Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
MR.RIGHT #02



Lyn saat ini mengurung diri di kamarnya. Setelah kejadian tadi siang ia tidak berniat untuk keluar kamar, bahkan untuk makan pun enggan dilakukannya.


Tok....Tok....Tok....


Lyn berdiri lalu membuka pintu kamar. melihat siapa yang ada di depan pintu Lyn berpaling malas.


"Lyn, kita perlu bicara." Ucap Irene melangkah masuk ke kamar adiknya.


"Bicaralah, karena untuk ku sudah tidak ada lagi hal yang perlu dibicarakan dengan kalian." Sahut Lyn tidak berniat bicara dengan Irene


"Lyn sikapmu tadi siang pada ayah dan ibu sangat keterlaluan. Padahal mereka memberikan masa depan yang menjamin untukmu." Kata Irene tanpa rasa bersalah sedikitpun membuat Lyn selalu ingin bersikap kasar pada gadis itu.


"Heh, apa sedikitpun kamu tidak merasa malu berdiri dengan sangat percaya sambil menyalahkan orang lain. Ah aku lupa, itu memang bakat mu sejak dulu. Aku pikir dulu karena kita masih kecil dan saling memperebutkan perhatian orang tua makanya kamu bersikap seperti seekor serigala yang memakai bulu domba, heh nyatanya hingga sekarang kamu tetap sama." Sahut Lyn cuek tidak perduli jika ucapannya menyakiti perasaan Irene.


"Jaga ucapan mu! Kamu tau apa yang membuat ayah juga ibu selalu memarahi mu? Karena kamu tidak pernah berpikir saat bicara. Kamu selalu mengatakan apa saja yang mau kamu ucapkan tanpa perduli perasaan orang lain yang mendengarnya." Balas Irene menyalahkan Lyn membuat Lyn makin membenci saudara kandungnya tersebut.


"Apa kalian pernah memikirkan perasaanku? Aku bahkan terlahir hanya untuk memenuhi kebutuhan kalian. Wah, seketika aku langsung ingat kejadian yang lalu-lalu. Aku yang harus selalu mengerjakan tugas-tugasmu, aku yang harus selalu mengalah padamu memberikan barang-barang kesayangan milikku yang aku dapatkan dengan susah payah hanya karena kamu menginginkannya kamu hanya tinggal menangis sambil berteriak lalu ayah dan ibu menyuruhku memberikan semua itu padamu.


Bukankah itu sangat keterlaluan? Dan lagi aku bukan tipe orang yang suka bermulut manis hanya untuk sebuah pembelaan. Suka aku katakan, benci aku tunjukan." Kata Lyn sambil berjalan kearah pintu dan langsung membuka pintu kamarnya mempersilahkan Irene untuk segera angkat kaki dari ruang pribadi miliknya.


Irene yang kesal dengan semua hal yang di ucapkan oleh Lyn langsung pergi dari tempat itu dengan menghentak langkahnya. Lyn kembali berbaring sambil menatap langit-langit kamar berwarna putih bersih.


"Menikah, istri kontrak. Harusnya kalian b*nuh saja aku sejak kecil." Ucap Lyn diiringi tetesan air mata yang jatuh dengan sendirinya.


...Rasanya hampa...


...Rasanya sepi...


...Rasanya pedih...


...Rasanya perih...


...***...


Dan benar saja besok paginya, dua orang pria datang ke rumah Tn. Joseph untuk menjemput Lyn dan kebetulan saat itu Lyn sedang tidak berada dirumahnya. Ia keluar untuk bertemu Christian. Jelas hal itu kembali memicu kemarahan Tuan dan Nyonya Joseph.


"Cepat hubungi Lyn suruh dia pulang sekarang juga!" Ucap Tuan Joseph menyuruh istrinya dan istrinya pun langsung menghubungi Lyn.


"Mohon untuk menunggu sebentar, Lyn pasti akan segera pulang." Ucap Tuan Joseph pada kedua pria yang diutus oleh Alan.


