
Setelah sampai di jakarta El mengantar Luna pulang dan langsung pergi ke kantornya untuk bertemu Clara.
"Pak, Bu Clara menunggu anda diruangan bapak." Ucap sekertaris El saat El tiba kesana. El mengangguk dan langsung pergi keruangan nya.
Disana Clara sudah menunggu El duduk manis sambil melihat photo-photo hasil pemotretan waktu itu.
"Hey......Kamu udah datang." Sapa Clara seperti tidak terjadi apa-apa diantara mereka. El memasang wajah datar, Ia duduk jauh dari Clara. Clara menyodorkan photo-photo hasil pemotretan nya saat itu. Ada beberapa photo yang sengaja diambil tanpa sepengetahuan El. Jelas photo itu terlihat sangat vulgar padahal itu hanya ketidak sengajaan yang diam-diam diambil tanpa El tau.
"Apa mau kamu?" Tanya El datar dan dingin, Clara tersenyum lalu berdiri berjalan kearah El.
"Aku gak suka sama sifat dingin kamu. Kamu jadi orang yang sangat berbeda dari yang aku kenal." Ucap Clara manja memainkan jari telunjuknya menjelajahi lengan El hingga kepundaknya. El berdiri menepis sentuhan Clara..
"Bahkan kamu sama sekali gak mau aku sentuh?" Suara Clara mulai bergetar melihat sikap El yang berubah sangat dingin padanya.
"Tapi kamu gak mungkin lupa sama janji kamu saat itu kan? Kamu bilang suatu saat kamu bakal bayar semua yang udah aku lakuin buat kamu. Dan menurut kamu, Apa Luna bakal baik-baik aja saat dia liat photo-photo ini." El meraih photo-photo itu dan memasukannya kedalam amplop.
"Aku gak pernah lupa sama janji yang pernah aku buat. Aku bakal bayar semua janji itu dan jangan libatkan Luna. Karena Luna belum hadir saat itu, Urusan kita cukup kita yang nyelesein jangan bawa-bawa orang lain. Dan satu lagi, Kamu gak perlu repot-repot untuk kasih liat photo-photo ini ke Luna karena aku sendiri yang bakal tunjukin ke Luna." Ucap El tegas dan memperjelas jika ia benar-benar serius dengan ucapannya. Sebenarnya El tidak suka dan tidak mau melakukan ini pada Clara, Namun ia bukan lagi El yang dulu. Kini ia sudah menjadi seorang suami, Ada hati yang harus ia jaga, Dan ada hubungan yang harus ia pertahankan.
"El! El......Kamu gak bisa giniin aku. Aku gak butuh apapun didunia ini selain kamu, Aku mohon jangan pergi." Isak tangis Clara pun pecah saat melihat El yang pergi meninggalkannya tanpa perduli lagi dengannya.
"Kamu liat aja El, Cepat atau lambat aku pasti bakal dapetin kamu. Aku bersumpah, Kamu akan segera datang padaku." Gumam Clara menyeka air matanya lalu pergi dari ruangan El.
***
El saat ini benar-benar frustasi menghadapi tingkah Clara yang makin hari makin menjadi. Ia tidak habis pikir, Kenapa Clara bisa berubah drastis tidak seperti Clara yang ia kenal dulu.
Andai Clara menghentikan semua ini sekarang juga, Mungkin ia tidak akan bersikap sekasar ini pada Clara. Bertindak dingin dan kasar pada Clara sungguh membuat hatinya sakit, Tapi ia tidak bisa diam jika berhubungan dengan Luna. Saat ini baginya Luna lah satu-satunya wanita yang sangat ia cintai selain bu Mela.
El melajukan mobilnya menuju rumah Daniel, Ia meninggalkan Luna dirumah bersama Dara jadi ia bisa sedikit tenang. Lagipula pasti banyak hal yang ingin dibicarakan dua sahabat itu, Jadi biarlah mereka menikmati waktu.
***
"Gue depan rumah lo, Bukain pintu." Kata El singkat lalu mematikan sambungan telepon.
