
Kenan kembali ke kantornya dengan perasaan yang bercampur aduk sambil membawa tas belanjaan yang isinya beberapa mainan yang baru saja ia beli dan tidak sempat diberikannya pada kedua anak Dara.
Dengan langkah lesu ia masuk ke ruangan miliknya dan berdiam diri disana sambil kembali memandangi photo Dara yang ia simpan sejak dulu.
Tidak lama hpnya berbunyi, Sebuah pesan singkat diterima nya. Kenan membuang nafas panjang malas melihat isi pesan itu, Saat ini ia masih betah memandangi photo wanita yang baru saja ia temui di toko mainan tadi.
Selang beberapa menit hpnya kembali berbunyi dan satu pesan lagi ia terima. Ken akhirnya meraih handphone yang ia letakan diatas meja tepat di samping tangannya.
Mata Ken tiba-tiba membulat besar saat melihat isi pesan itu. Penasaran siapa yang mengiriminya pesan itu Ken langsung menghubungi nomor telepon yang tertera disana.
Cukup lama Ken menunggu si pemilik nomor tersebut menjawab telepon nya hingga Ken harus menelepon nya berulang kali hingga akhirnya panggilan Ken di jawab.
"Siapa lo? Apa maksud lo ngirim pesan itu ke gue?" Tanya Ken tidak sabar ingin tau siapa orang yang ada dibalik semua ini.
"Hahahaha apa temprament lo emang seburuk ini?" Ucap orang itu yang tidak lain adalah Baron.
"Lo b******n b*****t!!!! Apa mau lo?" Sumpah Ken tidak tahan lagi dengan ulah Baron yang diam-diam mengikutinya dan memotretnya saat bertemu Dara di toko mainan tadi.
"Bicara yang sopan, Gue ini kakak lo." Ucap Baron berbelit-belit membuat Ken tidak sabar.
"Gue tanya apa mau lo?!!!" Bentak Ken nyaring, Untung ruangannya kedap suara jadi senyaring apapun ia berteriak tidak akan ada yang mendengarnya.
"Gue mau mengajukan kerjasama karena sepertinya kita punya lawan yang sama." Mendengar hal itu lantas tidak membuat Kenan langsung diam.
"Tujuan gue untuk menghancurkan dua orang itu, El dan Daniel dan sepertinya tujuan lo adalah untuk mendapatkan kembali hati mantan lo yang sekarang udah jadi istrinya Daniel. Dan satu lagi untuk keamanan photo-photo yang gue kirim barusan lo harus setuju untuk ngasih sebagian dari saham lo." Ucap Baron lalu tertawa puas, Ia merasa sedang memegang kartu as milik Ken saat ini.
"Lo gila tau gak!!! Lo ngancem dan meras gue lewat photo-photo itu? Asal lo tau itu semua gak akan ngaruh buat gue." Bantah Kenan seolah cuek padahal ia merasa tidak tenang saat ini takut jika photo itu disalah gunakan oleh Baron.
Mendengar hal itu Baron lagi-lagi tertawa keras. Merasa lucu dengan ucapan yang dilontarkan oleh Kenan.
"Lo yakin itu sama sekali gak ngaruh buat lo? Gimana reaksi El dan Daniel saat mereka liat photo-photo itu? Dan kemungkinan terbesar adalah Daniel bakal ninggalin istrinya karena bakal menganggap bahwa kalian berselingkuh mengingat kisah cinta masa lalu kalian yang belum berakhir." Tambah Baron, Kenan benar-benar kehabisan kata-kata saat ini. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menyetujui syarat yang diajukan kakak tirinya itu...
"Oke, Gue bakal ikutin mau lo. Tapi dengan satu syarat, Jangan pernah berpikir untuk macam-macam sama Dara dan anak-anaknya bahkan kalo gue sampai tau lo berani mengawasi mereka dari jauh, Gue bakal habisin lo!" Kini giliran Ken yang mengancam Baron, Ken tau betul bagaimana sifat Baron si pria serakah, Jahat dan juga licik itu. Akan lebih baik jika ia menuruti permintaan Baron untuk saat ini sambil ia memikirkan cara untuk menyelesaikan semua tanpa ada keributan.
"Gak masalah selama kesepakatan berjalan dengan baik. Lo kan tau bisnis gue ini perlu banyak uang, Dan lo juga tau sendiri mereka selalu naikin tarif setiap kali gue ngirim barang."
