Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Meet a trouble maker



"Bang......" Luna mengetuk pintu kamar El. Ini sudah jam 9 malam tapi ia tidak melihat El keluar dari kamarnya. Makan pun ia sendirian tidak biasanya El seperti itu.


"Iya...." El lalu keluar dari persembunyiannya dan menemui Luna.


"Kenapa?" Tanya El sambil menutup pintu kamarnya.


"Abang gak makan malam?"


"Udah tadi pas kamu tidur, Tadi abang udah bangunin kamu tapi kamunya gak bangun-bangun jadi abang makan aja duluan." Kata El beralasan padahal ia tau benar kejadian yang sebenarnya.


"Oh, Kirain belum makan. Ya udah kalo gitu, Maaf ya aku ganggu."


"Luna...." Panggil El saat Luna berbalik ingin pergi.


"Iya...."


"Bisa ngobrol sebentar?" Luna mengangguk menjawab pertanyaan El, Mereka lalu pergi keteras belakang rumah.


"Jadi gini, Lusa malam acara ulang tahun perusahaan yang ke 7. Kamu bisa datang?." Luna diam sejenak memikirkan ajakan El.


"Ummmm.......Oke, Jam berapa acaranya?" El sempat kaget karena Luna bersedia datang, Padahal tebakan El Luna tidak akan bersedia datang dan ikut serta dipesta ulang tahun perusahaannya.


"Jam 8 malam." El merasa sangat aneh dengan perasaannya sekarang. Saat Luna setuju untuk pergi hatinya serasa ingin teriak karena kegirangan.


"Ya udah kalo gitu aku kekamar dulu ya."


"Luna....." El kembali memanggilnya dan Luna pun langsung melihat El.


"Makasih bekalnya." El tersenyum dan senyuman itu dibalas Luna dengan anggukan lalu ia pergi kekamar.


***


Saat ini Luna ada didalam kamarnya duduk sambil memainkan pulpen ditangannya dan memikirkan sesuatu. Setelah Daniel datang kerumah dan penasaran akan sosok Luna ia berpikir keras cara agar semua orang tau jika ia memang ada dikehidupan El sebagai seorang adik. Ia tidak mau lagi lari atau bersembunyi dari orang-orang.


Dibukanya laci meja belajar dan ia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang isinya adalah cincin pernikahan miliknya dan milik El.


"Yah, Ayah bener tentang pak El. Tapi maaf Luna hanya bisa sebatas ini, Gak lebih. Luna juga gak mau mengikat pak El dengan semua perjanjiannya sama ayah. Kalo saatnya sudah datang, Luna akan pergi dari kehidupan pak El." Katanya sambil melihat kearah cincin itu, Luna menutup dan menyimpannya kembali lalu pergi tidur.


Sedangkan El masih betah dengan semua perasaannya saat ini. Ia masih duduk diteras sambil melihat langit yang penuh dengan bintang.


"Pak Dewa, Pak Dewa benar tentang anak bapak. Dia gadis yang baik, Ramah, Tapi juga sangat keras kepala." Ucapnya dihiasi senyuman, Hatinya kembali berdegup kencang saat mengingat Luna.


"Dan sepertinya ia mulai masuk mengetuk pintu hati saya pak." Ucapnya lagi wajahnya terus tersenyum bahagia.


***


Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, El dan para karyawan sudah menyiapkan semua dengan sempurna. Tamu undangan juga mulai berdatangan, Dari artis terkenal, Pejabat tinggi dan juga para CEO dari perusahaan maju dan terkenal lainnya.


Sementara itu El masih bersiap diistananya begitu juga dengan Luna.


"Luna, Abang tunggu dibawah ya." Kata El mengetuk pintu kamar Luna. Ia lalu pergi menunggu Luna diruang tamu.


Setelah kurang lebih 20 menit El menunggu dengan sabar Luna keluar dari kamarnya dan langsung menuruni anak tangga menyusul El.


El yang melihat Luna dengan balutan gaun panjang berwarna putih membuatnya berdecak kagum, Matanya terus melihat Luna yang dengan anggun berjalan menuruni anak tangga sambil sesekali melihat kearah El dan melemparkan senyum pada El.


