Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
101



Setelah hari penangkapan itu semua kembali berjalan seperti biasanya. Karyawan suruhan pak Tommy juga tetap bekerja diperusahaan El seperti sedia kala seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Semua berjalan sesuai rencana yang dijalankan oleh El dan Daniel.


"Sayang.... Hari ini gak usah kerja ya." Ucap Luna menggelayut manja dileher suaminya yang sedang bersiap untuk pergi ke kantor. Melihat hal itu El menaikan sebelah alisnya, Karena tidak biasanya Luna menyuruhnya untuk tidak bekerja.


"Tumben, Biasanya kamu yang marah kalo abang males ngantor." Jawab El yang langsung memeluk istrinya.


"Akhir-akhir ini abang sibuk banget dikantor, Sering pulang malam juga." Protes Luna karena akhir-akhir ini El memang sangat sibuk di kantor. Apalagi setelah ia tau siapa yang sedang berusaha mencelakai anaknya saat itu.


"Maaf ya sayang, Akhir-akhir ini abang emang sibuk banget dikantor sampai-sampai gak punya waktu buat kamu dan Zea." Kata El lalu mencium pipi Luna. Saat ini mereka bisa puas berduaan karena Zea sudah berangkat sekolah bersama supir. Dan masalah pak Tommy, El juga sengaja tidak memberitahu keluarganya tentang itu semua. Ia tidak ingin Luna khawatir jika sampai mengetahui masalahnya saat ini.


"Kita jalan-jalan yuk, Aku bosan." Katanya lagi bermanja ria dalam pelukan El.


"Mmmm.....Ya udah kalo gitu abang telepon Daniel dulu ya." Sahut El tersenyum mengikuti kemauan istrinya. Mendengar hal itu Luna melepaskan pelukannya dan membiarkan El untuk menghubungi Daniel. Sambil menunggu suaminya bicara dengan Daniel ia kedapur untuk membereskan sisa sarapan.


"Mbak, Biar bibi aja yang beresin." Kata Bi Irah, Luna tersenyum dan tetap melakukan pekerjaannya.


"Mbak, Mbak Luna sakit?" Tanya bi Irah, Luna mengerucutkan alisnya sambil menggeleng.


"Gak bi, Kenapa?" Tanya Luna.


"Mukanya mbak Luna keliatan pucat."


"Gitu ya? Akhir-akhir ini emang sering pusing. Pasti karena tekanan darah menurun lagi." Jawab Luna, Karena El sering pulang lama ia juga sering ikut begadang menunggu suaminya pulang dari kantor.


"Sayang." Panggil El yang sudah berganti pakaian, Tidak lagi mengenakan baju kerja.


Luna melihat kearah pria itu yang sedang berdiri menyembunyikan kedua tangannya di balik saku celana. Pria yang selalu terlihat tampan walau hanya mengenakan baju kaos dan celana panjang santai.


"Kamu mau kemana hari ini?" Tanya El menghampiri Luna.


"Ummmmm......Kemana ya? Kita nonton yuk. Udah lama banget kita gak nonton." Ajak Luna, El setuju dan mereka berdua pergi untuk menghabiskan waktu berdua dan kali ini tanpa Zea.


***


"Ish El bangke, Kenapa dadakan gini sih ngabarinnya kalo hari ini ada meeting jam segini, Gue yang disuruh mimpin lagi." Kata Daniel yang buru-buru karena ia terlambat saat ini.


Setelah meletakan tas kerjanya, Daniel langsung pergi menuju ruang rapat karena ia sudah ditunggu disana.


"Pak El gak masuk?" Tanya Kenan yang juga ikut menghadiri rapat itu.


"Mendadak pak El ada urusan penting, Jadi untuk rapat hari ini saya yang memimpin." Kata Daniel, Terdengar ada beberapa investor yang berkomentar pelan tentang hal itu karena ini adalah rapat yang cukup penting.


