
Hari yang ditung-tunggu Daniel pun tiba dimana ia akan mengakhiri masa-masa lajangnya. Daniel sedang bersiap memakai setelan jas berwarna putih menambah kharisma pria itu.
"Terus gimana sama orangtua Dara? Lo udah minta restu sama mereka?" Tanya El yang mendampingi Daniel sejak tadi.
"Udah, Tapi bener banget apa yang dibilang sama Rendy. Belum gue ngomong aja udah diteriakin."
"Jadi mereka gak akan datang?"
"Ya menurut gue sih gak akan. Tapi gue berharap mereka mau datang kepernikahan putri semata wayang nya."
"Terus yang bakal jadi wali nikah si Rendy dong."
"Iyalah, Dia kakaknya. Bay the way lo udah siapin kado pernikahan kan buat gue?
"Lo dikasih hati minta jantung, Kurang ya gue kasih gratisan tanpa dipungut biaya sepeser pun dari sewa hotel paling mewah dan berbintang 7 ini. Masih minta hadiah pernikahan?"
"Heiiiiii kalo ngebantu yang ikhlas, Kalo disebut mulu itu gak ikhlas namanya."
"Ya ikhlas, Tapi kalo yang dibantu gak tau diri gimana?"
"Udahlah males gue buang tenaga berdebat sama orang kek lo. Ini hari penting dalam sejarah hidup gue, Jadi hari ini gue gak mau nanggapin omongan lo yang frontal itu."
"Ya bagus, Tapi sebelum bener-bener nikahin Dara lo udah pastiin belum kalo dia bener cinta sama lo? Jangan-jangan dia nerima lo cuma karena kasian doang kan mirip hidup lo entar." Kata El cuek tanpa memikirkan perasaan Daniel, Daniel yang sejak tadi sibuk didepan kaca mengatur dasinya yang sudah rapi langsung berhenti melakukan aktifitasnya.
"Lo......Lo sialan banget sih jadi manusia! Sumpah ini tuh hari bahagia gue, Dan lo dengan gampangnya ngerusak suasana hati gue dengan pertanyaan konyol lo itu!" Sambar Daniel melihat kesal kearah El, El tersenyum puas sukses membuat Daniel merasa terusik.
"Ya kan gue cuma saranin doang, Emang lo gak pernah mikir sampai sana?" Tambah El sambil menggeleng terus mengkompori Daniel dengan ucapan-ucapan konyol nya.
"Gue percaya sama Dara kalo dia terima gue karena dia emang bener cinta sama gue. Udah deh gak usah ngaco kalo ngomong, Bikin gue pengen pipis tau gak denger omongan lo." Daniel lalu pergi meninggalkan El yang tertawa puas karena sudah berhasil mengerjai Daniel dihari pernikahan nya.
"Lo yakin gak mau tanya Dara dulu sebelum terlambat." Teriak El
"Gak perlu!" Sahut Daniel singkat tidak ingin lagi menanggapi El.
"Sialan tuh si hulk! Bisa-bisanya dia bikin hati gue terusik gini." Gerutu Daniel.
Sedangkan Dara yang sudah terlihat sangat cantik dibalut gaun pengantin modern berwarna putih dipadukan dengan warna gold merubah Dara 100% terlihat seperti seorang putri dari sebuah kerajaan.
"Kamu cantik banget." Kata Luna yang terlihat sangat kagum melihat kecantikan sahabatnya itu.
"Masa sih? Kita photo dulu yuk." Ajak Dara, Mereka lalu mengambil beberapa photo dengan kamera hape milik Luna.
"Terus kapan pesta pernikahan kamu dan bang El digelar?"
"Ummmm......Belum dirundingkan sih, Tapi kemungkinan secepatnya doain aja biar semua berjalan lancar." Dara mengangguk sambil tersenyum mengamini harapan Luna. Sedang asik mengobrol pintu ruangan terbuka membuat Dara dan Luna kaget.
"kak Daniel, Ngagetin aja sih udah gak sabar pengen ketemu calon istri?" Kata Luna sambil tersenyum melihat kearah Dara yang justru menaikan kedua alisnya melihat Daniel.
