Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Flashback 2



"Apa yang bikin kamu suka sama dia? Dia bahkan jauh berada dibawahku." Tanya Tomqmy yang masih tidak bisa terima dengan kenyataan jika Hanum sebenarnya menyukai Bram daripada dirinya.


"Dia baik, Dia sederhana, Dia pekerja keras, Dia selalu bisa bikin aku ketawa. Ini bukan masalah harta atau status sosial bagiku yang paling penting adalah saat aku merasa nyaman berada didekat seseorang karena harta bisa dicari sedangkan perasaan nyaman dan tentram sulit untuk didapatkan. posting lp kantin tentu semua orang sedang memperhatikan mereka.


"Tom, Please dengerin aku. Sumpah aku gak pernah terpikir untuk mengkhianati kamu. Ini semua gak penting buatku karena aku lebih memilih persahabatan kita." Tambah Bram masih terus berusaha meyakinkan Tommy agar tidak terjadi salah paham antara mereka. Mendengar hal itu Hanum sedikit kecewa karena tentu cintanya bertepuk sebelah tangan.


"Kalian semua sama! Mulai saat ini, Kita tidak saling kenal dan jangan pernah berpikir jika kamu adalah sahabatku!" Ucap Tommy serius sambil mengacungkan jari telunjuknya kearah wajah Bram.


"Tom.....Tommy...." Panggil Bram saat Tommy pergi dari tempat itu meninggalkan kekacauan yang ia buat.


"Kamu gak apa-apa?" Tanya Hanum mendekati Bram.


"Gak apa-apa. Tapi tolong, Untuk saat ini kita perlu jaga jarak. Aku gak mau yang dituduhkan Tommy itu makin menjadi-jadi dalam pikirannya." Kata Bram menghindari Hanum. Hanum pun mengerti maksud Bram ia memgangguk dan pergi meninggalkan Bram.


"Kamu gak apa-apa?" Tanya Wira memberikan ransel Bram yang jatuh.


"Gak apa-apa." Jawab Bram memegangi sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan keras dari Tommy.


Kemarahan Tommy tidak sampai disitu, Justru memuncak saat mereka lulus kuliah. Bram dengan modal keberanian dan keterampilannnya bersama Wira juga Dewa mulai membuat usaha kecil-kecilan yang sama sekali tidak pernah mereka duga jika usaha yang dipimpin oleh Bram berkembang pesat dan menjadi usaha besar. Kini mereka bertiga bukan lagi orang yang tidak punya apa-apa. Penghasilan mereka lebih dari cukup, Usaha mereka juga makin berkembang menjadi sebuah perusahaan besar dan hingga akhirnya Bram menikah dengan Hanum. Frustasi dengan semua yang ia terima, Tommy memilih untuk pergi keluar negeri meninggalkan semuanya namun hal itu justru makin membuatnya makin terpuruk. Menurutnya Bram sudah merampas semua miliknya mulai dari keduanya sahabatnya Dewa dan Wira lalu Hanum yang juga kini resmi menjadi kekasihnya, Bahkan sekarang bisnis yang ia pimpin mulai bermasalah karena kalah saing dengan perusahaan milik Bram tentu ia tidak bisa menerima kekalahan itu secara bertubi-tubi


Ia kembali ke Jakarta setelah 5 tahun tinggal diluar Negeri membawa dendam yang makin membesar dalam hati apalagi ia tau hidup Bram dan Hanum sangat bahagia ditambah dengan kehadiran seorang anak laki-laki yang diberi nama Elang Leondra. Semua terjadi tidak sesuai dengan harapannya, Bagai orang yang depresi ia bicara dengan dirinya sendiri bahkan mengumpat setiap kali melihat majalah yang memuat tentang Bram. Hingga suatu hari peristiwa berdarah itu terjadi, Setelah gagal membujuk Dewa untuk mengkhianati Bram membuat Tommy menjadi seorang psikopat gila. Ia menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi seluruh keluarga Bram termasuk anak istrinya.


Dan saat itulah El menjadi seorang piatu, Harusnya malam itu bukan cuma Hanum yang mati tetapi juga El namun Hanum tidak aoan membiarkan hal itu terjadi. Wanita itu menyembunyikan El ditempat yang paling tidak mungkin ditemukan oleh pembunuh bayaran yang dikirim oleh Tommy.


Secara membabi buta pembunuh itu menghujani tubuh Hanum dengan tembakan senjata api, Membuat wanita cantik itu kehilangan nyawanya ditempat bahkan miris El menyaksikan dengan mata kelapanya sendiri ketika tubuh ibunya ditembaki tanpa henti. Anak itu mengalami guncangan batin yang sangat luar biasa, Semua kejadian mengerikan itu terekam di otaknya. Untungnya setelah meninggalkan rumah ia diangkat oleh keluarga yang tepat jika tidak, Tidak menutup kemungkinan El juga akan menjadi seorang psikopat karena otaknya dipenuhi kejadian mengerikan sejak ia kecil.


