
"Ra......Gawat banget Ra." Teriak Luna masuk kekamar Dara. Dara yang baru selesai membersihkan diri kaget melihat Luna masuk kekamar nya dengan wajah panik.
"Kenapa? Apanya yang gawat?" Tanya Dara penasaran.
"Kak Rendy sekarang ada dikantor bang El. Dia ngamuk, Dia mukulin kak Daniel dan kak Daniel udah gak bisa apa-apa sekarang." Dara hanya diam berdiri ditempatnya, Ia pikir Daniel memang pantas mendapatkan itu semua dari kak Rendy.
"Dia emang pantas dapatin itu." Ucap Dara datar tidak peduli lagi. Mendengar ucapan sahabatnya itu Luna merasa kesal.
"Tapi dia itu ayah dari anak yang kamu kandung. Dia bahkan rela dipukuli sama kak Rendy berkali-kali cuma untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Sekarang kamu ingat, Malam itu apa kesalahan terletak hanya pada Daniel seorang?" Suara Luna meninggi, Ia tau ini tidak baik tapi melihat sifat Dara yang berubah menjadi kasar, Dingin dan seperti tidak memiliki hati membuatnya kesal.
Dara diam, Ia kembali mengingat kejadian malam itu. Memang benar yang dikatakan Luna bahwa ini semua bukan hanya salah Daniel seorang. Tidak adil rasanya jika hanya Daniel yang disalahkan sedangkan ia juga bersalah.
Dara menghela nafas panjang, Sebenarnya ia tidak ingin melakukan ini dan membantu Daniel tapi karena Luna benar mau tidak mau ia pergi kekantor bersama Luna.
***
"Bangun lo *****! Itu semua gak seberapa dibanding sama hidup ade gue yang lo ancurin!" Teriak Rendy pada Daniel yang terlihat benar-benar payah. Rendy kembali menghampiri Daniel namun ditahan oleh El.
"Minggir lo!" Bentak Rendy namun El tidak bergeming. Kali ini ia benar-benar merasa habis kesabaran melihat sahabatnya dipukuli oleh Rendy..
"Gue bilang cukup, Atau lo bakal berhadapan sama gue." Ancam El mulai emosi membuat Rendy berdecih.
"Ya udah ayo sekalian, Jangan lo pikir karena lo suami dari Luna gue segan sama lo." Bukannya berhenti Rendy malah menantang El yang benar-benar sudah tidak tahan dengan sikapnya. El melepaskan jas hitamnya dan menggulung lengan kemeja putihnya, Kini ia benar-benar siap untuk bertarung dengan Rendy. Sedangkan Daniel sudah tidak sadarkan diri dengan wajah yang benar-benar jauh dari kata sempurna.
El bukanya sok jagoan atau ingin pamer kekuatan, Ia hanya ingin mengulur waktu sampai Dara dan Luna tiba. Jika tidak begini mungkin Daniel akan mati ditangan pria ini.
Rendy langsung melayangkan tinjuan nya membuat seisi kantor berteriak, Namun bukan El namanya kalau tidak bisa menghindar. El menghindar dengan cepat, Kini El lah yang memegang kuasa. Ia mengunci tubuh Rendy di dinding hingga Rendy cukup kesusahan untuk melepaskan diri.
"Kak Rendy bang El, Cukup!" Dara dan Luna akhirnya datang. Kedua gadis itu langsung berlari kearah mereka berdua.
"Bang, Lepasin kak Rendy." Pinta Luna yang melihat Rendy sudah mulai kehabisan nafas karena tekanan kuat dari lengan besar El. El melihat Rendy lalu tersenyum pada Rendy.
"Untung ada istri gue, Kalo gak gue bikin adonan baso lo......Tapi gue mau nyicip dikit boleh kan?"
Buggggghhhh......Sebuah tinjuan kecil bagi El mendarat diwajah Rendy membuat bibir dan hidung pria itu mengeluarkan darah segar.
"Abang....." Teriak Luna, El langsung melepaskan kuncian nya membuat Rendy terbatuk-batuk kehabisan nafas. Luna langsung menghampiri El yang langsung mengangkat kedua tangannya memasang wajah tidak bersalah dan tersenyum pada istrinya.
Dara yang kaget melihat keadaan Daniel langsung menghampiri Daniel yang sudah tidak sadarkan diri dilantai lobi. wajahnya penuh darah dan lebam hingga bajunya pun bersimbah darah segar yang keluar dari mulut, Hidung, Juga luka yang disebabkan tinjuan keras diwajahnya.