"Ummmmm......Ada sesuatu yang mau aku bicarain sama kamu sebelum pernikahan dimulai." Kata Daniel melangkah masuk kedalam ruang. Luna yang mengerti langsung undur diri meninggalkan calon suami istri itu berdua didalam sana dan ia langsung menyusul El yang masih santai sambil berbaring berguling-guling malas-malasan di sofa yang ada didalam ruangan Daniel tadi.
"Kenapa?" Tanya Dara dengan nada santai, Ia sangat percaya jika Dara juga sangat mencintainya tapi entah mengapa semua ucapan El sangat mengusik hatinya membuatnya merasa gelisah dan tidak tenang ditambah dengan sikap Dara yang terkesan cuek dan dingin tidak terlihat menempeli Daniel membuat Daniel galau. Daniel mendekati wanita yang ia cap hanya miliknya itu lalu meraih kedua tangan Dara membuat Dara makin heran.
"Sebelum kita melanjutkan, Aku mau tanya sesuatu sama kamu. Apa arti aku untuk kamu?" Ucap Daniel mulai serius menatap dalam kearah bola mata berwarna abu milik Dara.
"Arti kamu? Entahlah." Kata Dara singkat dan cuek membuat hati Daniel merasa tercabik untuk pertama kalinya. Wajahnya langsung lesu, Genggamannya kian melemah rasa tidak percaya jika Dara segampang itu menjawab pertanyaan yang ia berikan.
"Tapi kamu adalah alasan aku untuk tetap menjaga hati dan terus memperbaiki diri, Aku titipkan mataku pada matamu. Sehingga saat yang kau lihat indah satu-satunya yang kau ingat adalah aku maka jadikan aku wanita terakhirmu. Maaf sering membuatmu kesal kadang beberapa hal memang lepas dari kendaliku dan kadang itu membuat buruk suasana hatimu. Tapi semenyebalkannya aku, Aku tetaplah seseorang yang paling menginginkanmu." Ucap Dara lalu mengecup bibir Daniel dengan lembut sambil tersenyum. Daniel yang tidak tau lagi harus bagaimana mengungkapkan perasaan nya saat ini hanya bisa tersenyum puas tidak percaya Dara mengatakan hal seromantis itu padanya ditambah lagi dengan kecupan mesra pertama kalinya yang diberikan Dara membuat Daniel serasa ingin mati karena bahagia.
Ia memeluk erat Dara sambil mengusap lembut belakang kepala Dara, Yang ia rasakan saat ini hanya rasa cinta yang makin membesar untuk wanita yang beberapa saat lagi menjadi istrinya itu.
"Woiiii kalian jadi nikah gak? Penghulu udah nunggu dari tadi tuh ampe jelek mukanya nunggu kalian gak muncul-muncul malah disini peluk-pelukan." Kata Rendy membuka pintu disana juga sudah ada El dan Luna yang tertawa melihat Daniel dan Dara. Daniel langsung membawa Dara keluar dari ruangan itu.
"Lo sama El sana, Gue sama Luna dampingi Dara." Perintah Rendy, Hari ini Daniel benar-benar menjadi anak penurut ia tidak banyak membantah dan langsung menjalankan apa yang disuruh oleh Rendy.
El mendampingi Daniel membawanya lebih dulu ke altar setelah Daniel duduk gagah didepan penghulu Dara datang didampingi Luna dan Rendy. Semua orang tertegun melihat kecantikan Dara saat ini.
"Kalian siap?" Tanya pak penghulu pada Daniel dan Dara, Kedua pengantin itupun mengangguk.
"Kalau begitu kita bisa mulai sekarang." Penghulu langsung memulai acara ijab qobul proses berjalan dengan tenang dan hikmat ikrar itupun diucapkan oleh Daniel dengan lancar tanpa halang melintang.
"Gimana para saksi, Sah?"
"Tidak sah!" Ucap nyaring seorang pria dari arah pintu, Semua orang langsung melihat kesana termasuk El, Daniel, Dara, Luna dan Rendy. Disana sudah berdiri pak Restu dan istrinya dengan wajah datar khas milik pak Restu seorang. Rendy yang tidak ingin ayahnya mengacaukan hari bahagia adiknya langsung berlari kearah pintu menghampiri kedua orangtua nya.
