
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Sanking senangnya keluarga El juga saat ini sedang berada dibandara untuk menjemput Devan.
"Davin sama Zea belum datang juga ya?" Tanya Dara melihat karah jam tangannya.
"Dijalan sayang, jangan diburu. Lagian Devan juga belum datang." Sahut Daniel merangkul pinggang istrinya.
"Nah itu mereka." Ucap El menunjuk kearah Davin dan Zea yang baru saja tiba.
"Sorry, dijalan macet." Kata Davin tersenyum duduk disamping Calla yang sedang asik dengan game di ponselnya.
"Kak yang bikin lambat itu bukan macet tapi kak Zea." Celetuk Calla tidak tau menahu dengan wajah cueknya.
"Lo bisa diem gak sih bocah!" Tegur Zea kesal.
"Kalian berdua bisa gak sih gak ribut? Sehari aja, ya ampun. Gak dirumah, gak dimana-mana kalo ketemu pasti ribut." Kata Luna menegur kedua anaknya.
"Gak apa-apa Lun, malah rame gak kek dirumah kalo Davin keluar dan Daniel kerja aku suka bete sendirian. Makanya suka minggat kerumah kamu." Kata Dara tertawa melihat kelakuan Zea dan Calla.
"Kalo becanda gak masalah Ra, ini berantem mulu. Gak siang, gak malam ketemu dimana aja pasti berantem." Sahut Luna mengeluh membuat El dan Daniel tertawa.
"Namanya anak-anak. Dinikmati aja, entar kalo mereka semua udah dewasa bakal sepi rumah. Dijamin bakal kangen sama suasana rusuh mereka."
"Kamu tau gak sanking rusuhnya tadi pagi si Calla bangunin kakaknya pake petasan." Mendengar hal itu sontak Daniel dan Davin tertawa sedangkan Dara kaget tidak menyangka jika kerusuhan dirumah sahabatnya itu terbilang cukup parah mengingat sikap Calla yang terlalu manis dan sopan siapa sangka jika anak dari keluarga Leondra itu memiliki sifat jahil dan usil.
"Bang gak lucu! Ayah juga jangan ketawa." Celetuk Zea terlihat kesal.
"Anak lo galak gak buang banget sama sifat lo." Ucap Daniel pelan hanya bicara pada El.
"Emaknya bukan gue. Gue sabar orangnya gak sensian."Sahut El berbisik agar tidak ada yang mendengar selain Daniel.
"Jadi bener Calla lempar petasan ke kamar kak Zea?" Tanya Davin menahan tawa membuat Zea makin kesal.
"Bocah gak ada akhlak emang!" Ucap Zea memasang wajah jahat kearah Calla. Sedangkan Calla santai tidak tau menahu karena merasa banyak yang membela.
"Biarin daripada kakak, bucin tapi jomblo." Sahut Calla tidak mau kalah dan sontak itu membuat Davin makin tertawa.
"Abang! ayah, bunda abang ngeselin." kata Zea mengadu pada kedua orangtua angkat yang jelas selalu membelanya.
"Sini sama ayah dan daddy." Kata Daniel, Zea berdiri meninggalkan tempat duduknya dan lebih memilih duduk sendirian jauh dari kerumunan kelaluarga besarnya.
"Dih manja, dah tua juga sok ngambek."
"Calla." Tegur Luna memasang wajah tegas membuat Calla diam dan melanjutkan aktifitas gamenya.
"Davin, kok malah tambah ngerusuh? Zea sampe marah gitu." Tegur Dara melihat anaknya yang masih tertawa.
"Habisnya lucu bun, masa bangunin pake petasan. Segitu susahnya ya Zea kalo dibangunin tidur." Ucap Davin menahan tawanya. Sedangkan yang menjadi topik pembahasan sudah duduk diam dipojokan sambil mendengarkan musik lewat earphone nya.
"Lah abang gak tau emang? Kak Zea itu kalo tidur kek beruang lagi hibernasi. Mau daddy lewat bawa mesin rumput juga gak akan bangun dia makanya aku lempar petasan. Itu sebenarnya bukan jahil atau usil tapi sebuah bentuk rasa perhatian dan kasih sayang seorang adik yang baik hati dan tampan kepada kakak yang galak, judes, jutek serta bucin yang jomblo." Ucap Calla santai tidak peduli dengan pandangan sang ibu yang menggelengkan kepala melihat kearahnya.
