
"Selamat istri anda positif hamil."
"Ha....Hamil?"
"Iya, Dan usia kandungan nya sudah memasuki minggu ke 6." Kata dokter itu, Kalau di ingat-ingat kejadian itu memang sudah berjalan sekitar 1 bulan lebih.
Daniel benar-benar kaget dengan berita kehamilan Dara, Ia tau benar akibat dari perbuatan nya malam itu. Tapi ia tidak menyangka jika secepat ini, Itu juga bukan pertama kalinya Daniel melakukan tanpa alat kontrasepsi. Tapi, Tidak ada yang berhasil.
"Kalo gitu saya permisi dulu ya." Sambung dokter yang baru saja memeriksa Dara. Daniel mengangguk pelan, Setelah dokter itu pergi Daniel langsung menghampiri Dara yang sedang duduk diam dengan tatapan kosong nya.
"Ra kita per..... "Stop! Aku mohon biarin aku sendiri." Ucap Dara memutus ucapan Daniel. Daniel tau benar saat ini pasti Dara sangat shock dan kaget atas berita kehamilan nya.
Daniel akhirnya keluar dari kamar perawatan Dara, Ia akan menunggu perasaan Dara membaik baru bicara pada gadis yang tengah mengandung anaknya. Setelah Daniel keluar dari kamarnya, Tangis Dara langsung pecah sejadi-jadi nya membuat hati Daniel serasa hancur.
"Kenapa? Kenapa harus begini?" Ucap Dara dalam tangis nya menyesali semua perbuatan nya yang kini membuahkan hasil itu. Dara bahkan memukuli perutnya tidak bisa menerima kehadiran calon bayi nya.
Daniel yang melihat itu langsung dengan mata kepalanya tidak bisa lagi menyembunyikan rasa sakit hatinya saat ini. Ia langsung bergerak cepat menghampiri Dara yang masih memukuli perutnya sendiri.
"Cukup Ra, Cukup. Dia gak tau apa-apa, Dia bahkan gak minta dihadirkan di dunia ini. Ini semua bukan salahnya." Kata Daniel menangkapi tangan Dara agar berhenti memukuli perutnya sendiri, Suaranya mulai gemetar menahan sesak di dadanya. Dara langsung melihat tajam kearah Daniel yang ada dihadapan nya saat ini.
"Ini semua karena kamu! Ini semua salah kamu! Kamu udah ngancurin hidup aku, Kamu hancurin semua." Ucap Dara kasar pada Daniel sambil memukuli dada bidang pria itu. Daniel hanya diam merasakan dan menerima semua pukulan dari Dara karena ia merasa semua ini memang kesalahan nya.
"Pukul aku, Pukul sesuka kamu. Sekuat mungkin. Tapi jangan menyakiti calon bayi itu, Dia gak salah Ra." Kata Daniel menahan semua pukulan bertubi-tubi ditubuhnya bahkan tidak hanya memukul Dara juga mencakar Daniel dan yang lebih parah ia meng-gigit lengan Daniel hingga terluka dan berdarah, Namun Daniel tetap menahan nya tanpa meng-aduh sedikitpun.
"Kamu brengsek! Kamu ***! Kamu jahat!" Teriak Dara melampiaskan isi hatinya pada Daniel.
"Maaf, Maafin aku." Kata Daniel yang akhirnya menitikan air mata nya.
"Keluar! Keluar sekarang!" Dara mengusir Daniel yang saat itu ada di sampingnya. Daniel benar-benar merasa seperti tertusuk belati di jantung nya......Ia terus menunggu Dara diluar ruangan mendengar tangisan dan teriakan Dara.
"Daniel......Lo ngapain disini?" Tanya El saat lewat dan tidak sengaja bertemu Daniel. Daniel langsung menyeka airmata nya dan menyembunyikan wajah sedihnya. Belum sempat Daniel menjawab El melihat Dara didalam ruangan lewat celah pintu.
