
Saat ini Eriska sedang berada diruangan Kenan membersihkan diri. Kenan membantu mengeringkan rambut Eriska dengan handuk kecil miliknya. Sambil mengusap lembut rambut panjang Eriska Kenan terus tersenyum sendiri dan Eriska sadar akan hal itu.
"Kamu kenapa? Ngetawain aku gara-gara basah kuyup gini?" Tanya Eriska pada Kenan.
"Gak lah hun, Aku seneng aja akhirnya kamu bilang sendiri ke orang-orang kalo kita pacaran." Katanya bicara didekat telinga Eriska, Eriska mengernyit mendengar hal itu.
"Iya yah? Kok aku harus bilang begitu barusan?" Ucap Eriska menyesali keputusannnya.
"Kenapa? Gak apa-apa dong. Aku seneng akhirnya semua tau kalo kamu itu pacarku." Jawab Kenan beralih tempat berdiri dihadapan Eriska.
"Oh iya, Tentang ucapanku tadi tolong jangan dianggap serius." Kata Eriska kembali mengeringkan rambutnya.
"Yang mana?" Tanya Kenan penasaran sambil berusaha mengingat dikepalanya.
"Pemecatan salah satu staf kamu." Jawab Eriska menyentuh lembut pipi Kenan.
"Kenapa? Dia pantas mendapatkannya." Sahut Kenan berdiri sambil memasukan kedua tangannya dalam saku.
"Aku cuma sekedar menggeretakknya. Aku tidak ingin menjadi seorang jahat yang membuat orang kehilangan pekerjaannya." Jawab Eriska serius, Kenan berdeham ia pikir Eriska ingin melakukan hal itu tapi ternyata tidak.
"Kamu yakin?" Tanya Kenan sekali lagi, Tanpa rasa ragu Eriska mengangguk yakin. Kenan menarik nafas panjang lalu tersenyum mengusap lembut pipi Eriska.
"Aku pengen memiliki kamu secepatnya dan seutuhnya." Ucap Ken, Eriska tersenyum mendengar hal itu. Bukankah menikah adalah sebuah niat baik, Maka Kenan tidak ragu lagi untuk menyegerakan niat baik itu terlebih ia sudah membeli sebuah cincin yang berhias batu berlian murni sebagai tanda cinta untuk Eriska. Besok ia berniat kembali melamar kekasihnya itu dihadapan ibu Eriska langsung agar Eriska yakin jika Kenan benar-benar serius dengannya.
***
Pulang dari rumah sakit Luna dan El mampir kesebuah pusat perbelanjaan. Niatnya malam ini mereka akan melakukan makan malam bersama dan acara kumpul keluarga karena sudah lama mereka tidak berkumpul bersama. Rendy juga baru pulang dari luar negeri siang tadi setelah beberapa bulan bekerja dinegeri matahari terbit.
"Zea mau beli apa?" Tanya El sambil mendorong stroller belanjaan.
"Daddy...." Panggil Zea berhenti didepan sebuah rak khusus bahan kue.
"Kenapa sayang?" Tanya El heran melihat putrinya mengamati jajaran tepung yang tersusun rapi di rak. El menghampiri Zea dan berjongkok agar sejajar dengan tinggi badan anaknya itu.
"Zea ngapain?" Tanya El ikut melihat jejeran yang sedang diperhatikan Zea.
"Beliin ayah Daniel itu." Kata Zea menunjuk kearah tepung terigu kemasan.El mengernyit masih bingung dengan maksud ucapan anaknya itu.
"Bu.....at ayah? Ayah mau bikin kue?" Tanya El bingung, Zea melihat kearah El sambil menggeleng.
"Bunda yang nitip?" Tanya El lagi, Dan lagi-lagi Zea menggeleng membuat ayahnya mengangkat kedua alisnya.
"Terus buat apa?"