"Serius? Astaga, baru tau. Tapi kamu gak boleh gitu. Petasan itu bahaya banget, kalo pas kamu lempar kena badan kak Zea gimana? Atau pas kamu lempar kena barang eleltronik yang bisa menyebabkan kebakaran gimana? Sementara kak Zea tidur didalam kamar itu." Kata Davin menasehati Calla secara tidak langsung. Calla diam sejenak menghentikan gamenya.
"Iya juga sih. Oke entar minta maaf, lagian si galak lagi sensi gitu mana bisa dideketin. Jangankan deketin, nafas disampingnya aja bisa kena bacok." sahut Calla si bocah tengil.
Davin tersenyum sambil mengacak rambut Calla, hal yang paling tidak ia suka karena menurutnya itu hanya boleh dilakukan pada anak kecil sedangkan ia sudah cukup remaja untuk mendapatkan perlakuan tersebut.
"Ya udah abang nyusul kak Zea dulu ya." Kata Davin tersenyum lalu pergi meninggalkan Calla yang sibuk membenarkan tataan rambut cokelatnya.
"Gue kadang heran, Calla itu anak elu apa anak gue? Sumpah sifatnya mirip banget sama lo." Ucap El ikut menggelengkan kepalanya mendengar semua ucapan anaknya.
"Karma sekarang cepat emang datangnya, makanya kalo suka sama orang jangan kelewat-lewat. Ya gitu hasilnya." Sahut Daniel santai sambil tersenyum melihat Calla.
"Bangke! Ngajak gelud. Lo gak sadar kalo bentar lagi anak gue pulang?" Tegas El membuat Daniel beralih melihat kearah El.
"Anak gue woy sial*an lo!" Bantah Daniel kesal.
"Buktinya lebih kek gue ketimbang kek lo. Macho, keren, gak banyak omong, laki banget lah pokoknya." Ucap El serasa membuat Daniel ingin menelan sahabatnya itu mentah-mentah.
"Lo lupa bibit Devan dari siapa?" Tanya Daniel melipat kedua tangannya didepan dada.
"Halah bibit dibahas segala." Sahut El yang akhirnya kalah.
"DEVAN....." Teriak Dara melaimbai kearah pria berpakaian serba hitam. Pria itu tersenyum manis kearah Dara sambil setengah berlari menghampiri wanita yang biasa ia panggil bunda.
Semua orang melihat kearah Devan termasuk Zea dan Davin. Devan berlari kedalam pelukan Dara melepas rindu yang amat besar selama dua tahun terpisah dari keluarga besarnya tentu bukan hal yang mudah.
Semua orang menghampiri Devan, saling melepas rindu satu sama lain termasuk masuh masa kecilnya, Zea Leondra. Zea melangkah pelan kearah Devan, pria itu banyak berubah dari segi penampilan tapi tetap tidak mengurangi ketampanan nya sedikitpun.
Semua orang sudah sapa Devan, bahkan si bocah jahil pun langsung disapa Devan. Hanya satu orang yang sama sekali tidak terlihat oleh Devan, yaitu Zea dan tentu itu membuat Zea sangat merasa kesal karena merasa diabaikan.
"Buang waktu gue kesini, tau gitu mending tidur dirumah." Celetuk Zea memasang wajah badmood tidak jadi menghampiri Devan.
"Zea, kamu gak kangen sama bang Devan? Kok malah mau pergi?" Tanya Luna melihat Zea yang ingin meninggalkan tempat itu. Zea langsung menghentikan langkahnya lalu memutar tubuh menghadap Luna sambil tersenyum manis menyembunyikan rasa kesalnya.
"Jangan bilang kalian masih suka ribut kek dulu. Bunda gak mau anak-anak bunda udah dewasa masih suka ribut." Ucap Dara menyipitkan mata kearah Devan juga Zea. Devan tersenyum kearah Dara sambil mengangkat kedua alisnya lalu pria itu berjalan menghampiri Zea.
