
Setelah Daniel pulang, Bi Irah menghampiri El yang masih duduk diruang tamu memikirkan kejadian yang menimpa Luna.
"Mas, Mba Luna kenapa sih sebenernya? Kok dia syok banget keliatan ketakutan banget." Kata bi Irah sambil duduk disamping El.
"Ceritanya panjang, Yang jelas dia baru aja mengalami hal buruk." Kata El melihat kearah bi Irah.
"Ya ampun, Kasian banget mba Luna." Katanya mengusap dada.
"Oh iya, Gimana keadaan Luna saat ini?"
"Mba Luna udah tidur mas."
"Oh, Ya udah bi Irah istirahat aja ini juga udah malem pasti bibi capek." Bi Irah mengangguk, Lalu pergi kekamarnya sesuai saran El karena memang ia merasa lelah.
Setelah bi Irah pergi El berdiri dan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Setelah sampai dikamar El membuka lemari kecil yang ada disamping tempat tidurnya lalu mengambil kotak obat dan membawanya ke kamar Luna.
El membuka pintu kamar Luna pelan-pelan agar Luna tidak terbangun dari tidurnya. Dilihatnya telapak kaki Luna yang merah dan luka karena batu-batu tajam dijalan tadi.
Ia mengambil bangku lalu duduk didepan kaki Luna. Membersihkan lukanya dan memberikannya obat dengan sangat pelan dan hati-hati.
"Maaf karena terlambat." Kata El sambil sesekali meniup luka itu. Setelah selesai mengobati luka itu El berdiri disamping Luna.
"Lupakan semua, Anggap itu semua cuma mimpi buruk saat kamu tidur dan saat kamu bangun besok semua akan kembali seperti semula. Ya, Semua akan baik-baik saja." Katanya lagi lalu pergi, Namun tangan Luna tiba-tiba menarik tangan El membuat El sedikit kaget.
El langsung menoleh kearah Luna, Melihat wajah Luna yang masih merasa takut.
"Tetap disini, Sebentar aja." Kata Luna pelan, El lalu duduk disamping Luna. Ia hanya mengangguk, Tidak ingin banyak bicara dan membuat Luna kembali mengingat semua kejadian itu.
El duduk menemani Luna yang masih kesulitan tidur.
"Boleh abang cerita satu kisah yang paling abang suka sejak kecil sampai sekarang?" Tanya El mencairkan suasana.
"Mmmmmm......" Jawab Luna pelan, Ia sadar bukan lagi seorang anak kacil yang memerlukan dogeng pengantar tidur, Tetapi biarlah untuk malam ini agar matanya cepat mengantuk dan ia bisa melupakan sedikit kejadian yang menimpanya barusan.
"***Pada suatu hari yang cerah di sebuah kota, seorang pria berencana pergi ke tempat pertunjukan sirkus dengan membawa anak dan istrinya.
Niatnya sederhana, ingin memberikan hiburan kepada keluarga di hari libur sekolah.
Sebelum sampai ke tempat pertunjukan, pria tersebut harus melewati sebuah perkemahan dengan tenda yang berukuran besar berisi gajah-gajah sirkus.
Gajah-gajah dengan ukuran besar berdiri melamun dengan kondisi satu kaki yang diikat oleh rantai kecil.
Tidak ada pagar sama sekali, setiap gajah hanya diikat dengan rantai kecil di salah satu kakinya dan tidak ada yang berusaha untuk kabur, semuanya terdiam.
Sepanjang perjalanan pria tersebut terus memandangi gajah-gajah tersebut dengan mimik wajah yang kebingungan.
Mengapa?
Pria tersebut berpikir, mengapa sang gajah dengan ukuran sebesar itu tidak menggunakan seluruh kekuatan yang dia miliki untuk memutuskan rantai kecil yang mengikat salah satu kakinya kemudian lari dari perkemahan tersebut.
Namun sebaliknya setiap gajah hanya berdiri terdiam tidak melakukan apapun.
