Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Kenan Stories 2



Sebulan sudah Vanny bekerja di cafe milik Ken. Tidak ada yang aneh atau mencurigakan dari sifat gadis itu. Malah, ia sangat rajin bekerja dan juga sangat teliti dalam pekerjaan.


"Van, bisa keruangan saya sebentar?" Tanya Ken, hari ini waktunya gadis itu menerima upah atas tenaganya.


"Iya pak." Sahut Vanny tersenyum, lalu meletakan lap yang ada ditangannya dan langsung pergi keruangan Ken.


Vanny duduk dibangku tunggal yang ada didepan meja Ken.


"Ini gaji kamu, maaf mungkin belum seberapa banyak." Kata Ken menyodorkan amplop berwarna cokelat. Vanny tersenyum puas melihat amplop itu, diaraihnya uang hasil keringatnya tersebut dan langsung berterimakasih pada Ken.


"Ini lebih dari cukup untuk saya pak, terimakasih banyak." Kata Vanny dengan mata berkaca menahan haru.


"Kamu berlebihan, itu memang hak kamu dan hasil kerja keras kamu. Saya yang berterimakasih banyak karena kamu benar-benar sangat rajin dan disiplin."


"Sama-sama pak Ken, saya juga banyak terimakasih karena bapak mau membantu saya dan menerim saya bekerja disini. Bapak seperti seorang penolong untuk saya." Tidak habis senyum manis diwajah Vanny saat bicara pada Ken.


"Wah lagi-lagi kamu berlebihan. Ummm ya udah kalo gitu, saya mau lanjutin kerjaan." Kata Ken mengakhiri percakapan.


"Baik pak, sekali lagi terimakasih banyak." Ken tersenyum dan mengangguk lalu Vanny segera keluar dari ruangan bos nya tersebut.


Setelah Vanny keluar, Ken membuka laci meja kerjanya dan mengambil selembar photo milik Eriska. Gadis yang masih ada didalam hatinya.


"Kamu......


Aku rindu, masih tentangmu.


Kapan mau mampir ke mimpiku?


Aku terus belajar untuk memahami, bahwa mencintai tidak harus memiliki.


Maka kupilih mendoakanmu sebagai penyampai rasa rindu.


Suatu hari akan kuceritakan bagaimana sulitnya bangkit tanpamu, agar kamu tau pergi tanpa pamit rasanya teramat pedih."


Tidak lama pintu ruangan Ken kembali diketuk, Ken buru-buru mengusap mata yang hampir meneteskan cairannya.


"Masuk." Kata Kenan sambil menarik nafas dalam. Vanny kembali masuk sambil membawa nampan berisi secangkir minuman dan kue.


"Maaf pak mengganggu." Katanya sambil membawa nampan itu kearah Ken membuat Ken mengerucutkan dahi.


"Waktu itu saya berjanji pada diri sendiri, orang pertama yang akan saya traktir pake gaji pertama saya adalah bapak. Kalo saya ajak bapak makan pasti bapak gak mau, makanya saya beliin aja." Tambah Vanny tersenyum malu mengatakan hal tersebut.


"Diluar kan lagi turun salju, kamu dingin-dingin keluar cuma beli ini doang?" Vanny tersenyum mengangguk menunjukan tidak ada rasa keberatan sedikitpun diwajahnya.


"Ini segelas cokelat hangat dan kue almond. Saya gak tau kesukaan bapak apa, tapi saya rekomendasi banget makanan dan minuman ini cocok untuk musim dingin seperti sekarang. Ken terdiam sesaat menatap makanan serta minuman tersebut. Keduanya adalah makanan favorit Eriska dan bahkan mereka dulu sangat sering menikmati makanan dan minuman tersebut bersama-sama.


"Saya sendiri sangat suka kue almond dan cokelat hangat. Percaya atau enggak, kalo kita minum cokelat hangat saat hati kita sedih dan badmood maka akan membantu mengurangi rasa sedihnya dan pikiranpun akan terasa relax." Kata Vanny tersenyum manis.


"Kalo kamu lagi badmood atau sedih, coba deh makan kue almond dan minum cokelat hangat. Percaya atau enggak, tapi rasa sedih dan badmood mu bakal berkurang. Pikiran juga terasa lebih relax." Suara Eriska tiba-tiba terngiang ditelinganya saat itu juga.


"Eriska." Kata Ken dalam tatapan serius kearah Vanny.


"Ah, maaf. Gak apa-apa, makasih ya." Kata Ken tersenyum, Vanny membalas senyuman itu lalu pamit pergi.