Lyn yang saat itu berniat ingin memberitahu Christian tentang pernikahannya minggu depan memilih untuk mengabaikan panggilan telepon dari ibunya.


"Kok gak diangkat?" Tanya Christian melihat Lyn mengabaikan panggilan tersebut.


"Gak apa-apa, nanti biar aku telepon lagi." Sahut Lyn tersenyum datar.


"Mau bicara apa?" Tanya Tian lagi sambil terus menggenggam tangan kekasihnya tersebut. Hati Lyn terasa sangat hancur, ia begitu mencintai pria sedang duduk dihadapannya saat ini begitu juga dengan Tian yang begitu mencintai Lyn.


Air mata Lyn hampir jatuh menetes namun ia tetap berusaha kuat menahannya. Lyn akan segera memberitahu Tian setelah itu ia akan langsung pergi.


"Tian, mari akhiri hubungan ini. Maaf, tapi aku benar-benar tidak bisa melanjutkan hubungan kita." Kata Lyn membuat Christian kaget mendengar hal itu. Lyn lalu memaksa melepaskan genggaman tangan Tian dari tangannya.


"Lyn, apa yang baru saja kamu katakan? Apa maksudmu? Apa aku ada salah? Hei, kamu kenapa?" Tanya Tian menatap dalam wajah Lyn membuat hati Lyn makin terasa sakit hingga dadanya terasa sesak.


"Maaf." Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Lyn saat ini. Gadis itu lalu meraih tasnya dan pergi meninggalkan Tian. Dan Tian tidak bisa menerima keputusan Lyn, pria itu langsung mengejar Lyn.


"Lyn, Lyn please jangan begini. Kalau memang aku ada salah kasih tau aku, jangan begini Lyn aku mohon. Empat tahun bukan waktu yang sebentar, Lyn kita bahkan sudah berencana untuk menikah tahun depan. Ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu mau kita putus? Apa salahku?" Ucap Tian lirih membuat hati Lyn hancur dan sudah jelas gadis itu tidak kuasa menahan air matanya.


"Kamu gak salah, aku yang salah." Kata Lyn sambil menangis, saat itu juga hujan turun dengan sangat deras hingga membuat kedua anak manusia itu basah kuyup.


"Ya tapi kenapa? Ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu mau akhiri hubungan kita?" Tanya Tian lagi mendesak Lyn agar memberikan jawaban atas semua pertanyaannya


"Karena aku akan segera menikah dengan pria lain!" Ucap Lyn sedikit nyaring dan berterus terang. Mendengar alasan yang diberikan oleh Lyn, Tian terdiam sambil melepaskan tangannya pada bahu Lyn.


"Ka...Kamu....Kamu akan menikah? Lalu selama ini apa artinya aku untukmu? Siapa aku?!" Teriak Tian keras, dibawah guyuran hujan yang sangat deras. Lyn benar-benar membisu tidak dapat mengatakan apapun selain menangis. Menjelaskannya pun percuma. Lyn pasrah, lagi-lagi pasrah dengan keadaan yang membuat hatinya hancur.


"Maaf." Ucap Lyn, lalu gadis itu pergi meninggalkan Tian sendirian ditempat itu tanpa memberi sedikitpun penjelasan. Dua orang itu sama-sama terluka, dua orang itu sama-sama hancur. Hubungan yang mereka jalani selama empat tahun dan rencana menikah yang sudah mereka atur di tahun mendatang semua menjadi sia-sia.


...***...


Sesampainya di depan rumah, Lyn melihat mobil mewah terparkir di halamannya. Lyn dengan tubuh yang basah kuyup segera masuk ke dalam rumah tanpa perduli siapa yang datang.


