Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Normal atau Caesar



Dua bulan sudah berlalu, Kini semua kembali berjalan seperti biasanya. Saat ini Luna dan bu Mela sedang menunggu Dara. Mereka bertiga ada janji ingin menghabiskan waktu bersama hari ini. Mulai dari belanja, Ke salon, Makan dan jalan-jalan. Bukan tanpa sebab mereka bertiga ingin melakukan semua hal itu. Hari ini tanggal 22 Desember yang berarti itu adalah hari ibu, Semenjak memiliki anak kedua ibu muda itu jarang sekali keluar rumah, Walau mereka masing-masing memiliki ART dan pengasuh untuk anak-anak mereka tetap saja mereka tidak bisa duduk manis dan mempercayakan semua pada pengasuh oleh sebab itu El dan Daniel sengaja menyuruh mereka menikmati waktu santai dan giliran mereka yang menjaga anak-anak.


Ayah El juga tidak lagi mengganggu keluarga El, Ia malah sering mengirimi hadiah untuk cucu semata wayangnya itu dari hadiah kecil hingga sebuah rumah besar dan mewah lengkap dengan surat-suratnya dan isinya. Namun El tidak ingin menerima secuil pun hadiah yang dikirim ayahnya itu untuk Zea.


Sedangkan Clara, Setelah El tau bahwa Clara memang tidak melakukan hal itu pada Luna ia langsung melepaskan Clara dan Clara pindah ke Paris untuk kembali meniti karirnya.


Hidup mereka saat ini benar-benar bahagia dengan keluarga kecil mereka masing-masing.


Dan akhirnya yang mereka tunggu sejak tadi datang juga, Daniel, Dara dan kedua anak kembar mereka.


"Maaf ya, Lama ya nunggu nya?" Ucap Dara menghampiri Luna dan bu Mela yang sedang asik menjaga Zea.


"Gak kok, Davin mana?" Tanya Luna sambil mengambil Devan dari gendongan Dara lalu menciuminya gemas karena ini adalah masa-masa lucu bayi kembar itu.


"Sama ayahnya di depan. Oh iya bun mama Dara minta maaf karena gak bisa ikutan, Biasalah udah ada janji sama temen-temen nya."


"Iya gak apa-apa kok." Sahut bu Mela yang sibuk bercanda dengan Devan.


"Hai mommy, Hai oma Davin disini." Ucap Daniel membawa Davin bergabung.


"Hai Davin, Duh makin ganteng aja sih cucu-cucu oma." Kata bu Mela sambil menciumi pipi tembem Davin.


"Davin anak gantenya mommy, Sini sama ade Zea." Tambah Luna tersenyum. Luna sibuk dengan dua bayi kembar itu dan Dara sibuk menggendong Zea, Begitulah saat mereka berkumpul mereka akan saling tukar bayi.


"El dimana?" Tanya Daniel yang sejak tadi tidak melihat El disana.


"Ada dikamar, Bentar aku panggil." Luna lalu pergi untuk memanggil El yang ada dikamar sedang merapikan tempat tidur Zea.


"Sayang......" Panggil El saat membuka pintu kamar, El yang sudah selesai dengan pekerjaan nya baru saja ingin keluar dan menemui istrinya diruang tengah. Luna memeluk El dengan manja rasa tidak ingin pergi dan membuat suaminya itu kerepotan.


"Abang beneran gak apa-apa aku tinggal dan bisa ngurus Zea?" Tanya Luna ragu-ragu.


"Iya sayang, Abang gak apa-apa kok serius deh. Nikmati waktu kalian dan jangan mikirin kami dirumah oke." Kata El sambil membetulkan rambut panjang Luna.


"Ya udah yuk berangkat." Tambah El menggandeng tangan Luna membawanya keluar kamar.


Setelah Luna, Dara dan bu Mela pergi tinggal lah Daniel dan El beserta ketiga anak bayi yang sedang tertidur pulas.


Daniel mengutak-atik hapenya sedangkan El sibuk dengan laptopnya mengerjakan pekerjaan kantor.


"Jadi hadiah yang dikirim sama bokap lo untuk Zea gak ada yang lo terima?" Tanya Daniel yang sedang membuka minuman kaleng.


"Gak! Gue kerja, Gue punya penghasilan dan Zea gak butuh barang-barang itu semua." Sahut El tegas tidak ingin banyak alasan.


"Wih sombong, Tau gue lo punya duit banyak. Tapi kalo gue rasa sih ya, Bokap lo itu bener-bener tulus deh sayang sama Zea. Kata mertua gue saat orangtua punya cucu mereka akan lebih menyayangi cucunya ketimbang anaknya itu sih cuma sebagai perumpamaan rasa doang. Tapi gue percaya, Buktinya mertua gue capek-capek pulang kerja bela-belain datang kerumah cuma karena kangen aja sama cucunya."