Sejak saat itu Bram terus mencari siapa yang ada dibalik pembunuhan istrinya namun hasilnya nihil karena uang bisa mengalahkan apapun termasuk menyuap petugas keamanan negara. Akhirnya kasusu itu ditutup dengan alasan tidak menemukan titik terang serta tidak adanya terduga apalagi tersangka dalam kasus itu.


Sakit hati membuat seorang teman baik hati seperti Tommy berubah menjadi seorang psikopat kejam tanpa ampun. Bahkan dedam itu kini masih tersimpan karena darah Leondra masih hidup sampai sekarang.


***


Kenan saat ini sedang berada di toko bunga tempat Eriska bekerja, Ia pura-pura memilih bunga untuk ia beli padahal saat ini Eriska sangat malas berurusan dengan Kenan. Ia berharap malam itu adalah pertemuan terakhirnya dengan Kenan, Ia tidak ingin dianggap sebagai wanita ja*ang lagi oleh orang-orang karena setelah putus hubungan dengan Baron ia malah dekat dengan Kenan yang semua orang tau jika Kenan adalah adik tiri dari Baron.


"Mau ngapain lagi kamu kesini?" Tanya Eriska datar malas melayani Kenan sebagai pembeli.


"Kebetulan lewat sekalian mau beli bunga." Ucapnya beralasan padahal bukan itu yang membuatnya datang ketempat ini.


"Bunga apa?" Kata Eriska sambil berlalu.


"Mawar putih. Aku mau ke makam kedua orangtua ku." Kata Kenan, Eriska mulai mengambil beberapa tangkai bunga mawar putih sebagai tanda penghormatan itu.


"Kamu masih kerja di club?" Tanya Kenan mencoba bersikap wajar mengajak Eriska mengobrol namun Eriska diam tidak ingin menghiraukan pertanyaan Kenan.


"Dikantorku memerlukan tenaga tambahan tapi dibagian cleaning service. Aku tau itu gak cocok untuk kamu, Tapi daripada harus bekerja di club malam yang resikonya terlalu berat itu lebih baik, Gajinya juga per dua minggu." Kata Kenan lagi terus bicara walau Eriska tidak menghiraukannya.


"Ini bunga kamu." Sahut Eriska menyerahkan dua ikat bunga mawar pada Kenan.


"Ini kartu namaku. Disana juga ada nomor teleponnya, Kalo emang kamu berminat kamu bisa telepon atau langsung datang ke kantor." Kata Kenan lagi dan lagi saat membayar bunga ia meletakan selembar kartu namw untuk Eriska. Setelah itu Kenan pergi dari sana sedangkan Eriska diam menatap kartu kecil diatas meja itu. Diraihnya kartu tersebut lalu di masukannya kedalam laci, Sepertinya ia benar-benar tidak ingin memanfaatkan kebaikan yang ditawarkan oleh Kenan.


***


"Dan, Lo bisa gantin gue untuk ketemu klien gak siang ini? Gue masih banyak kerjaan yang harus selesai hari ini juga. Oh iya, Ini klien baru dari jasa periklanan. Kalo cocok mereka mau kerjasama sama perusahaan kita." Daniel mengangguk siap menerima tugas dari atasannya.


"Oke makasih ya." El lalu kembali keruangannya untuk melanjutkan pekerjaan yang menumpuk sedangkan Daniel langsung pergi sesuai perintah El.


Sesampainya ditempat janji, Daniel langsung masuk dan calon klien baru itu sudah menunggu Daniel disana.


"Selamat siang pak, Maaf saya terlambat karena ada sedikit kemacetan dijalan." Kata Daniel tersenyum menjabat tangan bos periklanan tersebut.


"Oh gak masalah pak Daniel. Saya yang minta maaf karena mengganggu waktu berharga pak Daniel. Silahkan duduk...." Ucap pria itu ramah dan sopan. Dilihat dari umur sepertinya mereka tidak jauh berbeda, Mungkin hanya lebih tua sekitar 4-5 tahun dari Daniel.


"Perkenalkan saya Jessy sekertaris pak Riano" Kata Jessy mengenalkan diri sambil mengulurkan tangannya. Entah apalagi yang akan dihadapi Daniel tapi perasaan nya mulai tidak enak. Daniel menjabat tangan Jessy untuk menghormati calon klien barunya, Apalagi ini bersangkutan dengan kerjasama antara perusahaan ia harus bersikap profesional dan melupakan masalah pribadi.


Setelah itu mereka langung membahas isi surat perjanjian serta peraturan perusahaan yang sudah diterapkan. Daniel memang sudah biasa menangani masalah seperti ini itu sebabnya ia disebut sebagai tangan kanan El karena hanya ia yang diberikan kuasa untuk menggantikan pekerjaan sepenting ini.


"Untuk selanjutnya tanpa mengurangi rasa hormat saya serahkan sisanya pada Jessy sekertaris rasa karena saya harus terbang ke Jepang untuk suatu urusan terdesak." Ucap pak Riano, Daniel tersenyum mau tidak mau mengangguk.