"Loh, Itu Dara? Dara sakit juga?" Tanya El heran karena Dara dirawat dirumah sakit yang sama dengan Luna. Daniel membuang nafas panjang, Ia lalu membawa El ke suatu tempat jauh dari ruangan Dara. Untungnya Luna sedang ditemani oleh bu Mela jadi El tidak khawatir meninggalkan Luna diruangan nya.
"Lo kenapa sih?" Tanya El makin bingung saat mereka ada di atap rumah sakit, Tempat favorit Daniel jika ia merasa frustasi.
"Dara......" Kata Daniel, Lidahnya terasa kelu tapi ini bukan lagi masalah kecil. Ia harus siap memberitahu pada El tentang keadaan Dara saat ini karena jika terjadi sesuatu padanya hanya El yang bisa membantu nya.
"Dara kenapa? Dia sakit apa?" Daniel menggeleng menampik perkiraan El membuat El makin bingung.
"Dara hamil anak gue." El langsung kaget tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari Daniel.
"Lo......Lo gak serius kan?"
"Gue gak becanda. Malam pesta dirumah lo, Itu semua terjadi begitu aja. Ta.....Tapi gue gak akan berani ngelakuin sejauh itu kalo dia gak suka. Malam itu kita bedua mabuk berat dan....... Lo tau lah gimana pengaruh alkohol kalo udah gitu." El langsung mengacak-acak rambutnya ikut frustasi.
"Terus Daranya gimana?"
"Dia shock berat, Dan gak bisa nerima itu. Gue udah hancurin hidup dia El, Gue......Gue emang bener-bener ****." El memeluk Daniel yang benar-benar terlihat sangat kacau. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan untuk membantu sahabat nya itu.
"Rencana lo sekarang apa? Tanpa gue bilang lo pasti udah tau kan tanggung jawab lo." Daniel mengangguk pelan, Walaupun Dara tidak hamil ia tetap akan menikahi Dara karena perasaan Daniel pada Dara memang benar-benar tulus.
"Gue siap untuk bertanggung jawab, Tapi Dara bener-bener benci sama gue dan gue bener-bener gak tau caranya ngomong ke dia." El menghela nafas nya, Ia tau ini bukan urusan nya dan Luna tapi Daniel benar-benar tulus ingin bertanggung jawab atas perbuatan nya rasanya tidak adil jika ia dan Luna hanya diam menonton.
***
"Ra..... Kamu gak kenapa-napa kan? Tadi kakak ke kosan kamu. Tapi kata tetangga kamu, Kamu dibawa kerumah sakit karena terserempet motor." Rendy yang baru datang langsung panik melihat adiknya yang sedang berbaring dirumah sakit dengan mata sembab dan bengkak habis menangis.
"Kakak......" Ucap Dara parau, Ia memeluk pria berusia 32 tahun itu dan kembali menangis.
"Bilang sama kakak, Apa yang sakit?" Tanya Rendy menenangkan adik perempuan nya sambil mengusap punggung Dara dengan penuh cinta dan rasa sayang. Dara tidak ingin mengatakan apapun, Ia hanya ingin menangis didalam pelukan Rendy seolah ingin mengadu namun tidak bisa.
"Permisi." Ucap suster yang baru saja datang. Rendy melepaskan pelukan nya pada Dara lalu menghampiri suster itu.
"Anda siapa pasien?"
"Saya kakak pasien sus, Ade saya sakit apa ya?" Suster itupun tersenyum sambil menyerahkan amplop putih hasil laporan pemeriksaan kondisi Dara.
"Ini hasil pemeriksaan Ny. Dara Zavinna. Dan ini resep vitamin yang harus di tebus." Ucap suster itu lalu pergi, Karena penasaran Rendy langsung membuka amplop itu.
Nama : Dara Zavinna
Umur : 20th
hasil : (+) positif
Usia kandungan : 6 Minggu
Seperti disambar petir disiang bolong saat Rendy membaca isi amplop itu. Ia meremas kuat kertas itu hingga urat-uratnya terlihat mengeras.