"Besok pagi lo bisa datang ke kantor gue, Gue bakal siapin berkas-berkasnya." Kata Ken yang akhirnya sepakat. Mendengar hal itu Baron tertawa puas dan Kenan langsung memutus sambungan telepon tanpa mengatakan hal apapun.
"Jadi selama ini Baron ngawasin gue." Ucap Ken terlihat marah. Secepatnya ia harus mencari cara untuk menyelesaikan semua ini.
***
Sementara itu Dara yang kini sudah berada dirumah sedang duduk melamun dikamarnya setelah menidurkan Davin dan Devan. Wanita itu masih memikirkan kejadian saat dirinya bertemu Kenan saat di mall tadi. Dalam hatinya ia merasa sangat bersalah pada Daniel karena menyembunyikan semua ini darinya, Namun akan lebih parah lagi keadaannya jika Daniel tau Kenan adalah mantan pacar Dara.
Masalah ini bukanlah masalah besar tapi sangat sensitif terlebih sikap pencemburu Daniel sangat besar pada Dara. Sungguh Dara tidak ingin semuanya terlihat sangat jelas bahwa Kenan dan Dara pernah memiliki kisah bersama. Bahkan ia melarang Rendy untuk menceritakan semua hal itu pada Daniel.
Tok......Tok.....Tok.....
"Ra, Kamu tidur?" Suara Luna terdengar didepan pintu.
"Gak Lun, Masuk aja gak dikunci." Sahut Dara enggan keluar dari kamarnya. Hatinya benar-benar di rundung rasa gelisah saat ini.
Tidak lama Luna masuk sambil menggendong Zea yang sedang tertidur nyenyak di dalam pelukan ibunya itu.
"Kamu kenapa? Sakit? Kok keknya lagi lemes gitu." Tanya Luna meletakan bayinya keatas ranjang Dara lalu ia menghampiri Dara yang sedang duduk disofa panjang dekat jendela kamarnya.
"Gak apa-apa, Capek aja habis bawa Davin dan Devan jalan ke mall." Sahut Dara tersenyum hambar tidak seperti biasanya. Luna duduk di samping sahabatnya itu ia tersenyum pada Dara lalu meraih tangan Dara membuat Dara melihat kearahnya dengan tatapan bingung.
"Ra, Bagiku sahabat itu bukan dia yang mengenalmu sejak lama tetapi sahabat adalah dia yang tidak pernah meninggalkanmu dalam kondisi apapun." Ucap Luna, Mata Dara berkaca hampir menangis mendengar ucapan Luna. Ia langsung menghambur ke dalam pelukan Luna ingin mencoba berbagi masalah yang ia hadapi saat ini agar pikirannya bisa sedikit lebih tenang.
Luna mengusap pundak Dara dengan lembut, Ia sangat tau jika Dara saat ini sedang memiliki masalah. Setelah merasa sedikit lebih tenang Dara mulai menceritakan semua masalah yang mengganggu pikirannya saat ini.
"Kamu masih inget sama investor baru di perusahaan bang El, Kenan Abner." Kata Dara memulai ceritanya. Luna mengangguk menjawab pertanyaan itu, Tebakan nya benar jika ini ada hubungannya dengan pak Kenan.
"Kenapa emang sama pak Kenan?" Tanya Luna tidak ingin mendahului Dara.
"Di.......Dia mantan aku. Kami pernah pacaran cukup lama sekitar empat tahunan dan kami serius menjalaninya saat itu, Sampai-sampai dia ngumpulin uang jajannya untuk beli cincin pertunangan. Padahal saat itu kami baru kelas dua SMA dan kedua orangtua kami belum ngizinin kami untuk bertunangan tapi Kenan nekat di hadapan temen-temen sekelas dia masangin cincin itu ke jari manisku dan menyatakan bahwa kami sudah bertunangan." Kata Dara sedikit tersenyum saat mengingat hal memalukan yang ia lakukan saat SMA dulu.
"Terus kenapa kalian bisa berpisah?" Tanya Luna penasaran. Dara menghela nafas panjang sebelum kembali menceritakan kisah nya waktu SMA.
