
Setahun sudah berlalu setelah pernikahan Ken dan Vanny. Semua berjalan seperti alur yang sudah ditetapkan Tuhan. Tidak banyak yang berubah, hari-hari keluarga itu diliputi rasa bahagia. Namun saat kebahagian itu ada kita sering lupa bahwa kesedihan juga akan ada.
Ini hari ke lima mereka berada di Negara singa putih. Ya, mereka menghabiskan waktu di Singapura, sebenarnya El dan Daniel pergi bukan untuk liburan melainkan ada urusan pekerjaan. Namun karena waktunya sangat tepat disaat sekolah anak-anak mereka juga sedang libur, maka mereka membawa serta anggota keluarga pergi.
Saat ini Luna, Dara, bu Mela, pak Angga serta anak-anak pergi kesebuah pusat perbelanjaan mewah yang ada di Negara tersebut. Mereka berbelanja beberapa oleh-oleh dan barang lainnya karena besok mereka sudah kembali ke Indonesia, tentu hari ini dimanfaatkan betul untuk menjelajah Negara tersebut.
Setelah selesai belanja mereka pergi menuju sebuah rumah makan untu makan siang dan beristirahat sejenak. Semua berjalan lancar dan baik-baik saja hingga akhirnya tidak ada yang menduga jika kejadian naas itu terjadi hari itu.
Saat itu Devan sedang berjalan ditepi jalan raya bersama keluarganya, namun tidak lama anak laki-laki itu melihat kearah seberang jalan tatapannya fokus pada seekor anak kucing yang ingin menyeberang jalan. Devan memang seorang pecinta binatang ia sangat menyukai hewan terutama kucing. Ia juga memiliki beberapa ekor kucing dirumah. Devan berlari kearah anak kucing tersebut tanpa melihat-lihat keadaan jalan raya yang sangat ramai.
Dan disaat yang bersamaan sebuah mobil melaju dengan kencang, semua orang berteriak melihat hal itu bahkan Dara sempat berlari menuju tengah jalan namun semua terlambat. Kuda besi itu terlanjur menghantam tubuh seseorang yang tidak lain adalah pak Angga, ayah angkat El.
Pria itu memeluk tubuh Devan dengan kuat hingga Devan tidak terluka sedikitpun. Teriak histeris langsung keluar dari mulut bu Mela yang berdiri dipinggir jalan menyaksikan kejadian memilukan tersebut. Aktivitas berkendara pun terhenti, orang-orang mulai berkumpul mengelilingi pak Angga dan Devan. Sedangkan Devan, anak itu hanya bisa diam tanpa bisa mengatakan hal apapun. Tubuhnya gemetar ketakutan, bibirnya pucat pasi. Darah segar mengalir ke wajah Devan. Itu bukan darah Devan melainkan darah pria yang biasa ia panggil opa.
"Ayah, yah bangun yah." Teriak bu Mela memangku kepala suaminya dengan pelan dan berhati-hati. Dengan hitungan detik baju bu Mela basah menampung darah yang terus mengalir dari kepala pak Angga. Dara memeluk anak laki-lakinya yang terlihat shock tanpa ekspresi apapun diwajahnya. Tatapannya seketika kosong, mulutnya terkunci kuat bahkan untuk menangis pun ia tidak bisa.
Tidak lama ambulan pun datang, Pak Angga segera dilarikan ke Rumah Sakit untuk mendapat pertolongan. Istrinya menggenggam kuat tangan pak Angga, tangan yang basah karena cairan berwarna merah yang terus menerus keluar dari tubuh pak Angga.
"Bunda mohon, bertahan." Ucap bu Mela sesegukan. Mulut pak Angga sudah dipasang masker oksigen, jemari pria itu bergerak sedikit lalu dengan susah payah ia membuka mata. Dilihatnya wanita itu dengan setia duduk di samping sambil menggenggam erat tangannya dan berderai air mata.
"Yah, ayah. Sebentar lagi kita sampai di Rumah Sakit. Ayah bertahan ya, ayah harus tetap sadar. I....ini cuma luka kecil, ayah pasti bisa nahan kan?" Ucap Bu Mela sambil menangis. Pak Angga membuka masker oksigen yang menutup mulutnya dengan sisa tenaga yang ia miliki.