Hati El kini benar-benar terasa seperti dihujani ribuan bahkan jutaan bunga, Luna benar-benar sudah menghipnotis El saat ini.


"Maaf aku kelamaan ya. Kita berangkat sekarang?" Kata Luna bicara pada El yang bahkan tidak mendengarnya karena terlalu fokus pada pesona Luna saat ini.


"Bang......Bang El." Suara Luna agak nyaring membuat El terpekik dan sadar dari fantasinya indahnya.


"Hah? Ummmmm iya, Ayo kita berangkat sekarang." Mereka berdua pun berjalan menuju mobil lalu pergi ke tempat acara.


***


Setelah sekitar 45 menit mereka akhirnya sampai dihotel bintang 7 tempat acara itu dilaksanakan. El segera turun dari mobil begitu juga dengan Luna. Semua mata saat ini sedang menatap Luna dan El sebagian juga ada yang berbisik menanyakan tentang gadis cantik yang digandeng El saat ini.


Daniel yang baru sadar jika gadis yang dibawa El itu adalah gadis yang sama yang ia lihat dirumah El langsung kaget bukan main. Ia langsung menghampiri El yang sedang menyapa beberapa tamu undangan.


"El......El lo....Lo mesti jelasin ke gue." Kata Daniel menarik El dan berbisik pada El.


"Apaan? Jaga sikap ya tolong, Disini lagi banyak media dan juga tamu penting. Jangan sampai ada berita gak enak yang muncul." Kata El, Luna yang melihat Daniel tau kalau hal ini akan terjadi.


"I......Itu, Itu cewek yang gue liat dirumah lo beberapa hari yang lalu. Bener kan dugaan gue, Dia tinggal dirumah lo kan?" El melihat kearah Luna, Luna tersenyum tipis. Sebenarnya Luna kurang menyukai pesta seperti ini, Luna tipe orang yang lebih menyukai kesunyian daripada keramaian.


"Luna....." Panggil El, Luna menoleh dan menghampiri El.


"Kenalin ini Daniel temen abang, Dan Daniel, Ini Luna ade sepupu gue." Kata El, Entah kenapa terbesit sedikit rasa kecewa saat El memperkenalkan Luna sebagai adik sepupunya. Andai ia bisa mengatakan kalau Luna adalah istrinya, Tetapi Luna lebih nyaman seperti ini.


"Kamu yang tempo hari aku liat di taman kan baca buku." Kata Daniel menebak, Luna mengangguk mengiyakan ucapan Daniel.


"Jadi kamu tinggal di rumah El? Sejak kapan?" Daniel mulai mengintrogasi Luna, Membuat Luna sedikit tidak nyaman. Terlebih ia baru saja mengenal Daniel.


"Lo apaan sih nanya udah kek detektif aja. Udah jangan ngeganggu ade gue." Celetuk El menghentikan semua pertanyaan Daniel.


"Ayo Lun, Abang kenalin sama yang lain." Kata El membawa Luna pergi meninggalkan Daniel yang masih penasaran dengan Luna.


Setelah acara perkenalan Luna duduk disebuah meja bar yang memang disediakan pihak oleh. Sedangkan El sedang berbincang dengan beberapa rekan bisnisnya.


"Huffftttt......." Luna menghela nafas panjang, Sebenarnya ini sangat membosankan baginya. Hal yang paling seru dan menarik untuknya yaitu membaca komik atau novel ditemani secangkir coffe atau cokelat panas.


"Lepasin! Kamu siapa?" Teriak Luna, Tapi pria bertubuh tinggi itu tidak perduli. Ia bahkan memaksa Luna untuk masuk kedalam mobilnya.


"Lets go......" Katanya lalu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi membuat Luna makin takut. Tangan Luna berpegang kuat pada sabuk pengaman sambil terus berteriak minta tolong dan memarahi pria yang ia tidak kenal itu. Tetapi bukannya berhenti pria itu makin melajukan mobilnya dengan ugal-ugalan.


