
"Eriska kok gak bisa dihubungi ya?" Ucap Kenan yang sejak tadi pagi menelepon Eriska namun tidak bisa terhubung. Ini hari terakhir ia berada di KL rasanya ia sudah tidak sabar menunggu pagi dan segera pulang ke Indonesia untuk bertemu kekasihnya itu.
"Sibuk kali ya, Gak apa-apa deh besok pulang dari KL gue langsung kerumahnya aja dan langsung ngelamar dia." Kata Ken tersenyum sendiri tidak sabaran ingin bertemu dan melamar Eriska. Ken mematikan lampu kamarnya dan langsung pergi tidur berharap malam cepat barlalu.
***
"Ris, Kamu dengar ibu nak? Ibu mohon, Buka mata kamu." Kata bu Tiwi menangis disamping anaknya yang sudah terbaring koma sejak tadi pagi, Dokter hanya bisa membantu lewat alat-alat medis yang terpasang di tubuh pucat Eriska.
"Sayang, Apa harus begini kamu pergi? Ken daritadi pagi neleponin kamu nak. Kamu gak mau ketemu sama dia? Ibu tau perasaan kamu untuk Ken sangat besar dan tulus, Ibu mohon nak buka mata kamu seenggaknya kamu harus merasakan hidup bahagia bersama orang yang benar-benar kamu cintai, Sayang." Tambah bu Tiwi makin terpuruk sambil ia menggenggam erat tangan Eriska.
Wanita paruh baya itu setia menemani putri semata wayangnya sambil menangis ia menyanyikan lagu kesukaan Eriska saat kecil.
***πΆ***Saat engkau tertidur
Kupandangi wajahmu
Masih ingin kumendekapmu
Masih ingin kumenciummu
Tak pernah kusadari
Waktu cepat berlalu
Kini engkau menjadi besar
Kini engkaulah harapanku
πΆTumbuh-tumbuhlah anakku
Raihlah cita-citamu
Jangan pernah engkau ragu, Sayang
Doaku selalu bersamamu
membuat aman dihidupmu
Selamanya******.
"Kamu paling suka kalo ibu nyanyiin lagu itu buat kamu, Bahkan kamu minta ibu nyanyiin berulang-ulang sampai kamu tertidur. Sekarang ibu sudah tua, Suara ibu sudah tidak merdu jangankan untuk menyanyi berulang kali. Untuk menyelesaikan satu baitpun rasanya sulit, Kamu gak mau minta ibu mengulang lagu itu? Walau sulit tetap akan ibu ulangi asal kamu bangun dan bilang ke ibu nak." Tambah bu Tiwi, Hati ibu mana yang tidak hancur saat menyaksikan anaknya sedang terbaring koma hidup tidak matipun tidak, Sekuat tenaga bu Tiwi bersikap tegar namun tetap saja hati wanita akan lemah jika itu menyangkut orang yang sangat ia cintai.
Airmata Eriska jatuh dari suduh matanya, Namun ia tetap terbaring koma tidak bangun atau bergerak. Seolah mendengar dan melihat keadaan ibunya saat ini yang terlihat sangat rapuh atau mungkin airmata itu gugur karena ingin mengucap salam perpisahan pada wanita yang melahirkannya itu.
Malam kian larut memeluk kesedihan dalam diam, Andai bisa ia berteriak maka akan ia teriakan betapa ia sedang ketakutan dalam sendirian namun ia ia bisa selain menerima semua itu dalam kesendiriannya.
***
"Eriska Linara, Will you marry me?" Tanya Kenan menyodorkan sebuah cincin bermata berlian cantik dan indah.
"Yes, I will." Sahut Eriska tersenyum manis membuat Kenan serasa melayang. Kenan benar-benar melamar Eriska didepan bu Tiwi ibu dari Eriska. Dengan senyum mengembang diwajah tampannya Ken memasangkan cincin itu dijari manis Eriska namun belum sedetik cincin itu jatuh terlepas dari jari manis Eriska.
Eriska hanya tersenyum melihat kejadian itu sedangkan Kenan langsung memungut cincin yang jatuh tadi.
