
"Luna......"Panggil Andra dari jauh ia lalu menghampiri Luna yang sedang berjalan kearah perpustakan.
"Kenapa?"
"Tumben kamu sendirian? Dara mana?"
"Untuk beberapa hari dia izin gak masuk kuliah."
"Oh gitu, Kamu mau keperpustakaan?"Luna mengangguk sambil terus berjalan.
"Bareng deh, Aku juga mau kesana." Mereka berdua pergi ke perpustakaan bersama. Luna mengambil sebuah buku bacaan lalu duduk sedangkan Andra, Entah buka apa yang ia cari sampai saat ini ia belum juga mendapatkan satu buku pun.
"Eh itu bukannya Luna? Denger-denger dia udah nikah sama bos loh. Kek nya sih jadi istri simpanan."
"Iya, Denger-denger sih gitu. Gila ya, Siapa yang sangka cewek yang keliatannya baik malah jadi simpanan bos."
Suara bisikan-bisikan itu terdengar ditelinga Luna, Namun ia cuek dengan ucapan para pembuat gosip itu. Andra yang mendengar langsung memakaikan headseat ditelinga Luna membuat Luna sedikit kaget dan melihat kearah Andra yang duduk disampingnya.
"Disini berisik." Katanya pelan, sambil tersenyum pada Luna. Luna pun akhirnya ikut tersenyum lalu kembali melanjutkan aktifitasnya yang sempat d
terhenti.
Andra bukannya sengaja ingin mendekati Luna, Ia hanya ingin berdamai dengan hatinya. Menjauhi Luna bukan cara terbaik untuk melupakan perasaannya dan ia lebih memilih untuk menerima takdir dan berusaha keras menjadi seorang teman yang baik untuk Luna.
"Kita kekantin yuk? Lapar." Ajak Andra menutup buka yang memang tidak ia baca sama sekali.
"Perasaan kamu belum ada baca apapun deh." Jawab Luna sambil berbisik agar tidak menimbulkan suara gaduh.
"Kalo lapar aku gak bisa konsen." Balasnya berbisik ditelinga Luna, Luna tertawa pelan mereka lalu pergi kekantin bersama.
"Loh itu bukannya Andra sama Luna." Tunjuk Bella salah satu anggota genk Queenza. Queenza langsung melihat kearah yang ditujukan.
"Gatal banget sih tuh cewek udah punya suami masih aja deket-deket sama Andra." Ia lalu menghampiri Luna dan Andra dengan membawa anggota genk nya.
"Eh Luna! Kamu itu udah punya suami gak malu nempelin Andra mulu? Atau emang kamu sengaja mau memikat semua cowok yang ada dikampus ini biar jadi milik kamu semua?"
"Lo apaan sih Za? Datang-datang bikin rusuh aja. Yuk gak usah didengerin." Andra meraih tangan Luna dan membawanya ke kantin tidak menghiraukan Queenza. Karena kesal Queen mendorong Luna dengan kuat hingga Luna nyaris terjatuh jika saja Andra tidak cepat menangkapnya.
"Mau lo apa sih? Lo itu selalu bahayain Luna. Kalo sikap lo gini, Siapapun bakal kesel termasuk gue!" Katanya nyaring membuat semua orang yang ada disana melihat kearah mereka.
"Kamu belain dia? Kamu sadar Ndra, Dia itu istri orang. Seberapa besarpun kamu berharap sama dia, Dia gak akan pernah kamu milikin! Yang ada dia cuma akan nyakatin hati kamu."
"Silahkan lo berpikir semau lo! Yang jelas harus lo tau dan lo inget baik-baik. Gue gak suka sama lo, Atau punya perasaan sedikitpun sama lo." Queen menahan tangisnya saat ditolak mentah-mentah oleh Andra didepan semua orang, Rasanya harga dirinya saat ini sedang jatuh lalu terinjak-injak.
"Lo liat aja gue bakal buat kalian nyesel udah berurusan sama gue dan bikin gue sakit hati!" Ancam Queenza tidak terima atas semua perlakuan Andra terhadapanya.
"Kalo gitu dengan senang hati gue tunggu saat itu. Tapi inget satu hal, Urusan lo sama gue bukan sama Luna. Ngerti lo!" Balas Andra lalu pergi menarik tangan Luna yang sejak tadi hanya diam.
