
**Aku pernah menjadi teduh bagi seseorang, Menjadi apa yang pertama kali dicari saat ia basah kuyup terkena hujan atau karena ia tidak kuasa menahan panas ketika terik.
Aku pernah menjadi teduh sebelum aku dipaksa berubah untuk menjadi hujan yang jatuh lalu hilang diserap tanah.
\_Elang**\_
"Bawa gue kemanapun asal jangan ke hadapan Luna, Gue gak mau dia liat gue begini." Ucap El dengan susah payah ia berusaha mengambil kesadaran.
"Lo boleh frustasi tapi jangan sampai gila! Lo bisa ngelawan mereka terus kenapa lo malah milih gini?" Bentak Daniel yang sangat mengkhawatirkan keadaan El saat ini. Mendengar hal itu El malah tertawa hingga ia batuk dan mulutnya mengeluarkan darah.
"Gue pengen tau, Seberapa sakitnya hati gue. Dan ternyata semua luka ini gak ada apa-apanya dibanding sama sakit hati yang gue rasakan saat ini." Sahut El mulai terdengar tidak karuan.
"Lo bisa diem gak? Atau mau sekalian gue matiin?!" Daniel yang sudah terlanjur kesal karena di saat ia sangat mengkhawatirkan keadaan El, El malah tidak perduli. El diam bukan karena menuruti ucapan Daniel melainkan karena ia kembali pingsan.
***
"Hallo bi maaf saya telepon malam-malam. Luna nya ada?" Tanya Dara yang akhirnya menghubungi telepon rumah El karena nomor telepon Luna sedang tidak aktif.
"Iya mba Dara ada apa? Mba Luna ada dikamar non Zea. Semenjak pulang dari Rumah Sakit mba Luna langsung masuk ke kamar non Zea dan sampai sekarang dia masih disana. Mas El juga belum pulang ke rumah. Dan saat bibi tanya sama mba Luna, Mba Luna malah tanya Zea dan gak mau jawab pertanyaan bibi." Jelas bi Irah sebelum Dara bicara lebih dulu.
"Bi tolong sambungin telepon saya ke Luna bi, Ini tentang bang El." Ucap Dara mulai panik, Mendengar hal itu bi Irah langsung pergi ke kamar Zea untuk memanggil Luna.
Tok.....Tok....Tok.....Setelah mengetuk pintu bi Irah langsung masuk kedalam kamar, Dilihatnya Luna sedang duduk menatap kosong kearah jendela.
"Mba, Mba Dara telepon. Ada yang mau dibicarakan sama mba Luna katanya penting dan ini tentang mas El." Ucap bi Irah pelan takut mengganggu Luna yang sedang melamun.
"Bilang ke Dara kalo saya sudah tidur ya bi. Saat ini saya lagi gak pengen diganggu sama siapapun." Jawab Luna singkat dan jelas, Bi Irah hanya bisa menghela nafasnya. Ia tau bahwa sesuatu sedang terjadi antara El dan Luna saat ini. Bi Irah pun segera keluar menuruti perintah dari majikan nya tersebut.
"Halo mba Dara, Maaf mba Luna nya udah tidur. Mungkin karena masih ngerasa gak enak badan, Padahal saya udah coba untuk bangunin tapi dia tetap tidur pulas." Alasan bi Irah, Membuat Dara makin bertambah kesal pada sahabatnya itu.
"Oh ya udah makasih ya bi." Sahut Dara lalu ia menutup sambungan telepon.
"Luna bener-bener keterlaluan. Gak tau apa kalo bang El saat ini bener-bener butuhin dia!" Gerutu Dara kesal, Bahkan sangat kesal. Mengingat bagaimana El membantunya tiap kali jika dia dan Daniel memiliki masalah.
Dara kembali ke kamarnya dan tidak lama Daniel meneleponnya.
"Ay gimana bang El?" Tanya Dara yang juga ikut khawatir dengan keadaan El saat ini.
"Aku udah bawa dia ke Rumah Sakit dan sekarang dia lagi diobati sama Dokter." Sahut Daniel yang saat ini sudah berada di Rumah Sakit dan sedang menunggu El.
