
Mereka benar-benar menikmati waktu libur bersama keluarga, Hal yang jarang terjadi dan jarang bisa mereka lakukan karena kesibukan mereka dikantor dan ini adalah hari kedua mereka ditempat itu.
"Van, Kenapa sih kamu nyebelin jadi orang?" Tanya Zea santai dan cuek sambil bermain masakan dengan Davin yang dipaksanya ikut menemani.
"Apa sih? Pertanyaan kamu itu terlalu aneh untuk dijawab tau gak." Jawan Devan yang sibuk main dengan game online nya.
"Kamu itu nyebelin banget jadi orang. Beda sama bang Davin padahal kan kalian kembar, Harusnya kalian punya sikap yang sama juga dong."
"Davin itu terpaksa ikut kamu mainan masakan daripada kamu nangis terus ngadu sama semua orang, Mending dia ikutin aja mau kamu." Mendengar hal itu Zea langsung memasang wajah kesal.
"Abang kepaksa main sama aku?" Tanya Zea melihat kearah Davin.
"Eng.....gak, Gak kok hehe." Jawab Davin serba salah, Jika boleh jujur ia memang terpaksa tapi ia tidak ingin membuat Zea kecewa.
"Tuh dengerin, Dasar nyebelin bilang aja kamu iri kan mau ikutan main juga." Sahut Zea merasa menang. Devan hanya mengolok Zea dengan mengikuti semua ucapan Zea tanpa suara.
"Daripada kalian ribut mulu, Ikut ayah sam daddy yuk. Kita mancing di danau belakang villa." Mendengar hal itu Zea dan Davin bersorak kesenangan dan langsung berdiri dari tempat duduknya sedangkan Devan masih asik dengan game di hpnya.
"Devan, Kamu gak ikut?" Tanya Daniel melihat anaknya tidak berdiri dari tempat duduknya.
"Gak ah yah, Mancing itu ngebosenin iya kalo dapat ikan kalo gak? Udah nunggu lama gak dapat apa-apa kan namanya buang waktu." Ucap Devan membuat alasan yang cukup masuk akal.
"Ayo van, Daripada main game mulu sama aja dong kek dirumah." Ajak Davin yang tidak kalah bersemangat karena daripada harus main masak-masakan lebih baik jika ia ikut Daniel dan El memancing.
"Biarin aja yah Devan gak ikut, Kalo ada dia entar malah gak dapat ikan soalnya dia kan suka ribut sendiri." Celetuk Zea yang sudah berada dalam gendongan Daniel serasa hanya ia anak dari kedua keluarga itu.
"Bisa diem gak sih? Daritadi ngomong mulu." Sahut Devan kesal tanpa beranjak dari tempat duduknya.
"Serius gak mau ikutan?" Tanya Daniel lagi memastikan.
"Iya......Devan mau disini aja." Akhirnya mereka bertiga pergi tanpa Devan.
Sesampainya di kolam belakang El sudah Menunggu disana sambil menyiapkan alat pancing.
"Daddy...." Teriak Zea turun dari gendongan Daniel dan berlari kearah ayah kandungnya.
"Loh bang Devan gak ikut?" Tanya El seraya memeluk anaknya.
"Gak dad, Dia sibuk main game." Sahut Zea. Merekapun mulai memancing disebuah danau tepat di belakang villa. Villa dengan suasana pedesaan yang masih asri. Diantara banyaknya villa milik almarhum pak Bram, El sengaja memilih villa ini karena letaknya yang jauh dari pusat kota. Ia ingin meninggalkan suasana hiruk pikuk kota yang tidak pernah tidur selama 24 jam. Cukup lama mereka berada ditempat itu hingga membuat gadis kecil itu merasa bosan.
"Ternyata bener kata Devan, Mancing itu ngebosenin." Celetuk Zea sambil berjalan-jalan sendirian disekitar kolam dengan membawa sebilah kayu kecil ditangan nya.
"Daddy, Zea balik ke villa ya." Teriak Zea yang berniat ingin segera kembali ke villa.
"Iya, Hati-hati ya sayang jangan lari-lari." Sahut El yang masih asik memancing bersama Daniel karena sudah lama sekali mereka tidak melakukan hal tersebut.
Zea pum berjalan kearah Villa namun perhatiannya dialihkan oleh kelompok kupu-kupu yang beterbangan ditempat itu. Maklumlah gadis kecil itu tumbuh besar dikota dan dikota tempat yang ia tinggali sangat sulit untuk melihat hewan-hewan yang populasinya mulai berkurang seperti yang dilihatnya saat ini.
Karena sangat senang dengan hewan cantik bersayar rapuh itu Zea terus berjalan mengikuti kupu-kupu tersebut dan tentu hal itu membawanya makin jauh dari tempat pemancingan juga villa yang mereka tempati.