"Semua orang lagi ngeliatin kita." Kata Luna lalu melepaskan tangannya dari tangan Andra. Andra yang baru sadar langsung sedikit menjauh dari Luna tidak ingin ada yang salah paham lagi pada mereka berdua.
***
"El kapan kamu ngadain pesta pernikahan kamu dan Luna?" Tanya bu Mela di telepon.
"Kita kan udah nikah bun."
"Iya bunda tau, Tapi gak semua orang tau pernikahan kalian. Terus kalian juga gak punya kenang-kenangan saat menikah. Photo pernikahan, Gaun pengantin ya pokoknya bunda pengen ngadain pesta buat pernikahan kalian." El membenarkan yang diucapkan bu Mela, Tapi pasti akan melelahkan untuk Luna jika harus mengadakan pesta besar ditambah lagi Luna sedang hamil muda.
"Nanti lah bun El bicara dulu sama Luna. El sih mau aja, Tapi balik lagi ke Luna dia kan lagi hamil muda El gak mau dia kecapean."
"Kalo masalah itu serahin aja ke bunda, Biar bunda yang urus semua nya dari A sampai Z. Kalian terima beres aja, Tapi ya tetep kamu harus bicarain dulu sama Luna."
"Iya bun, Nanti pulang dari kantor kita bicarain."
"Ya udah kalo gitu bunda matiin dulu ya teleponnya. Jaga Luna baik-baik jangan lupa susu dan vitaminnya."
"Yes mom....." Sambungan telepon lalu diakhiri.
Sebenarnya bukan hal yang sulit bagi El untuk mengadakan sebuah pesta besar, Tapi tetap saja ia harus membicarakan hal tersebut pada Luna.Lagipula Daniel dan Dara juga sedang mempersiapkan pesta pernikahannya.
"Eh Daniel bukannya hari ini lagi fitting baju ya? Gangguin ah." El meraih hapenya dan langsung menghubungi Daniel.
"Apaan? Sibuk gue gak punya banyak waktu apalagi buat lo." Sambar Daniel saat telepon baru saja terhubung.
"Lo lagi fitting ya?"
"Iya."
"Cari baju yang bagus ya tapi jangan norak, Lo kan tau pesta lo entar bakal kedatangan tamu kehormatan tuan dan nyonya El."
"Cih!......Kalo Luna its oke, Dia ade angkat gue lah kalo elo?"
"A......Apa tadi barusan yang lo bilang? Ade angkat lo? Sejak kapan?"
"Kemaren acara pengangkatan nya disaksiin sama bidadari gue dan malaikat pencabut nyawa gue si Rendy."
"Enak banget lo mutusin semau lo! Luna itu istri gue, Bisa-bisanya lo bilang dia ade angkat lo. Gak terima gue sebagai suaminya."
"Terus lo mau apa huh? Luna aja say oke terus kenapa lo yang repot?"
"Daniel......" Panggil Dara yang baru keluar dari fitting room dengan gaun pengantin berwarna putih berpadu dengan warna pink muda terlihat sangat cantik ia kenakan.
"Udah ah, Nelepon cuma mau ngajak ribut. Lo kesepian ya? Kasian." Telepon pun langsung dimatikan oleh Daniel membuat El menggerutu kesal padanya.
"Sialan si Daniel, Tapi emang bener sih sepi kantor gue kalo gak ada dia." El menghela nafas panjang lalu kembali dengan kesibukan nya.
***
Andra dan Luna kini sedang makan siang bersama sebelum pulang. Luna sebenarnya merasa kurang nyaman atas kejadian tadi, Hatinya juga mulai terusik oleh ucapan nyeleneh Queenza.
"Ummm.......Aku boleh tanya gak?" Ucap Luna ingin memastikan sesuatu.
"Apa? Tanya aja."
"Ummmm.......Mungkin ini terdengar konyol dan mungkin setelah aku tanya kamu bakal mikir aku ini kepedean tapi jujur ini agak mengusik pikiranku." Kata Luna membuat Andra menghentikan makan nya lalu melihat heran kearah Luna.