"Bunda sama ayah gue juga gitu. Zea itu cuma punya satu kakek dan satu nenek." Bantah El tetap tidak ingin memberikan kesempatan pada ayah kandungnya itu.


***


Ketiga wanita yang sedang asik menikmati waktunya itu kini sedang berada di sebuah cafe yang ada di dalam mall. Mereka saling bertukar cerita satu sama lain sambil menikmati makanan yang mereka pesan.


"Loh jeng Mela, Jeng Mela lagi santai ya?" Ucap seorang wanita yang kebetulan lewat dan mengenal bu Mela.


"Oh iya jeng Sonya, Saya sama menantu-menantu saya pengen jalan-jalan ngabisin waktu sama-sama." Jawab bu Mela sembari tersenyum.


"Loh bukannya anak jeng Mela cuma El ya setau saya."


"Iya, Ini Dara istri dari sahabat El dan saya sudah menganggap mereka seperti anak-anak saya sendiri. Oh iya, Jeng Sonya sama siapa?"


"Saya lagi nunggu temen, Mau arisan biasalah kan ibu-ibu. Oh iya karena temen saya belum datang, Boleh saya gabung disini?"


"Oh iya, Silahkan duduk." Sahut bu Mela, Bu Sonya pun duduk disamping bu Mela. Ia tersenyum kearah Dara dan Luna mereka pun membalas senyuman wanita dengan perhiasan yang sangat mencolok itu.


"Oh iya jeng, Maaf ya saya kemarin gak datang ke acara syukuran cucunya jeng Mela. Soalnya kebetulan saya lagi di singapur kemaren itu."


"Iya jeng, Gak apa-apa kok yang penting doanya untuk cucu-cucu saya."


"Gimana rasanya melahirkan?" Tanya wanita itu pada Luna yang sejak tadi hanya diam dan tersenyum.


"Saya melahirkan secara caesar waktu itu." Jawab Luna dengan pelan dan sopan.


"Kenapa memang kalo menantu saya melahirkan secara caesar? Cuma karena dia gak melahirkan secara normal lantas dia gak pantas dipanggil ibu? Atau gak pantas mendapat gelar ibu? Caesar atau pun normal mereka tetap seorang ibu. Jeng pikir melahirkan secara caesar itu gak ngerasain sakit? Wah sakitnya luar biasa jeng, Saya yang ngeliat menantu saya aja rasanya ikut perih juga di perut. Ya emang sih waktu itu dia gak ngerasain yang namanya kontraksi, Tapi setelah operasi sakitnya berlipat ganda jeng. Jeng bayangin aja perut kita di iris terus dijahit itu gimana sih rasanya? Jangankan mau gerak, Ketawa aja mereka kadang kesakitan. Saya heran sama orang yang bilang kalo wanita yang melahirkan secara caesar itu belum seutuhnya menjadi seorang ibu, Emang siapa sih yang mau caesar? Semua juga maunya normal. Tapi balik lagi ke kondisinya mendukung atau tidak? Kalo gak mendukung ya mau gak mau kita harus ikuti apa kata dokter. Yang gak seutuhnya jadi ibu itu kalo mereka punya anak tapi gak tau ngurusin." Sahut bu Mela membuat Dara tersenyum puas karena hasratnya untuk memarahi wanita itu terpenuhi sedangkan Luna hanya bisa diam tidak percaya dengan yang baru saja ia dengar tadi.


"Loh jeng, Jeng kok marah-marah? Saya kan cuma bilang begitu." Protes bu Sonya tidak terima dengan apa yang dikatakan bu Mela.


"Saya gak marah, Saya cuma bicara menurut hati dan pikiran saya."


"Iya bunda saya betul banget. Cuma karena kita melahirkan secara caesar lantas apa kami gak pantas dipanggil ibu? Maaf bu, Mungkin saya lancang tapi kualitas baik atau buruknya seseorang terlihat dari ucapan nya." Sambung Dara, Wanita itu langsung marah dan berdiri dari tempat duduknya.


"Menantu sama mertua sama aja, Sama-sama gak sopan kalo ngomong." Ucapnya lalu pergi dari tempat itu dengan wajah sangat kesal.


"Maafin Dara ya bun, Soalnya Dara udah gedek banget dengernya." Kata Dara, Bu Mela tersenyum sambil mengacungkan jari jempolnya pada Dara.


"Bunda luar biasa banget." Kata Luna memuji ibu mertuanya itu.