"Pah, Please ini hari bahagia untuk Dara pah. Rendy mohon satu kali ini aja, Jangan hancurin ini semua pah." Ucap Rendy memohon pada pak Restu yang tidak menghiraukannya dan mulai melangkahkan kaki berjalan kearah Daniel dan Dara.
Tangan Daniel langsung menggenggam kuat tangan Dara seolah mengatakan jangan takut, Ada aku disini. Pak Restu terus berjalan cepat kearah altar pernikahan membuat semua orang yang ada disana melihat heran kearah mereka.
"Pernikahan ini tidak sah!" Ucap pak Restu tegas.
"Maaf kalo boleh tau bapak ini siapa?" Tanya pak penghulu yang baru saja menikahkan Daniel dan Dara.
"Saya ayah kandung dari mempelai wanita." Membuat semua orang kaget mendengarnya.
"Tapi pak, Kami sudah menikah." Kata Daniel mulai angkat bicara tidak ingin hati bahagianya dirusak apalagi oleh mertuanya sendiri.
"Benar pak, Saksi juga sudah menyatakan ke-sah-an nya." Tambah El ikut membantu Daniel.
"Tidak akan sah jika bukan saya sendiri yang menikahkan putri semata wayang saya." Kata pak Restu membuat Rendy, Dara, Daniel, El dan Luna kaget mendengarnya.
"Ma......Maksud papa, Papa bersedia menikahkan Dara?" Tanya Dara memastikan, Rendy langsung berlari menghampiri kedua orangtuanya.
pak Restu tersenyum walau masih terasa kaku karena tiba-tiba datang seperti ini. Begitu juga dengan bu Fina, Namun wanita ini terlihat lebih santai.
"Makasih pah, Makasih." Dara langsung memeluk pak Restu sedangkan Rendy memeluk bu Fina. Semua orang terlihat bahagia apalagi Daniel yang bahkan tidak bisa berkata-kata lagi.
"Maafin papa ya karena terlambat." Ucap pak Restu pada Dara yang menangis dalam pelukannya.
"Jangan nangis, Nanti riasan kamu rusak sayang." Tambah bu Fina sambil menghapus lembut airmata Dara.
"Kalo gitu mari kita mulai akad nikahnya lagi." Ucap pak Restu, Mereka langsung berkumpul lagi untuk melakukan ijab qobul kembali.
"Gimana para saksi Sah?" Tanya penghulu untuk kedua kalinya.
"SAH." Jawab mereka serentak membuat Daniel tersenyum puas bahagia tak terhingga rasanya ingin berteriak sangking ia teramat bahagia.
***
Malam ini resepsi pernikahan Daniel dan Dara diadakan dengan mewah, Banyak tamu undangan yang datang dari teman, Sahabat bahkan rekan kerja dan bisnis El dan Daniel datang semua begitu larut dalam rasa senang.
Mereka beramai-ramai memberikan ucapan selamat dan doa untuk Dara dan Daniel.
"Selamat ya, Serius aku kaget banget waktu dapat undangan dari kamu." Kata Clara yang juga hadir disana, Ia memeluk Daniel dengan erat dan dengan tulus memberikan ucapan selamat untuk kedua mempelai.
"Makasih ya kamu udah datang." Jawab Daniel
"Ya harus datanglah, Gak peduli ada job pokoknya aku harus datang. Semoga kalian selalu bahagia sampai kakek nenek dan cepat dapat momongan." Daniel tersenyum mendengar doa yang diberikan oleh Clara.
"Makasih kak." Sahut Dara yang sejak tadi diam. Sebenarnya ia masih tidak suka pada Clara sejak awal mengenal Clara hingga saat ini tapi ia tetap harus menghormati nya terlebih ia adalah sahabat Daniel.
"Ya udah aku kesana dulu ya." Clara lalu pergi meninggalkan Daniel dan Dara. Niatnya ia ingin mendatangi El yang sedang sibuk dengan beberapa orang tamu penting.
"Auuuuuuu......Hati-hati dong!" Kata Clara memegangi bahunya.
"Gak usah." Sahut Clara kesal, Ia lalu beranjak pergi namun karena lantai itu licin Clara terpeleset hingga nyaris terjatuh kalau bukan ditahan oleh Rendy.