"Tentang yang dibilang Queenza kalo aku suka sama kamu?" Kata Andra lebih peka, Luna mengangguk pelan.
Andra tersenyum lalu meminum jus jeruk miliknya sebelum kembali bicara.
"Ya gak lah, Itu cuma pikiran aneh Queenza aja. Yang bener aja aku suka sama istri orang, Gini-gini banyak tau yang ngejar-ngejar. Udahlah gak usah dipikirin, Kamu kan tau sendiri kalo Queenza itu emang iri sama kamu." Katanya menepis semua dugaan Luna sambil tertawa seolah memang semua itu tidak masuk akal. Mendengar hal itu Luna tersenyum kini ia yakin bahwa Andra memang hanya ingin berteman dengannya tidak lebih, Mereka lalu melanjutkan makan siang.
"*Kamu pikir ini mudah? Saat kamu bertanya apa yang aku rasakan pada mu? Aku hanya bisa me jawab kita TEMAN. Sulit sangat sulit, Bahkan jika harus memilih hal apa yang ku inginkan memiliki mu ataukah tidak memiliki perasan padamu maka aku lebih suka jika kita tidak pernah bertemu. Harusnya cukup dengan aku mengagumi mu tanpa harus meletakan perasaan padamu. Aku terlalu bahagia bisa berada di dekatmu setiap hari hingga aku lupa siapa dirimu."
-Andra Adithya*-
"Kamu terlalu indah untuk bisa aku lupakan." Ucapnya menatap lurus kearah Luna yang makin menjauh dari pandangannya.
***
"Hei, Udah lama nunggunya?" Tanya Luna menyapa El yang sudah menunggunya dihalaman kampus. El tersenyum sambil menggeleng lalu membukakan pintu mobil untuk Luna lalu mereka berdua pergi kesebuah pusat perbelanjaan.
"Sayang kita ke toko baju bayi yuk." Ajak El bersemangat.
"Nanti aja, Baru juga satu bulan kata dokter."
"Tapi abang udah gak sabar pengen belanja buat si baby lucu ini." Sahutnya sambil mengelus perut Luna membuat Luna tertawa lucu.
"Entar aja, Aku mau beli buah-buahan aja kok stok buah dirumah udah habis suamiku sayang."
"Iya deh iya, Apapun kemauan kamu abang ikutin semua." Kata El mengalah, Tidak lama mereka sampai disana. Setelah parkir El dan Luna langsung masuk kedalam mall.
El membantu Luna berbelanja buah, Sayur dan beberapa kebutuhan lain. Sedang asik berbelanja tidak sengaja troli yang mereka bawa menabrak troli lain milik orang lain.
"El......Luna...." Ucap orang tersebut yang tidak lain adalah Clara. El langsung buru-buru menarik troli miliknya dan membawa istrinya jauh dari Clara namun Clara menahannya.
"Tunggu sebentar, Aku cuma mau ngomong. 5 menit, Cuma 5 menit." Kata Clara tapi El tidak peduli mau itu 5 menit atau hanya 5 detik ia tetap tidak menghiraukan wanita yang selalu ingin memisahkan nya dengan Luna.
"Abang." Ucap Luna menahan suaminya agar mau mendengar Clara. El membuang nafas jengah, Benar-benar tidak tertarik pada Clara.
"Kak Clara mau ngomong apa?" Tanya Luna memberikan kesempatan pada Clara. Clara menunduk lesu terlihat wajahnya yang menahan rasa sedih.
"Maafin aku El, Lun.....Aku tau aku salah, Aku terlalu egois aku gak bisa terima kenyataan. Maafin aku, Harusnya aku tau harusnya aku sadar bahwa perasaan gak bisa dipaksakan. Mungkin ini terlambat tapi aku mohon, Maafin aku. Aku bisa kehilangan cintaku tapi aku gak bisa kehilangan sahabat-sahabatku." Katanya sambil terisak menangis penuh penyesalan.
"Gak apa-apa kak, Ini bukan salah kakak memiliki perasaan itu karena semua orang berhak merasakan yang namanya cinta." Ucap Luna sambil menyentuh bahu Clara.
