Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Tommy Gunawan



"Wanita mana yang mau hidup dalam neraka yang diciptakan oleh Baron. Awalnya dia memang bagai malaikat saat membantuku lepas dari proatitusi yang dilakukan oleh laki-laki ba*ingan yang dinikahi ibuku. Tapi pada akhirnya, Iblis tetaplah iblis tidak akan bisa berubah menjadi aeorang malaikat. Mungkin kalian akan memandangku sama seperti Baron, Itu memang benar. Aku wanita ja*ang, Aku wanita jahat itulah garisku. Dipandang kotor, Tidak dihargai bahkan dianggap sebagai wanita j*lang, Aku sudah terbiasa dengan hal itu." Kata Eriska menybunyikan wajahnya dibalik rambutnya yang terurai panjang.


"Ini sudah malam, Keadaan mu saat ini juga sedang payah. Kamu bisa tidur disini malam ini, Dan pastikan kamu memakai selimut itu karena udara malam sangat dingin." Kata Kenan lalu pergi meminggalkan Eriska diruang tamu.


***


"Cari tau segala sesuatu tentang Elang Wirayudha dan keluarganya serta orang-orang terdekatnya. Jangan sampai ada yang terlewat walau sekecil debu!" Ucap pak Tommy pimpinan GC Company memerintah anak buahnya entah apa yang membuatnya sangat bersemangat untuk terus mencari tau segala sesuatu tentang El.


***


Malam pun berlalu dengan cerita mereka masing-masing berganti pagi dengan sinar mentari yang hangat dah cerah.


"Beib, Bangun sayang. Udah jam 8 loh ini, Satu jam lagi kita berangkat." Kata Daniel membangunkan Dara yang masih betah membungkus tubuhnya dengan selimut.


"Berangkat kemana ay? Bukannya hari ini kamu gak kekantor ya?" Sahut Dara yang masih memutup kedua matanya.


"Hmmmmm makanya siapa suruh minum sampai mabuk huh? Untung ada Kenan yang nolongin dan ngasih tau aku." Ucap Daniel mencubit hidung Dara lembut. Mendengar hal itu Dara memaksa tubuhnya yang malas bangun untuk duduk.


"Ay, Si Jessy itu dulunya gimana sih ngejar-ngejarnya? Keganjenan gitu ya?" Tanya Dara membuat Daniel heran karena langsung membahas Jessy.


"Kenapa kok tau-tau langsung ngebahas dia?" Tanya Daniel ikut duduk disamping Dara sambil merapikan rambut panjang Dara yang berantakan karena bangun tidur.


"Ya gak, Masa didepan aku dia muji-muji kamu terus! Aku gak suka ada wanita lain yang muji kamu." Kata Dara tegas, Mendengar hal itu Daniel tersenyum.


"Kok malah senyum? Seneng ya di puji-puji cewek lain?" Protes Dara memasang wajah kesal.


"Apa sih beiby? Buruan mandi, Bentar lagi kita berangkat kepuncak." Kata Daniel mengusap pucuk kepala Dara.


"Kita mau kepuncak? Siapa aja yang ikut? Jessy gak ikutan kan?" Tanya Dara lagi mulai heboh membuat Daniel menarik nafas dalam.


"Beiby, Apa yang kamu takutakan ketika nyawaku adalah kamu maka gak akan ada yang bisa buat aku untuk bertahan hidup kecuali kamu. Kamu ratuku, Kamu duniaku, Kamu hidup dan matiku, Kamu wanitaku." Kata Daniel menangkup kedua pipi Dara membuat pipi Dara merona mendengar hal semanis itu di pagi hari.


"Ay....." Panggil Dara manja membuat Daniel mengerucutkan dahinya.


"Apa?" Tanya Daniel lagi....


"Kiss me please....." Dara memejamkan kedua matanya sambil memanyunkan bibirnya. Daniel tertawa melihat tingkah manja Dara yang makin hari makin menjadi-jadi. Daniel lalu mencium bibir, Kening, Kedua pipi serta kedua mata Dara.


"Udah, Sekarang mandi siap-siap terus kita sarapan. Aku mau ke kamar anak-anak dulu." Dara tersenyum mengangguk, Danielpun beranjak dari sana.


***


Kenan baru saja bangun, Tadi malam ia baru bisa tidur setelah memastikan Eriska tidur dan tidak pergi.


"Tuh cewek masih tidur atau udah bangun ya?" Tanya Kenan bicara pada diri sendiri. Karena penasaran Kenan beranjak dari tempat tidurnya ingin mengintip dari celah pintu apakah Eriska sudah bangun atau masih tidur. Ini memangnya rumahnya tapi ini juga pertama kalinya ia membawa seorang wanita masuk kesini. Biasanya ia paling tidak ingin para wanita tau alamat rumahnya.