"Harap tenang, Pak El sudah menyerahkan semua pada saya. Jika ada yang tidak berkenan silahkan langsung untuk menghubungi pak El." Ucap Daniel tegas, Mendengar hal itu semua orang langsung diam hanya satu orang yang malah bersikap santai dan tersenyum yaitu Kenan.


"Maafkan kami pak, Bukan kami tidak menghormati dan tidak berkenan. Tapi ada masalah penting saat ini dan kami rasa pak El harus tau itu."


"Iya pak, Benar yang dikatakan pak Frans. Saat ini ada orang datang pada kami untuk melakukan kerja sama dan menawarkan keuntungan yang lebih besar." Tambah salah satu dari mereka. Mendengar hal itu Daniel melihat kearah Kenan, Ken mengangguk karena orang tersebut juga mendatangi perusahaan Kenan.


"Lalu?" Tanya Daniel serius.


"Kami mengadakan rapat ini untuk mengajukan kenaikan harga saham yang setara dengan yang di dapat perusahaan milik pak El." Saat ini para investor berkumpul untuk menuntut perhitungan keuntungan yang mereka dapat agar sama rata seperti yang didapat oleh perusahaan milik El.


"Apa yang mereka janjikan?" Tanya Daniel tegas. Jika melihat dirinya saat ini siapa yang sangka jika aslinya ia adalah pria konyol.


"50-50. Pembagian yang sama rata."


"Jadi kalian juga menuntut hal itu pada pak El?"


"Tentu, Karena selama ini kami hanya mendapat bagian 40% dan perusahaan pak El menerima 60%."


"Baik, Saya akan bicarakan hal tersebut dengan pak El. Bahkan kami bisa memberikan 60% kami untuk kalian. Tapi kami tidak lagi mengurus biaya lainnya, Kami juga tidak akan mengeluarkan dana untuk dinas luar, Survey, bahkan mungkin kami tidak akan memakai brand-brand ternama lagi." Mendengar hal itu para investor tadi langsung terdiam.


"Kalian mendapatkan 40% bersih tanpa ada pengurangan sedikitpun padahal kalian tau untuk membuat serta mecetak satu majalah saya biayanya tidak sedikit. Kami bahkan harus mengeluarkan uang untuk menggaji para model papan atas. Jika kalian merasa dirugikan kalian boleh menerima tawaran orang tersebut. Tapi ingat kita sudah bekerja sama selama puluhan tahun sedikitpun perusahaan kami atau pun pimpinan kami tidak pernah merugikan atau menahan hak kalian. Bahkan pak El kerap memberikan bonus tambahan. Dan satu lagi, Jika kalian ingin mengakhiri kontrak kerjasama dengan perusahaan kami, Pastikan jika kalian tidak akan menyesal karena jelas kami tidak ingin menybung kembali tali yang sudah putus." Tambah Daniel, Ken tersenyum dan bertepuk tangan seorang diri bangga dengan kepepimpinan Daniel yang tidak kalah tegas dari El.


"Maafkan kami pak, Untuk sesaat otak kami tercuci dengan suatu janji yang belum tentu kebenaran nya." Kata salah satu investor tadi menyesal, Mereka semua kini tidak lagi menuntut pembagian rata mengingat selama ini mereka tidak pernah dirugikan oleh perusahaan El.


"Baik, Sekian untuk rapat hari ini. Jika masih ada yang tidak setuju kalian bisa keruangan saya atau mungkin langsung bicara demgan pak El besok pagi."


"Tidak pak, Kami semua tidak akan menuntut hal itu karena selama ini kami tau menerima untung tanpa tau urusan lapangan. Terimakasih untuk waktunya kami permisi." Daniel mengangguk dan mereka semua pergi dari ruangan tersebut.


Daniel mengusap kasar wajahnya, Diluar ia memang terlihat santai namun berbeda dengan keadaan hatinya yang juga ikut pusing memikirkan masalah ini tapi untungnya masalah bisa cepat diselesaikan nya.


