
Saat ini semua sudah berkumpul di rumah besar milik El, El tidak merayakan ulang tahun Zea secara besar-besaran. Ia hanya mengundang keluarga dan kerabat dekat.
Saat ini El, Daniel Kenan, Pak Angga dan pak Restu sedang duduk bersama sambil mengobrol sedangkan Luna, Dara, Bu Mela dan bu Fina sedang sibuk menata makanan di bantu oleh bi Irah dan beberapa asisten rumah tangga. Sedangkan Zea, Davin dan Devan tengah asik bermain bersama."
"Udah ah bosen main mulu, Aku mau datangin om Kenan aja." Ucap Zea meletakan mainannya. Acara belum di mulai karena El sedang menunggu kedatangan Rendy yang sedikit terlambat karena ada satu pekerjaan yang harus ia selesaikan.
"Ngapain kamu ngumpul sama orang-orang dewasa? Kamu itu masih kecil." Celetuk Devan cuek tidak perduli dengan wajah masam Zea.
"Biarin! Aku mau datangin om Kenan kenapa kamu yang repot sih? Bang Davin, Bilangin tuh sama Devan jadi cowok itu jangan rese."
"Kalian kenapa sih berantem mulu? Ini kan hari yang spesial, Jangan berantem terus dong. Baikan buruan sebelum abang bilangin ke Daddy dan ayah, Bunda sama mommy juga bakalan marah lo kalo tau kalian berantem." Tegur Davin selaku orang paling tua di antara Devan dan Zea...
"Males baikan sama dia." Sahut Devan cuek lalu berdiri meninggalkan Zea dan Davin di sana. Zea tidak tinggal diam, Ia langsung menarik topi yang dikenakan oleh Devan hingga kepala Devan mengikutinya.
"Ish lepasin! Kamu itu cewek atau cowok sih? Mana ada cewek kayak preman gitu." Ucap Devan sambil terus memegangi topinya sedangkan Luna sama sekali tidak memperdulikan ucapan Devan dan terus menarik topi itu. Melihat kelakuan kedua adiknya Davin hanya bisa menggeleng sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Bunda, Mommy Zea sama Devan berantem lagi." Teriak Davin karena hanya dengan cara itu mereka berhenti. Melihat kelakuan anak-anaknya Luna dan Dara sama-sama menggelengkan kepalanya. Begitu juga dengan El dan Daniel. Yang jelas mereka berdua berhasil menyita perhatian semua orang yang ada di tempat itu.
Dara dan Luna meletakan piring keatas meja lalu menghampiri anak-anak nya.
"Zea, Udah dong kok gitu sama abangnya? Lepasin, Mommy gak suka kamu kasar begitu." Ucap Luna tegas pada Zea, Namun Zea tidak menghiraukan ucapan ibunya dan tetap menarik keras topi Devan.
"Devan, Kamu pasti gangguin Zea makanya Zea marah iya kan?" Giliran Dara yang angkat bicara menegur anaknya yang sama kerasnya dengan Zea.
"Dia yang salah!" Sahut Zea dan Devan secara bersamaan membuat kedua ibu mereka menarik nafas panjang. Jika sudah seperti ini, Hanya Kenan lah satu-satunya orang yang bisa di andalkan karena Zea pasti langsung mendengar ucapan Kenan.
"Hei.....Kalian kenapa sih? Zea, Dengerin om Ken kamu gak boleh bersikap begitu." Ucap Kenan yang langsung menghampiri Zea dan Devan. Dan benar saja, Tanpa basa-basi Zea langsung melepaskan tangan nya dari topi Devan membuat Devan ingin langsung memukul kepalanya namun tangan Devan lebih dulu ditangkap oleh Daniel.
"Never hit a woman!" Ucap Daniel dengan wajah serius membuat Devan menghentikan niatnya dan menarik tangannya.
"Tapi dia yang salah duluan yah, Dia langsung narik topi Devan." Ucap Devan membela diri.
"Abang, Siapa yang salah duluan?" Tanya Daniel pada anak sulungnya itu.
"Mereka berdua sama-sama yah." Sahut Davin santai membuat Zea dan Devan memelototi Davin.
"Zea gak salah yah, Dad. Devan duluan yang rese banget." Giliran Zea yang membela diri membuat orang-orang pusing.
"Panggil dia abang, Sayang. Devan lebih tua dari kamu." Ucap El mengingatkan anaknya, Bukan nya menurut Zea malah menjulurkan lidahnya kearah Devan membuat Devan makin merasa kesal.