"Kami gak berpisah, Saat kelas tiga sehari setelah selesai ujian Kenan gak masuk ke sekolah dia juga gak ngabarin aku. Aku khawatir dia lagi sakit makanya gak masuk dan gak ngabarin aku. Siang itu saat pulang sekolah aku mampir kerumahnya tapi rumah mereka sepi, Bahkan gak ada yang bukain aku pagar. Aku terus neleponin Ken tapi gak pernah diangkat, Aku juga kirim puluhan bahkan ratusan pesan tapi gak ada satu pun yang dia balas.
Setiap pulang sekolah aku mampir kerumahnya tapi tetap sama, Rumah itu selalu sepi bahkan para pembantu mereka pun gak keliatan. Aku terus nunggu kabar dia sampai suatu hari aku sakit, Aku pengen banget ketemu dia. Dan akhirnya kak Rendy bilang ke aku kalo dia udah pindah ke luar negeri bersama kedua orangtua nya. Saat itu aku ngerasa benar-benar hancur, Dia pergi tanpa ngucapin apapun ke aku bahkan selamat tinggal pun gak. Kak Rendy bilang dia sengaja gak bilang ke aku kalo dia mau pindah karena takut ngelukain perasaanku karena dia sendiri gak tau sampai kapan dia tinggal disana, Dia gak mau ngasih harapan kosong saat itu. Dan mulai saat itu aku putuskan untuk menyudahi semua sendiri."
"Dan itu juga sebabnya kamu sering gonta-ganti pacar." Tanya Luna, Dara mengangguk membenarkan ucapan sahabatnya itu.
"Sejak saat itu aku gak pernah lagi percaya sama yang namanya laki-laki selain kak Rendy dan sampai akhirnya aku ketemu Daniel. Kamu tau, Aku bahkan dulunya ngincer bang El sebelum aku tau kalo dia itu suami kamu." Kata Dara tertawa lucu saat ingat ia selalu menempel pada suami sahabatnya sendiri. Mendengar hal itu Luna juga ikut tertawa.
"Dulu sebelum menikah aku selalu bilang bakalan milih jodohku sendiri, Pokoknya yang bener-bener sesuai sama kriteriaku dan siapa yang nyangka pesta malam itu mempertemukan aku sama jodohku saat ini."
"Karena jodoh ada di tangan Tuhan. Tidak perduli berapa banyak orang yang kamu jaga sebagai jodohmu kalo memang bukan milikmu maka ia akan tetap hilang." Dara mengangguk membenarkan ucapan Luna. Kini Luna mengerti apa yang mengganggu pikirkan Dara saat ini, Ia tau Dara tidak bermaksud menyembunyikan semua hal itu dari Daniel. Ia hanya sedang berjuang untuk mempertahankan rumah tangganya agar tidak ribut. Ia tidak ingin hal ini membuat hubungannya bermasalah.
"Aku ngerti perasaan kamu Ra, Tapi kalo boleh aku nyaranin lebih baik kamu kasih tau kak Daniel lebih dulu. Walaupun kak Daniel marah se'enggaknya dia tau kamu itu berusaha jujur dan terbuka. Dara diam memikirkan ucapan Luna entah kenapa semua serasa sulit untuk di tangani.
"Kalo sampai ini berpengaruh sama hubungan kerjasama antara perusahaan mereka gimana?" Tanya Dara lagi masih sangat bingung.
"Hei......Berapa lama kak Daniel berada di dunia bisnis? Aku yakin dia akan tetap bersikap profesiaonal walaupun dia tau pak Ken itu mantan kamu." Dara tidak yakin akan hal itu, Ia sangat tau rasa cemburu Daniel yang kadang sangat berlebihan.
Ra, Kamu harus percaya sama cinta kalian. Lagipula pak Ken hanya sebagain kecil dari masa lalu kamu, Yang lebih penting saat ini adalah menjaga apa yang sudah kamu miliki sekarang. Kamu punya anak-anak yang sehat dan lucu-lucu kamu punya suami yang luar biasa baik dan mencintai kamu lebih dari dia mencintai dirinya sendiri. Jangan biarkan semua kebahagian itu rusak hanya karena sepotong masa lalu." Tambah Luna meyakinkan Dara, Dara menarik nafas panjang. Walau ragu secepatnya Dara akan bicara pada Daniel dan memberitahu Daniel tentang siapa Kenan.
