
Tidak biasanya hari ini Luna bangun lebih siang. Kepalanya terasa pusing saat bangun, Dengan malas Luna berjalan kearah kamar mandi untuk mencuci muka.
"Abang.......Aku cantik gak?" Semua ucapan Luna tadi malam menggema ditelinganya sendiri. Otaknya pun berusaha memutar ulang semua yang ia lakukan tadi malam termasuk saat menarik tubuh El.
"Ya tuhan, Kirimkan aku demam saat ini juga. Kok bisa sih aku begitu? Terus.....Terus entar gimana dong kalo aku ketemu bang El? Kenapa?" Luna merutuki dirinya sendiri sambil sesekali ia membenturkan jidatnya didepan cermin.
Dengan lemas Luna mandi dan langsung bersiap untuk pergi ke kampus. Ia berencana kabur pagi ini, Tidak ingin bertemu El.
"Terus gimana dong caranya aku keluar dari rumah?" Kata Luna terus berpikir, Ia melihat kotak masker yang memang ia beli untuk dipakai saat ia sedang flu. Luna meraih dan memakai masker itu diwajahnya. Dengan begini ia bisa menghindari El pikirnya.
"Luna, Kamu udah bangun?" Tanya El yang sudah duduk dimeja makan ditemani Clara.
"Mmmm......Aku langsung ke kampus." Ucap Luna tanpa menatap wajah El saat ini. El berdiri dari tempat duduknya lalu mendekati Luna.
"Kamu sakit?" Tanya El, Ingin menyentuh dahi Luna namun dengan cepat Luna menghindar.
"Kamu gak sarapan dulu? Aku udah masakin sup buat hilangin hangover kamu." Tambah Clara membuat Luna makin merasa tenggelam saat ini.
"Aku sarapan dikampus aja, Pagi ini ada jam tambahan dan aku gak mau terlambat." Alasan Luna agar bisa segera keluar dari rumah.
El langsung mengambil jasnya yang ada di sandaran kursi dan langsung menysulu Luna yang sudah ada didepan pintu.
"Biar abang anter kamu." El menarik tangan Luna membawanya kedalam mobil dan Luna hanya diam seolah lupa niatnya awal pagi tadi.
"Mungkin ini yang dinamakan ketika baran berhianat dengan tubuh." Gumam Luna dalam hatinya.
"El tunggu, Aku ikut kamu ya kekantor." Clara yang berlari kearah mobil El dan langsung masuk ke dalamnya. Membuat Luna kembali merasa kesal tanpa alasan.
"Kalian langsung aja ke kantor, Aku naik taksi aja." Kata Luna ingin turun, Tapi tangan El lebih cepat menghentikannya.
"Abang anterin kamu dulu baru abang sama Clara ke kantor." Luna akhirnya menurut tapi dibalik masker yang ia kenakan saat ini wajah Luna benar-benar cemberut total. Kesal, Marah, Benci semua menyatu namun ia tidak mengerti karena apa semua rasa itu muncul. Yang jelas ia merasa kesal saat melihat El dan Clara yang terlihat sangat dekat.
Harusnya saat ini El memberikan penjelasan pada Luna tentang siapa Clara dan kenapa mereka sangat dekat. Sepanjang jalan hanya El dan Clara yang mengobrol sedangkan Luna hanya diam seribu kata tidak tertarik ikut masuk dalam obrolan seru mereka.
"Gimana kalo malam ini kita adain party kecil dirumah kamu? Ya sekedar untuk ngumpul dan makan bareng." Ajak Clara antusian.....
"Pesta? Entar deh kita omongin lagi dikantor. Luna kamu yakin baik-baik aja?" Tanya El, Sebenarnya El selalu memperhatikan Luna walaupun ada Clara tetapi entah kenapa Luna merasa itu selalu kurang.
"Mmmmm.......Aku baik-baik aja." Jawab Luna singkat memalingkan wajahnya kearah jendela. El yang merasa sikap Luna berubah merasa tidak tenang saat ini, Dalam hati ia terus bertanya ada apa dengan Luna. Ia benar-benar tidak mengerti dengan Luna terkadang ia bersikap sangat baik pada El dan terkadang bersikap cuek seperti saat ini.
"Sejak kapan aku mulai egois dengan? Kenapa terasa sakit kalo ngeliat bang El sama Clara?" Bisiknya dalam hati.
"El bentar ada bulu mata kamu yang jatuh." Ucap Clara dan tanpa permisi ia langsung mengambil bulu mata El yang jatuh diwajah tampannya itu.
