
Pak Restu duduk termenung sendirian diruang kerjanya masih tidak terima dengan ucapan Daniel yang sangat kurang ajar menurutnya, Bagaimana bisa ia memiliki menantu yang sangat kurang ajar dan tidak berpendidikan seperti Daniel.
Tok......Tok.....Tok.....
Pintu kerjanya lalu terbuka, Bu Fina masuk membawa segelas kopi ditangan nya. Ia meletakan kopi itu keatas meja lalu berdiri melihat kearah jendela.
"Untuk pertama kalinya mama merasa gagal sebagai orangtua. Mama pikir dengan mencukupi semua kebutuhan anak-anak mereka akan merasa bahagia, Tapi nyatanya itu semua salah. Kita terlalu banyak kehilangan waktu bersama dengan anak-anak. Kita bahkan gak tau apa makanan kesukaan mereka, Yang kita tau cuma ngasih apa yang mereka mau." Ucap bu Fina yang mulai menangis.
"Bukan anak-anak yang salah pah, Tapi kita sebagai orang tua. Dimana peran kita sebagai orangtua untuk mereka? Anak itu benar, Kita memang bukan orangtua yang baik." Sambungnya lagi, Pak Restu masih diam tanpa mengatakan apapun pada istrinya.
"Waktu itu kita sangat bahagia saat mereka hadir dalam dunia kita. Berkat mereka kita punya status sebagai orangtua, Mereka selalu menjadi anak yang membanggakan untuk kita.Rendy dengan semua peringkat kelasnya, Dara dengan prestasinya sebagai atlet voly. Mereka selalu membanggakan kita, Tapi kita, Kita gak pernah ada untuk mereka bahkan hanya untuk makan bersama dan duduk mengobrol dengan mereka."
"Cukup! Papa gak mau denger lagi tentang mereka semua.Mereka anak-anak gak tau diuntung!" Bentak pak Restu pada istrinya makin membuat hati wanita itu sakit, Ia segera pergi dari kamar suaminya karena percuma jika ia tetap bicara toh hati pria itu tetap keras membatu.
***
"Gimana hasil kerja kamu? Apa yang kamu dapat dari Barron dan teman-temannya?" Tanya El pada pria yang berpakaian serba hitam yang sedang minum segelas kopi di hadapan nya.
"Ini beberapa photonya, Dia punya beberapa jaringan penyelundupan obat-obatan terlarang dan dia bosnya." El meraih beberapa lembar photo yang diambil oleh anak buahnya itu.
"Awasi terus jangan sampai lengah." Kata El, Pria itu mengangguk mengerti perintah bosnya.
"Dan satu lagi, Mulai hari ini kirim beberapa orang untuk menjaga istri saya tapi jangan terlalu terlihat kalian hanya perlu mengawasinya dari jauh."
"Baik bos."
"Ya udah kalo gitu saya kembali dulu, Semua sudah saya bayar. Makasih atas kerja keras kamu." El lalu pergi dari tempat itu.
"Sayang kamu dimana?" Tanya El yang sedang menelepon istrinya dalam perjalanan menuju kantornya.
"Lagi temenin bunda ke salon. Kenapa?"
"Oh gak apa-apa. Kamu udah makan? Jangan sampai telat ya makannya kasian si baby kelaparan gara-gara mommy dan omanya sibuk nyalon."
"Iya, Bentar lagi selesai kok kita langsung makan. Abang udah makan siang belum?"
"Udah barusan aja. Ya udah kalo gitu, Pulangnya hati-hati ya."
"Iya, Dah."
"Dah, Love u."
"Love u too."
"Luna, El udah ngebahas masalah pernikahan belum sama kamu?" Tanya bu Mela yang masih menikmati pijatan dikepalanya.
"Pernikahan? Ummmmmm belum. Pernikahan siapa bun? Kak Daniel?" Tanya Luna bingung karena El belum sempat membahas rencana pernikahan yang diusulkan oleh bu Mela.