"Makasih ya udah bikin aku merasa lebih baik, Kamu bukan cuma sahabat buat aku. Kamu itu terkadang jadi seorang kakak buat aku, Bahkan kamu bisa bersikap seperti seorang ibu. Bang El beruntung banget miliki kamu dalam hidupnya." Ucap Dara tersenyum pada Luna, Mendengar hal itu Luna ikut tertawa.
"Kamu gak lagi ngegombalin aku kan? Bang El juga selalu bilang gitu soalnya." Sontak Dara tertawa, Kini ia merasa semua lebih terasa ringan tidak lagi seberat tadi. Itulah kenapa manusia tidak dapat hidup sendiri, Walau ia seorang yang hebat sekalipun ia tetap membutuhkan orang lain disekitarnya.
***
"Cetak beberapa lembar lagi, Ada orang lain yang harus melihat photo bahagia itu." Ucap Baron memerintah anak buahnya.
"Siapa? Daniel?" Tanya Eriska, Wanita yang selalu ada disampingnya sejak dulu hingga sekarang." Baron pun tertawa nyaring lalu menegak minuman nya.
"Seseorang yang akan membayar mahal untuk beberapa lembar photo itu." Sahut Baron
"Bukankah sangat menguntungkan hanya dengan sekali pukul dua lalat didapat sekaligus." Sahut Baron membenarkan jawaban Eriska.
"Kamu harus berhati-hati sama El, Kamu tau betul bagaimana gilanya pria itu. Apalagi kalau sampai dia tau kamu yang meracuni istrinya waktu itu, Dia gak akan biarin kamu hidup." Ucap Eriska memperingatkan kekasihnya, Mendengar hal itu Baron pun mendadak murka ia menarik kuat rambut Eriska yang terurai panjang hingga gadis itu kesakitan.
"Kamu pikir sehebat apa El? Kamu pikir aku gak ada apa-apanya dibanding dia huh?!" Ucap Baron meneriaki gadis itu, Walaupun mereka sudah lama bersama lantas itu tidak membuat Baron berhenti melukai Eriska. Gadis itu terlalu sering menerima perlakuan buruk ketimbang perlakuan baik namun karena Baron dulu sudah menyelamatkan hidupnya ia merasa berhutang nyawa pada pria kasar dan bengis itu.
"Sakit....Ma.....Maafin aku, A.....Aku cuma gak mau terjadi sesuatu sama kamu." Jawab Eriska menahan rasa sakit di kepalanya.
"Kamu dengar baik-baik dan kamu harus ingat dengan baik, Sekuat atau sehebat apapun El dia gak akan berkutik jika orang-orang terdekatnya menderita. Dan aku tau betul siapa yang menjadi titik lemah pria itu." Ucap Baron kembali merubah raut wajahnya yang tadi murka kini tersenyum licik kembali sambil melepaskan tangannya dari rambut Eriska.
Setelah mendapatkan beberapa lembar photo Dara dan Kenan. Baron membungkusnya rapi dalam sebuah amplop berwarna cokelat lalu ia pergi untuk menemui El di kantornya, Pria ini tergolong nekat hanya karena memegang sesuatu yang bisa membuat El diam, Ia berani datang sendiri ke kantor El siang itu.
Sementara itu Kenan sedang mempersiapkan surat perjanjian antara dirinya dan Baron. Ia juga menyiapkan uang tunai dalam jumlah banyak agar Baron bisa diam karena ia tau hanya uang yang bisa mengendalikan pria serakah itu. Sambil ia mencari cara untuk menyelesaikan masalah itu.
***
"Pak ada seseorang yang ingin bertemu bapak." Kata resepsionis melapor pada El.
"Apa dia sudah punya janji?" Tanya El mengingat akhir-akhir ini ia sangat sibuk.
"Belum pak, Tapi ia bertemu karena hal yang sangat penting pak, Namanya pak Baron."
"Bilang ke dia kalo saya lagi sibuk dan gak bisa di ganggu." Kata El malas untuk menanggapi pria yang sedang menunggunya.
"Baik pak." Sambungan telepon pun langsung di tutup El dan El melanjutkan pekerjaan nya kembali. Tidak lama hp El berdering sebuah pesan singkat masuk, El meraihnya dan segera melihat isi pesan itu.
Wajah El mendadak berubah serius saat melihat isi pesan yang dikirim oleh Baron. Ia langsung mengangkat gagang telepon dan kembali menghubungi resepsionis.
"Suruh tamu itu masuk keruangan saya." Ucap El singkat dan langsung memutus telepon.