Dengan wajah yang masih kebingungan pria tersebut menghampiri sang pawang yang daritadi juga berdiri disekitar perkemahan gajah tersebut.
Pria tersebut bertanya, mengapa para gajah itu hanya terdiam dan tidak ada satupun yang berusaha untuk kabur padahal hanya diikat dengan rantai kecil disalah satu kakinya?
Sang pawang pun tersenyum kemudian menjawab:
Ketika mereka masih sangat muda dan berukuran jauh lebih kecil dari sekarang kami menggunakan rantai dengan ukuran yang sama untuk mengikat mereka, dan pada usia itu, cukup untuk menahan mereka.
Seiring mereka tumbuh dewasa mereka dikondisikan untuk percaya bahwa mereka tidak dapat melepaskan diri.
Karenanya sampai sekarang mereka masih percaya bahwa rantainya masih bisa menahan mereka, sehingga mereka tidak pernah mencoba membebaskan diri***."
"Kamu tau maksud dari kisah ini?" Kata El melihat kearah Luna, Luna menggeleng jangankan untuk memikirkan makna dari kisah yang El ceritakan untuk memikirkan tugas kuliah saja ia tidak bisa untuk saat ini pikirannya benar-benar kacau.
"Dari kisah ini kita diajarkan untuk mencoba lepas dari suatu rasa atau suatu hal yang membelenggu kita selama ini. Sama halnya pada saat ini, Kamu bukanlah seorang peratap, Kamu juga bukan seorang penakut. Selama dua bulan kita tinggal bersama abang tau kamu gadis yang kuat, Gadis yang hebat bahkan saat kamu rapuh kamu tetap tegar. Karena kamu adalah Aluna Dewi Mentari." Luna langsung melihat kearah El, Ucapan El sangat mirip dengan yang biasa dikatakan oleh alm. Ayahnya yang sering menyemangati Luna saat Luna merasa rapuh.
"Lupakan semua, Abang disini selalu ada disamping kamu. Jangan takut, Jangan lagi takut pada apapun. Abang disini menjaga kamu, Selalu." Tambah El, Seketika air mata Luna mengalir ia menangis dalam diam tanpa sepengetahuan El.
"Terimakasih yah, Terimakasih sudah mengirim El dalam kehidupan Luna. Terimakasih karena memberikan seorang kakak laki-laki yang sangat baik hati dan penyayang." Ucapnya dalam hati, Tidak ingin El tau jika ia menangis Luna berpura-pura sudah tertidur nyenyak.
Karena tidak lagi mendengar suara Luna, El melihat Luna yang sudah memejamkan matanya. Ia tersenyum sambil mengusap lembut pucuk kepala Luna. Dibetulkannya selimut yang menutupi tubuh Luna lalu ia pergi dari sana.
***
Setelah keluar dari kamar Luna, El tidak langsung tidur.Ia masih memikirkan kejadian tadi. Siapa yang membawa Luna ketempat sejauh itu? Pikirnya, Karena masih merasa tidak tenang ia meraih hapenya dan menelepon Daniel.
"Gimana lo udah dapetin rekamannya?" Tanya El tidak sabaran.
"Udah, Besok pag......" Belum sempat Daniel menyelesaikan ucapannya El langsung memutus sambungan telepon.
"Huuuuftt......Bakal begadang gue malam ini." Kata Daniel pasrah.
Setelah mendapatkan kabar dari Daniel tidak menunggu besok, El langsung pergi kerumah Daniel malam itu juga. Entah sejak kapan rasa peduli itu mulai bertambah. Yang ia tau saat ini Luna lah orang yang paling harus ia lindungi.
Tidak memakan waktu lama, El sampai kerumah Daniel yang tidak kalah besar dengan rumah El. El menekan bel dengan cepat dan berulang-ulang membuat si pemilik rumah merasa agak kesal.
"Bentarrrrrr........" Teriak Daniel sebelum membukakan pintu.