"Bukan, Pernikahan kamu sama El. Gini lo Luna, Saat kalian menikah kan kami sebagai orangtua El gak tau dan gak hadir kalian juga gak punya photo-photo pernikahan. Bunda niatnya pengen ngadain pesta untuk pernikahan kalian. Kamu kan tau El satu-satunya anak kami, Rasanya pengen aja liat dia duduk diplaminan." Luna mengangguk, Ia tau betul perasaan bu Mela sebagai orangtua El jika orangtua nya masih hidup tentu akan melakukan hal yang sama.
"Terus kapan niatnya mau dirayain?"
"Kamu setuju?" Luna tersenyum sambil mengangguk menyetujui permintaan ibu mertuanya. Wajah bu Mela langsung terlihat sumringah dan bersemangat.
"Kamu gak keberatan walaupun kamu lagi hamil?"
"Enggak, Lagian mumpung baru satu bulan dan belum mengalami morning sickness Luna rasa gak masalah." Bu Mela rasanya ingin segera memeluk menantu kesayangan nya itu hanya saja rambutnya sedang di creambath dan tidak memungkinkan untuknya memeluk Luna saat ini.
"Ummmmmm......Gimana kalo setelah pernikahan Daniel?"
"Kalo Luna gak masalah, Terserah bunda dan bang El aja kan yang sibuk kerja bang El." Ucap Luna tidak mau ambil pusing.
"Oke nanti biar bunda yang ngomong langsung sama El. Duh bunda jadi gak sabar pengen ngurus semuanya, Akhirnya bunda juga ngerasain yang namanya sibuk ngurus pernikahan anak. Bunda bener-bener seneng, Makasih ya." Katanya lagi tersenyum, Luna pun tersenyum pada ibu mertuanya yang sangat baik dan menyayangi nya itu.
***
Ditempat lain Daniel dan Dara disibukan oleh persiapan pernikahannya yang tinggal menghitung hari.
"Sayang, Kenapa gak nginep dirumah aku aja kan bentar lagi kita nikah." Kata Daniel manja pada calon istrinya yang sedang sibuk memoles kuku.
"Minta ijin aja langsung sama kak Rendy." Jawab Dara cuek tidak berpaling kearah Daniel.
"Ish.....Kok dia lagi? Kan kamu tau dia itu kurang lebih aja sama si El. Belum selesai ngomong yang ada aku udah dijadiin samsak buat dia." Dara tertawa mendengar keluhan Daniel.
"Makanya kamu harus banyak-banyak latihan sama kak Rendy dan bang El. Aku gak mau punya suami yang lemah, Gimana entar mau jagain aku sama anak-anak? Yang ada aku yang ngejagain dia." Mendengar hal itu Daniel yang sejak tadi sibuk mengawasi pekerja yang memasang dekor di taman hotel langsung menarik Dara dan memeluknya erat hingga wajah mereka bertatapan sangat dekat.
"Kata siapa aku lemah? Mau bukti? Apa ini belum cukup membuktikan?" Katanya dengan wajah serius sambil menyentuh perut Dara. Dara langsung menginjak kuat kaki Daniel membuat pria itu kesakitan memegangi kakinya.
"Nah tu buktinya." Ucap Dara tersenyum meremehkan calon suaminya yang kesakitan sambil memegangi kakinya itu.
"Entar ya kalo kamu udah beneran sah jadi nyonya Daniel gak bakal aku kasih ampun." Ancam Daniel, Dara hanya tertawa geli mendengarnya.
***
Akhir-akhir ini El sangat disibukan oleh pekerjaan nya dikantor. Ia juga sering pulang terlambat membuat wanitanya menunggu kadang sampai Luna tertidur di sofa.
"Dua hari lagi pernikahan Daniel, Gue belum sempat nyari hadiah buat tu anak. Aaahhhh kenapa kerjaan gue gak berkurang padahal gue kerjain mulu tiap hari, Yang bilang enak jadi CEO kerjanya cuma modal tanda tangan sini gue terapi mulutnya pakai ubur-ubur. Gak ada kerjaan yang enak didunia ini eh ada sih satu aaaaaa jadi kangen Luna gue." Katanya bicara pada diri sendiri. El kembali meraih hapenya baru dua jam setelah ia menelepon Luna disalon tadi dan sekarang ia kembali menelepon istrinya itu.
"Sayang.......Kangen kamu." Katanya manja menghilangkan lelah karena pekerjaan nya.