"Iiiiiiiihhhh! Sumpah ya, Ni orang bener-bener ngeselin banget sekarang. Gue baru aja mau tidur, Capek seharian naik mobil dan sekarang dia bilang "Gue didepan rumah lo, Bukain pintu." Sialan!" Gumam Daniel menyumpahi El, Dengan langkah berat dan malas ia membuka kan pintu untuk El.
"Apa yang membuat paduka raja Elang datang ke gubuk reyot hamba yang hina ini? Apakah paduka raja kesepian? Butuh hiburan? Atau sedang bertengkar hebat dengan yang mulia ratu agung." Olok Daniel memasang wajah masam sambil membungkuk kan tubuhnya.
"Lo mabok?" Tanya El singkat dan langsung masuk menyelonong kedalam rumah Daniel membuat si tuan rumah merasa tambah kesal.
"EL! Gue punya salah apa sih sama lo? Tiap kali gue pengen istirahat lo datang kek jelangkung. Gue manusia El, Gue capek lo bayangin aja bawa mobil dari bandung sampai jakarta, Dan dengan enaknya lo bilang "Gue depan rumah lo, Bukain pintu." Protes Daniel melihat El menuang segelas wine.
"Ya kalo lo mau tidur, Tidur aja. Tapi sebelum tidur dengerin dulu cerita gue." Jawab El ringan tanpa beban.
"Lo mau cerita? Ya udah cepet buruan lo ngomong, Lo mau cerita apa? Gue usahain mata gue tetep melek saat denger cerita lo." Kata Daniel malas.
"Ini masalah Clara." Ucap El mulai serius, Ia memberikan amplop berwarna coklat itu pada Daniel. Daniel langsung menyambutnya dan membuka isinya.
"HAAAAAA........" Respon Daniel sambil menutup mulutnya dengan tangan membuat El kesal dan merasa ingin membanting Daniel saat ini juga.
"Wah, Gila.....Parah banget ini, Parah-parah dari gue lo asli." Celetuk Daniel berkomentar sambil menggelengkan kepalanya.
"Lo gak liat gue ekspresi gue diphoto itu?"
"Mana? Kenapa ekspresi lo? Enakan pasti?" Akhirnya El tidak bisa lagi menahan hasratnya yang bergejolak sejak tadi ingin sekali melempar wajah Daniel dengan bantal.
"Jadi itu diambil pas Clara maksa gue untuk pose majalah dewasa. Tapi gue nolak, Dan saat itu gue gak tau ternyata photo itu diambil diam-diam." Jelas El, Daniel mengangguk mengerti yang dimaksud oleh El.
"Terus dia ngancem pake ini biar lo bisa nerima dia?" El mengangguk pelan.
"Gue gak habis pikir Clara yang kita kenal gak kek gini. Harusnya dia ngerti sama keadaan lo."
"Gue juga berharapnya gitu, Itu sebabnya gue lebih milih menghindar karena gue gak mau bertidak kasar sama dia. Biar gimana pun dia orang yang berjasa dalam hidup gue."
"Terus apa rencana lo sama photo-photo ini?"
"Gue bakal kasih itu ke Luna." Mendengar rencana El, Daniel cukup kaget sekaligus kagum dengan keberanian yang ia miliki.
"Gue kadang ngiri sama lo, Lo jadi manusia kok gak ada takut-takutnya? Padahal dengan nunjukin ini ke Luna sama aja lo bunuh diri."
"Yang gue takut dia tau dari orang, Yang gue takut dia salah paham sebelum gue jelasin keadaan yang sebenernya. Gue yakin dia percaya sama gue." Jawab El yakin.
"Iya juga sih, Oh iya Dara masih dirumah lo?" Tanya Daniel penasaran seolah lebih tertarik dengan hal ini daripada masalah El.
"Masih, Gue minta dia buat nemenin Luna dirumah. Kenapa? Gue peratiin akhir-akhir ini lo sering banget ngomongin Dara." Jawab El sambil melihat Daniel curiga.
"Oke gue akui gue emang tertarik sama dia, Emang salah kalo gue suka sama dia?"