"Zea, Devan sekarang masuk ke kamar. Sebelum baikan kalian gak boleh keluar kamar, Dan gak akan ada pesta." Ucap Luna tegas.
"Mommy please, It's not my fault." Ucap Zea yang hampir menangis karena kesal. Namun Luna tidak terpengaruh dan tetap bersikap tegas.
"Bunda......" Rengek Devan pada Dara, Dara hanya mengangkat kedua bahunya seolah tidak tau menahu.
"Daddy...." Rengek Zea menghampiri El sambil menarik tangan El membuat pria itu tidak tahan dan hampir luluh.
"Sayang, Dengerin omongan mommy ya." Jawab El tidak ingin lama-lama menatap wajah putrinya.
"Om Kenan, Ayah, Bunda, Opa, Oma, Nenek(Panggilan untuk Zea pada bi Irah), Bang Davin." Rengek Zea yang benar-benar menahan tangisnya. Namun semua benar-benar mengacuhkan nya, Sebenarnya mereka benar-benar tidak tega pada Zea dan Devan namun mereka ingin mengajarkan sikap peduli dan saling menyayangi satu sama lain.
"Zea, Davin sekarang." Ucap Dara mendukung tindakan Luna. Dengan langkah berat dan kepala menunduk Devan berjalan menuju kamar Zea sedangkan Zea langsung berlari cepat menuju kamarnya. Bisa dipastikan bahwa gadis kecil itu akan langsung menangis di dalam sana.
"Maafin aku ya Ra, Kak Daniel udah marahin dan menghukum Devan juga." Ucap Luna meminta maaf pada keluarga besarnya atas tindakan yang ia lakukan.
"Gak apa-apa Lun, Kita berdua ngerti kok kalo kamu sedang mengajarkan mereka tentang rasa peduli satu sama lain. Lagian biar si Devan bisa ngurang-ngurangi jahilnya itu." Sahut Dara tersenyum tidak masalah begitu juga dengan Daniel yang sangat mengerti akan hal yang dilakukan oleh Luna.
"Apa cuma gue yang sedih ngeliat pacar gue di hukum dan dimarahin gitu?" Celetuk Kenan sambil memegangi dadanya.
"Ah, Daddy mommy please jangan hukum pacar gue. Gak tega sumpah." Sambung Kenan mengolok El dan Luna membuat orang-orang tertawa mendengar hal itu.
"Lo ngomong gitu lagi bakalan gue usir saat ini juga." Sahut El menatap Kenan penuh ancaman, Membuat Dara dan Luna menggelengkan kepala lalu melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.
"Oke.....Oke gue kan cuma belajar jadi mantu yang baik." Celetuk Kenan saat El sudah pergi dari tempat itu.
"Gue gak percaya kalo dulu seleranya istri gue bener-bener abstrak." Sahut Daniel melihat Kenan, Mendengar hal itu Kenan langsung merangkul Daniel yang ingin menyusul El.
"Mau gue ceritain cinta gue dan Dara dulunya gimana?" Tawar Kenan yang kadang ikut bertingkah konyol.
"Mau gue gali kuburan buat lo sekarang?" Balas Daniel, Kenan langsung menutup rapat mulutnya dan terus berjalan dengan cepat meningglakan Daniel.
"Manusia konyol, Pantes aja jomblo menahun." Ucap Daniel melihat Kenan yang berjalan di depan nya.
***
Saat ini Zea sedang menangis sambil tengkurap diatas ranjangnya. Sedangkan Devan duduk santai sambil melempar bola basket ke dalam ring, Dikamar mewah dan besar ini tidak hanya terdapat mainan perempuan tapi mainan laki-laki pun lengkap.
"Kamu gak capek nangis terus? Air mata kamu bisa kering loh. Terus kalo udah kering bola mata kamu langsung mengecil dan terus mengecil sampai akhirnya bola mata kamu hilang." Ucap Devan, Sebenarnya ia ingin membuat Zea berhenti menangis namun tidak tau harus bagaimana.
Mendengar hal itu bukannya diam, Zea malah tambah menangis kencang dan sejadi-jadinya membuat Devan kehilangan konsentrasi dan tidak dapat menangkap bola tersebut hingga bola itu mengenai kepalanya sendiri.
