
Ini hari paling terburuk yang dirasakan oleh Luna, Hari semakin malam kabar tentang El pun belum mereka dapatkan dan Luna juga masih dirawat di Rumah Sakit karena kondisinya yang memang sangat lemah.
Daniel yang juga sedang menunggu kabar dari anak buah El belum juga mendapatkan informasi tentang El walau hanya sedikit, Membuatnya ikut merasa frustasi.
"Ada sinyal dari handphone milik bos El dan itu berada di daerah puncak." Ucap salah satu anak buahnya yang bertugas melacak keberadaan El lewat nomor hp milik El yang tidak bisa dihubungi sejak tadi.
"Cepat ke lokasinya." Sahut Daniel, Ia dan beberapa orang pun langsung pergi ke lokasi yang dimaksud.
Sedangkan Luna yang sedang berada dirumah sakit belum juga sadar. Bahkan ia mengalami demam tinggi saat ini, Disepanjang tidurnya ia terus memanggil nama El. Membuat Dara ikut menangis sedih melihat keadaan Luna saat ini.
***
Setelah cukup jauh Daniel mendatangi lokasi keberadaan sinyal hp milik El, Dan akhirnya mereka sampai di sebuah hutan lindung daerah puncak. Daniel langsung berteriak memanggil nama El begitu juga dengan para anak buah El langsung bergerak mencari keberadaan El namun tidak ada satupun tanda keberadaan El disana.
"El.....Lo dimana sih El? Istri lo sakit mikirin keadaan lo. Please kasih tau gue, Lo dimana. Kasian Luna El!" Teriak Daniel yang sudah lelah berkeliling mencari El namun tidak juga ditemukan nya.
"Cari terus jangan berhenti!" Perintah Daniel, Walaupun saat ini ia juga merasa sangat lelah Daniel tetap memaksakan diri untuk mencari El.
"El sumpah kalo sampai lo gak keluar gue bakalan hapus lo dari ingatan kami semua termasuk Luna dan Zea!" Ucap Daniel yang merasa hampir putus asa karena tidak juga menemukan El. Daniel terduduk lelah, Tenaganya benar-benar terkuras untuk mencari El.
Namun saat ingin kembali berdiri dan melanjutkan pencariannya, Mata Daniel melihat pantulan cahaya dari layar hp milik El yang tertutup dedaunan kering. Dengan cepat Daniel mengambil hp itu, Layarnya terlihat sedikit retak dan terdapat noda darah yang sudah mengering. Daniel langsung menekan tombol aktif dan tidak lama hp El menyala dan dalam saat bersamaan sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Karena penasaran Daniel langsung membuka pesan itu. Dalam situasi seperti ini Daniel memang harus melupakan kode etiknya.
Mata Daniel melebar saat melihat pesan yang isinya sebuah rekaman video dan di sana terlihat sosok pria yang sedang dicarinya.
"Gimana perasaan lo saat ngeliat rekaman bos lo tercinta lagi disiksa kek sekarang? Gue jadi inget sama kejadian beberapa minggu yang lalu dan karena hal itu gue baru keluar dari Rumah Sakit 2 hari yang lalu. Karena keberuntungan selalu berpihak sama gue akhirnya gue kepikiran buat ngelakuin hal yang sama dia dia." Ucap Baron yang tiba-tiba muncul di video itu, Tangannya meremas kuat rambut El yang sudah tidak karuan karena penyiksaan yang sudah dilakukan oleh nya dan anak buahnya. Tangan Daniel mengepal kuat hingga gemetar sangking ia murka pada Baron. Sedangkan El terlihat sangat memprihatinkan terduduk lemah tidak berdaya dengan darah yang terus menetes dari kepalanya juga tubuh yang terikat kuat oleh sebuah tali tambang besar.
"B*****T! B******N! Singkirin tangan lo dari El atau gue bersumpah bakalan putusin tangan lo!" Teriak Daniel yang tidak bisa lagi menahan diri. Ia bahkan menghantam kuat tanah tempat ia berpijak saat ini hingga tangannya merah.