"Ya terserah lo, Yang gak bisa gue terima kalo lo masih suka sama Luna."
"Lo.....Lo gak punya omongan lain selain itu? Kan gue bilang itu dulu El, Dulu." El mengangguk sambil tersenyum melihat wajah Daniel yang sangat terlihat jelas sedang depresi saat ini.
"Terus kapan lo mau kenalin dia sama orangtua lo?" El baru sadar jika ia belum memberi tau pada kedua orang tuanya tentang pernikahan nya dan Luna.
"Nantilah gue selesein dulu satu-satu masalah yang nyata ada didepan mata. Ya udah gue mau balik, Kasian Luna ditinggal sendirian. Lagian gue denger-denger Dara mau pindahan besok pagi ke kos-kosan baru. Jadi pasti dia gak bisa lama-lama nemenin Luna." Ucap El sambil berdiri beranjak dari rumah Daniel.
***
"Kamu jahat banget sih gak ngasih tau aku. Jadi selama ini aku muji-muji suami orang, Dan berusaha deketin suami orang dong." Dara menutup wajahnya dengan bantal, Ia masih sulit untuk menerima pernikahan Luna dan El.
"Maafin aku, Serius saat itu aku masih bingung sama perasaanku buat bang El. Maaf ya." Jawab Luna mengatupkan kedua tangannya di di depan dada. Dara tersenyum lalu memeluk Luna.
"Sekarang apa kamu bahagia? Apapun itu asal kamu bahagia, Aku juga ikut bahagia." Ucapnya, Luna membalas pelukan Dara lebih erat lagi.
"Oh iya, Ngomong-ngomong gimana malam pertama kamu?" Luna langsung menjauh dari Dara melihat gadis itu dengan tatapan tajam.
"Ummmm bang El hebat gak? Dalam satu malam berapa kali?"
"Ish kamu apaan sih? Ngaco deh omongannya." Protes Luna, Terlihat pipinya yang mulai merah merona menahan malu karena pertanyaan konyol Dara.
"Ih serius, Pasti dia romantis banget deh. Uuuuuuu gak bisa bayangin aku, Gak kuat, Gak tahan." Ucap Dara dengan segala macam fantasi liarnya.
"Tau ah, Diem...."
"Tuh kan bener, Dia langsung malu-malu. Ceritain dong cerita." Luna menutup kedua telinganya agar tidak mendengar racauan Dara lagi, Sedangkan Dara terus menggoda Luna.
Tidak lama El dan Daniel datang dengan mobil masing-masing. El yang tidak sadar Daniel mengikutinya sejak tadi heran melihat mobil Daniel terparkir dihalaman istananya.
"Lo mau ngapain lagi kerumah gue? Please deh jangan ganggu gue kalo lagi dirumah, Gue sibuk." Ucap El saat ingin masuk kerumahnya.
"Bodo, Lo aja suka-suka kapan mau ngerusuh kerumah gue. Lagian gue kesini bukannya pengen nontonin lo mesra-mesraan. Gue mau nganter Dara pulang." Jawabnya langsung menyelonong masuk tanpa peduli si tuan rumah yang masih berdiri didepan pintu.
"Kurang ajar emang lama-lama tuh anak." Umpat El menyusul Daniel masuk ke dalam rumah.
"Loh kak Daniel, Bang El mana?" Tanya Luna saat melihat Daniel berjalan kearah mereka.
"Tuh dibelakang, Hai Dara." Dara hanya tersenyum namun senyum itu sangat terpaksa.
"Beib....." Sapa El, Luna tersenyum pada El yang kini duduk disampingnya.
"Ya udah kalo gitu aku pulang dulu ya Lun. Mau langsung beberes juga." Ucap Dara saat melihat El sudah kembali.
"Yah, Kok pulang? Nginep disini aja ya, Aku masih punya banyak cerita yang mau aku kasih tau sama kamu." Sontak El langsung berdeham saat Luna meminta Dara untuk tetap tinggal.
"Gak....Gak, Besok aku kan mau pindahan. Dan masih banyak barang yang belum aku kemas, Lain kali aja ya." Sahut Dara sangat mengerti maksud dari dehaman El.
