Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Ngidam 2



"Kok bisa samaan sih maunya? Ini kita yang dikerjain atau emang lagi pas kebetulan sih?" Ucap Daniel bingung karena permintaan Dara pun sama seperti yang diminta oleh Luna hanya saja Dara meminta Daniel untuk mencarikannya buah manggis.


"Gue juga gak ngerti tapi yang jelas gue gak bisa nolak permintaan Luna, Kata bunda kalo dia mau apa-apa gue harus berusaha dapetin biar anak gue entar gak ileran. Uuuuh jangan sampailah pokoknya, Kasian anak gue."


"Ya gue juga gitu, Lo enak Luna cuma minta mangga doang. Lah gue, Dara minta manggis gue mesti cari dimana coba? Pohon nya aja gue gak tau gimana bentuknya."


"Lo pikir dimana gue bisa dapat mangga kalo lagi gak musim gini? Gue beliin dimall pasti dapat tapi pasti juga ketahuannya. Lagian lo begonya kelewatan, Lo kan punya hape lo bisa search di internet pohon manggis itu gimana bentuknya."


"Iya ya, Kok gue gak kepikiran dari tadi?" Daniel langsung mengeluarkan hapenya lalu mencari gambar pohon manggis sesuai saran El.


"Udah ketemu? Kalo gitu ayo kita begerak sekarang." Ajak El, Mereka lalu pergi untuk mencari permintaan istri masing-masing.


"Gue mending ngerjain laporan yang lo kasih ketimbang nyari yang beginian. Sumpah ini lebih sulit daripada nyari jerami ditumpukan jarum."


"Kebalik oon, Yang bener itu jarum ditumpuk kan jerami."


"Suka-suka gue dong mau nyari ditumpuk kan mana, Emang gue minta bantuin lo buat nyari huh?"


"Ish......Serah lo deh." Selagi El dan Daniel sibuk dengan tugas mereka masing-masing Dara dan Luna kini sudah cekikikan ria dikamar sambil menonton drama korea.


"Kita keterlaluan gak sih sama mereka? Kasian tau, Bawa-bawa ngidam lagi." Kata Luna merasa sedikit bersalah.


"Ya gak lah, Itu hukuman buat mereka karena udah berani bohong. Disuruh buatin sushi malah beli pakai acara bohong lagi kan ngeselin." Jawab Dara cuek, Walau sudah menikah Dara tetaplah Dara wanita yang memiliki sifat sulit ditebak kadang ia baik kadang ia seperti ibu tiri untuk Daniel.


"Iya, Tapikan mereka udah minta maaf."


"Ayolah sayang jangan lemah gitu dong. Anggap aja mereka lagi belajar jadi suami uang siaga. Lagian waktu itu kamu juga pasti ada ngerasa sedikit kecewa kan karena dibohongin padahal kamu udah seneng banget pas ngira sushi kemaren hasil karya bang El." Luna mengangguk pelan membenarkan ucapan Dara.


"Nah kalo gitu santai aja, Anggap aja ini hiburan tambahan oke."


"Oke."


***


"El.....El.....El berenti, Tuh lo liat didepan rumah warna coklat itu ada pohon mangga, Kita liat kali aja ada buahnya." Kata Daniel menunjuk ke halaman rumah berwarna coklat muda. El dan Daniel turun dari mobil dan sesuai request dari nyonya besar mereka berdua berjalan mengendap-endap seperti maling.


"Stttttt......Pelan-pelan jangan sampai ketahuan." Ucap Daniel memperingati El.


"Lo menikmati banget sih peran lo sebagai maling." Sahut El cuek dengan wajah tidak tau menahu.


"Bangke! Ya udah lo cari aja sendiri."


"Eeeitssss.......Oke-oke sorry, Gue tarik omongan gue barusan. Oke brader let's start being thieves." Daniel berdecih tidak terusik dengan permintaan maaf El.


"Maafin daddy ya nak, Daddy terpaksa buat mommy kamu. Kamu jangan ngikutin gini ya sayang." Kata El sebelum beraksi. Mereka lalu berlari pelan kebawah pohon mangga.