"Lama gak ketemu. Kamu gini aja-aja, tinggi enggak, cantik juga enggak. Masih sama kek dulu gak ada yang berubah." Ucapan Devan sontak membuat Zea mengepal kuat jemarinya. Rasanya ingin sekali melayangkan sebuah tinjuan manis untuk menyambut kedatangan pria bertubuh tinggi itu.
"Mending diem deh daripada bacot!" Sahut Zea sebisa mungkin nenampilkan senyum termanis diwajahnya sambil menahan emosinya agar tidak meledak.
Bukannya menjauh, Devan malah tersenyum nakal seperti sedang mengejek. Membuat Zea makin merasa ingin menghajar pria yang sedang berdiri tepat dihadapannya ini.
"Bang Davin, kita kan masih ada tugas kuliah." Kata Zea memilih untuk tidak menghiraukan Devan dan pergi mengahmpiri Davin yang sedang asik bercanda dengan Calla.
Devan melihat punggung gadis itu berlari meninggalkannya, Gadis manis dengan rambut panjang yang terurai.
"You are my black widow, always and forever." Kata Devan menyunggingkan senyuman manis dan hangat.
"Ya udah kalo gitu ayo kita pulang untuk nyiapin pesta entar malam." Ajak Daniel, mereka semua lalu pergi kerumah Daniel untuk menyiapkan pesta malam ini.
"Pesta?" Tanya Devan bingung.
"Ayo, pesta menyambut kepulangan lo dan om Ken." Jawab Davin sambil merangkul saudara kembarnya, sedangkan Zea lebih memilih menjaga jarak dari pria menyebalkan yang bernama Devan.
"Om Ken balik kesini?" Tanya Devan sedikit kaget.
"Iya, dia udah balik kesini dan bakalan tinggal disini lagi." Sahut Davin menjelaskan pada saudaranya, namun ada satu hal yang lupa dijelaskan oleh Davin pada Devan. Yaitu tentang anak serta istri Ken hingga Devan masih berpikir jika Ken adalah idola Zea dan hal itu sukses membuat Devan merasa kesal.
"Ya udah ayo balik mau sampai kapan bediri disini." Ajak Davin sambil menarik koper milik adiknya.
"Loh, Zea gak ikut dimobil abang?" Tanya Davin saat melihat Zea berlalu dari mobilnya dan berjalan menuju mobil El.
"Gak deh bang, aku ikut daddy aja." Tolak Zea tersenyum, padahal dalam hati jelas ia tidak ingin satu mobil bersama Dave.
"Mana bisa bawa orang, udah penuh gini sama barang." Sambar Dave memasukan semua tas dan kopernya kedalam mobil padahal sudah jelas bagasi mobil sedang kosong.
Davin mengerucutkan dahi melihat dua adiknya yang terlihat seperti sedang perang dingin ditambah lagi raut wajah Dave yang berubah drastis seperti sedang ingin membantai seseorang.
"Ya udah ayo kalo gitu. Mau ikut siapa aja juga sama, tujuannya kerumah kita." Kata Davin mengakhiri ketegangan.
Mereka semua lalu pergi kerumah Daniel untuk menyiapkan pesta yang akan diadakan malam ini.
Sepanjang jalan Dave jarang bicara, hanya Davin yang selalu bertanya padanya tentang karir dan laun sebagainya. Dave sama sekali tidak berubah, tetap cuek dan dingin.
***
Sesampainya dirumah semua orang langsung sibuk dengan tugasnya masing-masing. Devan, davin dan Calla asik mengobrol. Apalagi Calla sangat menyukai dan mengagumi sosok Dave yang ia katakan adalah panutannya sedangkan Zea sibuk membantu mommy dan bundanya.
"Serius deh, Devan bener-bener tambah ganteng." ucap Luna memuji anak bungsu sahabatnya, membuat Dara tersenyum mendengar hal itu.
"Pasti banyak cewek yang suka." Tambah Luna. Dan ucapan Luna sukses mengalihkan perhatian anaknya sendiri, yaitu Zea yang sejak tadi sibuk memotong sayuran.
"Emang ada cewek yang suka sama cowok cuek gitu? Liat tuh, habis ngobrol sama Calla dia asik lagi sama hapenya. Gak berubah kan dari dulu?" Sahut Dara melihat kearah Dave yang sudah sibuk dengan game di hapenya.