"Dev...an a...apa dia terluk...a?" Tanya pak Angga, dengan cepat bu Mela menggelang menjawab pertanyaan suaminya. Mata pak Angga kian mengecil dan akhirnya kembali terpejam. Alat pendeteksi jantung berbunyi datar, petugas kesehatan langsung memberikan kejut jantung ditubuh pak Angga namun sayang itu semua tidak berhasil. Tubuh pak Angga menolak bantuan itu. Jantung itu berhenti berdetak atas kemauannya sendiri membuat bu Mela juga serasa ingin mati.
"Maafkan kami, kami sudah berusaha." Ucap petugas kesehatan yang menangani sambil melepaskan alat bantu pernafasan di tubuh pak Angga.
Saat itu juga dunia bu Mela serasa hancur lebur tak bersisa. Pria yang mendampingi hidupnya selama 45 tahun itu akhirnya pergi mendahuluinya. Tidak ada lagi kata yang terucap dari bibir bu Mela, hanya air mata yang terus menerus jatuh berderai. Kehilangan seseorang yang sangat dicintai bukanlah hal yang mudah, andai hati dan perasaan bisa terlihat mungkin tidak akan ada bentuk dan rupanya lagi hati itu. Tubuhnya duduk sehat di samping jasad suaminya namun jiwanya ikut pergi bersama.
Sesampainya di Rumah Sakit, Jenazah langsung dibersihkan. Seluruh keluarga juga sudah berkumpul di sana menunggu proses untuk membawa pulang jenazah pak Angga.
Semua orang larut dalam kesedihan dan duka yang dalam. Niat hati ingin berlibur malah mereka berduka.... Devan, anak itu mengalami goncangan batin yang hebat terlebih saat bu Mela mengacuhkannya. Anak itu terus menerus menyalahkan diri atas apa yang telah terjadi.
Setelah selesai mengurus dokumen resmi untuk membawa pulang jenazah ke Indonesia, El langsung menghampiri bu Mela yang saat itu sedang menangis didalam pelukan menantunya.
"Bunda, ayo kita pulang." Kata El pelan sambil menopang tubuh bu Mela yang lemah. Dan hari itu juga mereka kembali ke Indonesia membawa jenazah pak Angga.
***
Sesampainya di tanah air, proses pemakaman langsung dilaksanakan dan selesai hari itu juga. Suasana ceria, bahagia dan tawa berubah menjadi duka, sedih dan air mata.
"Gimana keadaan Devan?" Tanya El pada Daniel.
"Maafin Bunda ya. Bunda shock, entar kalo Bunda udah enakan gue coba ngomong ke Bunda." Ucap El menepuk pundak Daniel. Ia tau betul ini semua murni kecelakaan bukan karena Devan.
"Santai, gue dan Dara ngerti kok perasaan Bunda." Sahut Daniel tersenyum datar agar terlihat baik-baik saja. Padahal tidak bisa dipungkiri dalam hati kecilnya ia pun merasa sedih dan sakit. Di satu sisi ia sedih kehilangan sosok yang sudah ia anggap sebagai orang tua nya sendiri dan di sisi lain batinnya terluka melihat anak seumur Devan harus mengalami kejadian naas tersebut. Ia tau betul perasaan anak laki-lakinya itu saat ini, takut sudah pasti namun anak itu tetap berusaha kuat dan berani. Ingin sekali ia memeluk tubuh kecil Devan dan berkata "Its oke, ini bukan salah mu. Semua akan baik-baik saja." Namun anak itu lebih memilih untuk mengurung diri dan menikmati semua rasa itu sendirian.
***
"Pak, Bu. Mas Devan belum juga mau keluar kamar, sudah seharian dia dikamar dan belum makan juga minum. Saya panggil juga gak nyaut, saya udah bujuk tapi gak ada hasil. Saya takut Pak, Bu kalo terjadi sesuatu pada mas Devan." Ucap ART yang bekerja di rumah Daniel. Wanita paruh baya tersebut terlihat sangat khawatir, maklum saja karena sejak bayi Devan diurus oleh nya. Mendengar hal tersebut Dara dan Daniel langsung berlari menuju kamar Devan. Terlihat sang kakak duduk menunduk kan kepala menyembunyikan wajah diantara kedua lututnya yang berlipat
"Davin..." Panggil Dara pelan sambil mengusap pundak anak itu.