"Kok bisa gak sedang sih?" Ucap Kenan sambil melihat lingkar cincin yang menurutnya pas dijari Eriska.
"Seperti kita tidak berjodoh." Jawab Eriska, Mendengar hal itu Kenan melihat kearah Eriska namun tidak ada Eriska disana, Hanya ada bu Tiwi yang duduk diam mematung tanpa suara dengan deraian air mata yang terus mengalir.
"Bu, Dimana Riska?" Tanya Ken mengampiri bu Tiwi namun bu Tiwi tidak menjawab pertanyaan Ken membuat Ken bingung.
"Ris! Eriska kamu dimana? Ris!" Teriak Kenan memanggil nama Eriska namun tidak juga ia menemukan wanitanya itu disana.
"RIS!........" Kenan terbangun dari tidurnya sambil memanggil nama Eriska. Dilihat sekelilingnya ia masih berada dikamar hotel ia juga buru-buru melihat kearah jarum jam yang menunjukan pukul 4.00 pagi waktu setempat. Kenan menarik nafas dalam mengambil kesadaran penuh, Mimpi itu membuatnya seperti sedang berada didunia nyata.
"Syukurlah cuma mimpi." Ucap Kenan mengusap wajah dengan kedua tangannya. Ken kembali berbaring namun bayangan mimpi tadi masih bersarang dalam pikirannya, Ken kembali bangun lalu beranjak mengambil cincin yang ia beli untuk melamar Eriska.
"Masa kebesaran sih? Inikan ukuran standar, Pasti masuk ke jari Eriska." Gumam Ken duduk sambil memperhatikan kembali cincin itu.
"Kok gue malah jadi kebawa mimpi gini sih? Eriska ngapain ya? Gue udah gak sabar pengen ketemu dia. Gak usah gue hubungin ajalah biar entar pas pulang jadi kejutan buat dia, Dia kan gak tau gue balik besok." Sambung Kenan, Ia menutup kembali kotak berwarna senada dengan cincin berlian itu lalu melanjutkan tidurnya.
***
Saat ini Dokter dan beberapa perawat sedang menangangi Eriska karena detak jantung yang makin melemah dan hampir tidak terdeteksi. Eriska bahkan mendapatkan pacu jantung untuk mengejutkan jantungnya.
"Cukup dok, Hentikan." Ucap bu Tiwi pasrah sambil mendekati tubuh anaknya. Langkahnya gontai dan sangat berat matanya bengkak airmata juga tidak sempat mengering dimatanya karena terus mengalir.
"Biarkan saya berdua bersama anak saya." Tambah bu Tiwi duduk disamping anaknya, Dokter dan para perawat pun mengerti mereka semua meninggalkan Eriska bersama ibu Tiwi didalam sana dengan wajah berduka.
"Sayang, Kamu lelah nak?" Ucap bu Tiwi pelan dan lembut sambil membelai manja rambut panjang Eriska.
"Ibu ikhlas nak, Kalau memang kamu sudah sangat lelah tidurlah. Tidurlah dengan tenang, Istirahatlah dari perjuangan panjangmu." Kata bu Tiwi sambil terus menangis menatap wajah pucat anaknya. Terlihat airmata Eriska kembali mengalir dari sudut matanya namun raut wajahnya lebih tenang saat ini dibanding tadi.
Tiiinnntttt....
Tiiiinnnntttt....
TIIIINNNNNTTTTTTTTTT.......
Tenanglah, Tenanglah wahai jiwa yang sedang terbang menuju pangkuan sang Illahi. Inilah kehidupan abadimu, Beristirahatlah sejenak dari lelahnya perjuangan mu.
***
Saat ini Ken sudah berada di dalam pesawat, Sepanjang jalan wajahnya ceria dan penuh senyum. Alasan apalagi kalau bukan karena Eriska satu-satunya orang yang sangat ia rindukan.
"Wait for me hun." Ucap Kenan sambil melihat photo-photo Eriska di hapenya.
***
Sedangkan ditempat lain, Seorang ibu sedang duduk bersimpuh disamping jenazah anaknya.