"Ini belum seberapa, Kalian harus nonton sampai habis. Anggap aja kalian lagi nonton sebuah film action, Dan gue saranin kalian siapin pop corn dan juga minuman soda dan satu lagi jangan sampai lupa tisue, Karena di pada bagian akhir pemeran nya akan mati." Lanjut Baron lalu tertawa puas. Sungguh Daniel tidak kuat melihat video penyiksaan itu, Ia sampai menangis ditempat itu juga karena El diperlakukan jauh dari kata prikemanusian. Bahkan seekor binatang pun tidak layak mendapatkan penyiksaan selerti itu.
Daniel menutup video itu tidak ingin lagi melihat El menderita. Lalu apa yang harus ia katakan pada Luna? Bagaimana caranya ia menemukan El? Semua terasa sulit untuk Daniel.
"Bos, Kami semua sama sekali tidak menemukan jejak bos El berada ditempat ini." Ucap seorang anak buah yang melapor hasil nihil pada Daniel. Daniel mengusap kasar wajahnya mencoba kembali fokus berpikir.
"El gak ada disini, Ini semua cuma permainan Baron." Sahut Daniel berdiri mencoba tetap kuat padahal hatinya saat ini sangat terasa sakit karena baru saja melihat keadaan El. Daniel mengantongi hp milik El lalu ia kembali ke Rumah Sakit diikuti oleh semua anak buahnya.
***
Sesampainya di Rumah Sakit semua anggota keluarga sudah berkumpul termasuk Kenan dan bahkan Zea, Davin dan Devan ada disana. Daniel berusaha menyembunyikan semua yang ia tau dari orang-orang yang sedang menunggu hasil tentang El.
"Daniel gimana El? Udah ketemu? Bunda mohon cari El." Ucap bu Mela terisak menangis menghampiri Daniel yang berjalan lesu.
"Bun, Kita doain ya semoga El cepat ketemu. Daniel yakin El gak kenapa-napa bunda juga tau sendiri kan kalo El itu orang yang kuat." Jawab Daniel yang juga ikut meneteskan air mata. Tangis bu Mela pecah dalam pelukan suaminya yang juga terlihat sangat khawatir pada anak semata wayang nya itu.
Kini giliran Kenan dan Rendy yang menghampiri Daniel dan bertanya tentang El namun Daniel lebih memilih untuk diam tidak menjawab pertanyaan itu. Matanya kini hanya fokus pada sosok Luna yang duduk diam diatas ranjang, Tatapannya kosong namun tidak pernah kering karena airmata nya yang tidak berhenti mengalir. Sangat jelas terlihat jika saat ini ia sedang merasa hancur karena El.
Daniel berjalan pelan ke arah Luna, Sungguh betapa sakit hatinya saat ini melihat Luna juga Zea yang sedang tidur nyenyak di gendongan bi Irah. Dara yang melihat ekspresi Daniel langsung tau jika Daniel belum bisa menemukan keberadaan El.
"Kamu harus kuat, Kamu harus bisa bertahan untuk El, Zea membutuhkan kamu. Aku yakin El akan segera kembali." Ucap Daniel bicara pada Luna, Namun Luna tidak memberikan komentar apapun. Ia terlihat seperti orang depresi berat, Semenjak sadar ia hanya duduk diam menatap kearah dinding dengan tatapan kosong. Hanya air mata yang mewakili perasaan nya saat ini.
"Cuma ada satu cara untuk menemukan El." Ucap Daniel lagi kurang yakin, Semua orang yang ada diruangan itu langsung mendekat termasuk Luna yang langsung melihat kearah Daniel.
"Apa itu? Cepat bilang." Ucap Luna yang baru saja mau membuka mulutnya.
"Ayah kandung El." Ucap Daniel mengingat bahwa pak Bram adalah pemimpin sebuah gang besar yang terkenal, Bukan hal yang sulit untuknya menemukan seseorang walaupun orang itu sedang bersembunyi di lubang semut.
"Tapi.....-" Belum selesai Dara melanjutkan ucapan nya Luna langsung melepas selang infus dan beranjak pergi dari ranjangnya.
"Antarkan aku ke rumah pak Bram." Ucap Luna singkat meminta tolong pada Daniel karena ia sama sekali tidak mengetahui alamat ayah mertuanya itu.
"Bunda, Luna titip Zea ya." Kata Luna lagi bicara pada ibu mertuanya. Ada rasa ragu di hati bu Mela untuk mengizinkan menantunya itu pergi tapi tidak ada pilihan lain selain saran yang diberikan oleh Daniel.