"Tadi aku telepon Luna tapi dia bener-bener gak mau ngomong sama aku. Kali ini Luna bener-bener keterlaluan banget sama bang El. Dia tau dan dia sadar kalo bang El itu gak tau apa-apa dan gak salah apa-apa, Tapi kenapa masih aja menyudutkan dan menyalahkan bang El." Ucap Dara, Baru kali ini ia merasa kecewa dan kesal pada Luna. Mendengar hal itu Daniel menghela nafas panjang, Ia pun ikut bingung dengan masalah yang sedang dihadapi oleh El dan Luna saat ini.
"El gak mau Luna tau tentang keadaannya sekarang. Dan keknya malam ini aku juga gak bisa pulang, Kasian El sendirian."
"Iya, Kamu temenin aja bang El. Saat ini dia emang lagi perlu seseorang di sampingnya. Kalo ada apa-apa cepat kabarin aku ya."
"Ya udah, Kamu istirahat gih. Udah malam juga."
"Ya udah, Love u."
"Love u too." Sambungan telepon itupun diakhiri. Daniel kembali menunggu dokter yang sedang menangani El. Dan tidak lama dokter itu pun keluar, Daniel langsung berdiri menghampiri dokter yang baru saja selesai mengobati luka El...
"Gimana keadaan teman saya dok?" Tanya Daniel tidak sabaran.
"Teman bapak sudah kami tangani, Namun ada beberapa luka ditubuhnya yang cukup parah mungkin karena pukulan benda tumpul tapi syukurnya itu tidak membahayakan nyawanya. Dan saat ini ia masih belum sadarkan diri karena selain akibat luka-luka disekujur tubuhnya, Ia juga positif sedang berada dibawah pengaruh alkohol. Saran saya, Walaupun korban masih bisa diselamatkan ada baiknya anda melapor pada polisi karena nyata ini adalah tindakan kriminal." Kata Dokter menjelaskan keadaan El saat ini, Saran yang diberikan dokter itu pun langsung mengingatkan Daniel pada para pelaku pengeroyokan yang ia sendiri tidak tau siapa mereka dan kenapa sampai bisa memukuli El karena walaupun El sedang dalam keadaan sangat frustasi tetap saja ia bukanlah tipe orang yang suka mencari keributan.
"Terimakasih dok, Dan secepatnya saya akan melaporkan kasus ini pada pihak yang berwajib." Dokter itu mengangguk lalu pergi meninggalkan Daniel disana. Daniel pun masuk keruangan tempat El dirawat, Dilihatnya wajah El yang pucat serta penuh luka lebam bahkan di pelipis nya terdapat luka dan juga sudut bibirnya. Perban pun membungkus dahinya serta selang infus sudah terpasang di pergelangan tangannya. Ada rasa sakit yang ia rasakan melihat keadaan El saat ini. Daniel mendekat pada El, Malam ini ia akan menjaga El.
"Gue tau lo kuat tapi gue juga sadar lo lemah tanpa Luna. Entah ini sebuah permainan takdir atau memang ini adalah aturan dari Tuhan yang jelas saat ini kalian sama-sama sedang menyiksa diri." Ucap Daniel, Walaupun ia tidak tau dengan cara apa lagi ia bisa membantu El dan Luna tapi ia berjanji pada dirinya sendiri ia akan tetap berusaha dan terus berusaha hingga semua kembali seperti semula.
***
Sinar matahari mulai menerobos masuk lewat jendela memberikan rasa hangat pada tubuh El yang terkena sinar nya. El membuka matanya perlahan, Pagi ini ia baru merasakan sakit akibat pukulan yang ia terima. Daniel masih tertidur nyenyak di atas sofa, Entah jam berapa ia baru bisa tertidur setelah mengobrol dengan Lucia melalui telepon untuk menanyakan orang-orang yang sudah mengeroyok El.
El memaksa tubuhnya untuk duduk, Padahal hal itu sangat menyakitkan bagi nya.
Setelah berhasil duduk dengan susah payah El meraih hapenya yang berada diatas meja.
Tidak ada satupun panggilan atau pesan dari Luna untuknya. Ini untuk pertama kalinya Luna tidak menghubungi nya sama sekali walau El tidak pulang semalaman. Sungguh ini sangat menyakitkan untuk El namun El berpikir ini memang pantas ia dapatkan.
