
Semua anggota keluarga benar-benar sudah kelelahan mencari keberadaan Zea yang tidak juga ketemu. Mereka kembali berkumpul ditempat semula untuk menunggu jika Zea datang ketempat itu.
"Bunda, Davin haus." Ucap Davin merengek kehausan karena ia juga ikut serta mencari Zea kesana dan kemari hingga bajunya basah karena keringat.
"Abang ambil sendiri ya nak di mobil." Ucap Dara karena saat ini ia sedang menenangkan Luna yang akhirnya tidak kuat lagi menahan air matanya karena rasa khawatir akan anak sulungnya yang tidak tau keberadaannya saat ini. Davin mengangguk lalu pergi ke mobil untuk mengambil botol minum.
Anak laki-laki itu duduk dibangku depan sambil menikmati minumannya untuk menghilangkan rasa dahaga dan kaki yang penat karena berlari mengelilingi taman.
"Abang, kok disini bukannya jogging." Suara dari kursi belakang mengagetkan Davin. Davin sampai tersedak dan menyemprotkan air dari dalam mulutnya. Ia buru-buru menoleh dan benar saja, gadis kecil yang membuat kehebohan di tempat umum itu baru saja bangun dari tidurnya sambil mengucek mata ia tersenyum kearah Davin
tanpa dosa.
"ZEAAAAAAA!!!" Teriak Davin membuat orang-orang disekitar melihat kearah Davin. Luna, El, Daniel, Dara dan Devan langsung berlari menuju mobil.
"Wah ada mommy dan daddy. Calla mana mom?" Tanya gadis kecil itu dengan santai turun dari mobil. Daniel dan Dara langsung bersyukur karena Zea tidak benar-benar hilang karena bagaimanapun mereka berdua bertanggung jawab karena merekalah yang membawa Zea ketempat ini. Sedangkan Luna langsung memeluk anak perempuannya itu.
"Mommy kenapa kok nangis?" Tanya Zea polos, El yang saat ini merasakan perasaan yang bercampur aduk hanya bisa diam tidak bisa berkata apa-apa.
"Tunggu bentar, jadi dari tadi kamu ada di dalam mobil?" Tanya Dave mendekat.
"Hehehe, aku ketiduran karena ngantuk banget. Ayo kita jogging, sekarang mata aku udah segar." Ajak Zea dengan senyum mengembang diwajahnya tanpa tahu apa yang sudah ia lewatkan. Devan mendekati Davin dengan wajah yang benar-benar seperti ingin memakan seseorang saat itu juga.
"Vin kita berantem yuk, bener deh kita udah lama gak latihan gelut." Ajak Devan yang benar-benar merasa sangat kesal pada sosok gadis kecil itu.
"Wah iya, kita lama gak latihan. Ayo aku ikutan." Teriak Zea yang sangat bersemangat mendengar ucapan Devan membuat Devan benar-benar meradang.
"Ayo sama kamu aja sekalian geludnya!!!" Sahut Devan ketus. Devan benar-benar dibuat emosi oleh Zea.
"Devan, gak boleh ngomong gitu ah. Harusnya kita bersyukur Zea gak hilang beneran." Kata Dara mencoba membuat Devan mengerti.
"Come on mom, dia enak tidur sementara kita bener-bener lari pagi!" Sahut Devan masih tidak bisa terima.
"Zea, lain kali gak boleh gitu ya sayang. Kasian bunda, ayah, daddy, mommy, bang Davin dan Bang Devan udah keliling taman beberapa kali nyariin kamu. Kalo memang Zea ngantuk, Zea gak perlu ngajak orang-orang untuk pergi. Minta maaf sekarang sama yang lain." Ucap Luna menasehati anaknya. Luna dan El tidak pernah membedakan antara Zea, Calla dengan Davin dan Devan. Bagi mereka, keempat anak itu adalah anak mereka.
Zea memajukan bibirnya cemberut. Ia bahkan tidak tau jika ia akan tertidur dimobil.
"Luna udah gak apa-apa, jangan begitu sama Zea." Kata Dara menghampiri Zea dan memeluk anak itu.