"Pulanglah, Aku udah dirumah nih gerah mau mandi, Mau ikut?" Jawab Luna memanasi suaminya membuat El makin tidak tenang dikantornya.
"Jangan mancing-mancing deh, Kerjaan abang masih numpuk ini. Ini juga baru jam 2 siang gak enaklah sama karyawan lain kalo abang main pulang-pulang aja."
"Ya udah kalo gitu aku mandi sendirian aja deh, Padahal mau minta tolong buat pakein lulur yang tadi baru dibeliin sama bunda disalon." Jawabnya lagi, El benar-benar gerah dengan semua ucapan Luna ia mulai melonggarkan dasinya dan mengacak rambutnya.
"Sayang, Liat aja entar kalo abang pulang ya pokoknya bener-bener gak ada ampun." Ancam El, Tapi Luna malah tertawa membuat El makin geregetan dengan istrinya.
"Apa sih? Kan aku bilang aku mau mandi terus minta tolong pakein lulur. Kalo gak bisa ya udah dong, Kok kesel sendiri jadinya?"
"Ya gimana gak kesel? Kamu ngeracunin otak abang cinta.....Yang tadinya otak abang penuh sama kerjaan sekarang jadi nyampur kan."
"Nyampur apa?"
"Ya nyampur pokoknya. Ada macam-macam kenapa mau abang sebutin?"
"Apa coba?"
"Kamu kok makin nakal sih? Serius mau denger?"
"Iya serius, Nyampur apa?"
"Ada bibir kamu, Ada leher kamu, Ada dad.....
Tok.....Tok.....Tok....
"Ish siapa sih juga ganggu aja." Gumam El yang belum selesai menyebutkan isi pikirannya pada Luna.
"Ada orang tuh didepan."
"Biarin aja lah dulu, Abang cape dari tadi kerja mulu. Baru juga ngilangin penat udah diketokin aja."
"Liat entar ya dirumah ya." Katanya El bicara dihadapan hapenya yang sudah mati.
"Masuk....." Katanya menyuruh orang yang mengetuk pintu sejak tadi untuk masuk keruangannya dan ia kembali melihat ke layar laptopnya.
"Ini pesanan bapak." Kata orang itu, Berdiri didepan pintu.
"Pesanan? Perasaan gue gak pesen apa-apa. Pes....."
"Sayang...... " Wajah El langsung sumringah saat melihat Luna sudah berdiri disana membawa sekotak kue almond yang diberikan ibu mertuanya. El menghampiri Luna dan tanpa memikirkan bahwa mereka sedang dikantor El langsung mengangkat tubuh istrinya itu membawa masuk dan mengunci pintu membuat beberapa karyawan melihat kearah mereka.
"Ih abang apaan sih, Bikin malu deh. Semuanya jadi ngeliat ke kita kan." kata Luna saat El meletakan nya di sofa.
"Jadi daritadi kamu ada didepan?"
"Iya, Sengaja kerjain abang."
"Kamu ya......." Kata El mulai menyosor bibir Luna namun Luna keburu menahannya dengan telapak tangan.
"Nih kue dari bunda, Kesukaan abang kan." Kata Luna sambil terus menahan bibir El.
"Kesukaan abang kan kamu." Katanya, Sekali tarik El langsung mendapatkan incaran nya. El langsung bermain dengan bibir Luna tidak perduli dengan para karyawan yang bertanya-tanya tentang siapa Luna karena mereka memang belum tau jika bos mereka sudah menikah.
Luna mendorong tubuh El, Ia kehabisan nafas saat pria itu menggeluti bibirnya.
"Ini dikantor, Jaga sikap ya." ucap Luna membuat El tertawa lalu memeluknya.
"Kantornya siapa?" Kata El merasa menang.
"Iya tapi kan tetap aja ini lagi ditempat kerja." El lalu melihat kearah Luna.
"Emang ini tempat kerja siapa?"
"Terserah deh, Namanya juga bos mana bisa dilawan." Kata Luna pasrah membuat El tertawa.
"Kalo gitu kita lanjutin lagi yuk....." Katanya mulai kembali mendekati Luna.
"Gak!" Jawab Luna tegas membuat wajah El masam.
"Oh iya abang capek gak entar pulang kerja?"