"Lo liatin diatas pohon nya ada buahnya atau gak, Gue awasin keadaan sekitar. Oke." El mengangguk, Matanya mulai mencari keberadaan buah mangga yang di inginkan Luna sedangkan Daniel mengawasi keadaan sekitar takut jika ada yang melihat.


"Ada Dan, Tapi diatas gimana cara ngmbilnya?" Ucap El berbisik agar tidak ribut karena jarak pohon mangga dan rumah sangat dekat.


"Ya lo panjat lah, Lo mau nunggu sampai tu mangga jatoh?"


"Gue? Manjat? Lo gak punya saran lain apa selain manjat pohon?" Tanya El, El pria yang nyaris sempurna tidak memiliki celah sedikitpun hampir semua pekerjaan bisa ia tangani namun hanya satu yang membuatnya gagal untuk menjadi sempurna ia tidak bisa memanjat pohon.


"Terus lo mau minat sama orangnya langsung gitu? Lo lupa maunya Luna apa huh? Buruan entar ada orang buang waktu aja sih lo." Daniel makin memburu El membuat El makin bingung.


"Gu......Gue, Gue.....Masalahnya gue gak bisa manjat pohon." Kata El ragu-ragu karena hanya ia dan Tuhan yang tau jika El tidak bisa memanjat. Mendengar hal itu Daniel langsung ingin tertawa terbahak-bahak namun ia menahannya.


"Hallo.....Elang Edgar Leondra, Bos mafia yang punya ratusan anak buah bahkan hampir ribuan sekaligus CEO terkenal, Terhebat, Terkuat, Tersukses lo bisa semua hal kecuali manjat pohon....Sumpah sakit perut gue nahan ketawa." Kata Daniel nyaris tertawa nyaring.


"Pada dasarnya gue juga sama kek lo, Manusia biasa yang gak sempurna tapi karena gue punya punya banyak nilai plus kekurangan gue bisa ditutupi, Sampai sini paham kan lo!" Tegas El tetap tidak ingin terlihat celahnya.


"Serah lo deh, Intinya sekarang buruan ambil tuh mangga sebelum ada orang yang liat." Suruh Daniel membuat El kembali kebingungan.


"Ya caranya gimana bapak Gibran Daniel yang terhormat? Tadi kan gue udah jelasin ke lo."


"Iiiihhhhhh lama-lama gue kok kesel ya punya temen kek lo! Ya udah lo tungguin dibawah gue yang manjat, Nunggu lo yang manjat sampai anak lo lahir juga gak akan keambil tuh mangga." El tersenyum puas pada Daniel yang akhirnya mau membantunya.


"Lama-lama gue mulai ngerti arti lo buat gue. Tenang aja, Kerja keras lo bakal gue kasih apresiasi yang pantas." Ucap El seraya menyentuh bahu Daniel.


"Tau ah! Sini punggu lo " Kata Daniel menarik El lalu memaksanya duduk dibawah pohon mangga itu.


"Lo.....Lo mau nginjek gue?"


"Lo mau gue injek atau manjat sendiri?" Jawa. Daniel memberikan pilihan.


"O.....Oke deh, Oke gak apa-apa lo nginjek gue." Ucap El mengalah lalu berjongkok didepan pohon mangga itu.


"Bener-bener dapat kehormatan besar lo bisa nginjek punggung gue." Celetuk El namun tidak digubris oleh Daniel yang mulai naik keatas punggungnya.


"Begh.....Lumayan berat juga lo, Dosa lo terlampau banyak pasti ini." Katanya berdiri perlahan mengangkat tubuh Daniel yang berpijak dikedua bahunya.


"Udah nikmatin aja, Ini juga demi anak istri lo." Sahut Daniel setengah mengerjai, Kapan lagi bisa menginjak puas tubuh Elang bosnya sendiri.


"Buruan manjat woiiii......Berat! Lo sengaja banget sih ngulur-ngulur waktu." Protes El menahan berat badan pria berbobot kurang lebih 60kg dan tinggi badan 1,75 cm itu dipundaknya.