Dara pikir Rendy hanya akan memukul Daniel sekali dua kali, Ia tidak tau jika Rendy hampir membunuh Daniel saat ini.
"Da......Daniel, Lo.....Lo denger gue kan?" Tanya Dara gugup, Tidak bisa disembunyikan kalau ia terlihat sangat khawatir saat ini.
"Ra ayo pergi, Biarin si *** itu mati kesakitan dan perlahan." Ucap Rendy menarik tangan Dara.
"Lo.....Lo becanda kan? Bangun sekarang atau gue bakal tendang lo." Dara tidak menghiraukan ucapan Rendy ia malah terus berbicara pada Daniel yang sudah tidak tau apa-apa lagi.
"Ra, Kamu ngapain sih peduliin dia? Karena dia kamu diusir dari rumah, Dan karena dia hidup kamu hancur."
"Tapi dia ayah dari anak aku kak! Dia ayah keponakan kakak sendiri." Mata Dara mulai basah kembali, Rasa menyesal langsung mengisi hatinya. Ucapan Dara membuat Rendy terdiam sedangkan karyawan yang ada disana langsung kaget dan ribut saat mendengar ucapan Dara terutama para gadis-gadis yang selama ini berusaha mendekati Daniel.
Dara menggenggam tangan Daniel yang mulai terasa dingin, Ia menangis sambil memangku kepala Daniel. Biasanya Daniel akan bangun jika ia lakukan hal ini sama seperti saat Daniel dipukuli oleh preman-preman waktu itu namun kali ini tidak, Daniel tetap menutup rapat matanya bahkan saat Dara memanggil namanya berulang kali Daniel sama sekali tidak merespon sedikitpun.
Melihat hal itu El dan Luna langsung menghampiri Daniel. Mereka berdua ikut menyadarkan Daniel namun hasilnya nihil tidak ada hasil. El langsung menyuruh stafnya untuk menelepon ambulan, Ia tidak menyangka jika Daniel tidak bisa bertahan seperti biasanya.
"Dan.....Lo denger gue kan? Lo harus segera sadar. Dara ada disini, Dia mau lo sadar." Kata El mulai panik begitu juga dengan Luna. Dara terus menggenggam kuat tangan Daniel yang basah karena darah dan dingin.
Tidak lama ambulan datang, Dengan cepat Daniel dilarikan kerumah sakit. Dara menemani Daniel di dalam ambulan sedangkan Luna dan El menyusul dibelakang. Rendy juga ikut mengantar Daniel kerumah sakit. Saat Dara bilang bahwa Daniel adalah ayah dari bayinya hatinya mulai terusik itu sebab nya ia ikut mengantar Daniel kerumah sakit.
Sepanjang jalan Dara menangis melihat Daniel yang dipasangi selang oksigen dihidungnya. Harusnya ia lebih cepat datang kekantor dan jika ia tidak membuang waktu mungkin Daniel tidak akan seperti ini.
Setelah sampai dirumah sakit Daniel langsung dilarikan keruang IGD untuk mendapatkan penangan yang tepat. Mereka mengurung Daniel didalam sana membuat Dara, Luna, El dan Rendy menunggu dengan cemas dan was-was.
Dua jam menunggu akhirnya dokter yang menangani Daniel keluar. Dengan cepat mereka semua berdiri menghampiri Dokter yang baru saja membuka pintu.
"Gimana dengan Daniel dok?" Tanya El, Rumah sakit ini bekerja sama dengan perusahaan El jadi tidak heran jika semua dokter disini mengenal El dan Daniel dengan sangat baik.
"Pak Daniel mengalami beberapa kerusakan organ dalam tubuhnya karena pukulan yang keras dan kuat. Berita baiknya ia sudah melewati masa kritisnya tapi kabar buruknya pak Daniel mengalami koma." Ucapan dokter seperti sambaran petir bagi Dara dan yang lainnya. Seketika kaki Dara lemas, Ia terduduk didepan ruangan itu.
Begitu juga dengan El yang langsung meninju keras dinding rumah sakit hingga tangan nya terluka. Luna membantu Dara untuk duduk dibangku tunggu sebenarnya ia juga khawatir dengan tangan El yang terluka tapi Dara saat ini sedang mengandung dan terlihat sangat rapuh. Luna memeluk Dara berusaha menenangkan nya.
"Pak Daniel akan dipindahkan keruang ICU." Tambah dokter tadi, Lalu ia pergi.
"Kenapa Lun? Kenapa semua datang secara bersamaan? Rasanya sakit banget aku gak sanggup." Ucap Dara dalam isak tangis nya.