"Lo gak apa-apa?" Tanya Rendy, Clara langsung buru-buru bangun tidak ingin berlama-lama didalam pelukan Rendy.
"Kak Rendy, Kak Clara. Kalian?" Tanya Luna yang menghampiri mereka berdua.
"Ta.....Tadi kakak gak sengaja nabrak dia." Jawab Rendy tidak ingin Luna memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Aku kesana dulu ya Lun." Clara langsung undur diri dari sana tidak ingin berlama-lama.
"Kamu kenal dia?" Tanya Rendy mulai penasaran.
"Namanya Clara, Dia sahabat kak Daniel dan bang El."
"Tapi mukanya kok gak asing ya? Kek sering liat tapi dimana ya?"
"Dia model." Rendy lalu berusaha mengingat di majalah mana dia biasa melihat wajah Clara.
"Di......Dia Clara Stefanny yang sering muncul di majalah men's secrets." Ucapnya lancar membuat Luna mengernyit.
"Ummmm.....Bu.....Bukan gitu, Kakak pernah liat majalahnya ditempat temen." Katanya lagi berusaha ingin mengatakan jika ia tidak pernah mengoleksi majalah-majalah dewasa seperti itu.
"Iya kali, Aku juga gak tau yang jelas dia itu model papan atas." Jawab Luna santai tidak seperti Rendy yang malah salah tingkah.
"Ya udah aku permisi dulu ya kak." Rendy mengangguk lalu Luna pergi dari sana untuk mendatangi suaminya.
"Luna." Panggil Andra yang juga datang kesana, Luna tersenyum lalu Andra menghampiri Luna. Andra terlihat tampan dengan mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung dan celana jeans berwarna senada.
"Kamu baru datang?" Tanya Luna.
"Iya, Tadinya gak mau datang sih. Tapi gak enak sama Dara, Entar dia ngomel." Semenjak Andra bersikap baik pada Luna hubungannya dengan Dara pun ikut membaik dan akrab.
"Iya lah, Udah diundang juga masa gak dateng. Oh ya sama siapa datengnya?"
"Sama Ryan.....Tapi gak tau dia udah kemana." Jawab Andra sambil celingak celinguk mencari batang hidung Ryan yang hilang bak ditelan bumi.
Mereka berdua asik mengobrol hingga Luna lupa niatnya untuk mendatangi suaminya.
"Luna awas." Andra langsung menarik Luna hingga ia terbawa kedalam pelukan Andra saat ada beberapa orang anak berlarian disana. El yang sejak tadi melihat istrinya dari jauh langsung menghampiri Luna dan Andra.
"Sayang." Ucapnya berusaha menyembunyikan rasa cemburu, Padahal sejak tadi ia sudah merasa sangat kesal melihat kedekatan Andra dan Luna.
Dengan cepat Luna menjauh dari Andra begitu juga dengan Andra yang langsung melepaskan tangannya dari bahu Luna.
"Kamu ngapain disini? Kita dicariin sama Dara dan Daniel buat ambil photo." Katanya, Melingkarkan tangannya dipinggang Luna seolah menegaskan pada pria muda yang ada dihadapannya ini jika Luna adalah miliknya.
"Oh, Ya udah kalo aku duluan ya Ndra." Andra tersenyum saat Luna pergi meninggalkan nya bersama El.
"Dari mana aja sih? Kita photo-photo dulu yuk." Ajak Dara menarik tangan Luna.
"Kenapa muka lo serem gitu?" Tegur Daniel saat El menghampirinya dengan wajah kesal sambil melonggarkan dasinya.
"Bete gue." Katanya duduk disebelah Daniel sambil meraih gelas wine lalu menegaknya habis tidak bersisa membuat Daniel mengerucutkan dahinya.
"Kenapa? Apa masalahnya?"
"Heran gue sama tuh cowok, Udah tau kan kalo Luna itu punya suami tapi masih aja ngedeketin Luna mulu." Katanya kesal menambah lagi minuman nya.
"Cih......Gitu doang lo cemburu?"
"Untuk apa gue cemburu? Toh gue udah miliki Luna seutuhnya."
"Lah terus yang jadi masalah apa?" Tanya Daniel bingung.