"Daripada membuang tenaga untuk meladeni ucapan bu Sonya, Lebih baik dengan cara seperti itu. Karena kita wanita elegan, Maka bersikaplah elegan walau sedang berhadapan dengan musuh sekalipun jangan pernah menundukan kepala." Sahut bu Mela, Dara dan Luna langsung bertepuk tangan untuk wanita berumur 46 tahun itu membuat bu Mela tertawa malu.


"Keluar sama kalian berdua itu asik banget tau gak. Bunda ngerasa jadi muda lagi, Habis ini kita nyalon yuk." Kata bu Mela mengajak kedua mama muda yang sudah ia anggap seperti anak nya sendiri.


***


"El......Zea bangun El, Buruan makannya." Kata Daniel meneriaki El yang sedang makan siang.


"Gendong aja dulu, Dia gak cengeng kok. Baru juga gue makan, Bi Irah juga lagi sibuk nyuci baju Zea." Sahut El dari arah dapur.


"Sayang, Sama ayah dulu ya. Daddy Zea lagi maem, Ih Zea cantik banget sih nak.....Masih bayi aja udah cantik gini gimana kalo udah besar nanti? Pasti Bang Davin dan kak Devan ngerebutin Zea deh." Kata Daniel sambil menggendong Zea, Wajah Zea mulai berubah masam tanda ingin menangis.


"El Zea mau nangis nih." Teriaknya lagi.


"Haus kali, Tuh kan ada susunya di food warmer coba kasih dia minum."


"Bentar ya sayang, Haus ya? Dodot sama ayah ya." Daniel lalu memberikan susu untuk Zea namun Zea menolak dengan cara menggeleng lalu menangis keras membuat Davin dan Devan terbangun dan ikut menangis.


"El buruan napa sih! Lo gak denger mereka nangisnya udah kek orang duet nyanyi?" El langsung menghentikan makan siangnya lalu berlari mengejar anaknya yang menangis.


"Lo dibayar mahal ngurusin anak gue aja gak bisa." Celetuk El sambil mengambil Zea dari gendongannya.


"Bangk-...." Kata Daniel tidak jadi menyumpah sadar ada anak-anak disana. Walaupun mereka masih sangat bayi El dan Daniel tidak ingin mereka terbiasa dengan kata-kata sumpah serapah.


"Udah ah, Emosi gue kalo denger lo ngomong. Anak-anak gue juga lagi nangis." Daniel lalu menggendong Devan sambil menggoyang tempat tidur Davin agar Davin berhenti menangis.


"Anak Daddy kenapa? Kok gak berenti nangis sih? Kangen mommy ya nak?" Kata El mencoba menenangkan putri semata wayangnya itu.


"Mas, Zea kenapa nangis kencang gitu?" Tanya bi Irah yang baru datang.


"Gak tau bi, Dikasih dodot nya juga gak mau." Sahut El...


"Davin Devan juga kenapa nangis?" Tanya bi Irah lagi sambil berjalan kearah mereka.


"Karena denger Zea nangis mereka ikutan nangis." Sahut Daniel, Membuat bi Irah menggelengkan kepalanya.


"Sini Zea sama nenek." El memang mengajari Zea untuk memanggil bi Irah dengan sebutan nenek. Bi Irah merebahkan Zea lalu memeriksa popoknya.


"Ya pantes aja nangis. Popoknya penuh mas, Mungkin gak enak makanya dia nangis." Kata bi Irah mengganti popok Zea.


"Tuh coba lo periksa popok Devan Davin kali aja basah juga." Kata El memerintah Daniel.


Setelah popok diganti Zea langsung berhenti menangis, Bi Irah menepuk kakinya sangat pelan dan Zea kembali tertidur.


"Sayang, Udahan dong nangisnya. Ade Zea udah bobo loh itu, Kalian kok masih nangis sih? Nangisin apa dong ceritanya?" Kata Daniel, Melihat Davin yang juga menangis El menggendong anak pertama Daniel itu sambil menepuk pahanya pelan. Tangisan kencang Davin pun sedikit demi sedikit mulai berkurang dan akhirnya kembali tidur.


Mendengar suara Davin menghilang, Tangisan Devan pun berhenti dan akhirnya ikut tertidur.


"Akhirnya......Ampun gue kalo mereka bertiga nangis gini. Yang tadinya sakit langsung sehat denger tangisan mereka sangking melengking nya." Kata Daniel duduk bersandar disofa.


"Suara anak-anak lo asli Dara banget." Kata El sontak membuat Daniel melirik kearahnya.


Bersambung.....


Maafkan otak author ngadat hasilx gak maksimal gini 😩😩😩 ditambah anak author lg sakit.....