
Setelah melewati huru dan hara, Drama yang cukup menguras emosi dan keringat kini El dan Daniel sedang asik berbelanja oleh-oleh tentunya.....Saat ini mereka berdua sedang menikmati waktu santai berjalan disalah satu pusat perbelanjaan terkenal di kota itu. Tanpa ini itu, Tanpa gadis-gadis yang salah mengira mereka sebagai oppa-oppa kawe....
Dan satu lagi, Sejak kejadian di hotel kemarin El dan Daniel memutuskan untuk pindah hotel.
"Lain waktu kita ajak anak-anak Luna dan Dara kesini yuk.....Asik aja gitu kalo kita pergi liburan bareng." Kata Daniel yang sedang menikmati segelas banana milk dingin, Minuman yang menjadi favorit semua umur di negara gingseng itu.
"Ya yang ada mereka heboh sama idola mereka, Terus kita disuruh jaga anak-anak." Sahut El tidak berniat mengajak keluarga nya untuk datang kemari. Bukan karena El tidak ingin mengajak anak istrinya pergi ke luar Negeri, Hanya saja hatinya terasa kesal dan cemburu jika Luna terus memuji dan membanggakan idolanya tersebut.
"Iya ya, Padahal orang-orang sini ngira kita artis loh. Kok bisa orang yang tiap hari ngeliat kita gak nyadar sama ketampanan dan kekerenan kita yang merajalela." El hanya menyunggingkan ujung bibirnya menanggapi ucapan Daniel yang mulai merasa terlalu pede gara-gara disangka artis oleh para gadis saat itu.
"Gue udah selesai belanjanya, Habis ini mau langsung balik ke hotel."
"Yah kok balik? Belum puas gue jalan-jalan nya, Kita jalan lagi yuk." Bujuk Daniel menarik lengan baju El seperti seorang bocah yang meminta mainan pada ayahnya.
"Males! Mending gue tidur, Capek badan capek otak capek hati karena kangen sama anak istri gue, Jadi obat paling mujarab ya tidur." Sahut El menepis tangan Daniel yang sedang memegangi lengan bajunya itu.
"Elang.....Pak Elang, Ayolah kita jalan lagi.....Please, Mumpung kita disini besok pagi kita udah balik kampung."
"Bodo amat!" Sahut El singkat lalu pergi dari tempat itu tanpa melihat kearah Daniel yang masih berharap El mau menemaninya untuk jalan-jalan.
"Ish.....Nyebelin gila tuh orang tua! Gak ada minat lain selain istirahat, Ini lagi di Korea man gak bisa apa lo happy buang waktu seharian buat nikmati waktu." Celetuk Daniel lalu ia pun ikut pergi dari sana, Tapi tidak searah dengan El yang menuju hotel.
Daniel membuka aplikasi google maps di hapenya, mencari tempat terbaik untuk dia kunjungi selama di Korea. Mumpung lagi di Korea kan, lebih bagus waktunya dipakai buat jalan-jalan daripada kelonan sama bantal mulu dikamar hotel kek si El. Istilahnya supaya nggak ndeso dan punya cerita kalo ditanyain soal Korea gitu. Tapi masa mau jalan sendirian? Ga asik sih jalan sendirian. Berasa jomblo gitu, Padahal di rumah udah ada anak sama istri. Daniel bukannya takut tersesat tapi dia ga enjoy jalan sendirian. Ngajak El juga udah percuma, Palingan manusia itu sudah sampe di hotel dan ngorok.
Daniel sekarang beneran lagi pengen jalan-jalan di Korea, Kapan lagi ya kan dia bisa jalan sesantai ini. Kalo udah balik ke Indonesia, Yang ada malah ngadapin kerjaan yang bikin kepala Daniel pengen meledos.
"Gue harus kemana ya?" Tanya Daniel entah bicara pada siapa, Yang jelas dia lagi berdiri sendirian saat ini dipinggiran jalan kek orang aneh gitu ngomong sendirian pula. Untungnya sih muka ganteng, Putih bersih biarpun gak glowing terus dia juga pakai baju-baju bemerk jadi gak akan ada yang nyangka dia orang gila.
Daniel memilih duduk dikursi yang disediakan didekat pohon sambil mikirin caranya ngebujuk si Big Bos biar mau nemenin dia jalan-jalan.
"Gimana ya caranya bujuk El lagi supaya dia mau nemenin gue jalan-jalan? Biasanya El disogok pake apa ya sama Luna biar dia nurut? Apa gue telepon Luna aja kali ya, Biar entar Luna yang ngebujuk El dan kalo udah ibu Negara yang ngomong si El pasti bakalan Oke." Kata Daniel yang masih bicara sendirian ditempat itu.