"Lo gak pulang? Atau lo masih gak terima?" Tanya Daniel yang kaget melihat Ken masih duduk santai disana sambil berputar-putar dikursi itu.


"Gak lah, Kagum gue sama lo, Beda tipis sama El." Katanya lagi santai masih asik bermain dengan kursi yang memiliki roda kecil itu.


"Siapa lagi sekarang?" Tanya Daniel ikut duduk disamping Ken.


"Orang yang sama." Sahut Ken santai.


"GC Company?" Ken mengangguk membenarkan ucapan Daniel.


"Gila tuh orang doyan banget main belakang. Teruskan aja permainnya, Gue dan El bakalan tetap ikuti semua permainan lo sampai pada waktu yang tepat gue dan El bakalan nyingkirin lo dari permainan ini!" Ucap Daniel namun Ken tidak merespon. Ia malah asik tersenyum sendiri sambil menatap lurus kearah tembok membuat Daniel heran.


"Woy! Lo kenapa?" Tanya Daniel menepuk pundak Ken keras membuat pria itu kaget.


"Bodo amat lah terserah lu, Gue pusing banyak kerjaan." Kata Daniel berdiri meninggalkan Ken sendirian ditempat itu namun Ken malah membuntuti Daniel sampai ke ruangannya.


"Lo ngapain ikut gue bambang? Gue sibuk gak punya waktu buat dengerin cerita lo." Ucap Daniel sambil membereskan beberapa lembar kertas diatas mejanya.


"Gue mesti cerita sama lo, Lo harus tau cerita gue." Katanya memaksa namun Daniel.tidak menghiraukannya dan asik dengan laptopnya.


"Tau gak, Dia itu perempuan kedua yang bisa hikin hati gue bergetar setelah Dara." Mendengar hal itu Daniel langsung melemparkan pulpen yang ada disamping tangannya.


"Ngapain bawa-bawa istri gue?!" Tanya Daniel kesal.


"Gak gitu, Maksud gue berarti gue beneran jatuh cinta sama dia."


"Ya terus ngapain ngungkit-ngungkit sama Dara?!"


"Ish susah ya cerita sama lo, Bener kata El otak lo minimalis."


"Lo bangke keluar gak lo? Atau mau gue panggilin security?!" Sahut Daniel mulai emosi memghadapi Ken.


"Oke slow, Sorry brother. Jadi gini, Gue suka sama cewek tapi dia mantan dari sodara tiri gue." Kata Ken bicara jujur jika ia menyukai Eriska. Mendengar hal itu Daniel kaget dan menghentikan aktifitasnya.


"Maksud lo si.....-"


"Eriska." Sambung Ken


"Iya, Eriska. Lo suka sama dia? Serius? Lo gak salah orang?" Tanya Daniel mulai menanggapi cerita Ken.


"Serius lah gue, Makanya tadi gue bilang dia cewek kedua yang bisa buat hati gue berdebar saat ngeliat senyum dia."


"Tapikan lo tau kalo dia itu....-"


"Cewek jahat? Mantan cowok bej*t?" Sambung Ken sebelum ucaoan Daniel selesai.


"Iya, Tapi lo juga sama be*at nya sih gak heran gue." Kata Daniel santai.


"Bangke! Gue gak be*at cuma sedikit bre*gsek aja. Mungkin bagi orang yang gak kenal dia bakalan nganggap kalo dia cewek ja*ang. Tapi gak, Dia gak gitu. Dia cewek yang baik, Perhatian, Sederhana dan selalu bekerja keras." Mendengar hal itu dan melihat tingkah Kenan saat ini El tau jika Ken benar-benar sedang jatuh cinta.


"Terus dia suka sama lo?" Tanya Daniel melanjutkan pekerjaan nya.


"Gak tau, Tapi dia baik sama gue."