"Bunda mohon, Bawa anak bunda kembali. Bawa Elang bunda kembali." Sahut bu Mela di sela tangisannya.
"Aku ikut." Ucap Dara mengikuti Daniel dan Luna.
"Kita juga ikut." Giliran Ken dan Rendy yang menyusul. Dan akhirnya mereka berlima pergi kerumah pak Bram untuk meminta tolong.
Setelah satu jam menempuh jarak dari Rumah Sakit akhirnya mereka sampai. Ini pertama kalinya untuk Luna tapi tidak untuk Daniel yang sudah tau sejak awal jika El bukanlah berasal dari keluarga sembarangan.
Daniel, Dara dan Luna segera turun dari mobil. Terlebih Luna benar-benar tidak sabar ingin segera masuk kerumah bak istana yang dijaga oleh beberapa orang bertubuh besar lebih mirip seperti seorang algojo. Lalu tidak berselang lama Rendy dan Kenan juga datang.
"Buka, Saya mau ketemu sama pak Bram." Ucap Luna, Tidak peduli dengan rasa pusing yang menyerang nya saat ini.
"Kalian siapa? Ada perlu apa?" Tanya penjaga itu menggeretak Luna. Daniel langsung menarik Luna menyembunyikan dibalik badannya.
"Tolong beri tau pak Bram, Luna datang kemari." Ucap Daniel, Kedua penjaga itu saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya salah satu diantara mereka masuk.
Tidak begitu lama mereka menunggu, Akhirnya penjaga tadi datang dan langsung membuka kan pintu gerbang. Luna dan yang lain nya langsung masuk ke istana milik ayah kandung El tersebut.
"Luna, Kamu sama siapa? Zea mana?" Tanya pak Bram menyambut Luna dengan ramah. Namun raut wajahnya langsung berubah saat Daniel dan lainnya ikut masuk.
"Ada apa ini? Kenapa kalian semua datang kemari?" Tanya pak Bram bingung sekaligus heran. Luna berjalan kearah pak Bram, Kakinya terasa lemah untuk sekedar menopang tubuhnya pun rasanya sulit.
Luna menangis lalu duduk bertumpu dikedua lututnya membuat pak Bram makin penasaran ada apa sebenarnya.
"Anda tau betapa saya membenci anda? Bahkan jika kebencian itu terlihat seluruh dunia pun masih tidak bisa mewakili rasa benci yang saya miliki untuk anda. Awalnya saya kasian pada anda karena anda memiliki hubungan yang jauh dari kata baik dengan anak semata wayang anda. Itu sebab nya saya tetap menerima anda walau suami saya melarang. Tapi setelah tau jika.....Jika anda yang menyebabkan kecelakaan hingga ibu saya meninggal saat itu juga saya membenci anda, Bahkan sangat membenci anda, Dan secara tidak sadar saya juga ikut membenci suami saya yaitu anak kandung dari orang yang sudah membuat saya menjadi seorang piatu saat usia saya masih sangat muda." Mendengar hal itu pak Bram sangat terkejut, Ia bahkan tidak bisa bicara lagi saat ini.
"Tapi hari ini dan saat ini, Saya melupakan semua itu. Saya ikhlas karena saya tau bahwa itu adalah takdir yang digariskan Tuhan untuk saya. Tapi untuk menebus semua itu, Saya mohon temukan El. Temukan suami saya, Temukan ayah dari anak saya. Saya mohon." Sambung Luna terisak sambil terus berlutut dihadapan pak Bram.
"Untuk kali ini saja, Saya mohon sebagai seorang anak menantu, Sebagai seorang ibu dari cucu anda dan sebagai seorang istri dari anak kandung anda." Membuat semua yang ada disana ikut meneteskan air mata melihat perjuangan Luna untuk membawa El kembali.
"A......Apa maksud kamu? Apa yang terjadi sama El? Dan dimana dia saat ini? Daniel, Tolong kasih tau saya ada apa ini sebenarnya?" Tanya pak Bram benar-benar tidak mengerti dengan situasi saat ini. Daniel menarik nafas dalam lalu mendatangi pak Bram dan menjauhkan nya dari Luna agar Luna tidak mendengar dan tidak melihat rekaman video El, Di berikan nya hp milik El yang menyimpan rekaman video El yang sedang ditahan oleh Baron.
