Devan kemaren kena hukum." Kata Zea mulai bercerita pada kedua orang tuanya.
"Dihukum kenapa? Gak mungkin kan Devan nyontek?" Sahut Luna. Zea langsung menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Luna.
"Devan berantem?" Tanya El ikut bertanya.
"Bukan cuma berantem. Devan mukul kakak kelas yang nakal." Kata Zea memperjelas ceritanya.
"Mukul kakak kelas? Kok bisa? karena apa?" Tanya Luna penasaran.
"Jadi gini, kan Devan itu emang jago main basket. Nah kakak kelas gak terima Devan dan bang Davin menang terus bilang kalo mereka curang. Tapi Devan gak terlalu marah, yang bikin Devan marah banget kakak kelas itu bilang kalo ayah itu suka nyuri uang dikantor Daddy. Devan langsung ngamuk dan mukul kakak kelas itu sampai mukanya luka." Mendengar cerita dari anaknya El dan Luna saling melempar tatapan.
"Terus gimana kelanjutannya?" Tanya El penasaran.
"Oma Wita datang ke sekolah dan minta maaf." Sahut Zea santai sambil bermain dengan Calla.
**Bersambung....
Diusahakan up sesering mungkin....Mungkin cerita alur cerita akhir-akhir ini jadi datar. Aithor masih mikirin konflik yang bakal dimasukin ke PH. jadi harap sabar ya kakak²**.