Devan memicingkan kedua matanya mulai fruatasi dengan suara tangisan Zea yang makin nyaring, Ia berdiri lalu menghampiri Zea.
"Nangis aja terus sampai mata kamu bengkak terus kamu jadi jelek dan akhirnya om Kenan gak mau lagi nyayangin kamu." Tambah Devan yang sudah terlanjur kesal. Ia tidak perduli jika tangisan Zea makin menjadi toh ini bukan hari ulang tahun nya, Tidak ada pesta tidak masalah untuknya. Namun kali ini perkiraan bocah itu lepas, Mendengar nama Kenan Zea langsung diam dan bediri berjalan kearah cermin.
"Mataku gak bengkak kan? Aku gak jelek kan?" Tanya Zea pada Devan, Devan hanya mengangkat kedua bahunya tidak perduli. Zea lalu duduk disamping Devan membuat Devan kaget.
"Maafin aku." Ucap Zea mengulurkan tangan kanan nya padanya Devan.
"Beneran minta maaf." Katanya menjabat kuat tangan Devan.
"Tapi kamu juga salah, Kamu juga harus minta maaf." Sambung Zea, Devan memutar kedua bola matanya lalu menghela nafas panjang.
"Iya, Maafin aku juga." Jawan Devan mengakhiri permusuhan antara mereka berdua.
"Kenapa sih kamu bisa suka banget sama om Kenan? Dia itu kan orang dewasa. Lagian kamu juga masih kecil gak boleh suka-sukaan sama orang, Entar cepat tua loh." Tanya Devan penasaran, Karena sampai saat ini tidak ada yang tau alasan Zea sangat menyukai sahabat dari ayahnya itu.
"Ummmm......Aku bakal cerita tapi kamu harus janji gak boleh cerita sama siapapun, Ini rahasia." Jawab Zea berbisik ditelinga Devan.
"Oke, Aku janji." Sahut Devan serius.
"Bagiku om Kenan itu bayangan dari bigbos. Kata daddy dan mommy, Bigbos itu orangnya baik, Penyayang, Lucu, Suka kasih aku hadiah dan mukanya mirip sama daddy. Om Kenan juga gitu, Dia baik, Lucu, Sayang sama aku dan suka kasih hadiah. Terus kalo senyum sekilas mirip sama daddy, Badan nya juga besarnya kek daddy." Jelas Zea memberi tahu tentang alasan ia sangat menyukai Kenan.
"Jadi cuma karena menurut kamu dia mirip bigbos terus kamu suka?" Tanya Devan sambil memiringkan kepalanya menatap Zea. Zea mengangguk cepat menjawab pertanyaan Devan, Zea hanya sangat merindukan sosok bigbos nya yang selalu mengirimi surat setiap tahun saat hari ulang tahun nya.
Sedang asik bercerita Kenan dan Rendy datang membuka pintu kamar bernuansa merah muda itu.
"Om Kenan, Om Rendy....." Teriak keduanya, Mereka berdua langsung berlari kearah Kenan dan Rendy.
"Udah baikan?" Tanya Kenan pada Zea dan Devan, Mereka berdua pun langsung mengangguk cepat sambil tersenyum.
"Oke kalo gitu ayo kita pergi ke pesta dan segera mulai pestanya." Sahut Rendy menggandeng tangan Devan membawanya keluar dari tempat hukuman. Begitu juga dengan Zea yang keluar bersama Kenan.
Setelah semua berkumpul, Pesta ulang tahun untuk Zea pun segera dimulai. Semua orang yang datang memberikan hadiah pada gadis kecil itu, Hanya satu orang yang tidak memberikan hadiah yaitu Devan.
"Loh hadiah yang kamu beli kemaren dimana?" Tanya Dara penasaran.
"Ketinggalan bunda, Entar aja deh Devan kasih ke Zea." Jawab Devan berbohong, Padahal ia sedang mengantongi sebuah kotak kecil yang akan diberikan nya untuk Zea.
"Oh ya udah kalo gitu, Sini ikut bunda kita gabung sama yang lain." Devan mengangguk lalu mengikuti Dara untuk bergabung bersama yang lainnya yang sebagian asik mengobrol dan sebagian lagi asik makan.
"Pacar lo gak jadi ikut bang?" Tanya El pada Rendy yang sedang menikmati sekaleng minuman soda dan kue.
"Gak, Dia lagi ada kerjaan. Padahal dia pengen banget ikut kesini." Sahut Rendy santai.