"Buat ayah sama bunda biar bisa bikan ade." Mendengar hal itu El langsung menutup mulut anaknya dengan tangannya takut jika ada yang mendengar ucapan polos anak itu.
"Stttttt......Lupain masalah buat ade ya. Zea beli cokelat aja buat entar malam makan bareng bang Devan dan bang Davin." Kata El membujuk anaknya. Zea melepaskan bungkaman tangan El dari mulutnya.
"Daddy, Daddy lupa kalo malam mommy gak bolehin makan cokelat." Jawab gadis kecil itu mengingatkan ayahnya.
"Iya ya, Daddy lupa. Udah Zea beli apa aja asal lupain masalah bikin ade, Oke?" Mendengar hal itu Zea tersenyum lebar dan puas.
"Oke dad." Katanya menurut dan ia langsung berlari menghampiri Luna yang sedang memilih sayur.
"Liat entar malam ya lu Daniel, Gara-gara lo anak gue jadi gini." Ancam El terlihat kesal pada sahabatnya itu.
***
Malam yang di nantipun tiba, Luna sibuk mempersoapkan semua dibantu oleh bi Irah. Mereka memang senang mengadakan pesta kecil berkumpul bersama orang-orang terdekat.
"Moga aja si Jessy gak ikutan ngumpul." Celetuk Dara bicara pada suaminya saat mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah El.
"Dia masih pacaran sama Rendy?" Tanya Daniel sambil asik menyetir.
"Gak tau, Moga aja udah putus." Jawab Dara terdengar sedikit ketus. Daniel hanya tersenyum mendengar doa istrinya itu, Ia Dara sangat tidak menyukai Jessy.
Sesampainya di rumah El Devan juga Davin langsung turun dari dalam mobil dan berlari masuk kedalam rumah.
"Ayah sama bunda dimana sayang?" Tanya Luna pada kedua bocah kembar itu.
"Masih di mobil mom." Jawab Devan sambil berlalu mencari tempat ternyaman untuk kembali bermain game sedangkan Davin langsung menghampiri Zea. Tidak lama Dara dan Daniel muncul membawa beberapa plastik makanan ringan di tangan masing-masing.
"El dimana Lun?" Tanya Daniel saat meletakan kantung makanan diatas meja bersama Dara.
"Ditaman belakang kak, Nyiapin tempat." Sahut Luna tersenyum, Daniel pun segera pergi ke taman menyusul El.
"El...." Panggil Daniel menghampiri El yang saat itu sedang menyalakan api barbeque.
"Sini lo buruan." Kata El, Dengan santai Daniel berjalan menghampiri El.
"Udah siap semuanya?" Tanya Daniel saat sudah berdiri di sebelah El.
"Lo yang harus sini ikut gue!" Kata El menarik Daniel membawanya duduk di bangku taman. Daniel yang bingung hanya bisa diam mengikuti El.
"Apaan sih? Kek mau bu*uh gue gitu." Kata Daniel mulai protes.
"Tuh gue udah bikin api mau bakar lo." Jawab El santai sukses membuat Daniel kaget.
"Nih bapak-bapak kenapa lagi coba? Jadi orang kelewat nyebelin kan bangke!" Ucap Daniel dalam hati melihat kearah El yang sedang menatapnya tajam.
"Mikir apa lo?!" Tanya El memergoki Daniel yang sedang memikirkannya.
"Ish bangke! Ko lo bisa tau kalo gue lagi ngomongin lo dalam hati?" Kata Daniel dengan santainya mengakui pada El.
"Bingung gue cara ngomongnya, Tapi yang jelas lo udah bikin pikiran anak gue tercemar sama obrolan tengah malam lo dan Dara." Kata El sedikit bingung menjelaskan pada Daniel hal apa yang sudah didengar oleh Zea.
"Apaan? Gak ngerti gue." Kata Daniel bingung, Karena memang ia tidak tau apa-apa lagipula obrolannya nya dengan Dara saat itu tidak salah.