Hingga akhirnya mereka sampai disebuah jembatan besar. Mobil yang membawa Luna itupun berhenti, Dengan cepat Luna melepaskan sabuk pengaman lalu turun dari mobil.


"Kamu gila ya? Kamu siapa? Kenapa bawa saya ketempat ini?" Tanya Luna setengah teriak.


"Stttttt.......Jangan berisik." Katanya, Luna mengerucutkan alisnya lalu kembali melemparkan pertanyaan yang sama pada pria berambut pirang itu. Dengan cepat tangan pria tadi menutup mulut Luna membuatnya diam tidak bisa bicara.


"Coba liat." Katanya lagi menunjuk kearah tepi sungai. Luna langsung melihat kearah itu dan seketika Luna terdiam. Disana ada berjuta kunang-kunang yang beterbangan dan hinggap di pohon-pohon. Sesaat Luna benar-benar terhipnotis dengan keindahan alam yang ditunjukan oleh pria itu.


"Aku lepasin tapi jangan teriak ya, Jangan buat mereka kaget." Kata pria tadi sambil menurunkan tangannya yang membungkam mulut Luna.


"Kamu cowok gila! Kenapa kamu bawa saya kesini?" Kata Luna kembali marah.


"Haduh, Harusnya kamu makasih sama aku karena udah ngeluarin kamu dari pesta membosankan tadi. Kamu pikir dengan pura-pura menikmati pesta itu orang gak akan tau kalo kamu bosan? Ketara banget tau dimuka kamu, Kalo kamu itu bosan." Katanya yakin benar.


"Ya tapi tetap aja, Bukan hak kamu untuk melakukan ini pada saya. Kamu pikir kamu siapa? Kita bahkan gak saling kenal dan secara gak sopan kamu bawa saya kemari. Itu sama aja penculikan!" Jelas Luna juga tidak akan mau kalah, Karena menurutnya pria ini memang sangat bersalah.


"Ya Tuhan, Tau gitu gak aku bantu tadi. Ya udah ah, Ternyata bukan cuma pesta tadi yang ngebosenin tapi kamu juga." Pria itu lalu masuk kedalam mobilnya meninggalkan Luna yang masih berdiri ditempat itu.


"Hei.....Kamu mau kemana?" Teriak Luna mulai gelisah karena pria itu mulai menyalakan mesin mobilnya. Tanpa menjawab pertanyaan Luna, Ia langsung pergi begitu saja meninggalkan Luna yang benar-benar mulai merasa takut karena ditempat ini lumayan sepi. Terlebih ia tidak tau sedang berada dimana.


"Hati-hati disini banyak anjing liar, Kalo mau balim kepesta jalan lurus aja." Teriak pria itu yang semakin jauh dari Luna. Luna dengan cepat berlari mengejar mobil itu, Namun karena laju mobil makin cepat dan Luna memakai sepatu hills tentu ia tidak dapat mengejar mobil tadi.


"Cowok gila! Kurang ajar! Brengsek!" Teriak Luna sambil mengatur nafas yang ngos-ngosan. Luna sempat bingung dan takut, Bagaimana jika betul yang dikatakan pria tadi. Bagaimana jika ada segerombolan anjing liar yang datang?


"Apa yang harus aku lakukan?" Katanya, Suaranya mulai bergetar menahan tangisan yang ingin segera pecah.


Saat Luna mulai kebingungan, Tangannya tidak sengaja menyentuh hape yang ada dalam saku dibalik gaunnya. Ia segera mengeluarkan hape itu dan nama yang paling pertama ia ingat ialah El.


"Oh please, Tolong angkat teleponnya." Kata Luna, Kini airmata itu tidak dapat lagi ditahannya. Ia terus memohon agar El mengangkat telepon dari Luna.


Luna sudah berpuluh kali mencoba namun tidak juga ada jawaban dari El. Hawanya oun makin dingin, Membuat tubub Luna sedikit menggigil.


"Bang, Aku mohon tolong angkat teleponnya. Ya Tuhan, Tolong buat bang El menjawab telepon dariku. Aku janji akan memenuhi tiga keinginanya jika ia datang menyelamatkanku. Aku mohon." Kini Luna benar-benar terisak dan putus aja, Ia terus berjalan mengikuti arah jalan.


