Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Cemburu



Dara mendengus kesal, Ia tidak percaya ia melakukan nya dengan Daniel.


Setelah El membawa Luna masuk dan Clara juga mengganti baju, Daniel dan Dara asik ngobrol sambil minum wine dan akhirnya mereka mabuk. Daniel meminta supir untuk mengantarnya pulang bersama Dara. Tidak tau bagaimana awalnya namun mereka berdua berakhir diranjang Daniel dengan tubuh yang sama-sama tidak mengenakan pakaian.


Tidak lama Daniel keluar dari kamar mandi ia hanya mengenakan handuk yang melilit ditubuhnya dan tersenyum pada Dara, Namun Dara buru-buru membuang muka.


"Kamu yakin gak mau mandi dulu?" Tanya Daniel membuka lemari pakaiannya bersiap untuk ke kantor.


"Gak! Sekarang cepat ambilin baju aku diruang tamu. Aku mau ke kampus!" Jawab Dara ketus tidak perduli. Daniel tersenyum melihat Dara.


"Kamu yakin mau ke kampus pakai pakaian seminim itu? Gak takut tanda sisa tadi malam keliatan semua?" Dengan cepat Dara menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut milik Daniel hingga kepala dan hanya menyisakan wajahnya.


Daniel tertawa melihat gadis itu, Ia juga berpikir heran bagaimana bisa ia jatuh kedalam pelukan gadis ini.


"Tenang aja, Aku dah siapin baju buat kamu. Aku saranin sih mending kamu mandi dulu baru ke kampus. Kamu gak risih sama badan kamu yang lengket?" Dara langsung melempar bantal yang ada disampingnya kearah Daniel namun Daniel menghindar dengan cepat dan tertawa lucu.


"Aku tunggu diruang makan." Daniel keluar dari kamarnya siap untuk pergi kekantor.


"Aaaaaaa! Sialan tuh cowok mesum! Kok bisa sih gue sama dia.....**** **** ****." Rutuk Dara memukuli kepalanya sendiri. Ia meraih handuk dan baju yang disiapkan oleh Daniel untuknya lalu pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri.


***


Luna membuka matanya, Ia tersenyum melihat El yang masih tertidur disampingnya.


"Kok aku baru sadar kalo abang itu ganteng." Ucapnya dalam hati menyentuh pipi El membuat El terbangun membuka matanya.


"Aku lagi gak mimpi kan?" Ucap El parau menyentuh pipi Luna. Luna tersenyum membuat El membawanya dalam pelukan dan mengecup keningnya.


Tok......Tok.....Tok.....


"El.....Kamu udah bangun?" Clara mengetuk pintu kamar El, dan membuat Luna terlihat bingung. Ia segera bangun dan menutupi tubuh bugilnya.


"Gi.....Gimana dong?" Tanya Luna, El sebenarnya ingin mengakui hubungannya dengan Luna didepan semua orang tapi sepertinya Luna masih belum siap.


"Ya udah kamu disini aja, Biar abang yang pergi kekamar kamu lewat balkon. Kalo dia tanya bilang aja kita lagi tukeran kamar." Bukan El namanya jika ia tidak bisa mengatasi masalah. Luna mengangguk cepat menuruti semua ucapan El. El mengenakan celananya lalu pergi ke balkon.


"Luna....." Panggil El sebelum melompat. Ia menunjuk dada Luna yang menyisakan bercak merah sisa tadi malam. Dengan cepat Luna menutupi tanda merah itu, Ia membungkus rapat tubuhnya sebelum membuka pintu.


Luna menarik nafas panjang lalu berjalan kerah pintu dengan langkah malas seperti orang yang masih ingin tidur.


"Loh Luna, Kok kamu ada dikamar El?" Ucap Clara heran saat pintu terbuka. Luna menutup mulutnya dan menguap ia juga mengucek sebelah matanya.


"Oh, Kita lagi tukeran kamar. Tadi malam aku salah masuk." Ucap Luna berprilaku seperti orang yang sedang mengantuk berat. Clara celingak celinguk melihat isi kamar El.


"Loh itukan kemeja El, Kok bisa ada disini?" Luna sempat kaget karena ia lupa menyimpan baju El dan baju miliknya yang berserakan di sembarang tempat.