"Bunda." Sahut Davin terdengar lirih dan berat. Davin memeluk erat tubuh ibunya, ia menangis hebat disana.
"Devan bunda, suruh Devan keluar dari kamarnya. Davin bakal lakuin apapun mau Devan, Devan juga boleh pukul Davin tapi tolong bawa Devan keluar." Rengek Davin menangis dalam pelukan Dara. Dara tidak kuasa bersikap tegar. Ia ikut menangis sambil memeluk tubuh Davin.
"Devan, keluar nak. Bunda mohon, kamu gak suka kan liat bunda nangis? Bunda sakit ngeliat Devan begini sayang." Ucap Dara mengetuk pintu kamar Devan.
"Devan, ini ayah nak. Kamu mau bicara sama ayah? Buka nak, jangan begini. Ini semua bukan salah kamu." Tambah Daniel yang juga serasa tidak tahan menahan air mata namun ia tetap harus tegar. Berulang kali mereka mengetuk pintu kamar Devan namun tidak ada hasil. Sebenarnya mereka bisa saja membuka pintu kamar secara paksa namun kedua orang tua ini sedang berusaha mengajak Devan untuk keluar dari keterpurukan dan rasa bersalahnya. Ini bukan soal cara cepat menangani tapi soal hati dan jiwa anak itu. Dara dan Daniel tidak ingin merusak mental anak mereka, mereka tidak pernah memaksa mereka selalu berdiskusi. Dan saat ini, hal inilah yang dilakukan oleh Daniel dan Dara.
Karena tidak ada respon bahkan suara pun tidak terdengar dari dalam kamar Devan, terpaksa ia mengambil jalan ini, yaitu membuka paksa pintu kamar Devan dengan kunci cadangan.
Dan pintu kamar yang terkunci beberapa jam itu akhirnya terbuka memasukan sedikit cahaya kedalam ruangan gelap gulita. Dara menyalakan lampu kamar tersebut dan berapa kaget semua orang yang ada disana melihat tubuh Devan jatuh pingsan dilantai. Daniel langsung mengangkat tubuh Devan lalu mereka membawa Devan ke Rumah Sakit.
***
"Anak anda mengalami dehidrasi. Apa ia sedang dalam masalah? Jiwa anak Bapak sepertinya sedang terguncang." Ucap Dokter tersebut. Mendengar hal itu tangis Dara pecah dalam pelukan Daniel. Daniel yang ikut shock mendengar diagnosa Dokter hanya bisa diam sambil terus mengusap lembut punggung istrinya.
Setelah selesai bicara dengan Dokter, Dengan langkah berat serta sesak di dada Daniel juga Dara kembali ke ruang rawat Devan. Di sana sudah ada El, Luna dan Zea.
"Apa kata Dokter?" Tanya El penasaran dan terlihat sangat khawatir begitu juga dengan Luna dan Zea. Dara langsung berlari kedalam pelukan Luna, ia menangis tersedu dalam pelukan sahabatnya tersebut.
"Devan dehidrasi." Ucap Daniel tersenyum hambar, bukannya ia ingin berbohong atau menyembunyikan keadaan Devan dari sahabatnya tersebut. Hanya saja saat ini El juga sedang dalam keadaan berduka ia tidak ingin sahabatnya itu juga ikut memikirkan tentang Devan. El mengusap kasar wajahnya lalu berjalan kearah ranjang yang ditiduri Devan. Dilihatnya Zea sedang duduk d isamping ranjang itu sambil menggenggam kuat tangan Devan. Terlihat gurat sedih di wajah Zea melihat Devan terbaring lemah di Rumah Sakit. El mendekati anaknya lalu duduk disamping Zea, diraihnya tangan Zea dan Devan.
"Hei jagoan, kamu sakit? Daddy gak percaya kamu sakit. Setau Daddy, kamu itu anak yang kuat bahkan pukulan kamu lebih kuat dari pukulan ayah kamu. Ayo bangun, liat Zea sedih. Jangan lama-lama sakitnya, entar gak ada yang jahilin Zea." Ucap El tersenyum menyemangati Devan yang belum sadar. Entah ia sedang tidur atau pengaruh obat yang membuatnya masih tertidur yang jelas ia sedang tidak baik-baik saja saat ini.
Bersambung
Nah yg kemaren penasaran sama cerita Dave ini belum selesai ya. Masih panjang ceritanya