Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Ada hati yang sedang aku jaga



Siang itu Kenan sedang berada di sebuah toko mainan, Setelah mendengar bahwa Dara memiliki anak entah kenapa Kenan sangat ingin memberikan anak-anak itu sesuatu sebagai hadiah kecil. Tapi akan terlihat aneh jadinya jika yang menerima hadiah itu hanya anak-anak Dara mengingat El juga memiliki seorang anak perempuan yang sangat cantik. Itu sebabnya Kenan juga membelikan hadiah kecil untuk Zea.


Setelah mendapatkan beberapa mainan Kenan langsung membawanya sendiri menuju kantor El.


***


"Silahkan duduk pak Kenan, Ini pertama kalinya anda berkunjung ke kantor saya." Ucap El menyambut kedatangan Kenan.


"Iya pak El, Kebetulan saya lewat disekitar sini dan saya ingat bahwa pak El dan juga pak Daniel memiliki anak. Jujur saya juga sangat suka sekali dengan anak-anak dan saya ingin memberikan sedikit hadiah untuk anak-anak pak El dan pak Daniel." Kata Kenan sambil meletakan beberapa kantung belanjaan di atas meja El.


"Ya ampun pak, Bapak repot-repot gini. Terimakasih untuk hadiahnya nanti saya akan sampaikan ini pada pak Daniel karena kebetulan saat ini pak Daniel tidak berada dikantor, Ia sedang melakukan survey bulanan ke beberapa pusat perbelanjaan." Jelas El pada Ken, Di dalam hati El yang sudah lebih dulu curiga pada Kenan merasa tebakan nya itu benar jika dulunya Kenan dan Dara memang memiliki hubungan yang cukup dekat.


"Oh baiklah gak masalah, Ummmmm kalau begitu saya langsung balik ke kantor karena masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan." Katanya lagi sambil melihat kearah jam tangan bermerk yang sama dengan salah satu jam tangan yang dimiliki oleh Elang.


"Iya pak, Mari saya antarkan sampai depan. Kebetulan saya juga mau ke ruang pertemuan." El tersenyum lalu mengantar Kenan hingga pintu depan.


"Sekali lagi terimakasih pak, Semoga kerja sama kita berjalan lancar dan dapat saling menguntungkan untuk masing-masing perusahaan." Ken mengangguk tersenyum sambil menjabat tangan El lalu Kenan pun segera pergi dari sana. El menatap punggung pria yang sudah masuk kedalam mobil mewah dan mahal miliknya itu, Jika memang semua kecurigaan El ternyata benar maka tidak akan baik untuk hubungan mereka selanjutnya termasuk Dara dan Daniel.


***


"Nih buat si kembar." Kata El meletakan dua tas belanjaan yang diberikan oleh Ken keatas meja kerja Daniel. Daniel langsung melihat isi dari dua tas yang berjejer di atas mejanya itu dan di dalamnya ada beberapa mainan mahal.


"Lo yang beliin?" Tanya Daniel memindahkan benda itu dari atas mejanya.


"Bukan, Itu hadiah kecil dari pak Kenan." Sahutnya, Mendengar hal itu Daniel mengerucutkan dahi karena untuk pertama kalinya ada seorang investor yang memberikan hadiah untuk anak-anaknya.


"Zea juga dapat." Tambah El yang sedang membaca beberapa map untuk di tanda tangani nya.


"Tumben banget ya ada investor yang ngasih hadiah buat anak-anak. Biasanya mereka selalu ngasih hadiah untuk kita dan istri kita dan ini baru pertama kalinya ada yang ngasih anak-anak." Kata Daniel sambil tetap fokus bekerja karena memang saat ini kerjaan nya sangat menumpuk.


"Katanya dia suka sama anak-anak dan dia baru tau kalo kita udah punya anak-anak." Sahut El menyampaikan alasan Kenan pada Daniel.


"Oh oke gue terima hadiahnya sampein ucapan makasih dari gue untuk dia." El mengangguk lalu ia pergi dari ruangan Daniel.


***


Sepulang dari kantor El membawa hadiah yang diberikan Kenan untuk anaknya begitu juga dengan Daniel.


"Princess nya Daddy baru bangun bobo ya? Daddy punya hadiah loh buat Zea." Ucap El seraya mengeluarkan mainan yang diberikan Kenan, Memamerkan nya pada anak semata wayang nya itu membuat Zea tertawa sambil menggerak kan kedua tangan dan kakinya meminta El untuk segera mengangkatnya dari tempat tidur.


"Wah Zea dapat mainan baru lagi ya dari Daddy?" Kata Luna sambil ikut duduk bergabung di sana.


"Bukan Daddy yang beliin Mommy, Tapi hadiah dari pak Kenan." Mendengar hal itu Luna mengernyitkan wajahnya.