Mata pak Bram berubah murka saat melihat isi video itu, Tangan nya mengepal kuat hingga terlihat memutih juga urat tangannya terlihat.
Setelah menyerahkan hp itu Daniel kembali dan kini ia duduk ikut berlutut disamping Luna.
"Tolong temukan El, Dia memang bukan siapa-siapa untuk saya. Tapi dia lebih dari saudara." Ucap Daniel ikut memohon pada pak Bram. Melihat hal itu Dara pun ikut melakukan hal yang sama.
"Tolong bawa kembali bang El, Dia adalah satu-satunya orang lain yang selalu perduli dengan orang-orang disekitarnya."
"Tolong selamatkan El, Karena dia orang yang sangat baik." Ucap Rendy yang juga ikut berlutut disamping Daniel.
"Tolong bawa El untuk kami semua, Saya memang baru mengenal El. Tapi dari nya lah saya belajar menjadi seseorang yang lebih baik dan darinya juga saya belajar arti sebuah kebersamaan." Tambah Kenan, Betapa sesak perasaan pak Bram melihat anak-anak muda yang sangat mencintai sosok El. Dia bukan seorang bos yang ditakuti, Dia juga bukan seorang kaya raya yang bisa membeli simpati seseorang namun betapa banyak cinta dan kasih yang ia dapatkan.
Pak Bram berjalan kearah mereka berlima yang masih berlutut. Di pandangi nya sosok Luna wanita hebat yang selalu berdiri disamping El.
"Papa berjanji akan mengembalikan El pada kamu dan Zea, Meski nyawa papa sendiri sebagai taruhannya. Saya Bram Leondra berjanji akan membawa El kembali untuk kalian semua." Ucap pak Bram yang saat ini juga ikut duduk di hadapan mereka berlima.
Pak Bram langsung memerintahkan seluruh anggota geng untuk mencari keberadaan El saat ini. Dan baru sekitar 20 menit tim pelacak milik pak Bram mencari mereka sudah mendapatkan lokasi El dan Baron.
"Bos, Mereka saat ini sedang berada di pelabuhan peti kemas milik PT. ***** yang sudah lama tidak beroprasi."
"Cepat kepung tempat itu, Pastikan bahwa tidak ada satu orang pun yang bisa keluar dari tempat itu." Perintah pak Bram.
"Luna, Sebaiknya kamu pulang ini terlalu berbahaya untuk kamu." Tambah pak Bram meminta Luna untuk tidak ikut namun Luna bersikeras untuk tetap ikut kesana.
"Kami akan menjaga Luna." Ucap Rendy, Dan akhirnya pak Bram setuju jika Luna ikut dengan catatan ia harus terus berada di dalam mobil.
"Beib, Aku anterin kamu pulang ya. Please untuk kali ini dengerin aku, Kasian anak-anak kalo gak ada satupun ibu mereka." Kata Daniel mendahului sebelum Dara merengek ingin ikut juga ketempat yang berbahaya itu.
Dan karena ucapan Daniel ada benarnya, Akhirnya Dara mengalah. Ia kembali ke Rumah Sakit namun menggunakan taksi karena ia menyuruh Daniel untuk tetap disana.
Mereka semua pun pergi ketempat persembunyian Baron, Daniel membawa mobilnya sendiri. Sedangkan Luna, Rendy dan Ken berada dalam satu mobil. Sepanjang jalan Luna tidak tenang, Ia benar-benar tidak bisa menghentikan tangisan nya.
"Sabar ya, Kakak yakin El gak akan kenapa-kenapa. Dia orang yang kuat, Bahkan satu kali pukul pun bisa bikin orang pingsan jadi kamu harus yakin bahwa El saat ini baik-baik aja." Kata Rendy berusaha menenangkan Luna.
Sesuai perintah pak Bram semua anak buahnya sudah mengepung tempat itu dan memblokir jalan keluar hingga tidak ada satupun yang bisa keluar dari sana.
**Bersambung
Maaf kalo bikin penasaran Yes..... 🙏😁🤗 Ditunggu besok