"Zea kan gak tau kalo Zea bakal ketiduran. Zea bener-bener mau jogging kok bukannya mau tidur dan ngerjain kalian. Maafin Zea." Kata Zea menundukan kepalanya membuat Dara dan Daniel makin merasa tidak tega pada gadis kecil itu.
"Iya Zea, gak apa-apa kok abang gak marah. Tebak deh abang tadi lari berapa putaran? Abang lari 2 putaran hebatkan?" Kata Davin tersenyum, anak itu selalu bisa membuat suasana tegang menjadi hangat.
"Tuh bang Davin gak marah kok." Sambung Dara tersenyum agar anak perempuannya tidak lagi merasa bersalah.
"Ya udah, lupain aja." Ucap El, pria itu lalu menghampiri Devan yang masih kesal pada Zea. Bagaimana tidak kesal anak itu bahkan rela bertanya pada tiap orang yang ia temui sambil berlari kesana dan kemari membawa photo Zea yang ada di hpnya.
"Hei, dia ngeselin banget ya? Ummm.....Daddy minta maaf ya atas nama cewek ngeselin yang berdiri disana. Nanti kita gelud, daddy ajarin jurus baru." Kata El membujuk Devan lalu mengajak Devan untuk high five (Tos). Devan selalu tidak bisa menolak bujukan dari El seolah pria itu sangat mengerti akan dirinya. Dengan cepat Devan membalas high five dari El membuat El tersenyum.
"Oke sekarang kita mau ngapain? Lanjutin olahraga atau pulang?" Tanya Luna tersenyum.
"Main petak umpet." Teriak Zea gembira sambil mengangkat kedua tangannya.
"NO." Sahut El dan Devan. membuat bibir Zea kembali maju cemberut, membuat yang lain tertawa lucu.
"Harinya cerah sayang kalo kita buru-buru pulang. Gimana kalo kita lanjutin main game aja mumpung disini." Ajak Daniel, sejenak mereka berpikir lalu setuju dengan ide Daniel.
"Ya udah kalian pikirin dulu game apa yang bakal kita mainin. Ayah sama Daddy mau laporan dulu ke pihak keamanan kalo semua masalah udah selesai." El mengangguk lalu mereka berdua pergi untuk melapor jika Zea sudah ketemu.
"Lo bisa banget ngerayu Devan. Kadang gue suka bingung sendiri, Devan anak siapa.sih sebenernya. Tinggal sama gue tapi nurutnya sama lo." Celetuk Daniel tertawa sambil berjalan menuju pos security.
"Zea apa gak gitu? Kalo udah urusan ayah dan bundanya nomor 1. Masih inget kan waktu dulu dia ngotot minta beliin tepung dan bahan kue buat ngasih ke lo dan Dara buat bikin adonan." Sahut El ikut tertawa mengenang masa-masa dulu.
"Woiii gue baru inget sekarang, lo tau apa yang udah dilakuin sama anak cerdas itu tadi malam? Pas udah disaat-saat tegang dan siap gelud, dia ngetok pintu kamar gue. Buru-burulah gue pura-pura tidur. Dan lo tau apa yang terjadi selanjutnya?"
"Apa?" Tanya El penasaran.
"Tau-tau dia ada disamping gue sambil meluk Dara. Dan hebatnya dia tidur milih tempat yang benar-benar pas. Pas-pasan ngalangin gue buat bisa meluk Dara." Sambung Daniel menceritakan kejadian tadi malam yang membuatnya dan adik kecilnya frustasi.
"Ditengah?" Tanya El, dengan cepat Daniel mengangguk. Mendengar hal tersebut tawa El pecah saat itu juga membuat Daniel kesal bukan main. Karena El terus saja menertawakannya, tangan Daniel secara otomatis langsung mendarat tepat di kepala El dan setelah memberanikan diri menjitak kepala bos nya tersebut ia langsung berlari kencang meninggalaka n El yang mengelus kepalanya karena jitakan Daniel cukup keras.
"Sia*an! Bangke lo! Gue potong gaji lo bulan ini!" Kata El meneriaki Daniel.
"Hahahaha bodo amat ya g penting hati gue puas." Sahut Daniel tidak perduli dengan ancaman El karena ia tau El tidak akan benar-benar memotong gajinya.
Bersambung