"Hehehe tadi malam aku gak sengaja muntah di bajunya bang El, Dia buru-buru ngelepas bajunya dan marah-marah nyuruh aku nyuci karena bi Irah gak ada." Alasan Luna kali ini masih masuk diakal, Dan Clara percaya.


"Oh, Ya udah sini biar aku yang cuci." Clara ingin masuk ke kamar El dan mengambil kemeja El namun Luna lebih dulu mencegahnya.


"Enggak-enggak. Biar aku aja, Ummmmm biar gimana pun ini semua karena salahku. Aku juga udah kasar sama kakak tadi malam. Maafin aku ya." Kata Luna, Clara tersenyum dan mengangguk sambil menepuk bahu Luna.


"Kamu dibawah pengaruh alkohol tadi malam, Tapi kamu udah baikan kan sama El? Aku jadi gak enak, Karena El ngebela aku sampai-sampai dia marahin kamu."


"Its oke, No problem. Entar juga kita baik sendiri." Jawab Luna santai namun terlihat cemburu.


"Ya udah kalo gitu aku mau bangunin El dulu ya." Luna mengangguk lalu Clara pergi dari kamar El menuju kamar Luna. Luna menutup pintu kamar El dan segera mengenakan pakaiannya.


"El.....Kamu masih tidur? Aku masuk ya." Clara langsung menarik gagang pintu kamar Luna dan disana terlihat El yang masih tidur tengkurap tidak memakai baju. Clara tersenyum dan menghampiri El.


"El.....Kamu gak kekantor? Udah jam 8 loh. Aku juga udah buatin sarapan untuk kamu." Melihat El yang tidak merespon, Clara mendekati El ingin membangunkannya


El saat ini sedang pura-pura tidur, Ia berharap Clara segera keluar dari kamar itu.


"Abang.......Buruan bangun, Aku mau mandi mau berangkat kuliah!" Teriak Luna nyaring membuat Clara menutup kedua telinganya dan El langsung terbangun.


"Clara....." Kata El pura-pura baru tau keberadaan Clara disini.


"Iya, Tadi niatnya aku mau bangunin kamu karena ini udah siang. Tapi berkat suara ade kamu, Kamu bangun." Luna langsung menyelonong masuk datang diantara mereka berdua dengan tatapan datar.


"Ya udah kalo gitu aku kekamar dulu mau siap-siap." El yang merasa tertekan dengan tatapan Luna yang seakan ingin menjambak nya saat ini juga langsung bergegas pergi menuju kamar nya sendiri meninggalkan Luna dan Clara.


"Kakak mau tetap disini? Aku juga mau mandi soalnya." Kata Luna mengusir Clara secara tidak langsung.


"O.....Oh iya, Aku tunggu dimeja makan." Clara langsung pergi dari sana memikirkan sikap Luna yang makin hari makin terasa jutek padanya.


***


Dara yang saat ini sudah selesai bersiap segera keluar dari kamar Daniel. Daniel menyambut nya dengan senyuman saat Dara melihat kearahnya.


"Kamu mau kemana? Kita sarapan dulu." Ucap Daniel melihat Dara yang tidak mau menghampirinya ke meja makan.


"Gak lapar." Jawab Dara singkat, Ia tetap berjalan menuju pintu utama. Daniel tersenyum melihat sikap sombong Dara.


"Kamu gak penasaran kalo seandainya Luna tau tentang tadi malam." Ucap Daniel sukses menghentikan langkah Dara. Ia berbalik melihat kearahnya dengan tatapan ingin segera membunuh pria yang duduk santai menikmati makanan didepannya ini.


"Hanya perlu menuruti semua keinginanku, Maka semua itu akan tetap menjadi rahasia kita berdua." Dengan cepat Dara melangkah mendekati Daniel dengan wajah merah marah, Ia memukul meja hingga piring dan sendok juga gelas mengeluarkan suaranya masing-masing.


"Gue gak percaya kalo bang El selama ini berteman sama orang brengsek kek lo!" Katanya marah. Mendengar itu Daniel hanya tersenyum sambil memotong roti dihadapannya.


"Kamu pikir sesempurna itu kah El? Keputusan ada ditangan kamu, Aku gak maksa tapi kamu jelas tau akibatnya." Dengan terpaksa dan menahan emosi Dara mau tidak mau duduk untuk sarapan bersama Daniel. Daniel tersenyum penuh kemenangan melihat Dara yang akhirnya menurut padanya.