"Lo udah sadar?" Tanya Daniel yang baru saja bangun.
"Omongan itu lebih pantas untuk lo, Bukan gue. Lo gak kangen sama Zea?" Tanya Daniel lagi membuat El seketika mengingat bidadari kecilnya. Biasanya setiap pagi Zea dan Luna membangunkan nya untuk pergi ke kantor. Biasanya setiap pagi sebelum berangkat ke kantor ia selalu bermain bersama Zea, Sungguh hatinya saat ini sangat merindukan kedua bidadari nya itu.
"Untuk pertama kalinya dia gak tanya kenapa gue belum pulang. Biasanya 1 menit aja gue terlambat pulang dia bakalan terus neleponin dan ngirim banyak pesan." Sahut El tersenyum hambar... Daniel tau betapa ingin El pulang saat ini berkumpul bersama Zea dan Luna namun semua itu tidak bisa ia lakukan.
"Siapa yang udah bikin lo jadi begini?" Tanya Daniel mengalihkan pikiran El tentang masalah yang ia hadapi saat ini. Mendengar pertanyaan Daniel El tersenyum tidak ingin menjawab pertanyaan itu.
"Daripada disini mending lo balik sana ke kantor, Kerjaan lo banyak ditambah lagi sama kerjaan gue yang harus lo handle jadi jangan harap lo bisa santai disini." Ucap El benar-benar tidak ingin menjawab pertanyaan Daniel.
"El! Lo bisa gak sih serius saat ini?! Apa sih mau lo sebenernya? Lo berusaha tegar untuk ngadepin masalah ini sendirian gitu mau lo? El gue sadar kita emang gak punya hubungan darah walaupun cuma setetes, Tapi lo harus tau hubungan kita lebih dari sebatas sodara. Lo yang nolongin gue waktu kecil dan bahkan sampai sekarang pun lo selalu nolongin gue, Bantuin gue tiap kali gue ada masalah. Apa cuma lo yang berhak untuk ngelakuin itu semua? Apa cuma lo yang berhak nolongin gue?" Ucap Daniel kesal karena sikap El yang terkesan tertutup dengannya.
"Lo kok jadi emosional banget sih? Kek lagi nyimpan dendam gitu sama gue." Sahut El yang malah bercanda membuat Daniel makin kesal dan jengah.
"Terserah lo deh!." Daniel pun akhirnya putus asa, Ia ingin pergi meninggalkan El karena percuma toh walaupun Daniel berada disini tidak ada yang bisa ia lakukan untuk El.
"Baron." Ucap El menghentikan langkah Daniel yang sudah ada di depan pintu. Daniel sudah menduga akan hal itu, Tunggu saja Daniel akan membalas semua itu untuk El.
***
Kesal dengan Luna yang benar-benar tidak perduli dengan El, Dara memutuskan untuk mendatangi Luna kerumah nya diantar oleh supir. Ia juga mengangkut kedua anaknya dan dua pengasuh Davin dan Devan.
Sesampainya dirumah El, Dara disambut hangat dan ramah oleh bi Irah.
"Luna ada bi?" Tanya Dara.
"Tadi pagi-pagi banget mba Luna pergi mba. Katanya sih mau ziarah ke makam ayah dan ibunya." Sahut Bi Irah yang saat ini sedang menggendong Davin.
"Zea dimana? Ikut Luna?"
"Non Zea masih bobo mba, Tadi subuh dia bangun nangis kencang dan lama. Mungkin karena kangen sama Daddy nya. Mba Dara, Sebenernya mba Luna sama mas El kenapa sih? Gak mungkin kalo gak ada apa-apa mas El sampai gak pulang semalaman. Dan mba Luna juga sepertinya gak tidur semalaman terus matanya juga keliatan sembab kek orang habis nangis semalaman." Mendengar hal itu Dara menghela nafas pelan, Ia tau betapa sulit beban yang sedang dihadapi oleh Luna saat ini.
"Entahlah bi, Karena semua orang pasti punya masalah. Tergantung kita aja harus gimana menyikapi masalah tersebut, Mungkin saat ini cinta mereka sedang di uji." Sahut Dara lagi, Ia menunggu Luna kembali. Ia tidak akan memaksa Luna untuk mengerti posisi El tapi setidaknya Luna harus tau dimana El dan bagaimana keadaannya saat ini.