Tidak lama kemudian pintu ruangan IGD terbuka, Ranjang yang membawa tubuh Daniel pun keluar. Dara langsung berdiri melihat pria yang sedang terbaring koma itu. Semua orang ikut mengantarkan Daniel keruang ICU terkecuali Rendy yang benar-benar sangat menyesali perbuatan nya pada Daniel. Ia lantas pergi dari rumah sakit itu tanpa mengatakan hal apapun.
Setelah Daniel berada diruang ICU, Dara menjenguk Daniel lebih dulu. Dengan pakaian steril ia masuk keruangan menakutkan ini.
"Kami bilang, Kamu bersedia bertanggung jawab. Terus kenapa kamu masih membuang waktu mu dirumah sakit ini? Cepat bangun! Karena aku menuntut tanggung jawab mu." Ucap Dara, Suaranya bergetar menahan tangis. Melihat pria yang sangat ia benci ini sekarang terbaring kaku seperti mayat hidup.
Dara meraih tangan Daniel yang dipasangi macam-macam selang lalu meletakan diperut nya.
"Dia bahkan masih sangat kecil, Tapi dia ada dan terus hidup didalam sana. Dia berjuang, Dia bertahan karena ia ingin segera tumbuh besar agar bisa mendengar suara ayahnya, Merasakan sentuhan ayahnya. Jadi aku mohon demi anak ini, Aku mohon cepat buka mata kamu." Katanya sambil menangis.
"Cepat sadar, Kamu harus anterin aku kontrol bayi kita. Bukan nya kamu bilang, Kamu cinta sama aku? Berarti kamu gak akan biarin aku untuk memeriksakan nya sendirian kan?" Tambah Dara, Hatinya benar-benar hancur saat ini melihat Daniel terbaring koma.
Tidak lama El masuk bergantian, Dan kini waktunya Dara untuk keluar dari dalam sana.
"Lo lemah banget sih Dan? Cuma dipukuli sama calon kakak ipar lo, Lo sampai begini? Terus gimana lo mau jadi bapak buat anak lo kelak? Cepat bangun, Gue masih kesel banget sama lo bisa-bisanya lo duluin gue jadi daddy. Gak terima gue jadi jangan pikir lo bisa lama-lama tidur disini." Ucap El tidak bisa menyembunyikan kesedihannya melihat Daniel.
"Satu lagi, Dara udah mau nerima lo buat jadi suaminya. Jadi jangan betingkah dan cepat bangun sebelum Dara berubah pikiran." Tambah El yang akhirnya meneteskan airmata nya.
Ini bukan hal yang mudah bagi El, Daniel sudah seperti seorang saudara untuknya dari awal kenal hingga sekarang mereka bersama bahkan ikatan saudara pun belum tentu sama seperti hubungan El dan Daniel.
"Maaf pak, Jam besuk sudah habis." Kata perawat yang baru masuk, El langsung cepat-cepat menghapus air matanya.
"Nanti gue balik lagi." Kata El pamit pada sahabatnya yang terbaring koma itu. Luna menyambutnya dengsn senyum hangat saat El keluar dari ruangan Dara.
"Dara kemana?" Tanya El yang sudah tidak melihat Dara lagi disana.
"Dara ke kosan nya diantar kak Rendy, Dia pasti tertekan banget sama semua masalah yang dia hadapi saat ini. Tadi dia mau nunggu disini, Tapi aku maksa dia untuk pulang dan istirahat." El mengangguk pelan.
El merebahkan kepalanya dipangkuan Luna, Saat ini mereka berdua berada dirumah El. Luna membelai lembut rambut El, Ia tau perasaan yang disembunyikan suaminya saat ini.
Lelah sudah pasti tentu, Frustasi jelas memikirkan sahabatnya yang saat ini berjuang antara hidup dan mati.
***
Dua minggu sudah berlalu, Semua kembali berjalan seperti biasanya. Aktifitas El, Luna dan Dara pun sama seperti biasa.
Dara sudah bisa menerima keadaannya saat ini, Kini hidupnya jauh lebih baik dari sebelumnya yang biasa minum alkohol dan keluar malam tidak lagi terjadi.
Luna juga mengerjakan tugas yang diberikan dosen waktu itu, Menjadi guru bimbel untuk Andra dan semua berjalan dengan lancar. Andra sebenarnya memiliki otak yang cukup cerdas, Hanya saja ia kurang mau berusaha. Dan berkat bantuan dari Luna ia kini bisa mendapatkan nilai B. Tentu membuat pria itu senang bukan main, Terlebih bisa bersama Luna.