"Siapa yang udah lakuin ini ke kamu?" Tanya Rendy tegas dan datar. Rahangnya mengeras hingga terlihat jelas emosi yang sedang ia tahan saat ini. Dara hanya duduk bersila sambil menangis tertunduk tanpa bisa mengatakan apapun pada Rendy.
"Ra, Liat kakak sekarang! Siapa laki-laki **** yang udah hamilin kamu!" Bentak Rendy agak nyaring sambil mengguncang tubuh Dara.
"Lepasin! Lo cuma nyakitin Dara!" Bentak Daniel yang baru saja tiba disana bersama El. Tanpa mengucapkan apapun Rendy langsung memukul Daniel hingga Daniel jatuh tersungkur. El yang melihat berusaha menengahi antara dua pria yang sama-sama mencintai Dara.
"Ini rumah sakit, Tenang. Bicara baik-baik." Kata El menyembunyikan Daniel di balik tubuh besarnya.
"Lo kan **** itu? Lo kan yang udah ngancurin hidup ade gue?" Ucap Rendy menunjuk kearah Daniel yang mengusap darah segar disudut bibirnya.
"Gue bakal tanggung jawab! Gue siap nikahin Dara!" Sahut Daniel tegas, Namun hal itu tidak membuat Rendy berhenti menghajar Daniel. Perkelahian pun tidak terhindarkan lagi di ruangan VVIV yang cukup luas itu.
"CUKUP!!!!!" Teriakan Dara baru bisa memisahkan dua pria ini. Dara mengambil pisau buah diatas meja samping ranjangnya lalu meletakan pisau itu tepat di lehernya.
"Ra, Please jangan lakuin itu." Ketiga pria itu langsung kalang kabut saat melihat Dara meletakan pisau itu dilehernya.
"Cukup, Aku mohon cukup." Ucap Dara pasrah jika pisau itu menusuk lehernya.
"Dara......." Teriak Luna, Saat perkelahian antara Daniel dan Rendy terjadi. El ditelepon oleh Luna, Dan El langsung memberitahu Luna keadaan Dara saat ini. Luna yang sedang lemah karena anemia dan magh nya kambuh tidak berpikir panjang lagi tentang kesehatan nya. Ia langsung melepaskan selang infus dan berlari keruangan Dara dirawat. Daniel dan Rendy langsung ingin menghampiri Dara namun lebih dulu ditahan oleh El.
Luna langsung melepaskan pisau itu dari tangan Dara lalu memeluk tubuh Dara erat. Tangis Dara pecah saat Luna memeluknya.
"Udah gak apa-apa kamu tenang ya. Ada aku disini, Udah." Ucap Luna mengusap punggung Dara ia pun ikut menangis melihat keadaan sahabatnya saat ini.
"Kenapa Lun, Kenapa harus begini? Hidupku hancur. Aku gak mau hidup lagi, Aku gak mau." Kata Dara dalam tangisan nya.
"Gak.....Kamu gak boleh ngomong gitu."
"Aku gak siap sama semua ini Lun, Aku bahkan belum bisa nerima kehadiran calon anak ini." Katanya lagi sambil memukuli perutnya namun tangan Luna langsung menghentikan nya. Luna melihat kearah El dan meminta El keluar dari ruangan itu membawa dua pria yang sedang kacau ini. El mengerti tanpa harus Luna mengatakan nya. Ia membawa Daniel dan Rendy keluar. Walaupun Rendy masih terlihat sangat marah pada Daniel tapi demi adiknya ia menuruti El.
Kini tinggal Luna dan Dara diruangan itu. Luna masih mendengarkan Dara yang mengadu padanya sambil terus memeluk gadis itu.
"Kamu tau saat alm. Ayahku memintaku untuk menikah dengan pria yang sama sekali gak aku kenal sebelum nya rasanya aku seperti dipukul mundur oleh takdir, Aku dipaksa menyerah disaat aku belum melangkah sedikitpun dan saat kami akhirnya menikah harus berapa jauh aku melangkah agar tidak mendengar namanya dan seberapa rapat aku harus menutup mata agar tidak melihat wajahnya.