Kenan berjalan pelan seperti seorang maling di rumahnya sendiri, Ia membuka pintu dengan sangat pelan dan hati-hati agar tidak ada suara berisik. Dilihatnya kearah ruang tamu tempat Eriska tidur, Tempat itu sepi. Kenan lalu keluar dari dalam kamarnya dan langsung berjalan menuju ruang tamu.


Selimut yang diberikan Kenan pada Eriska sudah terlipat rapi seperti tidak disentuh.


"Pasti dia udah pergi pagi-pagi banget sebel gue bangun." Celetuknya, Kenan menguap lebar lalu kembali berbaring disofa yang digunakan oleh Eriska tadi malam.


"Gue pikir karena lo cinta mati sama si to*ol itu makanya lo mau aja nurutin semua apa katanya dan lo setia banget sama dia. Ternyata lo juga korban." Ucap Kenan sambil memandang langit-langit rumahnya. Ia lalu bangun menyudahi malas-malasan nya pagi ini karena harus segera pergi ke kantor.


"Aaaaaauu...." Kata Kenan saat kakinya menginjak sesuatu yang ada dilantai. Kenan duduk dan memgambil benda yang baru saja menusuk telapak kakiknya, Itu sebuah kalung dengan liontin bintang dan tertera huruf E tepat disamping bintang kecil tersebut.


"E......Eriska?" Katanya mengingat tadi malam Eriska tidur ditempat itu. Kenan kembali kekamarnya membawa benda kecil itu bersamanya.


***


"Daddy, Om Kenan ikut kita gak kepuncak?" Tanya Zea berharap jika Kenan ikut liburan bersama mereka.


"Gak sayang, Kan om Kenan bukan dari perusahaan daddy. Dia kerja mengurus perusahaan nya sendiri." Jawab El tersenyum.


"Yah, Gak asik dong kalo om Kenan gak ikut."


"Kok gak asik? Kan disana ada bang Davin sama bang Devan. Ada mommy, Daddy, Ayah dan bunda." Sahut Luna melihat putrinya hilang semangat.


"Zea sayang, Om Kenan itu umurnya sama kek umur daddy. Om Kenan sayang sama Zea tapi sebagai seorang anak. Sama kek Ayah sayang ke Zea sebagai seorang anaknya." Kata Luma menjelaskan agar Zea tidak terus-terusan bicara hal aneh tentang Kenan.


"Tapi Zea maunya sama om Kenan gak mau sama yang lain. Om Kenan itu mirip daddy. Baik, Ganteng, Jago bela diri, Terus sukses dan pintar." Katanya tetap memeprtahankan pemikirannya.


"Mending Zea makan yang banyak aja deh dulu biar cepat besar." Sahut El agar putrinya tidak merasa kecewa.


"Gak mau! Entar gendut." Mendengar hal itu dari mulut Zea. El dan Luna tertawa lucu.


"Bagus dong, Kan lucu enak dipeluk." Kata Luna.


"Kalo gendut entar gak cantik lagi. Kalo gak cantik lagi entar om Kenan gak sayang lagi sama Zea."


"Baiby......Semua wanita itu terlahir cantik, yang membedakan itu bukan tampilan fisik tapi hati. Kalo Zea punya hati yang baik, Lembut dan penyayang kek mommy, Zea pasti bakalan cantik itu yang dinamakan inner beauty sayang. Karena percuma kalo punya wajah cantik, Badan bagus tapi hatinya jahat. Sama kek nenek sihir di cerita snow white dong iya kan?" Tambah El sambil terus membimbing putrinya yang masih dalam masa-masa keingin tahuan nya tentang dunia luar.


"Gitu ya? Ya udah mulai sekarang Zea bakalan banyak makan biar cepat besar." Katanya lagi membuat kedua orangtua nya tertawa. Zea anak yang cerdas, Tidak sulit untuk kedua orangtua nya mengajarinya tentang sesuatu namun harus menggunakan bahasa yang tepat karena salah bicara satu kata saja maka anak ini akan mengajukan seribu pertanyaan.


***


"Bos, Ini semua data tentang Elang Wirayudha beserta orang terdekatnya." Pria itu menyerahkan beberapa lembar artikel tentang identitas El serta orang-orang disekitarnya termasuk Luna dan Daniel.


Pak Tommy membaca isi artikel tersebut, Ia tersenyum saat melihat nama asli El yaitu Elang Edgar Leondra putra semata wayang dari Bram Leondra dan Hanum Leondra.