"Pasti ada yang kangen, Gak heran sih dari dulu kan emang banyak yang ngangenin." Sambung Clara sambil tertawa renyah, Luna yang melihat semua itu dari kursi penumpang serasa ingin berteriak saat itu juga, Jantungnya serasa terkena anak panah melihat itu membuatnya makin jengah dan gerah.
"Bang bisa agak cepetan gak? Udah siang banget ini." Celetuk Luna menghentikan tawa manis diwajah Clara. El langsung melajukan mobilnya dengan cepat.
***
Sesampainya di kampus Luna langsung turun begitu juga dengan El, Hanya Clara yang menunggu didalam mobil.
"Luna bentar." Panggil El mengejar Luna yang sudah berjalan menuju gedung kampusnya.
El memberikan permen untuk melegakan pernafasan ketangan Luna.
"Kalo lagi flu, Abang biasanya makan ini dan ini bisa membantu." Katanya, Luna melihat wajah El yang tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir untuk dirinya.
"Jangan sampai sakit ya, Abang ke kantor dulu." Sambungnya sambil mengusap pucuk kepala Luna dan tersenyum lalu pergi dari sana. Luna hanya bisa diam melihat punggung El makin menjauh. Ada banyak kata yang ingin Luna ucapkan pada El tapi mulutnya seolah mengunci rapat hingga Luna hanya bisa diam.
Mobil El mulai meninggalkan Luna membuat hatinya merasa sedikit kecewa.
"Lu......Luna." Panggil seseorang dari arah belakang. Luna langsung berhenti dan melihat orang itu.
Andra sudah berdiri menyembunyikan tangannya dibelakang.
"Hmmmm....." Jawab Luna datar.
"Ini jaket lo, Udah gue baikin." Katanya cepat menyerahkan bag papper kecil pada Luna yang isinya sudah jelas yaitu jaket Luna. Luna menerimanya sekaligus heran dengan sikap baik Andra, Tanpa mengucapkan apapun Andra langsung pergi meninggalkan Luna dengan cepat.
Tidak mau berpikir lebih lama, Luna kembali melanjutkan perjalanannya menuju kelas.
"Lunaaaaaa......" Teraik Dara yang berlari kearahnya.
"Kamu kenapa? Kok pakai masker?" Tanya Dara penasaran melihat Luna masih memakai masker, Baru sadar Luna pun langsung melepas benda yang menutupi setengah wajahnya.
"Gak apa, Aku baik-baik aja."
"Udah izin belum sama bang El?" Tanya Dara sambil merangkul tangan sahabatnya itu.
"Izin?" Ucap Luna mengulangi kata-kata Dara.
"Izin buat tour besom lusa ke jogja." Luna langsung menghentikan langkahnya. Karena terus memikirkan hal-hal yang tidak penting dan jelas ia melupakan tugas akhir semester itu.
"Nanti malam deh aku ngomong sama bang El."
***
"Selamat pak Daniel, Apa anda sedang sibuk saat ini?" Ucap Clara yang berdiri didepan pintu Daniel. Daniel yang sibuk dengan pekerjaannya langsung melihat asal suara itu.
"Clara....." Kata Daniel berdiri menghampiri Clara yang juga sedang berjalan menuju Daniel. Pelukan hangat serta kecupan di pipi tu tidak terhindarkan antara Daniel dan Clara.
"Kamu kapan balik dari paris? Kok gak ngabarin aku? Tau gitu kan aku bisa jemput dibandara."
"Malam-malam dia nelepon, Katanya diturunin ditengah jalan." Sahut El yang duduk di sofa ruangan Daniel.
"Huh? Serius kenapa?" Tanya Daniel penasaran membuat Clara tertawa.
"Iya, Niatnya tuh aku mau bikin kejutan makanya sengaja gak ngabarin. Eh malah aku yang kena imbasnya duluan, Taksinya mogok ditengah jalan jadi mau gak mau aku minta jemput sama El. Untung boss kita yang satu ini selalu sigap dari dulu." Clara menepuk pundak El membanggakan pria yang sudah beristri itu, Sedangkan El hanya tersenyum menanggapi pujian Clara.
"Jadi kamu nginep ditempat El?" Kata Daniel makin penasaran.
"O.....Oh iya, Ya jelas tau lah. Kita dah saling kenal kok, Anaknya cantik baik juga." Sambung Daniel membuat El merasa sedikit terganggu saat membahas tentang Luna...
"Tapi agak jutek." Jawab Clara cepat membuat El tersedak mendengar ucapan menohok Clara pada istrinya. Daniel yang sudah tau keadaan El dan Luna juga ikut kaget mendengar yang Clara katakan.