Namun lambat laun aku menyadari, Saat Tuhan menakdirkan sesuatu untuk ku meski bagaimana pun aku ingin menjauh ia akan tetap menjadi milik ku.
"Seperti halnya kamu saat ini, Saat Tuhan sudah mempercayakan anugrah terindahnya untuk kamu dan kak Daniel itu artinya Tuhan tau jika kamu sudah sanggup menerima semua ini. Dan untungnya Tuhan menakdirkan kamu sama kak Daniel yang udah siap lahir batin untuk bertanggung jawab sama kamu dan calon bayi kamu. Banyak perempuan yang harus kesana kemari meminta pertanggung jawaban pada si laki-laki brengsek yang bahkan ingat nama gadis itupun tidak."
"Tapi aku gak siap Lun, Aku masih pengen selesein kuliah aku, Aku pengen berkarir. Aku gak siap untuk jadi seorang ibu atau istri."
"Aku juga punya impian yang sama saat itu. Aku pikir setelah menikah kehidupan ku bakalan 100% berubah. Tapi nyata nya gak ada yang berubah sedikitpun, Bang El gak pernah ngelarang aku untuk ngelakuin hal yang aku suka. Dan aku yakin banget kak Daniel juga begitu."
"Dengan hamil begini gimana caraku buat lanjutin hidupku? Apa kata anak-anak kampus?"
"Kenapa harus takut? Anak itu bukan anak haram, Bukan juga hasil dari hubungan dengan suami orang. Mungkin semua penjelasan ku ini gak masuk diakal, Nyeleneh, Atau konyol. Tapi itulah kenyataan nya, Dia punya seorang ayah yang hebat, Berani juga bertanggung jawab terlebih dia pria yang mencintai kamu dengan sangat tulus."
Dara kini merasa lebih tenang setidaknya sebelum kedua orangtua nya tau, Luna tau tidak mudah untuk Dara menghadapi semua ini dan tidak semua ucapan Luna didengarkan nya tapi melihatnya merasa lebih tenang saat ini membuat Luna merasa lega.
***
Diluar rumah sakit Daniel kembali berkelahi dengan Rendy membuat El merasa gila menghadapi dua pria ini. Terlebih Rendy lebih unggul dalam bergulat ketimbang Daniel yang saat ini sudah mulai luka dan lebam akibat pukulan Rendy.
"STOP! Kalian bedua sayang kan sama Dara? Kalo kalian peduli sama Dara berenti sekarang atau gue panggil Dara kesini." Ancam El, Mendengar hal itu terpaksa Daniel dan Rendy menghentikan perkelahian mereka. Rendy langsung pergi dari sana tanpa mengatakan apapun.
El membantu Daniel berdiri lalu mereka duduk di sebuah bangku taman.
"Ngelawan kakak nya aja lo payah banget, Gimana mau ngawinin adenya? Makanya lo sering gue hajar, Maksud gue biar lo jago berantem nya. Liat nih sekarang, Baru dua kali tonjokan muka lo udah kek pelangi ada warna mejikuhibinilu nya."
"Lo gila? Dari tadi gue ditonjokin lo bilang baru dua kali?"
"Dua kali yang kuat banget, Selebihnya itu bonus buat lo karena udah lancang duluin gue punya anak."
Sahut El lalu tertawa, Disusul Daniel yang juga ikut tertawa. El merasa kasian dan kesal saat melihat Daniel dipukuli habis-habisan oleh Rendy rasanya tangan El sangat gatal, Ingin membalas Rendy untuk Daniel. Tapi pria **** yang sedang ia kasihani ini adalah pria paling **** dari yang sangat ****. Dari dulu El tau kalau Daniel sering melakukan one night stand dengan para gadis-gadis yang ia pacari tapi ia tidak menyangka jika Daniel juga melakukan itu pada Dara, Sahabat istrinya sendiri. Ada rasa marah di hati El pada Daniel karena perbuatan nya, Namun saat El melihat kesungguhan, Ketulusan dan keseriusan Daniel pada Dara membuat hati El luluh.