"Sabar, Gue masih cari pegangan dahan yang kuat." Sahut Daniel padahal ia memang sengaja berlama-lama.


Setelah Daniel berada diatas pohon mangga itu, El langsung mengawasi keadaan sekitar. Ini terlalu memalukan jika sampai ada yang melihat dan tau jika kedua bos besar dari Diamond group mencuri buah, Rasanya seperti sedang menyembunyikan aib besar.


"Yang paling besar diatas Dan, Jangan yang kecil." Kata El menunjuk buah mangga paling besar yang ada diujung dahan.


"Lo gak tau terimakasih banget sih bangke! Masih sempat-sempatnya lagi milih." Gerutu Daniel mulai kesal dengan El.


"Hehehe kan udah gue bilang, Bakal gue bayar tenang aja."


"Cih! Duit gue udah banyak."


"Banyak juga hasil kerja sama gue kan? Jadi jangan nyombong."


"Kalian malingin mangga saya ya? Maling.......Maling buah....." Teriak si empunya rumah El dan Daniel langsung kebingungan setengah mati, Daniel juga langsung buru-buru turun.


"Lempar buahnya ke gue." Kata El, Tanpa pikir panjang Daniel melemparkan buah yang ada ditangannya pada El lalu ia segera turun sementara si empunya rumah buru-buru mengambil sapu sambil terus berteriak maling.


"Buruan Dan, Mati kita kalo satu kampung tau." Kata El memburu Daniel. Dengan cepat Daniel melompat lalu kedua pria ini berlari kearah mobilnya dengan cepat mereka melajukan mobil keluar dari perkampungan itu.


"Hhhhhhhhsssss......Hampir aja, Serius kalo hari-hari mereka minta begini nyerah gue." Kata Daniel ngos-ngosan sambil minum sebotol air putih saat sudah berada didalam mobil El.


"Gue juga heran anak kita entar bakal jadi apa dalam perut aja mintanya udah yang macem-macem, Kompakan mulu lagi."


"Kadang gue ngerasa kita ini kek dikerjain tau gak." Sahut Daniel yakin.


"Gak mungkin lah Luna tega ngerjain gue apalagi bawa-bawa kehamilannya."


"Hhhhhhh Entahlah, Yang jelas sekarang kita mesti nyari manggis."


"Oke, Lo liat-liat deh kali aja ada pohonnya."


Setelah lama berkeliling keluar masuk beberapa blok akhirnya mobil El dan Daniel berhenti disebuah rumah kosong diujung jalan. Dihalamannya terdapat banyak pohon buah termasuk pohon buah manggis yang berbuah sangat lebat. Daniel tersenyum bahagia mendapati itu terlebih rumah pemilik buah kosong ia bisa dengan mudah memetik buah manggis keinginan Dara.


"Lo duluan deh gue muter bentar." Daniel lalu turun lebih dulu sedangkan El memutar balik mobilnya."


Baru El berjalan beberapa langkah dari mobilnya untuk menyusul Daniel, Daniel malah berlari cepat dengan membawa satu buah manggis ditangannya.


"Lari El, Ada anjing." Teriak Daniel, Mata El langsung terbuka lebar saat dua ekor anjing berjenis doberman pinscher Anjing penjaga rumah yang terkenal sangat tidak bersahabat itu lari kearah mereka berdua. El langsung mengeluarkan langkah seribu ikut berlari bersama Daniel.


"Percuma kita lari, Anjing itu tetap bakalan ngejar kita." Kata El sambil terus berlari. Daniel melihat pohon yang cukup mudah untuk dinaiki.


"Panjat pohon." Katanya langsung memanjat meninggalkan El sendirian dibawah sana.


"Lo sialan banget sih, Lo kan tau gue gak bisa manjat."


"Udah buruan naik, Tuh anjing dah makin deket." Dengan sangat terpaksa bercampur khawatir El memanjat, Dan akhirnya kini mereka berdua ada diatas pohon yang sama sedangkan kedua anjing itu masih menggonggongi El dan Daniel.