"Maaf bu, Kapan rencana pemakaman Eriska dilaksanakan?" Tanya seorang pengurus pemakaman pada ibu Tiwi.
"Tunggu, Tunggu sebentar lagi. Ada seseorang yang belum Eriska temui untuk terakhir kalinya." Jawab bu Tiwi sambil menatap kosong kearah wajah tenang Eriska.
***
Setelah tiba di Indonesia Ken kembali menghubungi Eriska namun tetap sama nomor yang dituju sedang tidak aktif.
"Riska kok gak aktifin nomornya dari kemaren ya? Apa ibunya sakit lagi? Gue langsung kerumahnya ajalah kalo gitu." Kata Ken yang langsung melajukan mobilnya menuju rumah Eriska.
Sesampainya di rumah Eriska Ken bingung melihat banyak orang berkumpul bahkan ia langaung turun dari dalam mobil saat melihat bendera berwarna kuning terpasang ditiang rumah Eriska.
"Kok ba.....banyak orang? Apa jangan-jangan ibu Tiwi." Ucap Kenan mrlepaskan kacamatanya lalu segera berjalan cepat menuju rumah Eriska.
Kenan melangkah pelan memasuki rumah Eriska, Matanya langsung dikagetkan oleh tubuh kaku yang ditutupi kain hingga wajahnya.
"Ris, A.....apa ibu....." Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya Ibu Tiwi yang sejak tadi setia duduk menemani Eriska, Memutar badan dan melihat kearah Kenan membuat mata Kenan seketika membulat besar.
"I.....ibu." Ucap Ken gagap sambil mulai melangkah sedikit demi sedikit mendekati tubuh Eriska yang tertutup kain berwarna putih polos dan bersih.
"E.....Eriska dimana bu?" Tanya Ken lagi, Bu Tiwi tidak menjawab pertanyaan Ken ia melihat kearah mayat putrinya itu dengan semua perasaannya yang hancur lebur menjadi satu.
Ken benar-benar merasa bingung dengan keadaan saat ini. Ia duduk memberanikan diri mendekati jenazah yang ia sendiri belum tau siapa itu.
"Bu, Dimana Riska? Dari kemaren saya gak bisa menghubungi dia. Dan si.....Siapa yang meninggal ini?" Tanya Ken masih dalam rasa kebingungannya. Wanita paruh baya itu menyerahkan titipan Eriska untuk Kenan yaitu sebuah ponsel yang dulu diberikan Kenan untuknya.
"Sekarang dia sudah tenang." Jawab bu Tiwi terdengar sangat pelan suaranya terdengar bergetar. Mendengar hal itu Kenan kaget bukan main, Semua rasa langsung bercampur aduk saat itu juga. Ken meletakan hape pemberian ibu Tiwi dan mulai memandangi jenazah yang terbaring tepat dihadapannya itu.
Dibukanya perlahan kain penutup wajah Eriska dan saat itu juga Ken terduduk lemas tidak berdaya. Lidahnya kelu tidak bisa berkata apapun selain memandangi wajah pucat Eriska. Diangkatnya perlahan kepala Eriska dan dibawanya kedalam pelukannya. Pria itu masih diam seribu bahasa sambil memeluk erat tubuh Eriska.
"Hun, Kamu tidur hun? Bangun, Aku datang. Kamu gak kangen aku?" Ucap Kenan sambil mengecup kening Eriska yang terasa dingin. Airmata pun tidak bisa lagi ia tahan, Pria itu rapuh saat ini benar-benar sangat rapuh.
"Hun, Kamu inget gak waktu aku ngelamar kamu seminggu yang lalu? Saat itu kamu keliatan bingung dan kaget. Entah karena caraku yang salah atau karena kita baru jadian. Hari ini aku kembali hun, Aku kembali untuk melamar kamu." Tambah Kenan lagi dalam tangisannya. Ia juga langsung merogoh saku celananya dan mengeluarkan kotak cincin yang ingin ia berikan untuk Eriska.
"Hun, Will you marry me?" Ucap Kenan memamerkan cincin itu pada Eriska yang sudah tenang dalam keabadian. Melihat hal itu bu Tiwi juga beberapa orang yang hadir disana ikut menangis.