"Kenapa emang? Kalo kamu minta pakein lulur abang siap. Biarpun abang cape abang tetap kuat kok."
"Ish apaan sih daritadi pikirannya vulgar banget." Ucap Luna sambil menjewer telinga El.
"Ya terus?"
"Kita kehotel yuk.....
"Ayo....." jawab El semangat mendengar hotel.padahal Luna belum menyelesaikan ucapannya.
"Hotel tempat resepsi kak Daniel dan Dara, Makanya dengerin dulu." El membuang nafas lesu, Ia pikir istrinya ingin mengajaknya untuk tidur dihotel.
"Ngapain? Males sih ketemu Daniel." Katanya tidak semangat sambil memakan kue yang disuapkan Luna kemulutnya.
"Ada yang mau aku bahas sama Dara."
"Ummmmm bisa.....Tapi....."
"Tapi apa?" Tanya Luna mengernyitkan alisnya melihat wajah El yang tersenyum memiliki niat tersembunyi.
"Tapi......" El lalu membisiki telinga Luna dan sontak membuat Luna kembali menjewer telinga El..
"Bener-bener mesum banget sih sekarang." Katanya sambil melepaskan tangannya dari telinga El lalu mencium bibir El sontak El tersenyum bahagia.
"Kalo gitu ayo kita lanjutin." Tanpa perduli lagi El langsung melumat bibir Luna kembali namun kali ini Luna mengalah dan menerimanya. Bibir El mulai turun menjelajahi leher putih Luna tangannya juga terus bermain ria didada istrinya membuat Luna sekekali mendesah membuat El makin menjadi.
"Stop!" Kata Luna menghentikan El saat El sedang bermain dikedua dada Luna. Ia langsung menjauhkan wajah El dari sana dan membetulkan bajunya membuat El merasa kecewa.
"Serius deh ini dikantor, Aku gak mau macem-macem ditempat ini. Diluar sana gak sedikit manusianya kalo mereka denger gimana?" Kata Luna memberikan penjelasan yang masuk akal tapi karena junior El sudah terlanjur bangun dibawah sana dan menuntut pertanggung jawaban dari Luna. El langsung menggendong Luna membawanya mendekati lemari buku besar, Dan setelah menggeser sebuah buku tebal berwarna hijau lumut lemari itu menggeser menampilkan sebuah ruangan besar lengkap dengan tempat tidur, Kulkas dan kamar mandi. Lebih mirip seperti kamar pribadi, Luna melihat bingung kearah El tidak percaya dengan semua yang dilihatnya.
"Ruang rahasia, Cuma abang dan Daniel yang tau dan sekarang kamu juga tau." katanya tersenyum sambil membawa masuk Luna keruangan itu lalu pintu tertutup otomatis.
"Ta.....Tapi nanti kalo mereka denger..." Ucap Luna berusaha membuat alasan agar suaminya tidak melakukannya ditempat itu.
"Ruangan ini kedap suara, Dari dalam kita bisa liat keluar dengan jelas tapi orang dari luar gak bisa liat kita walau cuma bayangan gak akan keliatan." Ucapnya lagi menunjuk kerah jendela kaca yang sangat lebar. Tidak mau menunggu lebih lama dan mendengar 1000 alasan dari Luna ia langsung membuka semua pakaian Luna yang kini benar-benar bugil tidak memakai sehelai benangpun ditubuhnya. El juga melepaskan kemeja nya dan celana panjangnya, Luna tersenyum melihat suaminya selama hamil ia sangat senang melihat tubuh El tanpa mengenakan baju apalagi saat pria itu berkeringat.
Luna menarik El membawanya keatas tubuhnya lalu menciumi dada pria itu membuat El memejamkan matanya menikmati tiap sentuhan lidah Luna didadanya...... Terkadang Luna iseng menghisap ** milik El membuat El merasa sangat tegang. El yang sudah tidak tahan lagi sudah bersiap memasukan miliknya kedalam sana, Namun Luna menjauh membuat pria itu menyipitkan matanya.
Luna tersenyum nakal sambil memainkan jemarinya diwajah El menyusuri tiap wajah El dengan telunjuknya dengan pelan. El yang merasa nafsunya kian memuncak bahkan hanya sentuhan dari jari telunjuknya saja membuat El merasa gila.