"Maaf gue gak bisa bantu lo apa-apa, Cuma ini yang bisa gue lakuin. Ngeliat lo ketawa biarpun dalam keadaan memalukan kek sekarang udah bikin hati gue tenang. Seenggak nya lo masih hidup, Masih bisa ketawa."
"Brengsek lo! Ya udah gue mau ke kamar Dara" Daniel berdiri ingin kembali kekamar Dara, Walaupun ia tau akan terjadi penolakan dari Dara, Ia akan tetap berada disana.
"Tapi gue gak bisa tinggalin Dara dalam keadaan gini."
"Emang lo bisa ngebujuk dia? Jangankan dengerin lo, Liat muka lo aja dia udah histeris duluan. Udahlah percaya aja sama Luna, Entar kalo suasananya lebih dingin dan tenang kita bakal bantu lo buat ngomong sama Dara. Lagian Dara kan lagi hamil gak boleh setres, Apalagi diawal kehamilannya." Daniel akhirnya menuruti ucapan El karena ada benarnya. Ia langsung pulang kerumah untuk menenangkan diri.
***
El mengetuk pintu ruangan Dara dirawat lalu masuk kesana. Disana Luna sedang duduk menemani Dara yang sedang tidur. Terlihat jelas mata Dara yang sembab dan bengkak karena menangis. El menghampiri Luna memeluk Luna dan mencium pucuk kepalanya.
"Gimana keadaan Dara?" Tanya El sambil terus memeluk tubuh Luna yang masih lemah.
"Udah mendingan dari sebelumnya. Kak Daniel dimana?"
"Udah abang suruh pulang. Dia juga frustasi banget, Biar dia tenangin diri dulu. Kamu gimana? Masih pusing?"
"Udah gak seberapa pusing kok. Kita temenin Dara sebentar ya sampai kak Rendy datang. Tadi kak Rendy nitipin Dara ke aku, Dia masih kerja bentar lagi pulang kok." El mengangguk, Ia yang orang lain saja cukup pusing dengan masalah Dara dan Daniel apalagi dua orang ini pikirnya. El menemani Luna untuk menjaga Dara sebelum Rendy datang.
Berselang setengah jam, Rendy datang kembali ke rumah sakit.
"Makasih ya Lun udah nungguin Dara."
"Iya kak, Kalo ada apa-apa kasih tau aku ya, Ini nomer hapeku." Kata Luna memberikan nomer hapenya pada Rendy. Rendy mengangguk lalu mereka berdua pamit dari sana.
***
Rendy membawa Dara pulang kerumah mereka karena kalau dikos-kosan Dara sendirian. Ia takut Dara setres dan melakukan hal gila apalagi dengan kondisinya saat ini.
"Gimana kalo mama sama papa tau kak? Dara takut." Ucap Dara saat didalam mobil dalam perjalanan menuju rumahnya.
"Kakak selalu ada disamping kamu, Kamu jangan takut ya." Sahut Rendy menenangkan adiknya, Padahal ia sendiri bingung bagaimana caranya menghadapi kedua orang tuanya jika mereka tau tentang kehamilan Dara.
45 menit dari rumah sakit, Akhirnya Rendy dan Dara tiba dirumah mereka. Seperti biasa jika hari biasa seperti ini rumah mereka akan kosong karena orangtua mereka masing-masing bekerja.
"Aku kekamar dulu." Ucap Dara pelan, Rendy mengangguk, Ia pun langsung pergi menuju kamarnya untuk beristirahat melepaskan lelah dan beban hidup yang berat baginya.
***
"Ra.......Dara...Kamu tumben belum bangun jam segini?" Mama Dara saat ini ada didepan pintu kamar anak gadisnya yang belum juga bangun, Padahal ini sudah jam 9 pagi. Karena tidak ada jawaban ia memutuskan untuk masuk kekamar Dara yang kebetulan pintunya tidak dikunci.