Semua benar-benar sudah kembali tapi tidak dengan keadaan Daniel yang masih terbaring koma tidak menunjukan perubahan apapun. Kandungan Dara juga sudah memasuki usia minggu ke 8, Setiap pulang kuliah ia mampir kerumah sakit untuk menemui Daniel.
Pagi ini sebelum ke kantor El ingin mampir menemui Daniel terlebih dulu, Karena terlalu sibuk dikantor ia tidak mengunjungi Daniel selama dua hari.
"Sayang........Hei, Gak biasanya kamu bangun siang. Kamu sakit?" El mendekati Luna yang masih betah menunggui tempat tidurnya. Luna membuka matanya lalu memeluk pinggang El yang duduk disampingnya sudah siap pergi ke kantor.
"Ganteng banget sih, Pokoknya hari ini gak boleh kekantor." Ucap Luna manja merebahkan kepalanya dipaha El. El mengerucutkan alisnya, Tidak biasanya Luna bersikap manja seperti ini.
"Terus kalo gak kerja ngapain dong? Kamu kan juga harus ke kampus sayang." Ucap El gemas sambil mencium bibir Luna. Tidak seperti biasanya Luna malah menarik kerah baju El dan menahan morning kiss itu membuat El sedikit bingung dengan tingkah istrinya.
"Kamu nakal banget sih pagi ini. Jangan sampai abang buka baju kerja abang ya." Ancam El, Biasanya Luna akan langsung berhenti menjahili suaminya jika El sudah mengeluarkan ancaman seperti itu tapi untuk kali ini Luna malah menggoda El dengan meraba lembut dada bidang El membuat sensasi nikmat disekujur tubuh El. El langsung menangkap tangan Luna menghentikan permainan nya diatas dada El.
"Kamu nantangin ya?" Tanya El sambil tersenyum. Luna tidak menjawab, Ia malah duduk diatas pangkuan El dan kini saling berhadapan. Dilingkarkan nya kedua tangan dileher El dan El melingkarkan kedua tangannya dipinggang Luna.
Luna ingin kembali mencium bibir El, Namun El menghindar membuat Luna tampak kesal.
"Bilang dulu kenapa tiba-tiba kamu jadi gini?" Tanya El penasaran dengan sikap Luna yang terlihat sangat manja dan bernafsu pagi ini.
"Apa sih? Aku cuma mau sayang-sayangan aja kok. Kalo gak mau ya udah." Luna cemberut lalu segera turun dari pangkuan El namun tangan El lebih dulu menahannya.
"Ih ngambek, Ya udah sini abang sayangin."
"Gak mau! Ya udah pergi sana ke kantor." Ucap Luna memalingkan wajahnya tidak ingin melihat El, El tersenyum makin gemes melihat Luna seperti seorang anak kecil yang sedang meraju.
Tanpa permisi El langsung memutar wajah Luna dan mencium bibir berwarna merah muda itu, Menggigitinya dengan lembut dan pelan membuat Luna kembali terangsang. Luna menguatkan pelukannya dileher El, Membawa ciuman El lebih dalam lagi.
Tangannya mulai nakal membuka dasi dan kancing kemeja satu persatu. Padahal El ada meeting pagi ini makanya ia sudah siap pergi kekantor tapi karena Luna lebih membutuhkan nya saat ini, Ia seolah tidak perduli dengan acara pentingnya pagi ini.
El melepaskan ciuman bibirnya, Melihat Luna sambil tersenyum manis. Namun Luna tidak ingin membuang banyak waktu lagi, Ia pun heran kenapa hasratnya menjadi-jadi pagi ini. Luna membuka baju kemeja El hingga terlihatlah tubuh kekar penuh otot itu, El juga menambahkan tato ditubuhnya yaitu dibawah lehernya tepat didada tertulis nama Aluna menambah ke-sexy-an yang ia miliki.
Luna menciumi leher El sambil sesekali memainkan lidahnya dibelakang telinga El titik nafsunya, Membuat tubuh El merinding hebat. El mengangkat sleep dress satin milik Luna memperlihatkan pakaian dalam yang senada dengan warna sleep dress nya.
El mulai menjelajahi bibir, Leher dan dada Luna membuat Luna makin menggila. Luna mendorong tubuh El hingga jatuh keranjang dan langsung menindih El menciumi dada El membuat tubuh pria itu kejang menahan kenikmatan yang diberikan istrinya.