"Hun, Will you marry me?" Tanya Kenan lagi masih tetap memamerkan cincin tadi.
"Will you marry me hun?" Ucapnya lirih sekali lagi mengulang sambil memasangkan cincin ke jari manis Eriska namun seperti sebuah mimpi nyata cincin itu terlepas dari jari manis Eriska seolah sipemilik jarilah yang melepaskan cincin itu. Kali ini Kenan benar-benar tidak busa lagi menahan tangisannya pecah sambil memeluk erat tubuh Eriska.
Eriska hanya menyapanya lewat mimpi tadi malam, Eriska berpamitan dengannya hanya lewat mimpi tadi malam. Andai Kenan tau jika semua akan terjadi mungkin ia tidak akan mau terbangun dari tidurnya.
"Eriska selama ini mengidap gagal ginjal. Seandainya ada pendonor mungkin Eriska masih hidup sampai saat ini." Ucap bu Tiwi yang pada akhirnya menjelaskan pada Kenan tentang penyakit yang dirahasiakan Eriska selama ini. Mendengar kenyataan itu begitu pilu perasaan Kenan betapa tidak bergunanya pria itu untuk kekasihnya bahkan disaat terakhir Kenan tidak bisa menemani wanita yang ia cintai itu.
"Ken, Pemakaman akan segera dilakukan. Ibu sengaja tunda pemakaman Eriska untuk menunggu kamu. Sekarang kalian sudah bertemu, Maka ikhlaskan Eriska." Tambah bu Tiwi sambil memegangi pundak Kenan. Kenan mencium kening Eriska beberapa detik lalu melerakan kembali tubuh Eriska.
Pria itu hanya diam sambil menatapi wajah kekasih hati yang kini sudah berada jauh dari nya.
***
Setelah pemakaman Eriska selesai Ken langsung pulang kerumahnya. Tidak ada hal lain yang ingin ia lakukan selain mengurung diri dikamarnya. Ken mengaktifkan hape yang diberikan Eriska untuknya lalu membuka rekaman video yang dibuat oleh Eriska.
"Hai hun, Aneh ya tiba-tiba aku panggil kamu gitu. Biasanya aku selalu panggil nama tapi untuk hari ini aku bakalan panggil kamu hun. Kalo video ini kamu liat, Berarti aku udah gak ada (Tersenyum manis). Tapi aku selalu hidup bersama kamu, Aku mengalir dalam darah kamu. Maaf, Untuk semua kesalahan yang aku lakukan, Maaf untuk masa-masa singkat yang aku berikan. Dan terimakasih, Terima kasih untuk semua waktu terindah yang kamu berikan. Untuk kebahagian dan cinta yang luar biasa indah."
Kenan benar-benar tidak sanggup lagi melihat video yang dibuat oleh Eriska. Ia langsung menutup rekaman itu dan kembali pada dukanya.
**Pada malam yang dingin ku titipkan sejuta rinduku untuk mu. Biarkan angin malam memeluk ragamu yang tak bisa kutemui.
Jika suatu saat takdir tidak mengizinkan kita bersama, Tidak apa. Walau menunggu mu terasa sia-sia setidaknya aku belajar cara bersabar dan mengikhlaskan seseorang yang begitu aku dambakan.
Sungguh aku tidak membenci perpisahan, Karena nyatanya ia mampu menciptakan sebuah pertemuan dengan orang yang lebih baik dari sebelumnya.
Jadikan aku sebuah kenangan kecil untuk mu, Teruslah berjalan tanpa melihat kearahku. Aku disini, Tetap pada tempatku.
-Eriska Linara**-
Bersambung....
Semoga baper ya, Udah mode sad banget ini......
Maaf juga akhir2 ini author lama bgt up nya soalnya lagi banyk kerjaan lain juga. Btw vote PH menurun drastis πΆπΆ semoga setelah up PH kita naik rank lagi ya kesayangan2ku ππππ
Selamat ber sad jamaah π jangan teror author karena mengambil nyawa Eriska karena jodoh Kenan adalah Khay wkwkwkwk