"Ra....."Panggil ibu Fina, Tapi Dara tidak terlihat diranjangnya. Bu Tia mendekati pintu kamar mandi dan benar saja, Terdengar suara Dara muntah-muntah didalam sana.
"Ra, Kamu sakit nak?" Tanya bu Fina berdiri didepan pintu sambil mengetuk pintu kamar mandi Dara.
"Gak mah, Aku gak apa-apa cuma lagi sikat gigi dan gak sengaja ketelan pasta giginya." Dara tau betul kesalahan nya menyembunyikan masalah sebesar ini pada kedua orangtua nya tapi ia juga sama sekali tidak memiliki keberanian untuk mengatakan pada orangtua nya tentang kehamilan nya saat ini.
"Hati-hati dong nak, Kalo udah selesai cepat turun ya kita sarapan sama-sama." Karena ini hari minggu kedua orangtua Dara berada dirumah.
"Mmmm........Kalian sarapan aja duluan, Entar Dara nyusul." Sahut Dara berusaha sebisa mungkin agar terlihat seperti biasa.
Bu Fina lalu keluar dari kamar Dara, Namun sebelum ia keluar amplop putih di meja belajar Dara yang letaknya memang ada didekat pintu kamarnya menarik perhatian bu Fina. Ia lalu melihat amplop itu, Diluar amplop tercetak nama rumah sakit tempat Dara diperiksa.
"Ini apa? Kok kayaknya hasil pemeriksaan dari rumahsakit." Bu Fina akhirnya mengambil surat itu dan membukanya.
Tubuhnya lemah seketika, Serasa tidak memiliki tulang untuk bertumpu. Ia terduduk lemas didekat pintu kamar Dara sambil memegangi kertas itu airmata nya pun langsung berjatuhan tanpa bisa ditahan nya sedikitpun. Lidahnya kaku tidak bisa lagi mengatakan apapun hanya airmata yang saat ini mewakili perasaan nya. Dan pada saat bersamaan lewatlah pria paruh baya yang biasa dipanggil Dara papa.
"Kamu kenapa mah?" Ucap pak Restu heran melihat istrinya menangis didepan pintu Dara. Ia langsung menghampiri istrinya itu. Bu Fina hanya bisa menangis dalam pelukan pak Restu sedangkan pak Restu masih bingung apa yang membuat istrinya itu menangis hebat seperti saat ini.
Bu Fina memberikan selembar kertas yang sudah ia genggam kuat itu, Penyebab dari semua tangisannya. Saat melihat itu, Pak Restu pun sama seperti bu Fina hanya saja ia tidak menitikan air mata seperti istrinya.
"Mamah, Papah." Ucap Dara gemetar saat ia baru keluar dari kamar mandi. Pak Restu melihat murka kearah Dara, Ia berdiri dan langsung menyeret Dara.
"Anak kurang ajar! Berandalan! Bikin malu keluarga!" Teriaknya lalu menampar kuat wajah Dara hingga Dara jatuh terlempar keranjangnya. Tangis bu Fina pun makin pecah namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena ia benar-benar shock saat ini.
"Sini kamu sini!" Dara pun kembali ditarik kasar dan kuat menuju kamar mandi. Setelah didalam kamar mandi, Pak Restu mengguyur tubuh Dara tanpa henti dengan air membuat tubuh Dara basah kuyup. Dara hanya bisa menangis menahan semua rasa sakit ditubuhnya. Ia pasrah menerima semua perlakuan itu, Karena ini semua memang salahnya.
"Kamu aib dalam keluarga ini, Papa lebih baik ngeliat kamu mati daripada harus menerima kamu dan anak haram itu!" Pak Restu kembali menyiram kuat tubuh Dara tanpa henti.