"Ah, Namanya juga masih kuliah. Mungkin dia lagi banyak tugas makanya kurang semangat, Tapi aslinya dia baik kok." Bela Daniel mengalihkan pembicaraan karena wajah El mulai memerah.
"Ummmm Clara kamu disini dulu gak keberatan kan? Soalnya aku ada meeting sama klien." Kata El berdiri dari tempat duduknya.
"Oh, Ya udah kamu meeting aja gak apa-apa lagian banyak yang mau aku obrolin sama Daniel." Setelah berpamintan El langsung keluar dari ruangan Daniel menuju ruangannya.
El yang kini berada diruangan nya sendiri duduk diam tanpa melakukan apapun. Pikirannya masih berkutat pada Luna.
"Iya ya, Kok gue baru sadar kalo akhir-akhir ini Luna keknya jutek banget gak cuma sama Clara tapi sama gue juga. Apa gue ngelakuin kesalahan? Atau karena ciuman itu?" El melonggarkan dasi yang mengikat lehernya, Ia benar-benar frustasi dibuat Luna saat ini.
***
"Ummmm........Ada yang mau aku tanyain sama kamu, Tapi jangan bilang ya sama El." Ucap Clara yang sedang berada diruangan Daniel saat ini.
"Apa?" Jawab Daniel singkat sambil terus menatap layar laptopnya.
"Luna itu beneran ade sepupunya El?" Pertanyaan Clara membuat jari-jari Daniel berhenti mengetik.
"Huh?......Ummmm ya.....Ya iyalah. Emang siapa?"
"Tapi kok aku ngerasa aneh ya ngeliat dia. Cara El memperlakukan dia itu kek bukan sama adenya. Ya aku tau El itu emang tipe orang yang perhatian dan baik sama semua orang, Tapi tetep aja aneh. Apalagi kalo aku lagi berdua sama El ngobrol Luna tu keliatan banget jengkelnya sama aku. Pokoknya bedalah, Lebih kek cewek yang lagi cemburu karena aku deketin pacarnya." Jelas Clara pada Daniel, Membuat Daniel menghentikan semua kegiatan nya saat ini.
"Gak lah, Perasaan kamu aja. Karena orangtua Luna nitipin Luna ke El jadi ya wajar aja kalo El over protective sama Luna kamu tau sendiri di zaman sekarang ini gimana pergaulan anak mudanya, Beda sama zaman kita karena terlalu nurut sama aturan akhirnya sampai sekarang kita masih sendiri."
"Hahaha......Iya kali ya. Oh iya malam ini kita ngumpul dirumah El yuk, Ya sekedar untuk makan malem bareng. ngadain sedikit pesta kecil, Gimana?"
"Dile." Jawab Daniel tertawa.
***
"Ummm.....Ra, Aku punya temen. Ya temen waktu SMA gitu, Dia cerita akhir-akhir ini dia sebel banget ngeliat temen cowoknya deket sama cewek lain. Tapi cowok itu cuma temennya aja gak ada hubungan lain atau spesial" Tanya Luna pada Dara, Saat ini mereka duduk santai ditaman kampus sambil menikmati minuman soda dan beberapa bungkus makanan ringan.
"Fix itu namanya cemburu." Jawab Dara yakin tanpa ragu-ragu membuat Luna tersedak air yang ia minum.
"Kok gitu!" Ucap Luna nyaring.
"Kok kamu yang nyolot?" Protes Dara, Membuat Luna sadar akan sikapnya yang berlebihan.
"Huh?......Aku? Ya gak lah. Kaget aja kok kamu bisa secepat itu menyimpulkan kalo itu namanya cemburu."
"Ya terus apa namanya? Kalo emang gak cemburu ngapain dia kesal? Harusnya ikut bahagia dong, Kasih dukungan iya kan?" Luna langsung terdiam memikirkan ucapan Dara sambil terus memegangi permen yang diberikan El. Semua perlakuan El padanya muncul begitu saja termasuk malam itu, Saat Luna bersedia memberikan ciuman pertamanya untuk El.
"Lun..... Luna, Hello Luna kamu mikirin apa sih?" Tanya Dara yang untuk pertama kalinya ia tidak fokus dan selalu melamun.
"Huh? Enggak.....Oh iya gimana kamu jadi ngekosnya?" Luna berusaha melupakan semua pikirannya tentang El saat ini. Ia tidak mau terus-terusan memikirkan hal yang tidak ingin ia akui.
"Jadi, Tapi mungkin habis tour aja aku pindahan."