"Emang cewek lo kerja apa bang?" Tambah Daniel mulai tertarik dengan cerita cinta kakak iparnya itu.
"Ummmm administrasi keuangan." Sedang asik memceritakan tentang kekasihnya, Hp Rendy berdering dan Rendy langsung menerima panggilan yang tidak lain dari kekasihnya itu.
"Gak ada yang mau nanya kerjaan pacar gue?" Ucap Kenan fokus menatap Rendy yang kini sudah pergi menjauh.
"Lah elu kapan mau nyari pacar? Terus mau sampai kapan juga lo menikmati sentuhan dari Jo? Gak jijik?" Tanya Daniel membuat wajah Kenan masam.
"Lo gak tau kalo.gue udah punya calon istri? Iya kan daddy?" Sahut Kenan bicara pada El membuat El melihat kearahnya dengan tatapan ingin membunuh pria itu.
"Oke-oke kalem, Ingat Zea. Gue bukan nya gak mau nyari pacar, Tapi......." Ucap Kenan dengan wajah yang mendadak serius dan menghentikan ucapan nya membuat rasa penasaran El dan Daniel langsung bangkit dari alam nya.
"Tapi apa?" Tanya El tidak sabar. Kenan menarik nafas dalam sebelum melanjutkan ucapannya.
"Tapi gue.......Gue gak bisa move on dari bundanya Davin dan Devan." Mendengar hal itu sontak Daniel melempar wajah Kenan dengan bantal sofa dan malah membuat El tertawa.
"Bazengan lo! Bangke tau gak! Mudahan lo jomblo seumur hidup." Kata Daniel langsung menyumpahi Kenan.
"Uhhhuuuukkkkk........Uhhhuuukkkk......" Dara yang saat ini sedang asik makan bersama Zea, Davin, Devan, Luna, Bu Fina, Bu Mela dan bi Irah tiba-tiba tersedak.
"Pelan-pelan dong Ra, Sampai keselek gitu." Ucap Luna memberikan segelas air pada sahabatnya itu.
"Ada yang lagi ngomongin kamu itu." Ucap bu Mela membuat dahi Dara mengerucut.
"Iya ya mba Mela, Dulu zaman kita kalo lagi makan tiba-tiba kesedakan gitu pasti ada yang lagi ngomongin kita." Sahut Bu Fina membenarkan ucapan ibu mertua Luna.
"Masa sih bun?" Tanya Luna penasaran.
"Iya, Serius pasti ada yang lagi ngomong jelek tentang kamu. Iya kan Fin?" Kata bu Mela yang malah balik bertanya pada bu Fina.
"Iya, Kata orang dulu sih gitu." Sahut bu Fina membuat Dara dan Luna tertawa karena ibu mereka saling melempar pertanyaan dari pernyataan yang mereka buat sendiri.
"Untung kita bukan orang dulu ya Lun." Kata Dara tertawa, Luna pun ikut tersenyum mendengar hal itu.
"Gitu deh mba, Anak-anak sekarang mana ada yang percaya sama omongan orang dulu. Padahal itu petuah loh."
"Iya, Anak jaman sekarang udah punya dan bikin petuah baru jadi petuah kita yang tua gak di denger." Jawab Bu Mela kembali menyuapi ketiga cucunya.
***
"Loh katanya kamu lagi sibuk kerja? Kok tiba-tiba datang?" Ucap Rendy saat menjemput kekasihnya di depan rumah El.
"Hehe aku izin setengah hari." Jawab gadis berambut panjang dan berwarna pirang itu. Wajahnya manis hidungnya juga mancung dengan mata bulat yang benar-benar terlihat sangat cantik.
"Ya ampun sayang, Kamu repot-repot gitu sih. Ya udah kalo gitu kita masuk yuk, Aku mau kenalin kamu sama semua anggota keluargaku, Di dalam juga ada orangtua ku loh." Bisik Rendy berusaha menakuti kekasihnya namun gadis itu terlihat santai dan biasa saja. Rendy pun membawa kekasihnya masuk kerumah El.
"Hai......" Sapa Rendy sambil menggandeng tangan kekasihnya. Sontak semua orang melihat kearah mereka termasuk El, Daniel dan Kenan. Gadis cantik itu tersenyum pada semua orang tapi tidak pada Daniel, Daniel pun bingung saat ini entah ia harus tersenyum atau apa yang jelas dunia benar-benar sangat sempit.
Bersambung