Akhirnya rencana jahat itupun ia jalankan, Daniel dengan otak minimalis nya mampu memikirkan hal-hal selicik itu.
"Halo, Kenapa kak?" Tanya Luna saat sambungan telepon tersambung.
"Ummmm.....Aku ganggu gak?" Tanya Daniel basa-basi sebelum menghasut Luna.
"Gak, Kebetulan lagi santai. Zea juga baru aja tidur. Kenapa emang?" Tanya Luna yang mulai penasaran, Takut terjadi sesuatu dengan suaminya.
"Jadi gini nih, Mumpung lagi disini kan aku tuh pengen jalan-jalan gitu explore tempat-tempat bagus sekalian refreshing sebelum balik ke Jakarta terus ketemu sama yang namanya kerjaan lagi. Niatnya tuh pengen ngajak El kasian kan dia selalu berpikir tentang kerjaan mulu, Aku yang anak buah aja berasa setres apa lagi dia yang bos takut bener-bener setres otaknya ya khawatir lah tentunya aku sama El. Tapi yang jadi masalah itu, El lebih milik ngedekam di kamar hotel main game ketimbang jalan-jalan. Ya kali aja kamu bisa gitu bujukin dia biar dia mau keluar gak dikamar mulu ngabisin waktu, Secara besok kan kita udah balik lagi." Kata Daniel membuat karangan cerita agar Luna juga tersentuh mendengarnya dan membujuk El.
"Gitu ya, Ia sih dia kalo.udah kerja suka lupa waktu bahkan lupa makan. Ummmmm entar deh aku telepon dia dan nyuruh dia ikut jalan-jalan." Bagaikan mendapat bintang jatuh yang langsung masuk kedalam sakunya rencana yang dibuat oleh Daniel berhasil. Daniel tersenyum puas dan tinggal menunggu hasilnya.
"Iya, Makasih ya Lun udah mau tolongin aku ngebujuk El. Kamu tau lah kalo aku yang ngomong itu sama aja kek angin yang lewat, Beda sama kamu. Ya udah aku tutup dulu teleponnya ya, Salam sayang buat Zea." Kata Daniel, Setelah Luna menjawabnya ia langsung mematikan sambungan telepon.
Daniel benar-benar tersenyum puas sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Otot gue emang gak sekuat lo El tapi otak gue lebih aktif dari yang lo kira. Sekarang tinggal nunggu telepon dari lo yang nanyain gue lagi dimana." Katanya lagi masih bicara sendirian.
Setelah menunggu sekitar 20 menit telepon Daniel langsung berdering dan sesuai dengan tebakan nya jika yang menelepon nya itu adalah El. Daniel tidak langsung buru-buru mengangkatnya, Ia tau El pasti akan berteriak keras saat telepon diangkat.
"Lo dimana? Tiba-tiba gue kepikiran sama lo pengen banget gitu ketemu lo saat ini juga." Kata El saat telepon mereka tersambung. Daniel tersenyum mengernyit, Ia tau bahwa itu bukanlah sebuah bentuk dari rasa kangen atau sayang melainkan sebuah ancaman penyiksaan yang akan diberikan El padanya.
"Kenapa? Lo berubah pikiran? Mau ikutan jalan-jalan juga? Kan udah gue bilang mumpung di sini manfaatin waktu lo baik-baik." Jawab Daniel, Namun El yang sudah terlanjur kesal tidak memperdulikannya.
"Bangke! Lo laki tapi mulut lo lemes, Dikit-dikit ngadu, Dikit-dikit ngelapor. Hobi baru lo ya neleponin bininya orang!" Semprot El, Entah berapa lama drama ini akan berlangsung, Sedangkan waktu terus berjalan.
"Hahahaha gak lah brader, Kan gue care sama lo gak mau lo ngedekam mulu di kamar. Tau lah gue lo sering keluar masuk Negara orang, Tapi gak gitu juga dong masa iya tiduran mulu? Cuci matanya kapan?" Kata Daniel.lagi mencoba menjelaskan pada El agar El mengerti maksudnya.
"Alah basi! Dimana lo?" Sahut El yang terlanjur marah dan kesal.
"Gue, Gue lagi di pinggir jalan dekat mall yang tadi."
El langsung memutus sambungan teleponnya tanpa permisi lalu segera pergi ketempat Daniel berada saat ini.
Sambil menunggu El datang Daniel kembali membuka hapenya, Entah apa lagi yang ia rencanakan tapi saat ini ia benar-benar seperti sedang terhipnotis akan sesuatu yang ia lihat di hapenya.
Tidak begitu lama El datang dengan wajah kesal dan masam ia turun dari taksi lalu menghampiri Daniel yang sudah menebar senyuman dari bangku yang sedang ia duduki.