"Apa harus begini sikap yang ibu tunjukan? Dimana kepedulian sebagai seorang ibu? Apakah aku harus memanggil dengan sebutan Nyonya Joseph? Apa benar anda ibuku? Apa benar dalam tubuhku mengalir darah Tuan dan Nyonya Joseph? Sedikitpun, hanya sedikit tidak bisakah terlihat perduli padaku walau itu hanya pura-pura? Tidak bisakah anda memberikan sebuah pelukan hangat seperti yang biasa anda berikan untuk Irene dan Jenica? Hanya sebentar, sebentar saja karena saat ini aku benar-benar sangat menderita." Ucap Lyn dengan segala perasaannya yang hancur berkumpul menjadi satu. Nyonya Joseph menatap wajah cantik anaknya, terlihat sangat jelas kesedihan yang ia rasakan saat ini.


Nyonya Joseph mendekati Lyn lalu memeluk tubuh Lyn yang masih basah kuyup. Diusapnya lembut pundak Lyn, nyaman terasa sangat nyaman untuk Lyn. Pelukan yang sudah sangat lama tidak ia dapatkan dari kedua orang tuanya. Hangat, pelukan itu terasa menghangatkan tubuhnya yang basah kuyup.


"Maafkan ibu Lyn, ibu gagal menjadi seorang ibu yang baik untukmu. Maafkan ibu dan ayah, kami bukan orang tua yang baik untukmu." Kata Nyonya Joseph menangis sambil memeluk putrinya. Putri yang selama ini selalu memenuhi semua keinginannya, putri yang tidak pernah bicara banyak padanya. Lyn menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Nyonya Josep.


Dari kejauhan Tuan Joseph menyaksikan hal itu, ia pun merasakan sesak di dada melihat Lyn yang harus berkorban untuk keluarga. Apa arti dirinya sebagai pemimpin di rumah ini, ia bahkan tidak bisa melakukan banyak hal untuk gadis baik hati itu.


Lyn melepaskan pelukan ibunya, tanpa berkata apa-apa ia langsung masuk ke kamar untuk mengganti serta menyiapkan pakaian.


Sambil mengemas beberapa lembar baju dan barang-barang keperluannya, Lyn menatapi sekeliling kamarnya. Ruangan yang menjadi tempat paling nyaman baginya. Selesai mengemas baju Lyn keluar dari kamar membawa tas berukuran sedang. Langkah Lyn terhenti saat gadis mungil nan cantik itu berdiri di hadapannya sambil memegangi boneka kesayangan yang diberikan Lyn saat ulang tahunnya.


"Kakak mau kemana? Kenapa kakak bawa tas?" Tanya gadis kecil itu menatap Lyn dengan polos. Lyn tersenyum kearah Jenica, sebisa mungkin ia menahan air mata yang ingin segera keluar saat melihat wajah manis Jenica.


"Sayang, kakak harus pergi bekerja. Bos kakak menyuruh kakak untuk ikut dengannya pergi ke luar kota." Ucap Lyn berbohong pada adik bungsunya. Gadis kecil itu menghampiri Lyn lalu memeluk Lyn erat.


"Apa kakak akan pergi dalam waktu yang lama?" Tanya Jenica lagi sambil terus memeluk Lyn seakan tidak rela jika Lyn pergi.


"Gak akan lama, mana bisa kakak lama-lama meninggalkanmu." Sahut Lyn mencubit manja hidung mancung adiknya.


"Ah aku tidak suka jauh dari kakak. Siapa yang akan menemaniku bermain? Siapa yang akan mengikat rambutku? Suruh saja kak Irene yang pergi untuk menggantikan kakak." Rengek Jenica pada kakaknya.


"Hei, kamu pikir kakak pembantu mu? Kakak janji, ini hanya sebentar. Saat kakak kembali kakak akan membawakan banyak mainan untukmu."


"Kakak berjanji?"


"Hmmm...tentu saja kakak berjanji." Sahut Lyn tersenyum meyakinkan adiknya. Jenica akhirnya mengizinkan Lyn untuk pergi. Jika ditanya siapa yang akan sangat dirindukan Lyn nanti jawaban nya adalah gadis kecil itu. Jenica mengantar Lyn ke ruang tamu, di genggamnya erat tangan Lyn saat melihat dua pria yang sedang menunggu Lyn itu. Wajah mereka terlihat sangat menakutkan bagi Jenica. Disana juga keluarga Lyn yang lain sudah berkumpul dengan wajah serius.