"Ya gue gak suka lah. Seandainya Dara yang dideketin terus sama cowok lain lo kesel gak?"
"Iyalah, Siapa yang berani deketin bini gue bakal gue bikin bakwan." Katanya menyilangkan kedua tangannya.
"Ya sama, Gue juga gitu."
"Ya udahlah, Kan Luna gak nanggepin juga sama tuh cowok. Yang penting itu lo sama Luna baik-baik aja gak ada masalah."
"Tau ah yang penting bete gue malam ini." Katanya cuek terlanjur kesal dengan apa yang mengganggu pikirannya.
"Ayo kita photo berempat." Ajak Dara yang baru datang bersama Luna. Daniel mengangguk lalu berdiri sedangkan El masih sibuk dengan gelas ditangannya terlihat sangat malas.
"El, Ayo buruan."
"Kalian ajalah, Gue capek." Sahut El membuat Luna heran dengan sikap suaminya yang tidak pernah begitu sebelumnya. Luna melihat kearah Daniel, Daniel hanya mengangkat kedua bahunya lalu mendekati istrinya yang sudah siap dengan buket bunga ditangannya. Luna lalu mendekati suaminya dan duduk disampingnya.
"Kenapa? Gak biasanya abang gini." Tanya Luna lembut sambil membenarkan dasi El yang ia rusak tadi.
"Gak apa-apa sayang, Cuma capek aja serius." Ucap El, Tapi Luna tidak langsung percaya dengan alasan yang dibuat El.
"Capek ya. Ya udah entar selesai acara langsung istirahat, Tapi jangan nolak gitu dong kan gak enak sama Dara dan kak Daniel biar gimanapun ini hari sangat penting untuk mereka." El akhirnya mengalah, Ia menghela nafas panjang lalu berdiri untuk berphoto.
***
Acara resepsi pun selesai, Mereka semua tidak pulang dan menginap dihotel termasuk kedua orangtua Dara dan Rendy. Karena lelah mereka semua langsung pergi kekamar masing-masing termasuk kedua mempelai yang sedang berbahagia.
"Lepasin dulu, Aku mau mandi gerah banget." Kata Dara saat Daniel memeluk tubuhnya.
"Mandinya bareng ya." Kata Daniel membisiki Dara.
"Gak!" Sahut Dara ingin pergi dari pelukan Daniel namun Daniel lebih dulu menariknya dan menggendongnya menuju kamar mandi.
"Ish, kamu apaan sih. Keluar sana!" Kata Dara mengusir Daniel namun Daniel tidak bergeming. Ia malah menyalakan shower membuat badan Dara yang masih mengenakan baju basah. Daniel memeluk Dara dibawah guyuran hangat air shower lalu perlahan mendekati bibir Dara lalu menciumnya.
Kejadian beberapa bulan kembali terjadi namun bedanya kali ini mereka berdua sedang tidak dalam pengaruh alkohol.
Daniel melepaskan seluruh pakaian nya dan juga pakaian istrinya, Bersiap menikmati malam pertama mereka sebagai sepasang suami istri.
Tok.....Tok.....Tok.....
Dara langsung menghentikan Daniel yang sudah siap dengan miliknya tinggal beberapa senti saja memasuki Dara.
"Siapa yang ngetuk pintu keras banget." Tanya Dara, Tapi Daniel enggan menanggapinya ia tetap ingin melakukan kewajibannya sebagai suami saat ini juga.
"Ih berenti dulu, Liat dulu. Kali aja itu papa, Mama, Atau kak Rendy."
"Ya tapi kenapa harus sekarang sih beib? Keluh Daniel mengharap iba.
"Liat dulu.......Buruan." Dara langsung mematikan shower lalu mengambil handuk dan memberikan nya pada Daniel. Dengan berat hati, Berat langkah dan berat semua mau tidak mau ia memakai handuk keluar dari kamar mandi untuk membuka pintu kamar yang sejak tadi digedor kuat.
**Bersambung......
Sorry cintah2 qw semua up nya lambat karena mati lampu wifi pun ikut modar 😏 seharian pula matinya kan kamfrrrettt......
Like, Vote, Komen......
makasiiii 😘😘😘😘**