"Zea, Dia gak sengaja denger obrolan tengah malam lo sama Dara." Jawab El memperjelas, Mengerti maksud El Daniel langsung kaget sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Maksud lo obrolan 12++?" Sahut Daniel, El mengangguk menjawab pertanyaan Daniel.
"Kok bisa? Biasanya gue ngobrol pasti jam 12 keatas lho, Gak pernah sembarangan ngomong gue pasti liat waktu dan tempat." Jelas Daniel pada El, Sebenarnya El tau akan hal itu tapi tetap saja ia merasa kesal pada Daniel.
"Lo tau gak sepanjang jalan mau kerumah sakit dia cerita itu mulu. Sampau-sampai gue dan Luna speechless gak tau mesti ngomong apaan." Kata El memasang wajah kesal sambil meraih minuman kalengnya.
"Sumpah El beneran gak tau gue. Lagian gak mungkin kan kalo gue atau Dara sengaja ngomong gitu pas ada anak-anak atau pas anak-anak belum tidur."
"Iya tau gue, Zea mau minum kan lo tau kalo malam dia pasti bangun untuk minum kenapa gak lo isiin tuh tempat air di kamarnya? Jadilah dia kedapur ambil minum sendiri dan waktu lewat depan kamar lo, Gak sengaja dia denger omongan lo sama Dara bahas tentang......." Kata El ragu-ragu melanjutkan ucapannya.
"Tentang?" Tanya Daniel penasaran sambil membuka lebar kedua matanya.
"Make a baby." Ucap El sambil berdeham dan hal itu sukses membuat Daniel tercengang.
"Lo tau gak tadi siang pas belanja, Dia bediri di depan rak bahan kue. Pas gue tanya kenapa dan ada apa, Dia bilang beliin ayah dan bunda tepung." Kata El menceritakan kejadian di mall tadi siang.
"Buat apa tepung?" Tanya Daniel bingung.
"Buat lo dan Dara bikin ade." Jawab El singkat.
"Astagaaaaa......"Jawab Daniel menepuk jidatnya.
"Terus?"
"Terus apanya? Ya gue tutup mulutnya sebelum ada yang denger, Malu lah gue entar dikira orang-orang gue orangtua kurang ajar ngajarin anaknya yang gak bener."
"Anak lho luar biasa emang." Kata Daniel bingung tidak tau lagi harus bicara apa.
"Kalian gak nyariin gue?" Tanya Kenan yang baru saja tiba dengan senyum sumringah di wajahnya.
"Lo sendirian?" Tanya Daniel, Kenan mengangguk sambil duduk di bangku tunggal dan langsung meraih minuman kaleng diatas meja.
"Eriska gak bisa ikutan, Dia harus nganterin ibunya kontrol kerumah sakit." Jawab Kenan meletakan minuman nya.
"Ibunya sakit?" Tanya El
"Iya, Gagal ginjal." Mendengar hal itu Daniel dan El mengangguk pelan.
***
"Kondisi anda sudah sangat mengkhawatirkan. Apa anda belum juga mendapatkan pendonor yang cocok?" Tanya Dokter pada seorang wanita yang tidak lain adalah Eriska. Eriska menggeleng pelan menjawab pertanyaan dari dokter tersebut.
"Kalau begitu tolong kurangi kegiatan yang dapat menyebabkan penyakit anda kambuh. Dalam satu minggu ini anda sudah 5 kali merasakan kesakitan yang luar biasa dan itu bukan lagi hal yang biasa." Eriska menarik nafas dalam, Ia tau keadaan nya saat ini. Bahkan jika ada pendonor pun hasilnya 50:50 karena kondisinya memang sudah terbilang parah.
