
Matahari bersinar cerah namun keindahan itu berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Lyn saat ini. Gadis itu benar-benar pasrah dengan semua hukuman yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Saat ini Lyn sedang dirias oleh beberapa make up artist yang didatangkan khusus oleh Alan. Alan tau dan sadar jika calon istrinya itu sudahlah sangat cantik, namun dihari pernikahannya, Alan menginginkan semua terlihat sempurna termasuk soal penampilan Lyn.
"Wah, kamu sangat terlihat cantik. Kalian berdua benar-benar pasangan yang sangat serasi." Ucap salah seorang make up artist yang mendandani Lyn. Lyn memilih untuk diam tidak menghiraukan pujian yang dilemparkan oleh orang tersebut.
Tatapan mata Lyn kosong melihat lurus kearah cermin yang memantulkan bayangan dirinya sendiri. Tubuhnya dibalut gaun berwarna putih tulang dengan hiasan mahkota yang berdiri tegak diatas kepalanya. Lyn memang benar-benar terlihat sangat cantik, namun sayang kecantikan itu bukanlah untuk orang yang tepat bagi Lyn.
"Kakak." Suara Jenica terdengar nyaring mendatangi Lyn. Lyn menoleh dan benar saja gadis kecil itu sedang berada disana bersama Alan yang memegang erat tangan Jenica. Lyn berdiri dan berjalan cepat kearah keduanya sambil menyingsing gaunnya yang cukup berat. Lyn menarik tangan Jenica, menjauhkan gadis kecil itu dari sosok Alan.
"Kakak cantik banget, mirip putri kerajaan." Puji gadis kecil itu tersenyum manis hingga kedua matanya tertutup. Lyn membalas senyum Jenica lalu menyuruhnya untuk duduk diatas ranjang milik Lyn. Sementara Lyn langsung mendekati Alan dengan wajah murka..
"Jauhi adik ku! Aku bahkan sudah mengikuti semua mau mu, jangan berani-berani mendekati apalagi menyentuhnya!" Tegas Lyn terlihat sangat marah. Alan hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Lyn dan tidak disangka Jenica malah berlari ke arah Alan dengan wajah gembira.
"Kak Alan, nanti aku boleh sering main kesini gak?" Tanya Jenica menengadahkan wajah manisnya melihat kearah Alan. Alan tersenyum lalu berjongkok dihadapan Jenica.
"Tentu saja, ini adalah rumah kakakmu. Kamu boleh mengunjunginya kapanpun kamu mau. Lagipula, kakakmu pasti akan sangat senang jika kamu sering datang. Benarkan sayang?" Tanya Alan menyunggingkan senyuman disudut bibirnya. Senyuman yang sangat dibenci oleh Lyn.
"Jenica, sayang...sini sama kakak." Ucap Lyn kembali menarik tangan Jenica menjauhkannya dari Alan. Jenica menatap heran kearah wajah Lyn yang terlihat marah. Sedangkan Alan tampak tenang seperti biasa.
"Oke, setengah jam lagi aku akan menjemputmu dan kita akan pergi untuk pemberkatan. Nikmati sisa waktumu sebagai Lyn Joseph karena dalam waktu 30 menit namamu akan menjadi Lyn Wilson." Kata Alan seolah mempermainkan emosi Lyn saat ini. Gadis itu hanya bisa mengepal kuat kedua jemarinya, ia tidak akan mungkin memaki Alan dihadapan Jenica itu sebabnya Alan menggunakan Jenica sebagai senjata yang ampuh untuk menghadapi keras kepala serta keegoisan Lyn.
Alan lalu pergi, meninggalkan Lyn dengan semua perasaan yang saat ini campur aduk dihatinya. Sedih, marah, benci semua seakan memenuhi ruang hati Lyn.
"Kak, kak Alan itu baik banget sama aku jadi kakak juga harus baik sama kak Alan." Ucapan Jenica membuat Lyn tersentak, andai gadis kecil itu tau jika Alan lah penyebab dari semua kehancuran Lyn saat ini. Lyn hanya tersenyum hambar lalu memeluk tubuh kecil Jenica, bersandar sejenak meluapkan emosi.
"Sama ayah, ibu, kak Irene dan kak David. Mereka semua ada diluar nunggu kakak." Sahut Jenica polos seakan Lyn sangat bahagia dengan pernikahan ini.
...***...
Dan akhirnya waktu itupun tiba, andai dan terus berandai Lyn hanya menginginkan waktu bisa berhenti saat ini juga. Sungguh batin Lyn hancur sehancur-hancurnya. Tubuhnya serasa lemah untuk melangkahkan kaki menuju altar pernikahan.
"Ya Tuhan, untuk pertama kalinya aku mengeluhkan tentang hidupku pada-Mu. Haruskah begini? Entah ini kehendak-Mu atau hanya sebuah ujian yang harus aku lalui saat ini."
"Lyn, ayo." Ucap Tn. Joseph menyadarkan Lyn dari lamunannya. Lyn menarik nafas panjang, dengan berat ia melangkah menuju altar untuk melakukan pemberkatan dan mengucapkan janji suci pernikahan bersama Alan Wislon.
"Ashlyn Alexa Joseph, aku mengambilmu menjadi seorang istri, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu berlimpah maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, dan inilah janji setiaku yang sangat tulus."
Ucap Alan mengucap janji pernikahan sambil menggenggam kedua tangan Lyn. Lyn hanya bisa mematung, kini semua benar-benar sudah berakhir. Tidak ada lagi usaha yang bisa dilakukan Lyn untuk menggagalkan pernikahannya. Takdir memang sangat kejam padanya. Pendeta dan orang lainnya menunggu giliran Lyn mengucap janji suci pada Alan namun Lyn tidak juga kunjung membuka mulutnya.
"Cepat selesaikan tugasmu. Lihat senyum di wajah mungil itu, tentu kamu masih ingin melihatnya tersenyum seperti itu kan?" Ucap Alan pelan menyuruh Lyn segera mengucap janji pernikahan. Lyn menatap mata Alan dengan pandangan nanar. Sungguh, bagi Lyn, Alan bukanlah manusia karena menjadikan Jenica sebagai sandera. Lyn melihat kearah Jenica, gadis kecil itu tersenyum pada Lyn. Senyum yang nampak sangat cantik dan tulus.
Hati Lyn terasa sakit seketika, tanpa pikir panjang ia mengucapkan janji suci pernikahan dan menerima Alan Wilson sebagai suaminya. Upacara pernikahan pun selesai, semua tamu memberikan ucapan selamat. Terlihat keluarga Lyn yang sangat bahagia dengan pernikahan putrinya tanpa tau apa yang Lyn rasakan saat ini.
Bersambung....