"Apa lagi sekarang? Dan kenapa dara lagi sama Ken?" Ucap El sambil mengamati photo yang baru saja dikirim oleh Baron. Tidak lama pintu ruangan El diketuk dan Baron membuka pintu dengan wajah tersenyum licik.
"Selamat siang menjelang sore pak El." Sapa nya yang langsung duduk tanpa disuruh oleh pemilik ruangan.
"Jangan banyak basa-basi! Apa lagi sekarang?" Tanya El ikut duduk disana. Mendengar hal itu Baron langsung tersenyum puas karena akan kembali mendapatkan keuntungan.
"Gimana hasilnya? Lo suka? Gue punya berita besar tentang mereka dan gue yakin saat lo tau lo bakal kaget luar biasa." Kata Baron makin membuat El ingin memukul wajahnya.
"Gue tanya apa mau lo dibalik ini semua?" El sudah mulai tidak sabar menghadapi Baron yang banyak tingkah.
"Lo tau gak kalo ternyata investor baru lo dan istrinya sahabat lo itu dulunya mantan. Woah, Gue gak bisa bayangin kalo sampai Daniel tau tentang ini semua. Rumah tangganya pasti bakalan hancur dan bisnis lo juga pasti bakalan ngalamin kerugian yang besar. Gue mau nawarin kerjasama, Gue bakalan tutup semua rapat-rapat dari Daniel asalkan lo bersedia membiayai bisnis gue, Ya lo tau sendiri kan bisnis gue itu butuh banyak uang." Kali ini giliran El yang diancam oleh Baron, Pria licik itu seakan tidak pernah kapok berurusan dengan El.
"Lo lagi berusaha ngancem dan meras gue?" Tanya El tersenyum santai tidak terpengaruh oleh gretakan itu.
"Lo pikir gue becanda? Lo pikir gue gak berani ngasih bukti ini sama Daniel? Jangan terlalu menganggap diri lo hebat dalam segala hal." Baron mulai emosi menghadapi tingkah El yang seolah tidak terpengaruh oleh ancamannya.
"Dan lo pikir gue takut sama ancaman itu? Lo pikir baik-baik siapa yang lebih dipercaya sama Daniel gue dan istrinya atau lo? Lo bisa ngancem orang lain tapi gak sama gue. Dan gue ingetin sekali lagi sama lo jangan pernah berpikir untuk mengendalikan gue sama hal-hal gak penting seperti itu karena percuma lo gak akan dapat apa-apa." Mendengar hal itu Baron mendadak murka, Ia berdiri dengan wajah merah padam menahan emosinya.
"Lo yang nantang gue jadi jangan salahkan gue karena saat ini juga lo bakal liat hasilnya!" Geretak Baron lalu ia pergi dari kantor El dengan wajah kesal berbeda dengan El yang malah menunjukan senyum sinis nya mengantar kepergian Baron.
Walau bersikap santai saat Baron benar-benar pergi dari sana, Ia langsung berpikir keras bagaimana caranya memberi tahu pada Daniel agar tidak terjadi kesalah fahaman antara mereka semua. El diam sambil menjentikan jarinya keatas meja ia berpikir untuk mencari jalan keluar yang tepat.
"Gue harus ketemu dan bicara lebih dulu sama Ken, Gue harus tanya kenapa dia bisa sama Dara di photo itu." Ucap El, Lalu ia langsung memakai jas hitamnya dan pergi untuk menemui Kenan di kantornya.
***
El langsung dipersilahkan masuk untuk bertemu Ken yang juga sedang berpikir keras mencari jalan keluar dari masalahnya saat ini.
Tok.....Tok.....Tok.....
"Masuk....." Kata Ken dari dalam ruangannya. El pun masuk kedalam sana.
"Selamat sore siang pak Ken, Maaf menggangu waktu sibuk anda." Ucap El tersenyum, Kenan berdiri dan langsung menyambut El dengan jabat tangan yang hangat dan akrab menyembunyikan kebingungannya saat ini.
"Silahkan duduk pak. Anda mau minuman dingin?" Tanya Ken membuka kulkas yang ada dipojok ruangan besar itu.
"Boleh." Sahut El yang kini sudah duduk di sofa tunggal. Ken pun membawa dua kaleng minuman bersoda lalu duduk di depan El. El membuka minuman itu dan bersikap santai sebelum bicara pada Ken.