"Maaf bukan karena aku jahat atau sengaja menjebak mu dalam semua ini, Aku hanya ingin kamu bertahan denganku, Tidak melupakan semua begitu saja. Maaf jika membuatmu marah. Aku hanya tidak ingin kamu menjauh itu saja." Ucap Daniel dalam hati melanjutkan sarapannya.


***


"Ummmmm El, Kamu sama Luna udah baikan?" Tanya Clara saat menikmati sarapan. El mengangguk menjawab pertanyaan Clara.


"Tapi aku kok ngerasa banget ya, Makin hari dia makin jutek sama aku. Apa karena dia gak suka aku tinggal disini?" El meletakan sendoknya mendengar ucapan Clara, Tentu ia tidak ingin Clara merasa seperti itu tapi ia juga mengerti perasaan Luna.


"Akhir-akhir ini dia mengalami masa yang sulit. Maaf ya, Tapi aslinya dia baik kok." Jawab El meyakinkan Clara agar ia tidak lagi merasa jika Luna sangat menolak keberadaannya.


"Sorry lama nunggu." Kata Luna saat ia datang dan langsung bergabung dengan El dan Clara.


"Gak apa-apa, Abang juga baru makan kok." Jawab El lemah lembut sambil tersenyum manis pada Luna membuat Luna menundukan kepalanya menyembunyi kan senyumannya.


"Kamu masih aja sih kek dulu, Kalo makan telur ceplok pasti yang putihnya disisain." Kata Clara sambil memberikan telur baru untuk El membuat Luna menatap kearah mereka berdua dengan tajam. El yang tau emosi Luna bingung harus berbuat apa saat ini seandainya Luna mengijinkan nya untuk memberitahu Clara tentu ini tidak sulit.


"O.....Oh ma.....Makasih ya." Ucap El ragu, Clara tersenyum pada El menunjukan senyum paling manis pada pria itu membuat Luna mendesis kesal.


Setelah selesai sarapan, El langsung ingin pergi mengantar Luna ke kampus tapi lagi dan lagi Clara ada ditengah mereka berdua seakan tidak memberi waktu untuk pasangan yang sedang dimabuk cinta itu.


"El, Aku bisa minta tolong gak anterin aku ke studio sekarang juga? Urgent." Katanya saat Luna ingin masuk kedalam mobil. El langsung melihat kearah Luna yang terlihat kecewa.


"Kita ke kampus bentar anterin Luna ya." Kata El menengahi.


"Muter dulu dong? Ya udah deh tapi cepet ya." Clara langsung membuka pintu mobil depan dan duduk disebelah El. Luna benar-benar merasa kesal dengan ulah Clara, Mau tidak mau ia duduk di kursi penumpang dengan wajah yang nyaris tidak tersenyum sepanjang jalan walau El memperhatikannya dari kaca.


"Ummmm......Nanti ab...." Belum sempat El menyelesaikan ucapannya Luna buru-buru turun membanting pintu mobil keras. El hanya bisa menghela nafas, Lalu pergi mengantar Clara.


***


Tintt....Tinnnttt.....Suara klakson mobil menghentikan langkah Luna, Ia melihat kearah mobil berwarna hitam pekat itu.


"Kak Daniel, Dara....." Ucap Luna heran melihat Dara yang diantarkan oleh Daniel. Daniel tersenyum pada Luna dan dibalas Luna dengan senyum, Tapi tidak dengan Dara yang juga terlihat sangat kesal keluar dari mobil membanting kuat pintu mobil itu hingga Daniel memicingkan matanya.


"Kok bisa kamu sama dia?" Tanya Luna saat Dara menghampirinya.


"Kebetulan aja." Sahut Dara malas dan singkat.


"Kok tumben pakaian kamu begini? Biasanya kamu paling gak suka pakai baju yang ketutup full gini." Dara menghentikan langkahnya melihat tajam kearah Luna.


"Jangan banyak tanya dulu ya, Lagi bete parah ini sumpah. Entar kalo kepala aku udah dingin hati aku dah sejuk baru kita bahas masalah kostum ku hari ini." Luna hanya mengangkat kedua bahunya menanggapi permintaan Dara. Mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan menuju kelas dengan masing-masing pikiran yang kacau.


***


Berbeda dengan kedua sahabat tadi yang merasa kesal pada Daniel dan El, Daniel dan El malah kegirangan saat mereka sampai dikantor.