Ken menatap kearah nampan tersebut, terlihat jelas kenangan nya bersama Eriska saat itu. Semua terekam secara otomatis dikepala Ken membuat pria itu merasa sangat merindukan sosok Eriska.


***


Seperti biasa saat semua karyawan cafe pulang, Vanny membersihkan sisa-sisa pekerjaan yang belum terselesaikan. Dari membuang sampah sampai mengepel lantai cafe ia lakukan sendiri dan setiap hari.


Setelah semua pekerjaan selesai Vanny bersiap-siap untuk pulang karena malam ini akan ada badai salju yang turun dan akses jalan akan ditutup.


"Lampu ruangan pak Ken masih nyala, apa pak Ken belum pulang ya?" Tanya Vanny bicara pada dirinya sendiri. Gadis itu penasaran lalu mencoba mendekati ruangan Ken dan mengetuk pintu ruangan tersebut.


"Pak, pak Ken. Bapak didalam?" Tanya Vanny mengetuk pelan namun tidak ada jawaban dari dalam sana. Vanny melihat kearah jam tangannya sebentar lagi jalan akan ditutup namun ia ragu untuk pergi saat ini juga sebelum tau apakah Ken sudah pulang atau belum. Vanny memegang gagang pintu yang terasa dingin itu lalu memberanikan diri untuk membuka pintu ruangan bosnya tersebut tanpa izin terlebih dulu.


Kenan tertidur dimeja kerjanya, Vanny melangkah pelan menghampiri Ken.


"Pak, pak Ken. Bapak gak pulang? Sebentar lagi jalan raya akan ditutup karena akan turun badai salju, sebaiknya bapak pulang sekarang." Ucap Vanny namun Ken tidak juga bangun.


"Bangunin gak ya?" Kata Vanny ragu. Dengan sedikit keneranian Vanny menyentuh tangan Ken dan saat itu juga ia tau jika Ken sedang demam tinggi saat ini.


"Pak, bapak sakit! Badan bapak panas banget." Katanya kaget, Vanny langsung membetulkan posisi Ken yang menelungkup di atas meja. Pria itu bahkan kehilangan kesadarannya karena demam tinggi.


Selembar photo wanita jatuh dari pelukan Ken saat Vanny memindahkan Ken ke sofa panjang untuk berbaring.


"Hun...." Panggil Ken secara tidak sadar, setelah membaringkan Ken disofa Vanny buru-buru mengambil air hangat untuk mengompres pria itu.


"Bapak tunggu sebentar ya, saya cari obat dulu." Kata Vanny mulai panik. Dengan cepat pria itu pergi untuk membeli obat diapotek.


"Moga masih ada taksi." Gumam Vanny keluar dari cafe. Cukup lama Vanny berdiri didepan cafe menunggu taksi yang lewat namun tidak juga ada, bahkan jalan raya sudah sepi.


"Kalo gak sekarang apotek juga bakal tutup." Pikir Vanny saat itu, dan akhirnya gadis itu nekat berjalan kaki menuju apotek terdekat tidak perduli dengan angin yang bertiup kencang dan terasa membekukan tulang ditambah lagi hujan salju yang makin tebal.


Setelah berjalan cukup jauh akhirnya Vanny menemukan satu-satunya apotek yang masih buka. Vanny langsung membeli beberapa obat untuk penurun demam dan radang. Gadis itu dulunya sempat kuliah kedokteran namun karena terhalang biaya ia terpaksa menghentikan pendidikannya.


Gadis itu meniupi kedua telapak tangannya yang terasa sangat dingin dan berwarna pucat sambil berjalan cepat menuju cafe.


Sesampainya dicafe, Vanny langsung memberikan obat untuk Ken yang belum juga bangun.


"Hun, jangan pergi aku mohon." Lirih terdengar suara Ken memanggil Eriska dalam ketidak sadarannya dengan nada sendu.


"Pak, ini saya Vanny." Ucap Vanny pelan sambil memeriksa suhu badan Ken.


"Hun, dengerin aku. Aku mohon jangan pergi, tetap disini, tetap begini aku mohon temani aku sebentar aja." Vanny menatap dalam wajah Ken, terlihat tetesan bening keluar dri sudut mata pria itu.


"Entah apa yang bapak alami dan rasakan saat ini hingga terdengar sangat menyakitkan seperti ini." Ucap Vanny mengusap air mata Ken. Bahkan hanya dengar mendengar ucapan lirih suara Ken Vanny bisa merasakan kesakitan yang teramat dalam.


Bersambung.....