***
Karena terus merasa terbebani dengan perasaan yang saat ini ia rasakan, El langsung pergi ke kampus Luna tanpa menghubungi Luna terlebih dulu.
Sesampainya disana El baru menelepon Luna.
"Kamu masih ada jam kuliah?" Tanya El ditelepon.
"Gak ada sih, Udah selesai kenapa?"
"Abang didepan kampus kamu." Jawab El, Luna langsung berlari keluar dari kampus menuju El. Saat melihat El ia langsung mematikan sambungan telepon dan menghampiri El.
"Kenapa?" Tanya Luna sambil mengambil nafas.
"Ada yang mau abang omongin, Karena dirumah lagi ada Clara kita gak bisa ngebahas ini dirumah." El lalu membukakan pintu mobil untuk Luna dan Luna segera masuk. Lalu mereka pergi menuju sebuah tempat.
El membawa Luna kesebuah pantai yang cukup jauh dari pusat kota, Suasananya sepi dan belum banyak orang yang tau tempat ini. El turun dari mobil diikuti Luna yang menikmati pemandangan ditempat ini.
"Kamu suka?" Tanya El, Luna mengangguk ia merentangkan kedua tangan menutup kedua matanya dan menghirup nafas dalam.
"Ah segarnya." Ucap Luna tersenyum pada El.
Luna dan El saat ini duduk disebuah batang kayu besar yang menghadap langsung kearah laut yang berwarna biru.
"Ummmm.....Kamu marah ya sama abang? Apa karena malam itu?" Ucap El ragu membahas saat ia dengan lancang mencium bibir Luna. Mendengar ucap El pipi Luna memerah, Ia tersedak sambil memalingkan wajahnya enggan melihat wajah El yang terlihat lebih santai.
"Huh..... Eng-.....Enggak. Ke... Kenapa aku marah?" Jawab Luna gugup.
"Kamu gak marah?" Tanya El kaget. Luna langsung memicingkan kedua matanya merasa bersalah dengan jawaban yang berikan.
"Ummmm.....Maksud aku, Udah lah lupain aja." Luna benar-benar kehabisan kata-katanya saat ini.
"Wah.... A....Airnya kek nya seger banget aku mau main air." Luna lalu berdiri dan berniat meninggalkan El untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang akan membuatnya salah tingkah. Namun El lebih dulu menarik Luna dan membawanya dalam pelukan, Luna saat ini benar-benar merasa kehilangan sebagian nyawanya. Ia hanya bisa diam dalam pelukan El sambil merasakan detak jantungnya yang serasa ingin pecah.
"Maaf udah bikin kamu merasa gak nyaman." Kata El tetap memeluk Luna yang kaku tidak bergerak sedikitpun. Luna menelan ludahnya semua rasa pun kini bercampur aduk menjadi satu membuatnya ia terdiam kaku.
"Dan maaf sepertinya abang mulai menyukai kamu. Abang tau ini salah, Tapi makin hari perasaan ini makin jadi dan bertambah. Semampu dan sebisa mungkin abang kendaliin, Tapi abang gak bisa." Mendengar pernyataan langsung dari mulut El, Luna melepaskan diri dari pelukan El. Antara rasa kaget dan tidak percaya semuanya bercampur rata menjadi satu menjadi sulit untuk diartikannya saat ini.
"Kamu berhak marah sama abang, Kamu juga bisa maki abang semau kamu. Kamu boleh tampar abang karena emang ini semua salah abang. Abang yang ingkari perjanjian kita, Abang yang hianati semua kesepakatan kita abang tau itu semua tetapi abang tetap melanggarnya, Yang abang gak tau sejak kapan perasaan ini datang. Yang abang gak tau kenapa perasaan ini harus hadir diantara kita."
Luna masih diam membisu berdiri ditempatnya saat ini membuat El frustasi melihat nya. Karena tidak ingin membebankan Luna dan merasa bersalah atas pengakuannya El langsung menepis itu semua.
"Tapi kamu gak perlu bingung. Secepatnya abang lupain semua perasaan ini, Dan tolong. Tolong bersikap seperti biasa seolah ini semua gak pernah kamu denger. Abang gak mau karena ini semua hubungan kita sebagai kakak ade jadi rusak. Maafin abang dan terimakasih udah bersedia mendengarkan. Abang tunggu kamu dimobil, Kita pulang sekarang." El langsung pergi dari sana menuju mobilnya, El benar-benar merasa kacau saat ini. Ia merasa bersalah karena sudah menyatakan perasaanya pada Luna tetapi disatu sisi ia merasa sedikit lega karena Luna tau tentang perasaanya.
Bersambung......