"Kamu mau pulang? Biara aku anter." Ucap Daniel menawarkan diri untuk mengantar Dara pulang kerumahnya.
"Iya, Biar kak Daniel yang anter pulang. Kalo gak jangan harap aku ijinin kamu pulang."Ancam Luna, Mau tidak mau Dara akhirnya ikut Daniel.
"Hati-hati ya kak bawa mobilnya." Ucap Luna memesani Daniel. Daniel tersenyum mengangguk dan mereka pun pergi meninggalkan rumah El.
"Ngomongin apa tadi sama Dara?" Tanya El melihat kearah Luna dengan tatapan nakalnya.
"Gak apa-apa, Cerita-cerita aja." Sahut Luna salah tingkah.
"Serius? Abang denger loh." Katanya sambil tersenyum, Sontak Luna malu setengah mati karena ucapan Dara didengar oleh El.
"Gak tau, Aku gak denger." Ucap Luna berdiri dan meninggalkan El diruang tamu. El tertawa lucu melihat sikap istrinya itu, Ia langsung berlari mengejar Luna yang pergi kekamar.
***
"Sayang, Ada sesuatu yang mau abang omongin dan kasih liat." Kata El serius sambil memeluk tubuh Luna dari arah belakang. Luna berbalik melihat wajah suaminya itu lalu mencium bibir El.
"Serius banget. Mau ngomongin apa sih?" Tanya Luna penasaran. El menarik nafas panjang ia melepaskan pelukannya dari tubuh Luna lalu berdiri untuk mengambil amplop itu.
"Sebelumnya abang mau tanya, Apa kamu percaya sama abang?" Luna mengernyit, Ia merasa heran pada El saat ini. Luna lalu menggenggam tangan El sambil menatap diam kedalam mata El.
"Sejak aku memutuskan untuk tinggal bersama abang, Saat itu juga aku mempercayai abang." Ucapnya, El mengecup kening Luna. Kini ia yakin dan siap memberikan photo-photo itu pada Luna.
"Apa ini?" Tanya Luna heran saat El menyerahkan amplop itu ketangannya. Luna langsung membuka amplop itu dan matanya langsung membulat saat melihat isi dari amplop itu. Bibirnya terasa kaku, Bahkan untuk sekedar bertanya pun rasanya tidak bisa. Sebisa mungkin ia menahan rasa sakit dan air matanya agar tidak tumpah.
El memeluk tubuh Luna, Mengusap pelan kepala Luna sebelum menjelaskan nya pada Luna.
"Kamu benar tentang Clara. Saat abang ngebantu dia untuk pemotretan, Dia maksa abang untuk melakukan pose majalah dewasa tapi abang menolak. Dan abang sama sekali gak tau saat abang berusaha menolak untuk semua itu saat itu juga photo-photo ini diambil secara diam-diam." Ucap El menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada Luna.
Air mata Luna pun jatuh, Ia tidak bisa lagi menahan semua itu. El benar-benar merasa bersalah pada istrinya itu, Harusnya ia langsung menolak saat Clara meminta bantuannya. Harusnya ia lebih peka saat Clara mulai mendekatinya.
"Maafin abang, Abang emang salah. Itu sebabnya abang ngasih semua photo-photo ini ke kamu. Abang gak mau kamu salah paham, Apalagi sampai tau dari orang lain. Maafin abang." Ucap El sambil menciumi punggung tangan Luna sedangkan Luna masih diam dalam tangisannya.
"Terimakasih, Terimakasih karena sudah tetap jujur sama aku. Terimakasih karena udah ngejelasin semua ke aku. Terimakasih tidak menyembunyikan hal sekecil apapun itu dari aku." Ucap Luna dalam tangisannya, El memeluk erat istrinya itu sambil sesekali mengecup kening Luna.
***Bersambung.....
Maaf ya eps kali ini mungkin kurang memuaskan dari segi alur dan topiknya..... Karena author lg kurang fit dan anemia krn keseringan begadang.
Moga di next eps bisa kembali heboh ya ceritanya***.