Penasaran Zea juga ikut melirik kearah Dave dan si*l bagi Zea, pisau yang ia pegang untuk memotong sayur malah melukai jarinya.
"Awwwwww......." Teriak Zea mengagetkan Dara dan Luna termasuk Dave yang langsung meletakan hapenya dan berdiri menghampiri ke meja dapur.
"Zea, hati-hati sayang." Ucap Dara mengambil tissu.
"Pasti sambil melamun ya motong sayurnya." Tambah Luna meniup jari anaknya yang masih mengeluarkan darah.
"Kenapa bun, mom?" Tanya Dave menghampiri.
"Tangan Zea keiris pisau." Sahut Dara menyapu darah dari luka Zea. Dave menarik tangan Zea membawanya ke kran air dan mencucinya di bawah aliran air.
"Bun, tolong ambilin kotak obat ya." Katanya cuek tidak tau menahu, membuat Zea juga ikut terdiam bingung.
"Ah iya, sampe lupa bunda ambil obat." Dara langsung pergi mengambil kotak obat.
"Hati-hati sayang kalo lagi pegang benda tajam, jangan melamun." Kata Luna menasehati anaknya yang masih terdiam dalam hipnotis Devan karena saat ini Dave memegang erat jari telunjuk Zea untuk menghentikan darah yang terus keluar sambil sesekali ia meniup luka itu.
"Ini kotak obatnya." Ucap Dara memberikan kotak obat pada Dave. Dave meraih kotak tersebut dan membawa Zea ke ruang keluarga.
"Duduk." Ucap Dave singkat, Zea yang sejak tadi hanya diam menuruti tanpa protes.
Pria dengan wajah dingin tanpa senyum itu mengobati tangan Zea dengan perlahan dan hati-hati, membuat Zea bungkam seribu bahasa seperti hanyut dalam hipnotis wajah tampan Dave.
"Zea sadar Zea! Itu Devan, cowok paling nyebelin seplanet bumi." Batinnya menegur keras membuat gadis itu berulang kali mengedipkan matanya berusaha mencari kesadaran. Dan benar saja, begitu ia sadar Zea langsung menarik tangannya padahal itu tidak berguna karena Devan sudah selesai membalut luka pada jari gadis itu.
"Cuma luka kecil." Ucap Zea berpaling enggan menatap wajah Dave. Dave menarik nafas dalam sambil kembali meletakan obat-obatan yang baru saja ia gunakan.
"Kalo gak bisa masak, gak usah ikutan ngerusuh." Celetuk Dave santai, mendengar hal itu mata Zea sontak terbuka lebar. Emosi yang sejak tadi ia tahan rasanya tidak bisa lagi ia bendung. Zea mengepal kuat tangannya niatnya ingin menghadiahi sebuah tinjuan untuk Devan namun Zea salah orang. Dengan cepat Devan menghindar dan hal itu malah membuat Zea jatuh menimpa tubuh Devan.
Tatapan mata keduanya saling beradu dalam hitungan detik hingga akhirnya mereka salah tingkah. Zea buru-buru bangun dari tubuh Devan, sedangkan Devan langsung berdeham tidak kalah salah tingkah dari Zea. Ia langsung berdiri membawa kotak obat itu dan pergi meninggalkan Zea yang sedang mengumpat dirinya sendiri dalam hati.
"Lo gila Zea, fix lo gila. Mamvus, mau taro mana muka gue sia*an!" Umpatnya dalam hati.
"Loh kok dibawa kesini lagi kotak obatnya?" Tanya Dara melihat Devan yang seperti orang bingung meletakan kotak obat di dekat kompor.
"Huh?" Sahut Dave kehilangan konsentrasinya.
"Sayang, tempat kotak obat gak berubah kok selama kamu di luar Negeri. Tolong balikin ke tempatnya ya, bunda sibuk." Kata Dara memperlihatkan kedua tangannya yang kotor.
"Oh, i......iya oke." Sahut Dave gugup. Ia kembali meraih kotak obat tersebut dan langsung membawanya pergi.
"Efek jetlag deh keknya si Devan." Ucap Luna tertawa begitu juga dengan Dara.
Bersambung