"Hal apa yang membawa pak El datang kemari?" tanya Ken penasaran karena mereka memang tidak ada janji untuk bertemu.
"Sebelumnya saya minta maaf, Mari bersikap santai seperti seorang teman dan menggunakan bahasa informal karena ada hal yang ingin saya bicarakan diluar pekerjaan." Kata El sambil tersenyum, Ken mengangkat kedua alisnya lalu mengangguk setuju.
"Oke, Lo mau bahas apa?" Tanya Ken langsung pada topik pembicaraan. El mengeluarkan hapenya lalu memberikan nya pada Ken. Ken mengernyit lalu meraih hp El dan seketika matanya terbuka lebar melihat photo itu ada pada El. Wajahnya berubah gugup takut El akan marah dengannya terlebih Daniel adalah sahabat El.
"Bisa jelaskan apa maksud itu semua?" Tanya El masih tetap santai dan tersenyum berbeda sekali dengan wajah Ken saat ini.
"I.....Ini, Ini gak seperti yang lo kira. Sumpah gue gak sengaja ketemu Dara waktu itu di mall." Jelas Ken gugup, Padahal El menanyai nya dengan santai.
"Gue mau tanya sama lo, Apa lo dan Dara dulunya pernah punya hubungan yang cukup dekat?" Mendengar hal itu Ken makin bingung untuk menjawabnya.
"Santai aja, Gue kesini gak untuk menghakimi lo. Gue cuma pengen bantu lo, Daniel dan Dara biar gak ada salah faham terlebih saat ini ada yang pengen manfaatin keadaan." Jelas El agar Ken lebih santai dan merasa tidak sedang di introgasi.
"Maksud lo Baron? Lo kenal dia?" Tanya Ken kaget saat El menyebut nama kakak tirinya itu. Sama halnya dengan Ken, El pun ikut kaget mengetahui jika Ken juga mengenal Baron.
"Lo sendiri kenal dia?" Tanya El balik
"Dia.....Dia anak tiri bokap gue. Dia yang ambil photo itu saat gue gak sengaja ketemu sama Dara di mall. Dia juga meras dan ngancem gue pake photo itu." El kini tau bahwa Baron ingin mendapatkan keuntungan dari kedua belah pihak...
"Pertanyaan gue bel lo jawab.....Apa lo dulunya pernah ada hubungan sama Dara? Kata istri gue lo dan Dara waktu itu juga gak sengaja ketemu di bandara."
"Iya lo bener, Dulu gue dan Dara pernah ada hubungan. Kita pacaran selama empat tahun sebelum akhirnya gue pindah ke Australia." Jelas Ken bicara terus terang.
"Jadi itu alasan lo selalu ngasih hadiah untuk anak gue dan anak-anak Daniel?" Ken mengangguk pelan sadar ia salah karena melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan.
"Ken, Gue menghormati lo sebagai rekan kerja gue dan gue juga anggap lo sebagai temen gue. Tapi maaf banget, Disini lo salah kalo lo masih berusaha untuk memperbaiki hubungan lo sama Dara walaupun itu cuma sekedar hubungan teman. Lo tau sendiri Dara udah punya keluarga bahkan lo kenal banget sama suaminya. Gue gak belain Daniel karena Daniel temen gue tapi gue ngomong gini karena gue juga seorang suami. Lo tau hal apa yang paling sensitif dalam rumah tangga? Bukan uang, Bukan harta karena semua bisa dicari dan di dapetin.....Yang paling sensitif itu kepercayaan. Gue yakin Daniel percaya sama Dara melebihi apapun, Tapi gue takut hatinya gak bisa terima dan hubungan mereka jadi hambar." Kata El, Ken terdiam ucapan El membuatnya merasa sangat bersalah sebagai seorang pria.
"Gue cuma pengen jelasin ke dia kenapa gue pindah dan tinggalin dia saat itu karena sampai sekarang gue dan Dara gak ada kata putus. Dan itu bener-bener menggangu pikiran gue. Gue tau gue salah, Salah besar gue bersikap begini. Salah besar gue punya pikiran seperti ini tapi sumpah gue gak bisa berhenti mikirin itu semua." El mengerti perasaan Ken saat ini, Ia tahu benar saat seorang pria mencintai seorang wanita dengan bersungguh-sungguh berpaling pun sulit apalagi melupakan.
Bersambung