"Morning brother." Ucap Daniel saat bertemu El di lobi, Sama halnya dengan Daniel El juga menyapanya dengan hangat dengan senyum yang membuat para wanita di kantor itu merasa ingin menculiknya.


"Lo....Tumben muka lo cerah banget hari ini. Kenapa?" Tanya El, Daniel hanya tersenyum memegangi telinganya.


"Lo sendiri? Biasanya muka lo kusut, Hari ini tumben senyum mulu bikin semua cewek dikantor pada ribut." Balas Daniel, Sama halnya dengan Daniel El hanya tersenyum tanpa mengatakan alasan nya merasa sangat bahagia saat ini.


***


"Huuuffttt........Aku gak semangat banget hari ini." Kata Dara malas-malasan merebahkan kepala diatas meja sambil memainkan pulpennya saat jam kuliah selesai.


"Aku juga." Jawab Luna menyusul Dara, Merebahkan kepalanya di atas meja.


"El lagi apa sih? Kok dia gak ada kabarin aku? Apa dia masih sama Clara? Apa aku chat duluan aja ya." Ucap Luna dalam hati sambil melihat hapenya.


"Kamu udah izin belum sama bang El? Besok kan kita ke bandung."


"Aku belum sempat bilang. Dia sibuk terus, Kalo pas lagi gak sibuk dia ngobrol sama Clara."


"Terus entar kalo kamu ke kandung, Berarti bang El cuma beduaan aja dong sama Clara dirumah itu." Mendengar ucapan Dara, Luna langsung mengangkat kepalanya tidak terima jika sampai itu terjadi.


"Gak.....Gak boleh! Mereka gak boleh beduaan dirumah."


"Iya, Mereka emang gak boleh beduaan dirumah. Apalagi kamu tau sendiri si Clara itu nempelin bang El mulu......Ih sumpah kesel banget liatnya, Emang El punya nya apa." Tambah Dara, Sebenarnya Dara tidak memprovokasi Luna ia hanya menyampaikan kekesalan yang melihat Clara selalu menempel pada El padahal sikap Dara yang menyukai El cukup terlihat jelas.


Dengan cepat Luna berdiri dari tempat duduknya membawa hapenya menuju toilet.


"Loh, Luna kamu mau kemana?" Teriak Dara namun tidak dihiraukan Luna. Luna terus menghubungi El namun tidak juga diangkat membuat pikirannya makin frustasi memikirkan hal yang tidak-tidak.


"Hallo.....Kenapa Lun?" Hingga akhirnya El mengangkat telepon Luna.


"Abang kemana aja sih? Kenapa baru diangkat? Abang sama Clara?" Tanya Luna beruntun membuat El bingung harus menjawab yang mana terlebih dulu.


"Abang baru selesai meeting sayang. Kenapa sih marah-marah mulu dari tadi pagi." Jawab El lembuat membuat pipi Luna memerah namun ia tidak ingin berlama-lama terpesona karena saat ini ia merasa kesal pada El.


"Siapa yang marah? Aku kan cuma tanya. Abang masih sama Clara?"


"Gak lah, Abang dikantor. Habis nganter Clara ke studio photo abang langsung ke kantor. Kenapa? Kamu cemburu?" Goda El pada istrinya, Membuat Luna makin kesal.


"Huh cemburu? Sama dia? Pedean banget sih jadi cowok."


"Ya terus kenapa dong kamu nelepon abang? Kan gak biasanya."


"Jadi aku gak boleh nelepon? Ya udah."


Tut...tut.....tut..... Sambungan telepon langsung terputus begitu saja membuat El bingung dengan sikap istrinya saat ini. Berkali-kali El mencoba menghubungi Luna namun tidak diangkat oleh Luna malah di reject membuat El frustasi.


"El, Untuk model produk yang bak.....- Lo mau kamana?" Ucap Daniel tidak menyelesaikan ucapannya malah bertanya saat melihat El bersiap ingin keluar.


"Ada urusan penting." Kata El meninggalkan Daniel diruangan milik El.


"Penting? Berantem lagi sama Luna? Ribet banget sih hidup lo, Makanya jangan terlalu merasa ganteng jadi cowok, Kek gue santai kan gak ribet hidup gue." Kata Daniel bicara sendiri lalu kembali ke ruangannya.