El yang tidak bisa menahan nya lebih lama lagi langsung melepaskan sisa pakaian yang ada ditubuhnya dan Luna dan mereka kembali menikmati pagi mereka dengan penuh cinta.
***
Luna berbaring didada El, Percintaan yang mereka lakukan pagi ini cukup banyak menguras tenaga hingga mereka berdua merasa lelah.
"Sayang......." Panggil El, Lembut dan penuh rasa.
"Hmmm........"
"Kok tumben banget sih pagi ini kamu nafsu banget. Biasanya aja baru abang nempelin dia udah kabur duluan." Tanya El lagi yang masih heran dengan sikap Luna pagi ini.
"Gak tau, Tiba-tiba pengen aja." Jawab Luna singkat tidak ingin memperpanjang karena ia merasa malu.
"Oh iya, Bukan nya ini udah tanggal 15 tumben kamu belum datang bulan." Luna baru ingat ia belum dikunjungi tamu bulanan nya, Biasanya tanggal 13 Luna selalu dikunjungi tamunya. Luna bangun sambil menutupi dadanya dengan selimut membuat El kaget.
"Iya ya, Gak biasanya aku telat." El ikut bangun, Ada rasa bahagia dihatinya berharap kalau istrinya itu hamil namun ia tidak ingin terlalu menampakan nya dihadapan Luna, Takut akan mengganggu perasaan Luna.
"Kita cek ke dokter yuk, Ya siapa tau ajakan kamu hamil." Ajak El bersemangat, Luna diam sambil memikirkan ajakan El. Ia takut jika hasilnya negatif El pasti merasa sangat kecewa dan ia tidak ingin melihat El sedih karena hal yang belum pasti.
"Ummmmmm Gak usah ya, Kek nya ini karena pengaruh capek aja deh. Abang kan tau akhir-akhir ini aku cukup sibuk mungkin itu semua mempengaruhi hormon." Jawab Luna, El mengangguk pelan. Ada rasa sedikit kecewa dihatinya saat Luna bilang ini hanya pengaruh kelelahan tapi ia tetap menghargai keputusan Luna.
***
Setelah kembali mandi dan berpakaian lengkap El langsung pamit pergi ke kantor. Kini tinggal Luna yang ada dirumah besar ini, Karena ia juga penasaran Luna langsung pergi ke swalayan terdekat untuk membeli testpack.
Setelah kembali Luna buru-buru kekamar mandi untuk melakukan tes. Ia gelisah menunggu hasil dari tesnya itu.
Setelah menunggu beberapa detik Luna mengangkat testpack itu dan hasilnya pun langsung terlihat.
***
Luna berjalan cepat menuju ruangan El, Ia sudah tidak sabar ingin bertemu El dan memperlihatkan hasil positif nya pada El. Namun saat ingin masuk kesana ia mendapat telepon dari Dara.
"Kenapa Ra?" Dara tidak menjawab hanya suara tangis yang terdengar, tidak lama El keluar dari ruangannya dengan wajah panik dan serius. Luna segera menghampiri El.
"Kenapa bang? Ada apa?" Tanya Luna penasaran, Terlebih Dara yang menangis kencang ditelepon.
"Daniel, Daniel kritis. Kita harus kerumah sakit sekarang." Luna benar-benar kaget dengan kabar buruk itu, Ia dan El lalu pergi kerumah sakit. El melajukan mobilnya dengan sangat cepat tidak sabar ingin segera sampai kerumah sakit......
Tidak membutuhkan waktu yang lama, El dan Luna tiba dirumah sakit. Mereka berdua langsung berlari menuju ruangan Daniel disana sudah ada Dara dan Rendy. Dara menangis didalam pelukan Rendy menunggu dokter yang sedang menangani Daniel.
"Apa kata dokter? Gimana keadaan Daniel?" Tanya El tidak bisa lagi sabar.
"Daniel kritis, Dan dokter lagi didalam menangani kondisi Daniel yang makin memburuk." Jawab Rendy, El langsung mengusap kasar wajahnya.
Setengah jam menunggu dengan semua perasaan cemas akhirnya dokter keluar dari kamar Daniel. Semua orang yang menunggu langsung menghampiri dokter itu.
"Dokter gimana keadaan Daniel?" Tanya Dara yang sudah tidak bisa lagi sabar.
"Maafkan kami, Kami sudah berusaha semampu mungkin untuk menyelamatkan pak Daniel. Tapi Tuhan berkata lain." Kata dokter itu tertunduk mengucapkan bela sungkawa dari rumah sakit.
Bersambung........ 😞