"Pak Kenan?"


"Iya, Davin dan Devan juga dapat." Sahut El lalu mengecup kening Luna.


"Dengan alasan?" Tanya Luna penasaran sambil ia membantu melepaskan dasi di leher El sedangkan El dengan manjanya menggelayutkan kedua tangannya dipinggang Luna, Membuat siapa saja yang melihat akan merasa iri karena sikap romantis El pada istrinya.


"Dia bilang suka banget sama anak-anak, Gak ada alasan lain. Ya semoga aja alasan itu emang benar adanya, Karena kalo sampai kecurigaan kita tentang pak Ken dan Dara itu dulunya punya hubungan yang dekat terbukti benar bakalan jadi gak baik untuk semua termasuk kerjasama perusahaan." Luna menghela nafas panjang lalu duduk dipangkuan El.


"Hmmmmmm semoga aja yang kita pikirkan itu salah." Kata Luna menyandarkan kepalanya di kepala El.


***


"Beib anak-anak ngapain?" Tanya Daniel yang baru saja sampai kerumahnya.


"Lagi main sama mba mereka, Capek ya ay?" Tanya Dara merangkul pinggang Daniel sambil membawakan tas kerja milik suaminya. Daniel menggeleng sambil tersenyum lalu mengecup bibir istrinya yang setiap hari selalu menyambutnya saat pulang bekerja. Walau ia merasa sangat lelah karena pekerjaan kantor yang tidak ada habisnya tapi saat ia pulang kerumah dan melihat wajah anak serta istrinya maka rasa penat itu langsung hilang begitu saja.


"Oh iya aku lupa, Ada hadiah buat mereka berdua sebentar aku ambilin dulu di mobil." Daniel lalu kembali untuk mengambil hadiah yang diberikan Kenan untuk anak-anaknya. Tidak lama Daniel kembali membawa dua paper bag di tangannya.


"Kamu mampir ke toko mainan?" Tanya Dara


"Gak, Ini hadiah dari pak Kenan investor baru di perusahaan." Mendengar hal itu Dara langsung diam tidak ingin memberikan tanggapan lebih.


"Oh...." Sahut Dara singkat


"Ya udah aku mau ke kamar anak-anak bentar." Dara tersenyum datar sambil mengangguk lalu Daniel membawa hadiah itu menuju kamar anak-anaknya.


***


"Ay ngapain pak Kenan ngasih hadiah buat anak-anak kita?" Tanya Dara yang saat ini sedang asik mengecat kukunya ditemani oleh Daniel.


"Katanya sih karena dia suka sama anak-anak dan baru tau kalo aku sama El punya anak." Sahut Daniel yang kini mengambil alih kuas cat kuku ditangan Dara lalu membantu mengoleskan nya di kuku istrinya itu.


"Zea juga dapat?" Tanya Dara lagi, Daniel mengangguk menjawab pertanyaan istrinya itu, Ia fokus pada polesan kuas di kuku mungil milik Dara.


"Cantik, Aku suka warnanya." Kata El lagi melihat hasil kerjanya yang rapi, Dara tersenyum. Lagi dan lagi Daniel membuatnya jatuh hati, Pria mana yang mau mengerjakan hal ini dan bisa dengan sabar agar hasilnya terlihat indah seperti yang ada di kuku Dara saat ini.


"Ay." Panggil Dara pada Daniel yang kembali fokus pada kuku-kuku itu.


"Hmmm....." Sahut Daniel singkat tanpa melihat kearah Dara. Dara mendekati wajah Daniel lalu mencium bibir pria itu.


"Kamu nakal banget sih sekarang, Belajar dimana?" Ucap Daniel


"Dari kamu lah " Sahut Dara tertawa, Ia melingkarkan kedua tangannya dileher Daniel. Daniel yang sudah tidak bisa lagi menahan perasaan nya langsung membalas ciuman Dara namun berbeda dengan ciuman Dara yang hanya sekedar mengecup bibirnya, Kali ini Daniel benar-benar m*****t bibir istrinya tersebut dan Dara memberikan perlawanan. Keduanya saling berpagutan hanyut dalam rasa cinta yang teramat besar. Daniel melanjutkan ciuman itu menuju leher putih milik Dara membuat seluruh bulu kuduk Dara merinding menahan geli karena sentuhan dari bulu-bulu tipis hampir tidak terlihat yang tumbuh di sekitar bibir Daniel.


Dara mengeratkan pelukannya di leher Daniel membawa pria itu untuk lebih menempel ditubuhnya, Namun tiba-tiba Daniel menghentikan aktifitasnya.