"Mana rekamannya?" Kata El duduk disofa ruang tamu. Daniel yang mulai benar-benar kesal mengusap kasar wajahnya lalu masuk kekamar untuk mengambil laptop miliknya.
"Jangan lama-lama. Gue ngantuk berat, Lo kan tau gue yang paling cape nyiapin acara ultah perusahaan. Jadi tolong tau diri aja ya kalo namu." Gerutu Daniel padahal ia tau sahabatnya itu tidak akan menghiraukannya apa lagi disaat-saat seperti ini.
Daniel mulai membuka rekaman cctv untuk ditunjukan pada El yang sudah tidak sabaran ingin melihatnya.
Mereka berdua mulai mengamati semua isi rekaman itu dan pada akhirnya didetik Luna ditarik keluar oleh seorang pria yang membawanya.
"Stop." Kata El, Dengan cepat Daniel menekan tombol pause.
"Itu......." El berusaha mengingat nama dan identitas pria yang membawa Luna.
"Andra......Anak dari pak Rudi pemilik RanShoot Company." Daniel meneruskan ucapan El yang terhenti karena ia lupa dengan nama-nama tadi.
"Iya, Dan bukannya RanShoot Company kerja sama dengan perusahaan kita? Kita pakai jasa mereka kan untuk pemotretan?" Kata El, Kini ia ingat dan El sangat mengenal pak Rudi selaku pemilik perusahaan.
"Anaknya baru pulang dari LA. Dan tadi malam pak Rudi sengaja ngajak dia untuk diperkenalkan sama rekan bisnis yang lain, Maklumlah anak semata wayang dan calon ahli waris makanya go public." Tambah Daniel lagi, Daniel sudah mencari tau semua tentang Andra laki-laki yang sudah membawa Luna dengan paksa dari pesta.
El menarik nafas panjang, Hatinya merasa sangat marah saat ini apa lagi saat melihat Luna ketakutan dan kaki Luna yang terluka karena ulah anak dari rekan bisnisnya sendiri.
El berdiri dan lagi-lagi tanpa menghiraukan Daniel, El langsung pergi darisana. Daniel yang melihat tingkah sahabatnya itu bingung, Ia juga ikut berdiri dan membuntuti El dibelakang.
"Lo.....Lo mau kemana? Lo pulang?" Ucap Daniel pada El, Tetapi El tidak menghiraukannya dan terus berjalan menuju mobil miliknya.
"Ya udah terserah lo, Bos mah emang bebas mau ngapain aja." Gerutu El, Sebenarnya ia kesal ingin teriak dan menyumpah tapi karena lelah dan sangat mengantuk Daniel lebih memilih diam. Setelah El pergi dari sana, Dani el langsung mengunci pintu. Kali ini biarpun El kembali dan menekan bel berulang kali ia tidak akan membuka kan pintu untuknya.
***
Tidak seperti pagi biasanya El selalu menunggu Luna untuk sarapan bersama. Pagi ini El langsung berangkat ke kantor tanpa sarapan atau minum susu cokelat kesukaanya.
"Pagi bi." Kata Luna menyapa bi Irah yang sedang asik menyepel lantai.
"Loh mba Luna udah bangun? Sebentar tunggu disitu dulu. Bibi keringkan lantainya dulu ya, Masih basah dan licin." Kata bi Irah dengan logat jawanya yang masih sangat kental.
"Loh, Bang El belum bangun ya?" Tanya Luna yang duduk ditangga menunggu bi Irah mengeringkan lantainya.
"Udah mba, Pagi-pagi banget mas El sudah kekantor tanpa minum dan tanpa sarapan."
"Gak sarapan lagi?" Tanya Luna memastikan.
"Gak mba, Tuh tuh liat aja sarapannya masih utuh dan belum disentuh sedikitpun." Luna melihat kearah meja makan, Bahkan segelas susu cokelat yang tidak pernah dilewatkan El pun tidak berkurang walau hanya sedikit.