"Tapi gak semua orang berhak untuk ngerusak hubungan orang lain." Jawab El yang masih merasa tidak bisa mempercayai Clara setelah sekian banyak usaha jahat Clara untuk menghancurkan rumah tangganya.
"Aku tau El, Kamu masih belum bisa terima permintaan maafku. Tapi aku benar-benar tulus, Kehilangan kalian lebih menyakitkan dibanding saat kamu menolakku." Luna menggenggam kuat tangan El seolah meminta El memberikan kesempatan untuk Clara. El pun mengerti maksud dari istrinya itu, Ia memaafkan Clara dan memberikan kesempatan pada Clara untuk menjadi sahabatnya lagi seperti dulu.
"Oke, Kali ini aku percaya. Semoga hubungan persahabatan kita bisa balik kek dulu lagi." Ucap El tidak serius hanya memenuhi keinginan istrinya. Luna dan Clara pun tersenyum puas mendengar jawaban El.
"Kamu emang yang terbaik buat El. Gak ada orang yang bisa ngatur pria satu ini, Cuma kamu orangnya yang bisa ngendaliin dia." Puji Clara untuk Luna, Membuat Luna tertawa.
"Kalian belanja buahnya banyak banget, Pengen pesta buah atau apa?" Tanya Clara saat melihat isi troli Luna.
"Luna lagi hamil, Jadi wajarlah ibu hamil kan emang suka makan buah. Iyakan sayang." Jawab El sambil menggandeng pinggang istrinya.
"Serius? Congratulations for your pregnancy." Katanya sambil memeluk Luna dengan wajah senang dan bahagia.
"Wah bentar lagi bakalan dipanggil tante dong." Luna dan Clara tertawa, El juga ikut tersenyum tapi terlalu dipaksakan.
"Sehat-sehat ya, Jangan stres jangan kecapean."
"Iya kak makasih ya."
"Ya udah kalo gitu, Aku duluan ya masih banyak yang belum kebeli soalnya. El jaga baik-baik ya Luna dan calon baby kalian." Ucap Clara, Mereka lalu berpisah.
"Abang kok dingin gitu sama Clara? Dia kan udah minta maaf." Tegur Luna yang sadar dengan sikap dingin El pada Clara.
"Kamu emang gampang banget ya maafin orang?" Tanya El balik membuat Luna melihat kearahnya.
"Ayah sama ibu ku dulu selalu ingetin aku untuk bisa selalu memaafkan kesalahan orang lain walaupun hati kita masih belum bisa nerima. Dengan begitu kita bisa lebih tenang menjalani hidup tanpa ada rasa beban atau dendam dihati. Awalnya aku juga sulit untuk ngelakuinnya, Tapi setelah mencoba rasanya lebih tenang." El tersenyum mendengar ucapan istrinya itu, Bukan Luna yang beruntung mendapatkan nya tetapi ia lah yang sangat beruntung mendapatkan istri sesempurna Luna.
"U are my life." Ucap El sambil merangkul dan mengecup kening Luna lalu mereka kembali berbelanja.
***
Dara terlihat sangat gelisah saat ini, Sepanjang jalan ia hanya diam sambil menggigiti kukunya.
"Sayang, Hei kamu kenapa?" Tanya Daniel meraih tangan Dara.
"Kita gak usah kerumahku ya." Ucapnya agar Daniel membatalkan niatnya pergi kerumah Dara.
"Semua akan baik-baik aja. Percaya sama aku, Kamu gak perlu takut ada aku. Gak akan ada yang bisa nyakitin kamu aku janji." Katanya meyakinkan Dara, Namun tetap saja Dara tidak tenang.
Setelah sampai didepan rumah Dara, Daniel segera turun namun Dara enggan untuk keluar dari mobil.
"Kamu gak turun dan ikut masuk?" Tanya Daniel, Mau tidak mau Dara turun dari mobil. Sebenarnya Daniel juga sangat takut tapi bagaimana pun juga ia akan menjadi seorang ayah ia tidak ingin melukai perasaan kedua orangtua Dara.
Daniel meraih tangan Dara yang mulai terasa dingin lalu memencet bel rumah. Tidak begitu lama seorang wanita paruh baya datang berlari membukakan pagar.