"Stop playing around baby, I can't take this anymore."Ucapnya membuat Luna makin merasa senang mempermainkan nafsu El.
"I want us to play before we do it." Jawab Luna diselingi senyuman nakal membuat El merinding menahannya. Luna lalu membalikan tubuhnya, Kini ia yang berada diatas tubuh El. Luna kembali memainkan ** milik El membuat pria itu sangat kenikmatan.
"I swear I can't hold it anymore. You make me Crazy." El membalik tubuh Luna dan langsung memasukan miliknya kedalam ruang pribadi Luna membuat gadis itu tersentak sedikit menahan sakit. El menunggu Luna merasa nyaman sebelum melanjutkan gerakannya. El sangat menghormati wanita bahkan saat sedang bercinta pun ia tidak mau merasa kenikmatan itu hanya miliknya.
***
Setelah mendapatkan banyak energi dari Luna, El sangat bersemangat membawanya ke hotel untuk bertemu Dara.
Hotel ini milik El, Jadi jangan heran jika ia seperti raja saat datang kemari.
"Gimana persiapannya udah kelar?" Tanya El menghampiri Daniel yang sedang memainkan game online yang menjadi trending nomer 1 saat ini. Sedangkan Dara dan Luna sudah tertawa ria entah apa yang sedang dibahas oleh dua wanita hamil yang berjarak 1 bulan itu.
"Seperti yang lo liat." Jawabnya singkat, Merasa diabaikan El sengaja menyenggol kuat tangan Daniel saat ia lewat hingga hape Daniel terjatuh.
"WOI! Sialan lo, Ah knock down kan jadinya lo sih rese!" Protes Daniel kesal karena permainannya terganggu dan terpaksa terhenti karena ulah El, El hanya tersenyum puas melihat Daniel.
"Lo ngapain kesini? Mau ngebantuin atau ngerusuhin?" Katanya menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
"Gue cuma mau nganter istri gue, Dia mau ketemu Dara. Gak ada urusan sama lo."
"Ya udah kalo gitu santai, Jangan ngerusuhin orang main game. Makanya sekali-kali main game juga biar gak cepet tua, Istri lo masih muda entar lo udah kek om-om yang suka booking ayam kampus."
"Gue terbiasa hidup sehat gak bakal cepat tua. Yang ada elu yang cepat tua, Kerjaan ngerokok, Minum, Main game kerja bentar ngilang cari aja di club pasti ada tuh teriak-teriak gak jelas nyanyi-nyanyi, Joget-joget sama perempuan-perempuan yang sama gak jelasnya sambil teler pula." Kata El namun dengan suara nyaring agar terdengar oleh Dara dan itu sukses Dara kini sedang melihat tajam kearah Daniel dengan tatapan yang sangat mengerikan menurut Daniel.
"Lo bangke banget sih jadi orang, Sumpah rasa pengen gue mutilasi itu lidah biar gak ngomong sembarangan lagi. Tarik lagi ucapan Lo atau gue bongkar kebiasan lo yang suka loyal ke cewek-cewek." Kata Daniel setengah berbisik agar tidak terdengar oleh Dara.
"Itu dulu waktu awal gue jadi bos." Bantah El cepat sebelum ia juga membuka suara.
"Cepat atau gue hasut Luna!" Kata Daniel penuh penekanan.
"Tapi itu dulu, Hahahaha iya kan Dan itu dulu banget. Kalo sekarang sih gue selalu liat lo dikantor kerja serius dan tekun, Gigih dan ulet." Kata El meralat ucapannya sebelum Daniel membongkar rahasia El pada Luna.
"Ia lah, Apa lagi sekarang kan gue udah punya belahan jiwa dan bakal jadi calon ayah jadi gue harus rajin, Gigih, Tekun dan ulet dalam bekerja." Tambah Daniel, Membuat Dara memutar kedua bola matanya mendengar bualan Daniel.
"Jangan lupa lo juga punya banyak rahasia yang gue simpan, Jadi jaga baik-baik mulut lo ya bos." Kata Daniel pelan, El hanya tersenyum kaku menggapinya.
Bersambung.......