"Gue baik sama lo jangan dikira gue suka sama lo ya. Kalo masalah baik, Bibi dirumah gue juga baik sama gue masa iya dia suka sama gue? Dibilang gak tau perasaan cewek tapi lo bre*gsek tukang patahin hati cewek gak mungkin kan lo gak tau cewek itu suka atau gak nya sama lo."


"Tapi untuk yang satu ini gue beneran gak tau. Dia beda dari yang lain, Yang gue tau perasaan gue ke dia itu tulus." Sahut Kenan kembali tersenyum membuat Daniel bosan melihat wajahnya.


"Terus lo udah bilang sama dia kalo lo suka dia?"


"Belum, Tapi kalo dia faham sama sikap gue selama ini ke dia. Dia pasti tau kalo gue suka sama dia."


"Lamban sekali cara anda untuk mendapatkan hati seorang wanita." Kritik Daniel sambil tersenyum sinis.


"Menurut lo gue harus bilang sekarang?" Tanya Kenan serius melihat kearah Daniel.


"Jangan." Kata Daniel singkat sambil terus fokus pada pekerjaan nya.


"Kenapa?" Tanya Ken bernada tinggi.


"Karena lo masih ada di ruangan gue. Entar kalo lo udah pulang baru lo bilang sama dia."


"Bangke! Ya udah gue balik, Gue mau langsung bilang ke dia kalo gue suka sama dia." Kata Kenan berdiri dan pergi dari tempat itu, Daniel hanya mengangkat kedua bahunya sambil tetap fokus bekerja.


***


Hari makin siang, Dan tidak lama Zea pulang sekolah. El dan Luna juga ingin segera pulang karena jika putri kecilnya itu tau kedua orangtuanya menikmati waktu bersama tanpanya maka ia akan merajuk pada keduanya.


Sedang berjalan menuju parkiran mobil tiba-tiba kepala Luna terasa pusing hingga ia hampir jatuh jika tidak ditahan oleh El.


"Sayang kamu kenapa?" Tanya El khawatir, Ia menuntun Luna pelan menuju mobil mereka.


Keringat dingin mengalir deras ditubuh Luna membasahi wajahnya, Tangannya langsung terasa dingin pandangannya pun makin gelap.


"Kepalaku pusing banget." Kata Luna, Baru El ingin memberikan Luna minum Luna langsung pingsan tidak sadarkan diri.


" Sayang, Kamu kenapa? Kita kerumah sakit sekarang ya." Kata El benar-benar khawatir apalagi bibir Luna terlihat sangat pucat. Dari tempatnya menghabiskan waktu bersama Luna ia langsung pergi ke Rumah Sakit membawa istrinya.


Sepanjang jalan El tidak ada hentinya menggenggam tangan Luna yang terasa sangat dingin dan pucat seperti tangan mayat. Ia terus memanggil dan mengajak Luna bicara agar kesadaran Luna tidak hilang seluruhnya. Ia benar-benar takut hal buruk menimpa Luna mengingat jika istrinya itu mempunyai riwayat tekanan darah rendah. El sadar akhir-akhir ini Luna sering bergadang menunggunya pulang dari kantor dan kadang ia menemani El bekerja sampai larut malam.


"Sayang, Dengerin abang ya. Kamu wanita kuat, Kamu wanita hebat. Bentar lagi kita sampai di Rumah Sakit, Sabar ya." Katanya diliputi rasa khawatir teramat besar.


Bersambung dula ya dears 🤗 dilanjut besok untuk tau keadaan Luna dan Kenan yang mau nembak Eriska, Kira-kira diterima atau ditolak?


NOTE : Cerita belum selesai, Untuk para Kenan Lovers yg gak suka Ken sama Eriska jangan buru2 kecoa n pindah chanel ya, Karena cerita masih panjang banget makanya ikutin terus kalo mau tau Ken bakalan sama siapa akhirnya.