Eriska mengangguk lalu setelah menerima resep obat ia segera pergi dari tempat itu. Selama ini ia berbohong pada semua orang termasuk Kenan kekasihnya sendiri. Ia memgatakan jika ibunya yang sedang sakit dan memerlukan pengobatan tapi ia lah sebenarnya yang sedang sakit dan membutuhkan pengobatan. Jika ia jujur dengan keadaannya maka tidak akan ada yang mau mempekerjakan seorang yang memiliki penyakit seperti Eriska sedangkan ia sangat memerlukan uang untuk pengobatan nya.
***
"Terus gimana kelanjutan lamaran lo yang ditolak mentah-mentah sama Eriska." Tanya Daniel santai tanpa ada rasa sungkan.
"Baj*ngan lo emang! Gue gak di tolak bangke! Waktunya gak pas kemaren, Terus dia juga pasti syok dengernya karena mendadak gue ngelamar dia. Kan lo tau sendiri gue sama Eriska baru jadian satu minggu lebih."
"Seeah lu deh, Bagi gue ya lo udah ditolak sama Eriska ya kan El."
"Gue gak tau cerita malahan." Sahut El mengangkat kedua bahunya.
"Tadi siang gue ngelamar Eriska pas kita lagi makan siang. Karena kaget pasti speechless kan dia gak bisa langsung jawab makanya gue pengen ngulang lamaran gue kali ini di depan ibunya langsung. Menurut lo gimana?" Tanya Kenan pada El yang balum tau tentang lamaran Kenan pada Eriska.
"Menurut gue lo ditolak."Sahut El santai dengan wajah tidak tau menahau membuat wajah Kenan kesal.
"Lo sama Daniel sama-sama bangke dad, Serius duo bangke!" Umpat Kenan kesal memdengar jawaban El. Mendengar hal itu El dan Daniel tertawa puas sukses membuat Kenan marah.
"Gue udah beli cincin, Niatnya besok pas nganter dia pulang kerja sekalian mau gue lamar lagi." Tambah Kenan tersenyum memamerkan lesung pipinya yang tidak kalah manis dari pipi El.
"Good luck deh buat lo, Kita berdua tunggu kabar baik selanjutnya." Tambah El tersenyum begitu juga dengan Daniel.
"Om Kenan....." Teriak Zea berlari kearah Kenan, Kenan tersenyum sambil membuka lebar tangannya bersiap untuk memeluk Zea.
"I miss u so much honey." Kata Kenan memeluk Zea.
"Miss u too uncle." Jawab Zea yang saat ini sudah bermanja dalam peluk kan Kenan.
"Malam om Ken." Sapa Davin ramah seperti biasanya.
"Malam juga anak tampan." Jawab Kenan, Matanya melirik kearah Devan yang cuek tidak menyapanya sama sekali bahkan melihat kearahnya pun tidak.
"Dan, Anak lo cemburu." Kata Kenan mulai usil mengganggu para bocah itu. Daniel tertawa mendengar hal itu sedangkan wajah Devan bertambah kesal mendengar hal itu namun tetap keras kepala tidak ingin menghiraukan ucapan Kenan, Ia malah memasang headphone yang terpasang dilehernya sejak tadi dan kembali bersikap cuek.
Tidak lama Luna dan Dara datang membawa beberapa makanan di bantu bi Irah membawa sepiring daging untuk bbq.
"Kak Rendy belum datang?" Tanya Dara, Ketiga pria itu menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kedua bahu mereka.
"Sorry gue terlambat." Teriak Rendy yang baru saja datang bersama Jessy membuat Dara seketika kehilangan semangat begitu juga dengan Daniel.
"Malam semua." Ucap Jessy bersikap ramah, Dara menyunggingkan ujung bibirnya tersenyum tipis pada Jessy dan hal itu sukses membuat Luna tertawa secara tidak sadar.
Mereka mulai makan malam bersama sambil terus mengobrol satu sama lain.
"Pak Daniel apa kabar? Lama banget kita gak ketemu ya." Ucap Jessy tersenyum berusaha menebarkan pesonanya.