***
Daniel saat ini pergi ke kantin untuk membeli sarapan, Sebelum kembali ia lebih dulu menyuruh beberapa orang untuk mencari bukti tentang pengeroyokan yang dilakukan oleh anak buah Baron pada El.
Daniel juga tidak ragu untuk meminta bantuan pada Lucia sebagai saksi mata dan Kenan yang banyak tau tentang Baron mengingat Baron adalah saudara tirinya.
"Gue udah urus masalah anak buah Baron, Sebentar lagi mereka semua yang udah ngeroyok lo bakalan masuk kedalam penjara dan gue pastiin mereka gak akan bisa menghirup udara bebas dalam jangka waktu yang cukup lama." Ucap Daniel yang kini sudah kembali ke kamar El.
"Dan, Udahlah. Ini gak separah yang lo liat, Lagipula gue lagi males untuk ngurusin hal lain karena lo tau sendiri gimana beratnya masalah yang gue hadapi saat ini. Dan satu lagi, Sebaiknya lo pulang. Bukannya gue gak anggap lo sebagai sodara gue, Atau karena gue egois gak mau nerima semua bantuan lo. Tapi untuk kali ini please, Kasih gue waktu untuk sendiri." Jika sudah begini apa yang bisa dilakukan oleh Daniel selain mengikuti apa yang El mau.
"Ya udah kalo gitu gue balik dulu, Kalo ada apa-apa langsung kabarin gue." Ucap Daniel lalu ia pergi dari sana meninggalkan El sendirian di dalam ruangan itu.
Setelah Daniel benar-benar pergi dari Rumah Sakit, El pun langsung mengganti pakaian nya dan ikut pergi meninggalkan tempat itu tanpa seizin dan sepengetahuan pihak rumah sakit termasuk dokter yang menangani nya.
***
Luna yang sejak tadi ditunggu oleh Dara akhirnya pulang. Tidak seperti biasa nya saat melihat Dara, Luna bersikap dingin dan datar.
"Lun, Kita harus bicara." Ucap Dara membuntuti Luna yang ingin langsung ke kamarnya.
"Untuk apa bicara? Bahkan sejuta kali bicara pun percuma karena kalian gak ngerasa apa yang aku rasain saat ini." Sahut Luna yang terkesan tidak ingin diganggu oleh Dara.
"Bang El saat ini lagi di Rumah Sakit!" Dara tidak bisa lagi menahan agar tidak memberi tahu Luna tentang keadaan El saat ini padahal Daniel sudah mengingatkan nya. Mendengar hal itu tas Luna yang ingin ia gantung langsung terjatuh dari tangan nya. Dengan cepat ia menghampiri Dara memastikan kembali apa yang baru saja ia dengar.
"Apa maksud kamu? Kenapa bang El ada di Rumah Sakit? Apa yang terjadi sama dia?" Pertanyaan itu langsung dilemparkan Luna pada Dara. Ia benar-benar sangat shock mendengar kabar buruk itu, Rasa khawatir langsung merayapi hatinya. Airmata nya pun langsung jatuh tanpa ia sadari.
Dara menjelaskan dan menceritakan semua pada Luna tentang pengeroyokan yang di alami El. Mendengar hal itu tubuh Luna serasa lemah tidak berdaya.
"Ra anterin aku ke Rumah Sakit sekarang juga." Ucap Luna sambil terisak menangis. Dara mengangguk lalu mereka segera pergi menuju Rumah Sakit yang merawat El saat ini.
"Maafin aku, Maafin aku. Aku yang salah terlalu egois dan keras kepala." Ucap Luna dalam isak tangisnya menyesali semua perbuatan nya pada El. Dara yang saat ini menemani Luna ikut menangis melihat sahabatnya itu, Ia memeluk Luna mencoba menenangkan Luna saat ini.
"Udah gak apa-apa, Aku yakin bang El pasti ngerti sama semua sikap kamu. Tenang ya, Sebentar lagi kita sampai." Ucap Dara merangkul Luna yang terus menangis memikirkan keadaan El saat ini.
Bersambung