"Kuku kamu belum kering beib, Yakin mau? Gak takut rusak?" Tanya Daniel sambil tersenyum nakal melihat Dara yang sudah mulai terbawa suasana. Tanpa mengatakan apa-apa dan menjawab pertanyaan suaminya Dara langsung mencium bibir Daniel sambil sesekali memainkan lidahnya. Melihat hal itu Daniel tertawa puas di dalam hatinya tentu ia juga sangat mengharapkan hal itu mengingat ia baru saja libur panjang dari aktifitas malamnya bersama Dara tentu ia yang paling tidak sabar hanya saja ia sangat senang menggoda istrinya itu. Dan semua berlanjut sesuai dengan keinginan Daniel.


***


Seminggu sudah berlalu, Hari-hari mereka pun berjalan seperti biasanya begitu juga dengan Kenan yang makin sering memberikan hadiah untuk anak-anak mereka. Walaupun El dan Daniel sudah berulang kali menolaknya tetap saja hal itu Kenan lakukan.


Hari ini Dara berencana untuk mengajak kedua putranya itu membeli baju, Maklum saja di usia Davin dan Devan saat ini pertumbuhan mereka cukup pesat dan membuat baju-baju mereka cepat sempit. Karena Daniel sangat sibuk Dara terpaksa meminta bantuan pada Rendy untuk mengantar sekaligus menemaninya berbelanja karena sudah pasti Dara akan sangat kerepotan jika membawa si baby twins seorang diri, Belum lagi ia harus membawa hasil belanjaan yang sudah pasti tidak sedikit jumlah nya oleh karena itu Dara sangat membutuhkan tenaga laki-laki untuk menemaninya.


"Ra waktu itu kakak ketemu Kenan di cafe, Kakak baru tau kalo perusahaan nya bekerjasama dengan perusahaan El." Kata Rendy saat mereka dalam perjalanan menuju salah satu pusat perbelanjaan.


"Mmmm aku udah kok." Sahut Dara tidak berminat.


"Terus Daniel tau kalo dia itu mantan kamu?"


"Daniel gak tau. Aku juga gak pengen dia tau karena kakak tau sendiri gimana Daniel orangnya. Sama kakak aja dia sempat salah faham apalagi kalo sampai dia tau Kenan dan aku dulunya pacaran. Aku juga gak mau ngerusak kerjasama mereka, Lagian itu masa lalu gak berarti apa-apa lagi buat aku sekarang. Sekarang aku udah hidup bahagia punya Daniel yang selalu mencintai aku dan anak-anak yang lucu." Sahut Dara, Rendy tersenyum lalu menepuk pucuk kepala adiknya itu dengan perasaan bangga karena Dara yang ada disampingnya saat ini sudah sangat dewasa tidak lagi seperti dulu. Entah bagaimana cara Daniel membuat adiknya bisa seperti sekarang sedangkan ia tau bagaimana kelakuan konyol Daniel.


Tidak lama mereka sampai ditempat yang mereka tuju, Setelah memarkirkan mobilnya Rendy mengeluarkan stroller milik Davin dan Devan dan Dara langsung memasukan kedua bayi lucu juga tampan itu ke dalam sana.


"Davin sama om Rendy ya." Ucap Dara tersenyum manis pada bayinya yang malah tertidur nyenyak berbeda dengan saudara kembarnya yang terus saja mengoceh melihat disekitarnya yang sangat ramai.


Mereka lalu masuk dan langsung menuju toko baju bayi dan anak.


"Ra, Kakak sama Davin ke toko mainan sebelah sana ya, Kalo udah selesai kamu bisa telepon kakak." Merekapun berpisah Dara bersama Devan masuk ke toko baju sedangkan Rendy dan Davin masuk ke toko mainan.


Sedang asik memilih mainan untuk keponakan nya itu, Lagi-lagi ia bertemu dengan Kenan yang saat itu juga sedang sibuk memilih beberapa mainan untuk diberikan pada Zea, Davin, Dan Devan.


"Lo lagi ngapain disini?" Tanya Rendy melihat Kenan membawa banyak tas belanjaan ditangannya.


"Beli mainan buat anaknya temen gue. Lo sendiri ngapain disini bang?" Tanya balik Kenan pada Rendy yang bahkan belum menemukan satupun mainan untuk Davin.


"Gue gak sendiri, Nih lagi sama ponakan gue." Sahut Rendy menunjuk kearah stroller Davin. Kenan pun langsung melihat Davin yang sedang tertidur nyenyak di dalam sana tidak perduli dengan suara bising dan ribut yang ada disekitarnya.


"I......Ini anaknya Dara?" Tanya Kenan ragu.


"Iyalah emang ponakan gue siapa lagi kalo bukan anaknya Dara." Mendengar hal itu Kenan langsung berjongkok melihat lebih dekat wajah bayi tampan dan lucu yang sedang tidur pulas itu. Seketika senyum Kenan mengembang diwajah tampannya yang tidak kalah dengan wajah El dan Daniel.