"CUKUP!" Teriak Rendy yang baru saja datang, Matanya melihat tajam kearah pak Restu. Tangannya mengepal kuat rahangnya tercetak jelas diwajah tampannya jika ia benar-benar sangat marah saat ini. Rendy mengambil handuk dan langsung berjalan kearah kamar mandi, Tidak perduli dengan wajah ayahnya yang ingin sekali membunuh Dara saat itu juga.
Rendy menyelimuti tubuh basah Dara yang meng-gigil lalu membawanya untuk keluar dari kamar mandi. Dipeluknya gadis yang sangat ia sayangi dan selalu ia jaga itu, Dara hanya bisa menangis dalam pelukan saudaranya itu.
Merasa tidak terima karena diabaikan sebagai orangtua, Pak Restu kembali menarik Dara tapi tangan Rendy lebih dulu menghentikan tangan ayah nya itu.
"Berhenti atau jangan salahkan aku kalo aku melawan!" Ucap Rendy tegas menyimpan banyak perasaan marah saat itu mengatakan nya.
"Sekarang juga kamu pergi dari rumah ini! Jangan pernah kembali lagi kesini, Mulai hari ini kamu bukan lagi anak ku! Kamu dan anak haram mu itu, Harus pergi jauh!" Teriak pak Restu karena kesal amarahnya tidak bisa ia salurkan pada Dara.
"Papa pikir ini semua salah Dara? Kalian salah kalo kalian mikir gitu. Pernah kalian sebagai orangtua bertindak sama seperti orangtua lainnya? Dari kecil aku dan Dara selalu ditinggal berdua. Dara yang harusnya tumbuh dengan rasa cinta dan kasih sayang dari kedua orangtua dari kecil gak pernah dapatin itu semua.
Papa bilang papa malu punya anak kayak Dara? Salah pa, Kami yang malu punya orangtua kayak kalian! Apa pernah kalian duduk berdua nemenin kita belajar? Apa pernah kalian tanya kita berdua udah makan atau belum? Kalian nitipin kita ke pengasuh yang bahkan cuma nyakitin kita berdua. Dibanding Dara, Kalian harusnya lebih malu!"
"Kurang ajar kamu Rendy!" Teriak pak Restu yang ingin menampar Rendy namun tangan Rendy lebih dulu menahannya dan dibanding kan dengan tenaga Rendy pak Restu tidak ada apa-apanya.
"Papa mau mukul Rendy? Papa yang selalu ngajarin Rendy caranya kekerasan jadi jangan salahkan Rendy kalo Rendy juga bertindak hal yang sama!" Pa Restu langsung diam, Ia melihat kedua putra putrinya ini dengan tatapan nanar.
"Ayo Ra kita pergi." Rendy lalu pergi membawa Dari keluar dari rumah itu, Rumah tempat mereka dibesarkan. Dara hanya bisa menangis sejadi-jadinya ia tidak tau lagi caranya bertahan dalam hidup. Ia merasa benar-benar hancur, Ia merasa benar-benar ingin mati saat ini juga.
Rendy memasukan Dara ke mobilnya, Ia pun bingung harus membawa Dara kemana.
"Luna....." Rendy langsung mencari nomer telepon Luna yang diberikannya kemarin dan langsung menghubungi Luna.
Setelah selesai menghubungi Luna, Rendy langsung melajukan mobilnya membawa Dara yang sudah pucat karena kedinginan menuju kerumah Luna.
Sesampainya disana, Luna sudah menunggu Dara dan Rendy.
"Kamu ganti baju dulu yuk, Entar kamu sakit." Ucap Luna membawa Dara kekamar tamu dan meminjami nya baju. Sementara Dara berganti baju, Luna menemui Rendy yang menunggu diluar.
"Maaf ya kakak ngerepotin kamu, Kakak mau anterin dia ke kosan nya tapi kakak gak bisa tinggalin dia sendirian disana apalagi dengan kondisinya sekarang ini.
"Gak apa-apa kak, Biar untuk sementara Dara disini aja."
"Syukurlah dia punya kamu. Sekali lagi makasih dan maaf ya ngerepotin kamu. Kakak pamit dulu ya, Ada urusan mendadak." Luna mengangguk karena Rendy terlihat sangat buru-buru ia tidak ingin bertanya mau kemana.