Gadis itu terus berlari kecil sambil tersenyum kagum melihat warna-warni dari sayap hewan penghisap madu itu.
"Aku dimana? Daddy, Ayah, Bang Davin." Teriak Zea yang akhirnya sadar jika ia sudah terlalu jauh masuk kedalam sebuah hutan lindung. Gadis itu mulai ketakutan, Ia terus berteriak memanggil nama semua anggota keluarganya sambil terus berjalan kesembarang arah.
"Mommy, Daddy Zea takut. Zea gak tau arah pulang." Ucapnya mulai menangis, Disekitarnya ia hanya melihat pepohonan besar membuatnya makin merasa takut berlama-lama ditempat itu.
"Daddy, Jemputin Zea. Ayah, Bunda bang Davin, Devan." Katanya terus berteriak sambil menangis. Bahkan saat ini ia tidak memakai jam tangan miliknya yang mampu menunjukan lokasinya saat ini pada kedua orangtuanya. Lelah berputar-putar ditempat itu akhirnya ia duduk disebuah batang pohon yang tumbang. Ia terus menangis disana sambil memanggil semua orang.
"Zea, Kamu ngapain disini sendirian?" Suara itu langsung membuat tangisan Zea berhenti. Ia mengangkat kepalanya dan langsung berlari kearah orang tersebut yang tidak lain adalah Devan. Zea memeluk Devan sambil terus menangis ketakutan.
"Aku tersesat gak tau arah pulang, Aku takut." Katanya dalam pelukan Devan. Devan mengusap lembut punggung Zea yang sudah menangis sesegukan.
"Udah jangan nangis lagi. Kan ada aku, Udah ya. Kita gak tersesat kok." Katanya menenangkan Zea, Namun tetap saja yang namanya anak perempuan bila sudah menangis paling sulit untuk ditenangkan.
"Udah, Diam jangan nangis lagi. Aku mau tunjukin sesuatu sama kamu tapi kamu janji berenti dulu nangisnya." Mendengar hal itu Zea berusaha menghentikan tangisannya lalu melepaskan pelukannya dari Devan dan Devan membantu mengusap airmata Zea.
"Apa? Tapi aku mau pulang. Aku gak mau disini, Takut." Kata Zea meraih tangan Devan dan memeluknya erat.
"Kita mau kemana? Kalo kita tersesat makin jauh gimana? Kalo ada hewan buas gimana? Terus kalo ada orang jahat dan kita diculik gimana? Aku takut, Ayo kita pulang." Rengek Zea benar-benar merasa ketakutan saat ini.
"Zea, Ini villa kakek kamu. Tempat ini dijaga sama anak buah kakek kamu, Disini aman percaya deh sama aku." Katanya lagi sabar menenangkan Zea. Sikapnya lebih dewasa saat ini dibanding biasanya yang tidak mau kalah dari Zea.
Zea mengangguk, Ia bisa tenang saat ini dan terus mengikuti Devan yang entah ingin membawanya kemana. Mereka terus berjalan hingga berhenti disuatu tempat, Tempat itu ditumbuhi rumput yang menjuntai mirip seperti tirai raksasa. Devan ingin melangkah masuk kedalam sana, Namun dihentikan oleh Zea.
"Ini tempat apa?" Tanya Zea lagi.
"Gak apa-apa. Aku udah pernah kesini sebelumnya, Ini tempat kesukaan nenek dan kakek kamu dulunya." Jawab Devan santai tidak merasa takut sedikitpun.
"Serius? Kamu tau darimana?" Tanya Zea lagi yang masih ragu.
"Ku rasa begitu karena disana banyak ukiran nama kakek dan nenek kamu. Ayo kita masuk, Tempa ini aman kok. Kamu pasti suka." Bujuk Devan lagi, Zea berpikir sebentar. Disamping rasa takutnya ia juga merasa sangat penasaran akan hal itu.
"Ya udah aku ikut kamu." Katanya, Devan tersenyum lalu mereka masuk kedalam sana. Seketika mata Zea terbuka lebar begitu juga dengan mulutnya yang menganga melihat pemandangan yang ada ditempat itu. Tempat itu mirip sebuah taman ditumbuhi berbagai bunga berwarna-warni, Disana juga ada sungai kecil yang airnya sangat jernih serta sebuah bangku taman. Karena tempat ini dipenuhi bunga, Maka ditempat ini juga dipenuhi oleh kupu-kupu berwarna-warni yang beterbangqn diatas bung-bunga itu serta diatas kepala mereka berdua.
Zea melepaskan pegangan tangan dari Devan. Ia benar-benar kagum dengan tempat ini, Matanya berbinar melihat di sekelilingnya.