"Hey.....Nama kamu siapa? Kamu ganteng banget sih." Ucap Kenan menyentuh pipi tembem milik Davin.


"Namanya Davin dan sodara kembarnya Devan." Sahut Rendy memperkenalkan keponakan kesayangannya itu pada Kenan. Kenan tidak ada hentinya tersenyum melihat anak dari Daniel dan Dara. Ia benar-benar sangat gemas melihat wajah Davin.


"Bang, Boleh gak gue gendong sebentar?" Tanya Kenan meminta izin pada Rendy, Awalnya Rendy ragu memberikan izin pada Ken untuk menggendong Davin tapi tidak masalah jika hanya sebentar.


"Tapi hati-hati ya, Lo pernah gendong bayi gak sebelumnya? Entar ponakan gue keseleo lagi." Kata Rendy setengah bercanda tapi lebih banyak seriusnya.


"Ya pernah lah, Gini-gini gue punya panti asuhan di Australia. Udah sering gendong bayi bahkan lebih kecil dari ini juga gue tau cara gendongnya." Balas Kenan, Setelah Rendy memberikan izin padanya Ken mengangkat tubuh montok Davin dari stroller nya dan menggendong nya.


"Lucu banget sih bang anaknya Dara, Pipinya mirip banget sama Dara." Ucap Ken mengamati tiap jengkal wajah Davin yang menurutnya sangat mirip dengan wajah Dara.


"Masa sih? Menurut gue anaknya Dara dua-duanya mirip banget sama Daniel." Sahut Rendy yang malah tidak menemukan kemiripan Dara pada wajah Davin.


"Mirip Dara bang, Lo liat pipinya sama kan kek Dara tembem gitu." Bantah Ken, Ia menciumi pipi Davin berharap bayi itu segera bangun dan benar saja, Karena terus diganggu akhirnya Davin pun menggeliatkan tubuhnya dan membuka kedua matanya...


Davin tersenyum kearah pria yang menggendong nya saat ini, Siapa lagi kalau bukan Ken.


"Hai Davin." Ucap Ken membalas senyuman Davin.


"Kak Rendy!" Tiba-tiba terdengar suara Dara dari jauh. Rendy dan Ken pun sama-sama melihat kearah Dara yang saat ini menghampiri mereka dengan wajah serius dan datar...


Tanpa mengatakan apa-apa Dara mengambil Davin dari gendongan Ken membuat Rendy dan Ken sama diamnya.


"Ra, Tadi kakak gak sengaja ketemu Kenan disini." Ucap Rendy meluruskan masalah, Ia tau bahwa saat ini adiknya sedang marah.


Dara meletakan kembali Davin ke dalam stroller nya lalu meminta Rendy untuk memberikan sedikit waktu untuknya agar ia bisa bicara dengan Ken supaya Ken berhenti untuk mengirimi anak-anaknya hadiah. Rendy pun menurut ia membawa Davin pergi lebih dulu meninggalkan Dara dan Ken di dalam toko mainan itu.


"Apa maksud kamu selalu ngirim hadiah untuk anak-anak aku?" Tanya Dara to the point tidak ingin berbasa-basi dan membuang banyak waktu.


"Aku cuma ngasih hadiah doang buat mereka." Sahut Ken tersenyum namun Dara tetap memasang wajah datarnya.


"Kalo emang hadiah satu kali itu udah cukup. Kalo berkali-kali apa namanya? Ken, Cukup kita yang tau tentang masa lalu waktu itu. Itu akan lebih baik untuk sekarang, Dan mulai hari ini aku minta tolong sama kamu, Tolong berhenti mengirimkan hadiah untuk anak-anak aku." Setelah mengatakan hal itu, Dara langsung ingin pergi namun Ken menahannya sesaat.


"Sorry kalo selama ini kamu terganggu sama semua yang aku lakuin. Aku gak ada maksud untuk menggangu kehidupan kamu, Aku juga tulus ngasih hadiah itu untuk anak kamu dan anak pak El. Aku tau kamu masih marah sama aku karena waktu itu aku ngilang begitu aja tanpa ngabarin kamu lebih dulu tap......" Belum selesai Kenan bicara Dara buru-buru menghentikannya.


"Saat itu aku emang terluka, Saat itu aku emang bener-bener marah dan benci sama kamu. Tapi ini bukan tentang saat itu lagi, Saat ini ada hati yang harus aku jaga dengan baik, Saat ini ada rasa yang harus aku hargai melebihi apapun, Dan saat ini ada kepercayaan yang sedang aku jaga perjuangkan. Sampai disini aku harap kamu mengerti." Ucap Dara lalu ia pergi dari tempat itu sambil mendorong stroller Devan. Sedangkan Kenan hanya bisa diam menatap Dara dari kejauhan.


Bersambung