"Mba Dara.......Syukurlah mba pulang. Semenjak mba Dara dan mas Rendy keluar dari rumah ibu sakit mba." Kata wanita yang menjadi ART dirumah Dara. Dengan rasa khawatir Dara langsung masuk kerumah ingin buru-buru mendatangi ibunya yang sedang sakit namun belum sampai ke kamar ibunya langkah Dara terhenti karena pak Restu sudah berdiri dengan tatapan murka melihat Dara.
"Berani kamu pulang?" Suaranya keras dan terdengar sangat mengerikan ditelinga Dara membuat gadis itu berdiri diam. Daniel langsung menghampiri Dara yang lebih dulu masuk.
"Siapa kamu?" Tanya pak Restu nyaring membentak Daniel.
"Saya Daniel, Saya......Saya ayah dari bayi yang dikandung Dara." Mendengar hal itu membuat pak Restu makin murka, Ia langsung mengepal kuat kedua tangannya dan berjalan kearah Dara dan Daniel.
"Kurang ajar! Jadi kamu yang bikin aib di keluarga saya." Pak Restu langsung menarik kerah baju Daniel dan ingin menghajarnya namun Dara menahannya.
"Pah, Jangan pa. Daniel kesini untuk minta restu sama papah dan mamah." Kata Dara berusaha melepaskan tangan pak Restu di kerah baju Daniel namun sekuat apa Dara dibanding tenaga seorang pria yang sedang diliputi amarah. Pak Restu malah mendorong Dara hingga ia jatuh ke sofa.
"Dara." Teriak Daniel melihat Dara terjatuh, Untungnya jatuh ke sofa. Sekali sentak Daniel melepaskan cengkraman pak Restu dibajunya lalu membantu Dara berdiri.
"Kamu gak apa-apa?" Tanya Daniel, Dara menggeleng menjawab Daniel. Mendengar keributan diluar bu Fina bangun dan segera keluar dari kamarnya.
"Sejak kecil saya gak pernah tau rasanya punya orangtua. Dalam bayangan saya, Orangtua itu berhati lembut yang sangat mencintai anak-anaknya melebihi apapun. Yang tetap bersama dengan anak-anaknya saat anak-anak mereka dalam kesusahan, Yang siap merangkul saat anak-anaknya terjatuh dan butuh pertolongan. Tapi hari ini bayangan itu hilang. Maaf jika saya lancang dan kurang ajar, Saya hanya seorang anak yatim piatu yang tinggal dipanti asuhan sangat minim pendidikan dari orangtua. Awalnya Dara menolak untuk datang tapi saya yang memaksanya, Karena saya pikir sejahat apapun orangtua mereka tidak akan tega menyakiti buah hatinya. Tapi ternyata saya salah, Dengan sangat mudah anda memutuskan hubungan seolah didalam tubuhnya tidak mengalir darah anda.
Dengan ringannya anda mengangkat tangan seolah anda lupa betapa senangnya anda saat ia hadir kedunia. Dia memang bersalah, Tapi tidak seharusnya anda mencuci tangan dan meninggalkannya sendirian. Saya juga seorang calon orangtua untuk anak saya kelak, Dan saat melihat anda 1000 kali saya berdoa semoga saya tidak menjadi orangtua seperti anda. Maaf jika ucapan saya kasar, 3 hari lagi kami akan menikah. Semoga hati anda terketuk walau hanya sedikit, Dia putri anda, Darah daging anda kebahagian anda." Ucap Daniel lalu pergi membawa Dara dari rumahnya.
Pak Restu hanya bisa diam begitu juga dengan bu Fina yang menangis dibalik pintu kamarnya.
***
"Maaf ya aku ngomong gitu sama orangtua kamu." Kata Daniel sambil melajukan mobilnya menuju rumah......Dara hanya mengangguk bingung harus mengatakan apa pada Daniel.
Bersambung......
Gak apa-apa ya dikit tapi tiap hari ketimbang banyak tapi seminggu sekali.
Berhubung besok senin author mesti bangun pagi nyiapin anak berangkat sekolah makanya author cuma tahan sampai sini doang mata author bner-bener ngantuk full.
Like, Vote, Komen ditunggu selalu ya.
Mkasiiih 😘😘😘😘😘😘