Tidak lama hapenya berbunyi, Dengan cepat Luna menerima telepon itu.


"Abang, Abang tolongin aku bang. Tolongin aku." Katanya merengek membuat El terkejut.


"Kamu kenapa Lun? Kamu dimana sekarang? Cepat bilang kamu dimana?" Tanya El yang sadar jika Luna tidak berada dipesta.


"Gak tau, Aku gak tau ini dimana. Disini gelap, Gak ada rumah orang, Disini juga banyak pepohonan. Aku takut...." Katanya kembali menangis ketakutan.


"Oke kamu sekarang tenang, Jangan nangis abang akan terus temani kamu. Kamu jangan takut ya, Biarin hape kamu tetap menyala Daniel lagi ngelacak keberadaan kamu. Kamu tenang ya, Jangan takut ada abang. Abang janji secepatnya jemput kamu."


Luna mengangguk dalam tangisannya, Saat ini ia benar-benar ketakutan. Salah satu hal yang paling ditakuti Luna ialah berada dalam kegelapan.


"Ketemu, Ini tempatnya." Daniel yang akhirnya menemukan keberadaan Luna langsung memberi tau El dan dengan cepat El langsung menuju tempat itu.


***


Luna terus berjalan tidak peduli dengan kakinya yang sakit karena batu-batu yang tajam. Karena jalanan berbatu Luna melepaskan sepatu hillsnya dan memilih untuk tidak menggunakan alas kaki. Sesekali ia dengar suara lolongan anjing membuatnya makin takut. Tidak lama terlihat sorot lampu dari mobil El, Luna sangat bersyukur akhirnya El menemukannya.


Setelah melihat Luna, El langsung turun dan Daniel langsung turun dari mobil. Luna yang sudah tidak tau lagi dengan perasaannya saat ini hanya bisa menangis berlari kedalam pelukan El. Ia terus menangis sambil memeluk tubuh El dan El terus menenangkannya.


"Udah, Gak apa-apa. Semua baik-baik aja, Jangan nangis lagi ya. Ada abang disini." Ucap El sambil mengusap lembut punggung Luna.


"El kita bawa Luna pulang dulu, Kek nya dia ketakutan banget ditempat ini." El mengangguk, Ia lalu membawa Luna masuk kedalam mobil, El menemani Luna duduk dikursi penumpang sedangkan Daniel membawa mobilnya.


Mereka langsung menuju kerumah El membawa Luna yang mulai merasa tenang.


Sesampainya disana, El langsung membawa Luna masuk kerumah.


"Bi, Bi irah." Panggil El


"Iya mas, Loh mba Luna kenapa mas?" Tanya bi Irah saat ia melihat keadaan Luna yang cukup kacau.


"Bi, Tolong bawa Luna kekamarnya bersihin badannya dan gantiin bajunya ya." Kata El menyerahkan Luna pada bi Irah. Bi Irah lalu membawa Luna masuk kekamarnya sesuai perintah El.


"Kenapa Luna bisa ada ditempat itu?" Kata Daniel heran.


"Apa ini kasus penculikan?" Jawab El menduga-duga. Maklum jika El memiliki banyak musuh karena pembisnis muda ini selalu menang tender membuat beberapa orang iri dan ingin menggeserkannya.


"Bisa jadi. Tapi siapa pelakunya? Gak mungkin kita tanya Luna karena Luna bener-bener syok."


"CCTV...." Kata El singkat, Disana pasti ada cctv, El berdiri ingin segera kembali ke hotel dan melihat rekaman cctv namun dihentikan Daniel.


"Luna lagi butuh lo saat ini, Serahin ke gue. Besok gue laporin ke lo hasilnya." El mengangguk lalu segera pergi kembali ke hotel.


Bersambung.......


Yeyey.......Weekend ditemani Babang El dan Daniel uuuuuuccchhhhh ngiler gak tuh?


Like like like komen komen komen jgn cuma baca doang hbs itu lgsg di out......