Sesampainya di depan kampus El langsung masuk kesana tanpa menelepon Luna. Karena El sebagai wali dari Luna ia tau betul kelas Luna. Suasana kampus pun mulai heboh melihat sosok El, Pria dengan tinggi badan 1,83m, Tubuh atletis dan wajah yang sangat tampan.Wanita mana yang sanggup menutup mata saat melihatnya.


El melihat Luna sedang duduk bersama Dara, Ia langsung menyelonong masuk ke dalam kelas dan menghampiri istrinya itu.


"Ba.... Bang El. A.....abang ngapain disini?" Ucap Luna gugup saat El datang berdiri didepannya. Sama halnya dengan Luna, Dara juga kaget tapi ia merasa sangat bahagia bertemu El pria yang selalu ia puja.


"Kita bicara sebentar." Kata El lembut sambil tersenyum meraih tangan Luna. Luna lalu ikut dengan El membuat seisi kampus kembali ribut tetapi tidak dengan satu pria yang sedang melihat kearah Luna dan El. Yaitu Andra......


"Kok abang gak bilang-bilang sih kalo mau kesini?" Protes Luna saat El membawanya masuk kedalam mobil.


"Abang kan udah teleponin tapi gak kamu angkat." Jawab El melajukan mobilnya menuju suatu tempat.


"Oh... Aku silent." El langsung melihat kearah Luna yang sedang memalingkan wajahnya tidak ingin melihat El.


"Di silent tapi kok bisa nge-reject?" Kata El tersenyum.


"Bukan aku....Itu Dara, Dara yang nge-reject."


"Kamu lucu banget sih honey......Untung lagi nyetir kalo gak udah aku peluk." Luna kembali membuang wajahnya seolah tidak peduli padahal ia menyembunyikan wajahnya yang malu karena ucapan El.


Tidak berapa lama mereka sampai di suatu cafe dengan suasana outdoor. El membawa Luna turun dari mobil dan masuk ke cafe itu, Sebelum bicara mereka memesan minuman terlebih dulu.


"Sayang kamu kenapa sih? Abang ada salah?" Tanya El lembut sambil menggenggam tangan istrinya. Luna hanya diam tidak menjawab, Karena El sangat tau sifat wanita dengan sabar ia terus bertanya pada Luna.


"Kapan sih Clara pergi? Jujur aku gak suka dia tinggal dirumah abang, Jujur aku gak suka dia deket-deket abang, Jujur aku gak suka dia terus-terusan nempelin abang. Aku gak suka!" Ucap Luna, Suaranya mulai parau terdengar seperti akan menangis. El menghela nafas panjang ia berdiri dari tempat duduknya dan berjongkok didepan Luna yang saat ini menundukan wajahnya.


"Kamu tau sejak kapan aku mencintai kamu? Sejak aku berjanji akan menjaga kamu. Dan saat itu juga aku mau menjadi satu-satunya bukan salah satunya, Mencintai kamu lebih banyak dari debaran jantung, Lebih besar dari sabar, Dan lebih lama dari selamanya, Hanya itu yang ku mau."


Mendengar itu Luna tidak dapat lagi berkata-kata, Hanya air mata yang bisa mewakili perasaan bahagian nya saat ini. Ia memeluk erat tubuh El, Menenggelamkan wajahnya dalam pelukan pria itu.


"Aku bukan pencemburu, Tapi kamu milik ku dan milik ku hanya akan menjadi milik ku. Aku gak mau berbagi apalagi terbagi."


Sahut Luna dalam tangisan nya, El memeluk erat tubuh istrinya sambil mencium pucuk kepalanya dengan lembut dan penuh kasih sayang. El menangkup kedua pipi Luna dan mencium bibir Luna hingga cukup lama.


"El.....Luna...." Sepasang mata yang sejak tadi melihat Luna dan El itu benar-benar kaget dan tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


***Bersambung.....


Sorry agak lama up nya karena tadi di tempat author seharian listrik mati dari jam 10 pagi. Otomatis wifi jg ikutan mati dan parahnya author gak punya pulsa data cm andelin wifi doang.... . Jd ya begitulah, Setelah listrik nyala buru-buru kelarin biar bisa nge-up malam ini.


Jadi yang mau komen :


-Dikit banget thor?


-Gak seru thor, Dikit banget.


-Tambahin Thor .


Dan makasiiiiii banget untuk kalian semua yang suka n ngedukung story aku......Pokonya kalian the best lah 😘😘😘😘😘***