Salah satu pria itu lalu berdiri dan mengambil tas yang ada ditangan Lyn lalu pergi membawanya terlebih dulu.


"Sayang, kakak berangkat dulu ya. Jaga diri baik-baik, jangan bandel, jangan menyusahkan ayah dan ibu. Kamu bidadari ku, kakak pasti akan sangat merindukan mu." Ucap Lyn kembali memeluk adiknya sambil menangis.


"Jangan menangis, aku menunggu kakak. Kakak berjanji tidak akan pergi lama." Ucap Jenica tersenyum sambil menghapus air mata Lyn. Lyn mencium kedua tangan bocah itu lalu menghujani wajah Jenica dengan ciuman perpisahan. Setelah mencium adiknya Lyn berdiri dan langsung pergi dari tempat itu tanpa berpamitan pada kedua orang tuanya dan kakaknya.


"Lyn, Lyn tunggu." Kata sang ibu mengejar Lyn yang sudah ingin masuk kedalam mobil. Lyn menghentikan langkahnya lalu menatap sang ibu yang terlihat sedang menangis.


"Kamu baru saja kehujanan, tubuhmu terasa sangat dingin, nanti bisa terkena flu." Ucap Nyonya Joseph memakaikan sehelai syal berwarna merah muda ke leher Lyn, warna itu adalah warna kesukaan Lyn.


"Maafkan ibu nak, jaga dirimu baik-baik." Tambah sang ibu sambil terus menangis. Untuk pertama kalinya Lyn tersenyum manis pada sang ibu, senyum yang ia tunjukan saat ia masih kecil. Lyn lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah itu. Rumah yang ia tempati sejak kecil.


...***...


Sesampainya di kediaman Alan Willson, Lyn langsung dibawa masuk oleh kedua pria yang menjemputnya.


"Selamat datang dirumah, istriku." Sapa seorang pria yang duduk membelakangi Lyn. Terlihat kedua pria tadi membungkuk kan kepala mereka sebelum pergi dari ruangan itu. Lyn diam tidak berminat untuk membalas sapaan Alan yang bahkan wajahnya saja ia tidak tau.


"Kamu masih saja angkuh dan sombong, padahal kamu tau sebentar lagi kita akan menikah." Tambahnya lagi, Lyn berdecih, gadis itu sama sekali tidak menganggap jika ini adalah sebuah pernikahan.


"Bisa tunjukan dimana saya bisa beristirahat?" Ucap Lyn terdengar dingin, datar dan ketus membuat Alan tersenyum.


Alan lalu berdiri menampakan diri kehadapan Lyn namun dengan cepat Lyn membuang wajah tidak sudi melihat kearah Alan Gadis itu sangat membenci Alan, benar-benar membencinya.


"Kamu tau? Makin kamu bersikap sombong maka makin aku tertarik padamu." Ucap Alan tersenyum namun Lyn tidak perduli. Melihat wajah Lyn yang sedikit pucat serta mata yang sembab, Alan lalu memanggil anak buahnya.


"Bawa Nyonya Lyn ke kamarnya. Pastikan ia beristirahat dengan nyaman." Perintah Alan, lalu mereka membawa Lyn pergi dari tempat itu. Lyn yang benar-benar tidak sudi melihat Alan terus saja berpaling membuang wajahnya.


"Kita lihat sampai berapa lama kamu akan bertahan dengan sikap seperti itu hewan peliharaan ku yang manis." Ucap Alan tersenyum menatap punggung Lyn yang kian menjauh.


Bersambung......


Ayo dong, masih sepi sih disini. Oh iya, kan author udah bilang kemarin. Karena lagi sibuk jadi belum punya waktu buat Covernya si Alan dan Lyn makanya untuk sementara author gabung disini dulu sekalian nyari pembaca. Kalo pembacanya banyak seperti PH dan SS author bakal lanjutin tapi kalo sedikit yang baca mungkin bakal author up di tempat lain.





👆 Itu si Christian ya, mantannya Lyn.