"Oh iya, Tadi pesen mas El mba Luna gak usah masuk dulu kuliah hari ini. Mas El udah mintain izin sama pihak kampus untuk meliburkan mba Luna selama beberapa hari sampai kaki mba Luna sembuh eh bukan tapi benar-benar sembuh." Kata bi Irah membuat Luna kaget, Padahal Luna sudah merasa baikan sejak tadi malam.
"Ya ampun.......Jadi, Jadi bang El minta ke pihak kampus buat izin saya?" Bi Irah mengangguk yakin, Luna menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebenarnya ini agak berlebihan menurut Luna.
Sedangkan El yang sudah ada dikantornya langsung memikirkan cara yang tepat untuk memberi pelajaran pada anak pak Rudi.
"Morning brother." Daniel yang baru datang langsung keruangan El. Ia tau kalau El memang sedang menunggunya sejak tadi.
"Udah lo hubungin?" Kata El sambil mengetik di laptopnya.
"Bereslah, Tunggu aja bentar." Jawab Daniel santai.
15 menit berlalu, Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Masuk." Kata El singkat, Lalu masuklah pria paruh baya dengan setelan jas rapi dan ia memakai kacamata.
"Selamat pagi pak." Sapa pria yang baru saja datang. El mengangguk dan tersenyum ia lalu mempersilahkan pria itu duduk disofa.
"Ummmmm.......Kalau boleh tau ada apa ya pak, Bapak memanggil saya kemari?" Tanya pria tadi penasaran. El lalu melihat kearah Daniel dan Daniel mengangguk, Ia lalu pergi kemeja El dan membawa laptop milik El.
Diputarnya rekaman pesta tadi malam dan diperlihatkan nya pada pria itu. Pria itu mengerutkan dahi bingung dengan apa yang dilakukan El saat ini hingga akhirnya Daniel menekan pause lalu terlihat jelas wajah anaknya disana.
Pria itu langsung kaget, Ia berpikir pasti anaknya mengganggu wanita milik El dan membuat El marah besar.
"Apa dia anak bapak?" Tanya El masih dengan ciri khasnya yang santai dan sopan. Pria yang duduk dihadapannya itu mengangguk pelan.
Sebelum kembali melanjutkan ucapannya El manarik nafas dalam mengontrol emosinya agar tidak meledak saat ini juga.
"Bapak tau gadis ia tarik dengan paksa itu siapa?" Ucap El lagi, Bicaranya masih santai tapi entah kenapa suasananya tidak lagi nyaman bahkan Daniel merasakannya juga.
"Maafkan saya pak El, Anak saya baru pulang dari luar negri. Lama tinggal di Amerika membuatnya sedikit lupa tentang tata krama di negaranya sendiri." Pak Rudi langsung memohon maaf pada El atas kesalahan anaknya.
"Dia satu-satunya adik perempuan saya. Saya tidak menyalahkan pak Rudi. Karena bapak pasti juga tidak mengetahuinya, Saya hanya ingin bapak menegur anak bapak agar tidak sembarangan lagi memperlakukan seorang wanita." El memang sangat marah saat ini, Tetapi ia masih bisa berpikir jernih. Ia tau kesalahan yang dibuat oleh anaknya tidak harus dipertanggung jawabkan okeh orang tuanya, Lagipula akankah tidak adil jadinya kalau orang tuanya juga ikut dihukum karena kesalahan anaknya?
"Saya mohon maaf atas nama anak saya dan atas nama keluarga besar Rudi. Maafkan saya pak." Kata pak Rudi lagi, Membuat hati El menjadi merasa tidak enak.
"Saya tidak menyalahkan bapak, Apalagi kita sudah bekerjasama selama 10 tahun. Saya hanya ingin anak bapak menyesali perbuatannya dan tidak lagi bersikap semaunya pada orang lain."
"Baik pak, Saya akan menegurnya. Sekali lagi saya minta maaf pak."
"Bapak boleh kembali, Terimakasih sudah bersedia datang." Ucap El menyalami pak Rudi. Setelah itu pak Rudi langsung pergi dari kantor El.
Bersambung........