"Kenapa kita mesti lari sih? Kenapa gak masuk ke mobil aja selesai kan masalahnya." Kata El bicara dengan terengah-engah sambil mengatur nafas.


"Lah kuncinya kan sama lo, Kenapa lo ikutan lari?"


"Gue kaget tau-tau ada dua anjing besar ngejar gitu ya gue lari lah. Mending gue ngadepin preman daripada ngadepin dua anjing."


"Anjingnya udah gak ada, Buruan turun terus kemobil." Sambung El saat melihat dua anjing itu sudah pergi dari sana. El dan Daniel buru-buru turun dari atas pohon dan langsung berlari menuju mobil lalu pergi dari tempat itu.


"Kurang apa lagi coba perjuangan kita sebagai calon bapak yang baik dan suami andalan, Ampun gue." Celetuk Daniel saat berada didalam mobil El.


"Iya, Entah apa yang merasuki Luna dan Dara sampai-sampai ngidamnya nyuruh kita jadi maling." Sambung El sambil menggelengkan kepalanya.


***


"Aku telepon Daniel bentar ya biar jemputin aku disini aja."


"Hallo sayang, Gimana udah dapet belum manggisnya? Oh iya jemputin aku di dirumah Luna ya."


"Kamu lagi disana? Ya udah kalo gitu entar aku langsung kesana, Ni juga lagi sama El."


"Ya udah aku tunggu, Hati-hati ya muaaaach." Sambungan telepon pun terputus, Luna tertawa melihat Dara yang kini tidak lagi sungkan pada Daniel.


"Mereka lagi dijalan mau kesini." Luna tersenyum walaupun dihatinya ada rasa bersalah karena tega mengerjai suaminya sendiri.


Tidak lama El dan Daniel datang dengan tersenyum bangga membawa buah ditangan mereka.


"Ini buahnya nyonya-nyonya." Ucap Daniel memberikan buah manggis di tangannya pada Dara dan El memberikan mangga itu pada Luna. Luna dan Dara tersenyum bahagia sambil meraih buah itu.


"Makasih ya sayang." Ucap Dara sambil memberikan kecupan mesra di pipi Daniel membuat Daniel lupa perjuangan nya saat mengambil buah itu.


"Maaf ya nyusahin." Sambung Luna sambil memeluk El.


"Apapun keinginan kamu, Itu kewajiban buat abang." Jawab El juga memeluk Luna.


Dara lalu mengeluarkan hapenya dan memotret buah itu.


"Loh kok gak langsung dimakan sayang?" Tanya Daniel, Dara tersenyum pada suaminya itu.


"Aku cuma pengen nge-photoin aja gak pengen makan." Jawab Dara, Daniel kini benar-benar tidak tau lagi harus bagaimana dan berbuat apa. Sedangkan El langsung tertawa puas.


"Cu.....Cuma pengen photo? Kenapa kamu gak ambil photonya aja lewat internet?" Kata Daniel berusaha tetap sabar.


"Gak asli." Jawab Dara singkat membuat Daniel membuang nafas pasrah.


"Kita latihan tinju yuk entar sore." Ajak Daniel pada El sangking kesalnya tapi ia tidak mungkin marah pada Dara.


"Ummmmm abang, Maaf tapi aku gak mau makan mangga curian. Aku cuma pengen liat warna kulitnya aja." Kata Luna membuat tawa El berhenti, Kini giliran Daniel yang menertawakan El.


"Maaf." Sambung Luna memasang wajah imut membuat El tidak bisa berkata apa-apa lagi hanya bisa mengusap wajahnya.


"Kita emang perlu ke sasana sore ini." Sahut El menjawab ajakan Daniel.


**Bersambung.......


Like


Vote jgn lupa krn msh bnyk yg blm nge-vote


komen sll ditunggu....


Mksih ya untuk yg suka sama perfech husband.....😘😘😘😘 loph kalian semua.....


Author sambil bikin novel baru niie moga aja cepat bisa dirilis ya**....