"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya dan dunia ini ternyata benar-benar sangat kecil hingga aku harus bertemu kembali dengan seorang Leondra." Katanya tertawa, Dia lah Tommy Gunawan pria yang mencuri file milik DM Group. Dia lah Tommy Gunawan yang membuat El menjadi seorang piatu saat itu. Dia lah Tommy Gunawan yang memaksa pak Dewa ayah dari Luna untuk menghianti sahabatnya Bram Leondra. ia lah Tommy Gunawan yang terus mencari keberadaan Luna juga kelurganya untuk mereka habisi. Ya dia lah Tommy Gunawan yang membuat hidup El hancur karena mengira bahwa ayahnya sendiri yang jahat dan menyebabkan ibunya serta ibu kandung Luna meninggal. Dia lah satu-satunya orang yang harus mendapatkan hukuman dari tangan El sendiri.


"Suruh beberapa orang untuk mengawasinya serta masukan beberapa orang kedalam perusahaan nya. Buat DM Group hancur!" Perintahnya lagi, Anak buahnya mengangguk lalu pergi dari ruangan tersebut.


"Karena aku gak bisa menghancurkan kamu saat itu, Maka kamu harus melihat dari neraka kehancuran anak semata wayangmu itu Bram Leondra.... " Katanya lagi lalu tertawa nyaring seolah kemenangan sudah ada dalam genggaman nya.


***


Setelah beberapa jam menempuh perjalanan menuju puncak, Akhirnya mereka sampai divilla milik almarhum pak Bram yang diwariskan untuk cucunya, Siapa lagi kalau bukan gadis kecil yang cerewet itu Zea Leondra. Ini pertama kalinya mereka datang kemari, Vila ini sangat mewah, Besar dan luas bahkan lebih mirip seperti hotel berbintang. Penjaganya juga sangat ketat dan mereka semua adalah anak buah dari mendiang pak Bram yang kini usaha tersebut diteruskan oleh El. Pak Bram sendiri memiliki usaha dibidang perhotelan yang sangat sukses. Kelak usaha itu akan diturunkan pada Zea.


"Gila El, Ini semua punya Zea?" Tanya Daniel yang sangat kagum melihat aset mewah milik Zea.


"Menurut surat wasiat begitu. Tapi bagi gue, Ini tetap milik kakeknya." Sahut El santai sambil menurunkan barang bawaan dibantu oleh ART yang mengurus vila itu.


"Mari tuan, Nyonya saya tunjukan kamar kalian." Kata pelayan lain tersenyum ramah. Mereka semua pun langsung masuk dan mengikuti pelayan tadi menuju kamar masing-masing. Setelah tegang selama dua minggu mereka akhirnya bisa menghabiskan waktu bersama keluarga begitu juga dengan para karyawan mereka.


"Daddy ayo berenang." Ajak Zea menarik tangan El begitu juga Devan dan Davin yang terus menerus merengek ingin diajak berenang.


Mereka berdua dan ketiga anak-anak mereka pun berkumpul dikolam renang yang besar dan luas. Sedangkan Luna dan Dara sedang sibuk didapur memasak makanan bersama ART perempuan paruh baya bernama bi Mini.


"Lo ngapain berenang pakai baju?" Tanya El saat Daniel masuk kedalam kooam renang dan masih mengenakan baju kaoanya.


"Banyak tandanya. Entar anak-anak tanya bekas apa, Belum lagi entar kalo Luna liat kan malu gue." Jawan Daniel jujur tidak ada yang dirahasiakan antara mereka.


"Cih! Paling juga cuma satu-dua, Itupun buram." Ejek El, Daniel langsung mengangkat baju kaosnya memamerkan tanda merah itu pada El.


"Gila lo ngoleksi atau apa sih sampe segitu banyak?" Tanya El kaget melihat dada Daniel yang penuh dengan kissmark sisa tadi malam.


"I like it." Jawab Daniel sombong membuat El berdecih.


"Tadi malam Dara marah sama Jessy, Dia minum sampai mabuk dan gak sabarkan diri. Untungnya ada Kenan, Kalo gak-gak tau deh bakalan gimana jadinya pesta tadi malam apalagi banyak wartawan datang.


"Jessy bikin ribut emang sama Dara?" Tanya El Heran padahal setau El hubungan mereka baik-baik saja walau Dara sudah tau jika Jessy dulunya sangat menyukai Daniel.


"Keknya sih gitu, Dara bilang Jessy muji-muji gue di depan Dara dan hal itu yang bikin Dara kesel sampai akhirnya dia minum banyak."


"Kok bisa? Bukannya Jessy menghindari lo banget ya?"


"Gue pikir tadinya gitu, Tapi setelah pertemuan gak sengaja pagi itu di kantor bang Rendy. Dia mulai aneh, Sering banget deketin Dara. Gak tau apa maksudnya yang jelas gue gak suka." Terang Daniel bercerita pada El sambil mereka terus mengawasi ketiga anak mereka yang sedang asik berenang sambil bemain.


Bersambung......