***
"Gue mau ketemu Daniel." Ucap Rendy yang saat ini ada dikantor El untuk bertemu Daniel tapi tentu bukan hanya untuk bertemu.
"Apa bapak sudah memiliki janji dengan pak Daniel?" Tanya resepsionis itu dengan sopan dan ramah walau wajah Rendy saat ini terlihat seperti seorang pembunuh.
"Panggil dia sekarang atau gue seret dia kesini!" Ancam Rendy, Dengan cepat resepsionis itu mengangkat gagang telepon dan menyambungkan keruangan Daniel.
"Pak dibawah ada seorang pria yang mencari bap......-" Belum selesai resepsionis itu bicara gagang telepon keburu di rampas oleh Rendy.
"Keluar lo sekarang anjing!" Sumpah serapah pun tidak bisa ditahan lagi walau ini ditempat kerja Daniel. Tanpa banyak pikir Daniel langsung turun untuk menemui Rendy......
Belum sampai Daniel ketempat Rendy berdiri saat ini, Ia keburu dijemput dan ditarik paksa oleh Rendy juga disambut dengan beberapa gebukan diperutnya membuat Daniel tersungkur dan suasana kantor langsung ribut.
"Uhhhhuuukkk.....Uhhhhuukkkkhhh." Daniel batuk sambil memegangi perutnya yang baru saja mendapat hadiah dari Rendy.
"Sialan lo, Dengerin gue ngomong dulu!" Daniel tidak ingin menerima dan pasrah atas perlakuan Rendy. Ia menyerang balik memukul sudut bibir Rendy dan memberikan warna merah darah dibibir itu.
Perkelahian tidak bisa dihindari dan kembali terjadi membuat suasana kantor heboh oleh mereka berdua. Bahkan security yang memisahkan pun kewalahan dibuat Daniel dan Rendy.
El yang kebetulan lewat dari jauh melihat perkelahian itu. Dengan cepat ia berlari kesana entahlah rasanya ia sedikit kesal dengan sikap Rendy yang selalu main otot tidak ingin mendengar penjelasan dari Daniel.
"Stop! Ini kantor gue, Dan gue gak suka ada orang yang bikin masalah ditempat kerja gue." Rendy melihat kearah El lalu mendatangi bis besar pemilik perusahaan itu.
"Jangan ikut campur kalo lo ngerti perasaan gue!"
"Gue ngerti tapi gak gini caranya. Lo kasih kesempatan buat Daniel ngomong dengerin dia."
"Lo gak tau apa yang baru aja dialami ade gue dirumah. Karena si itu ade gue diusir dari rumah, Karena si itu ade gue dihajar abis-abisan sama bokap gue. Sekarang gue tanya sama lo, Seandainya lo jadi gue apa yang harus lo lakuin?" Pertanyaan Rendy seakan menjebak El, Ia sangat mengerti perasaan Rendy saat ini. Hancur sudah pasti, Sakit mungkin sangat sakit. El terdiam berdiri ditempatnya, Ia benar-benar tidak bisa berbuat banyak saat melihat Daniel dihajar oleh Rendy.
Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah menghubungi Dara, Karena cuma Dara yang bisa menyelamatkan Daniel saat ini.
***Bersambung.......
Hai.........
Kali ini author mau kenalan dong sm para readers..... Kenalin dong nama kalian siapa? Umurnya berapa? dan asalnya darimana? Terus kenapa suka sama novel perfect husband ini? Jawab di kolom komentr ya beib....
Dan satu lagi, Kalo perfect husband udah END, Author mau bkin novel baru. Kalian setujunya tokoh2 nya itu KPOP atau bule2 gitu? (Bukan bule jamu, sayur, Dll) Nah jangan lupa dijawab Ya sayang2 kuh 😘😘😘😘
Like vote sll ditunggu
Vote minggu ini juga msh kosong blom ada baru satu orang yang nge-vote***.