"Daniel baik-baik aja kok kenapa emang?" Jawab Dara mulai menyerobot tidak peduli dengan yang lain.
"Gak apa-apa Ra, Aku tanya aja. Soalnya kan perusahaan tempat aku kerja bekerjasama dengan perusahaan pak El jadi kita lebih sering ketemu waktu itu." Jawab Jessy tertawa renyah. Dara yang sudah tidak bisa lagi menahan dirinya langsung berdiri saat itu juga dan menyiram wajah Jessy dengan segelas air dari gelas miliknya membuat semua orang terkejut termasuk suaminya sendiri.
"Ra! Kamu apa-apaan sih?" Kata Rendy sedikit nyaring. Melihat hal itu Kenan membawa ketiga anak kecil itu pergi menjauh dari tempat itu.
"Bang sorry, Dara mungkin gak sengaja." Kata Daniel membela istrinya.
"Gak! Kata siapa aku gak sengaja? Aku sengaja nyiram mukanya Jessy biar dia sadar kalo Daniel udah punya anak dan istri!" Kata Dara yang benar-benar sudah muak denhan tingkah Jessy.
"Maksud kamu apa sih Ra?!" Ucap Rendy masih terlihat marah pada adik semata wayangnya itu.
"Kakak tau perempuan macam apa yang lagi kakak bela ini? Dia dengan sengaja menggoda suami dari ade kakak sendiri padahal dia jelas sudah tau kalo aku istrinya Daniel." Kata Dara penuh emosi menunjuk wajah Jessy.
"Gak yank, Semua yang dibilang Dara itu gak bener. Dia cemburu buta, Padahal aku sama pak Daniel cuma sebatas rekan kerja." Kata Jessy membela diri sambil menangis mencari iba dari Rendy.
"Kamu perempuan mura*an!" Dan seketika tangan Rendy sedikit lagi nyaris mengenai wajah Dara jika tidak ditangkap oleh Daniel.
"Maaf banf, Dara emang ade abang tapi dia istri gue dan selama gue masih hidup gak akan gue biarin siapapun nyakitin perasaan dan badannya termasuk lo." Kata Daniel tegas, Sedangkan Dara yang sudah terlanjur emosi ditambah sikap Rendy yang terbilang membela Jessy membuat Dara tidak bisa menahan airmatanya.
"Untuk pertama kalinya kakak mengangkat tangan sama aku. Aku cuma sedang berusaha menjaga hati orang-orang yang aku cintai biar gak terluka dan salah satunya kakak." Kata Dara lalu pergi dari tempat itu, Luna yang melihat langsung mengejar Dara masuk kedalam.
"Dia ade lo bang, Lo tau dia lo kenal dia lebih dari siapapun. Moga lo tau siapa yang berusaha menjaga hati lo dan siapa yang sedang menyakiti hati lo." Ucap Daniel lalu ia menyusul istrinya meninggalkan Rendy, Jessy dan El disana. El mengusap wajahnya ia benar-benar tidak menyangka jika semua ini akan membuat keributan.
"Bang, Ade lo gak bohong. Gue saksinya." Kata El menepuk pundak Rendy, Rendy hanya bisa terdiam mematung tidak bisa mengatakan hal apapun. Ia benar-benar sangat menyesal karena bersikap kasar dengan Dara.
"Sayang, Dengerin aku kamu percaya kan sama aku?" Kata Jessy merengek. Rendy tidak menghiraukannya ia memilih duduk diam disana tanpa mengucapkan apapun, Ia benar-benar sedang menyumpahi dirinya sendiri saat ini.
Melihat hal itu Jessy kesal dan meninggalkan Rendy sendirian disana.
**Bersambung
Maaf ya lama up nya, Mungkin sebagian readers udah pada tau masalah yang terjadi dalam beberapa hari ini. Semoga kalian bisa terus mendukung karya2 author kesayang kalian ya biar author gak kehilangan semangat lagi**.