"Gimana? Bagus kan?" Tanya Devan ikut tersenyum melihat Zea.
"Kamu tau tempat ini darimana?" Tanya Zea sambil berjalan mendekati taman bunga.
"Kemaren pas bosan aku jalan-jalan dan gak sengaja nemuin tempat ini, Coba deh kamu kesini." Devan lalu menarik tangan Zea menuju sebuah pohon besar.
"Coba liat, Nama kakek kamu kan?" Katanya lagi memperlihatkan ukiran lama yang tertutup oleh lumut hijau. Disana tertulis nama Bram dan Hanum nama kakek serta nenek Zea. Zea tidak henti-hentinya mengugumi tempat itu membuatnya lupa dengan semua rasa takut yang ia rasakan sebelumnya.
"Kamu bawa apa dalam ransel itu?" Tanya Zea menunjuk kearah ransel milik Devan. Devan baru ingat tujuannya datang ketempat ini, Ia.ingin melukis tempat ini karena besok mereka harus pulang ke kota.
"Oh ini, Aku bawa alat lukis soalnya besok kita udah balik ke kota dan disana gak akan pernah ada tempat seperti ini. Makanya aku pengen ngelukis dan hasilnya mau aku pajang dikamar." Kata Devan mulai mengeluarkan alat lukis miliknya. Walau ia baru berusia 7 tahun, Tapi karena disekolahkan di sekolah mahal dan berbasis internasional tidak heran jika ia pandai melukis dan bermain musik karena disekolah itu mereka diajarkan untuk menguasai pelajaran-pelajaran tersebut.
"Ya udah kamu buruan deh ngelukianya, Aku mau liat kupu-kupunya." Kata Zea tersenyum manis, Ini kali pertama Zea menunjukan senyum tulus dan manisnya pada Devan biasanya mereka hanya saling memasang wajah masam satu sama lain. Devan pun sama, Ia tersenyum lalu mulai mengerjakan lukisan nya.
Sementara Devan melukis pemandangan tempat itu, Zea sedang asik bermain dengan kupu-kupu yang jumlahnya sangat banyak. Ia benar-benar bahagia saat ini, Ini pertama kalinya ia bermain langsung dengan hewan yang biasa ia temui berupa gambarnya saja dan hari ini ia bisa melihat langsung bahkan beberapa ekor kupu-kupu hinggap diatas kepalanya.
"Udah ngelukisnya?" Tanya Zea saat Devan sudah berkemas dan menghampirinya.
"Udah, Kita balik sekarang yuk sebelum dicariin." Ajak Devan, Zea mengangguk menuruti ucapan Devan.
"Eh tunggu sebentar." Katanya lagi sebelum pergi dari tempat itu.
"Kamu bawa gunting gak?" Tanya Zea, Devan mengangguk lalu mengeluarkan gunting yang selalu ia bawa.
"Kamu mau ngapain?" Tanya Devan heran namun Zea diam tidak menjawab pertanyaan Devan. Ia malah asik dengan pekerjaan yang ia kerjakan. Karena penasaran Devan menghampiri Zea dan melihat yang dikerjakan gadis kecil itu.
"Itu apa?" Katanya lagi bertanya pada Zea penuh rasa ingin tau.
"Ini nama kita, Nanti kalo kita udah besar kita balik ya kesini terus kita liat apa ukiran ini bakalan terus ada kek nama bigbos dan oma." Jawab Zea polos membuat Devan tersenyum.
"Usah selesai, Ayo kita pulang." Ucap Zea sambil memberikan gunting yang ia pakai untuk mengukir namanya dipohon yang sama tertulis nama pak Bram dan ibu Hanum.
"Kok namaku jadi Davan?" Protes Devan saat melihat hasil karya Zea.
"Itu E bukan A. Kan sulit nulis dipohon kayu, Udah gak apa-apa yang tau kan cuma kita berdua." Jawab Zea, Devan mengangguk setuju dengan ucapan Zea. Mereka lalu kembali pulang karena hari sudah mulai sore dan takut jika para orang tua mereka khawatir.
"Zea....." Panggil Devan saat mereka sudah keluar dari hutan dan berjalan menuju villa.
"Aku punya sesuatu buat kamu." Kata anak laki-laki itu, Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Ini buat kamu." Katanya lagi memakaikan sebuah mahkota bunga dikepala Zea.
"Cantik banget, Ini kamu yang bikin?" Tanya Zea sangat menyukainya. Devan tersenyum dan mengangguk.
"Makasih ya. Aku bakalan simpan terus mahkota ini biar aku selalu inget tempat indah tadi." Kata Zea tersenyum begitu juga dengan Devan. Setelah itu mereka kembali ke villa.
Bersambung