"Semoga perjalanan anda menyenangkan dan urusan anda segera selesai." Ucap Daniel menjabat tangan kliennya lalu pria itu pergi.


"Tolong cepat selesaikan urusan kita karena saya juga masih banyak kerjaan dikantor." Ucap Daniel datar sambil merapikan beberapa lembar kertas yang berserakan diatas meja.


"Bapak pasti gak menyangka sebelumnya bakalan ketemu bahkan bekerjasama dengan perusahaan tempat saya bekerja. Saya senang akhirnya kita bisa kembali bekerjasama seperti dulu." Kata Jessy tersenyum santai. Namun Daniel enggan menanggapinya.


"Pak, Bapak tau gak lama-kelamaan bapak itu makin luar biasa. Saya pikir, Saya sudah bisa sepenuhnya bisa melupakan bapak tapi nyatanya setelah bertemu bapak kembali lagi-lagi saya kembali menyukai bapak. Saya tau mungkin ini terdengar konyol bahkan tidak masuk diakal tapi inilah kenyataannya."


"Kalo gak ada lagi yang mau dibahas saya duluan." Kata Daniel berdiri dari tempat duduknya dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Jessy tidak peduli dengan teriakan Jessy saat memanggilnya.


***


Setelah selesai membantu Zea untuk mengerjakan tugasnya dan menemani Zea hingga tertidur Luna kembali ke kamarnya. Tubuhnya terasa sangat lelah saat ini.


"Sayang...." Sapa El yang baru keluar dari kamar mandi. Ia menghampiri Luna yang saat ini sedang berbaring sambil memainkan hpnya.


"Kok keliatanny kamu lemes banget?" Tanya El mengusap lembut kening Luna.


"Gak tau, Mungkin karena kecapek an karena jalan jauh kemaren." Sahut Luna memepuk pinggang suaminya.


"Mau abang pijitin?" Luna tersenyum menggeleng, Saat ini yang ia inginian hanyalah bermanja dengan suaminya.


"Abang buatin susu hangat ya." Kata El lagi, Luna mengangguk lalu El segera pergi kedapur untuk membuat segelas susu hangat.


Tidak lama El datang dengan segelas susu ditangannya, Luna tersenyum melihat suaminya. Betapa hebat lelaki ini, Dikantor tugasnya tidak sedikit, Tidak ringan juga tidak gampang namun ketika dirumah ia bisa menjadi seorang lelaki penyayang penuh cinta, Tentu tidak semua laki-laki bisa seperti El. Hanya dengan melakukan hal-hal kecil ia membuat Luna merasa sangat dihargai dan berharga.


"Makasih ya." Kata Luna tersenyum manis.


"Sayang, Abang gak yakin Daniel cerita atau gak sama Dara tapi ternyata klien baru kami adalah perusahaan tempat Jessy bekerja dan parahnya Jessy menjadi sekertaris kepercayaan pimpinan perusahaan tersebut." Kata El mulai menceritakan keadaan kantornya.


"Dara pasti bakalan ngerti asalkan kak Daniel langsung cerita sama dia. Lagipula kak Daniel juga gak mungkin kan macem-macem sama Jessy."


"Iya, Daniel gak mungkin tapi Jessy mungkin. Kamu tau kenapa Dara mabuk berat dimalam pesta waktu itu? Semua karena ulah Jessy yang terlihat seperti sengaja memuji Daniel terus menerus dihadapannya."


"Kak Rendy gak tau kalo Jessy itu dulunya suka sama kak Daniel?" Tanya Luna pada El.


"Keknya gak tau deh." Sahut El mengangkat kedua bahunya.


"Kalo gitu kak Rendy harus tau tentang itu semua. Perempuan seperti Jessy gak baik memiliki hubungan dengan pria baik seperti kak Rendy. Dia jelas-jelas gak ngerti apa itu cinta, Dia juga gak bisa menghargai sebuah cinta." Kata Luna yang kembali berbaring namun kini ia berbaring di paha suaminya.


"Tapi, Gak mudah untuk ngasih tau ke Rendy tentang ini semua. Kamu masih ingat masalah waktu dulu saat sama Clara? Seperti terulang kembali namun kini dengan orang yang berbeda." Ucap El mengingat saat Clara juga mengkhianati Rendy karena masih menyukai El.


"Dan kini kak Rendy lagi yang menjadi korban." Sahut Luna memainkan dagu suaminya yang ditumbuhi bulu-bulu halus.


"Entah kenapa abang merasa dunia kita hanya berputar dengan masalah dan orang-orang itu saja."


"Itulah hidup, Kadang kita gak tau kapan Tuhan akan memberikan kejutan dan entah dalam bentuk apa Tuhan memberikan kita kejutan tersebut."


**Bersambung


*Lanjut nanti malam ya dears Jgn lupa vote, Komen n likenya***.