"Mukanya selow dong brader, Kita mau jalan-jalan loh ini bukan mau bayar hutang." Celetuk Daniel makin membuat El naik darah.
"Oke pertama-tama kita ke suatu tempat yang bisa meningkatkan kegantengan kita." Kata Daniel berdiri dari tempat duduknya, Namun El tidak menghiraukannya ia terlihat sangat malas sangking malasnya kedua tangan nya ia simpan rapi didalam saku jaketnya.
"Gak penasaran tempat apa itu?" Tanya Daniel didekat wajah El sambil berbisik. Daniel jika sedang jauh dari keluarganya maka kekonyolannya akan meningkat drastis tak pelak membuat El serasa ingin menghajarnya.
"Lo mau operasi plastik?" Kata El ikut bertanya sambil mendorong wajah Daniel agar jauh darinya.
"Ya gak lah! Gue loh udah ganteng maksimal ngapain operasi plastik?" Bantah Daniel cepat tidak terima dengan jawaban yang diberikan sahabatnya itu.
"Adalah pokoknya, Makanya buruan jalan berdebat mulu kapan jalannya." Kata Daniel menghentikan taksi lalu menarik El masuk kedalam taksi tersebut.
"Selama didalam taksi El hanya diam menatap kearah jendela. Sedangkan Daniel kembali mengutak-atik hp nya.
Atas kecanggihan teknologi saat ini Daniel tidak perlu bersusah payah memikirkan cara untuk bicara menggunakan bahasa Korea karena ia tinggal memperlihatkan layar hapenya pada supir taksi tersebut maka supir itu tau tempat tujuan Daniel.
Tidak sampai satu jam berkendara, El dan Daniel sampai didepan sebuah salon paling besar dan paling terkenal di kota Seoul. El benar-benar kaget dibuat oleh tempat yang dipilih Daniel untuk dikunjunginya.
"Nga......Ngapain kita berenti disini? Jangan bilang lo mau masuk kedalem." Kata El yang mulai terganggu dan angkat bicara.
"Ya masuk lah, Ngapain kesini coba kalo gak masuk. Aneh, Ayo buruan." Sahut Daniel menarik paksa tangan El agar mau menemani nya masuk kedalam sana.
Setelah sampai didalam sana, Daniel menganga takjub dan El malah merasa risih karena banyak sekali para gadis dan wanita yang langsung melihat ke arah mereka berdua. Walaupun disini juga ada beberapa orang pria yang sedang perawatan.
"Lo ngapain kesini sih? Buruan keluar takut kek tempo hari gue, Entar kita dikejar-kejar lagi." Kata El mulai panik.
"Tenang ajalah, Gak mungkin gitu lagi kok. Lo duduk santai aja disini, Gue mau permak rambut gue dulu." Sahut Daniel menekan paksa kedua bahu El agar duduk santai dan nyaman di sofa.
Setelah itu Daniel langsung meminta karyawan salon untuk merapikan rambutnya sekaligus mewarnainya. Cukup lama El menunggu hingga ia sangat amat bosan berada disana, Dari duduk, Berdiri, Mainin hape duduk lagi untung gak sampai baring guling-guling tapi belum juga Daniel selesai dengan tataan rambutnya entah gaya apa yang diinginkan Daniel. Setelah menghabiskan waktu yang sangat membosankan karena sangat lama akhirnya Daniel selesai dan kini sedang memamerkan rambutnya pada El membuat El tidak berminat melihatnya.
"Lo motong rambut sampingnya gitu doang sampai segini lama? Ganteng gak tambah tua iya!" Kata El yang langsung memberikan komentar pedas pada sahabatnya itu.
"Lo aja yang tua, Gak tau style. Ini model paling digemari sama artis Korea brader."
"Cih! Rambut di cat abu-abu gitu, Dia pikir keren apa? Mirip-mirip bulu tikus." Kata El tidak mau kalah.
"Bodo amat! Yang penting gue tambah keren biar besok pas pulang Dara makin lengket sama gue." El hanya mengernyit menanggapi ucapan Daniel dan saat ini mereka sudah keluar dari tempat itu. Benar saja yang dikatakan oleh Daniel, Saat ini ia menjadi pusat perhatian bahkan ada yang memotret mereka berdua secara diam-diam.
***
Setelah seharian menghabiskan waktu, Tenaga dan uang akhirnya kedua hot daddy ini kembali ke hotel dan sedang berada dikamar masing-masing untuk merapikan koper mereka juga mengepack rapi semua barang belanjaan.
Selesai membereskan semua El langsung merebah diri keatas tempat tidur yang luar biasa empuk dan nyaman itu.
Berbeda dengan sahabat nya yang mulai terjangkit virus corona, Sorry maksudnya virus k-pop ia sedang berbaring sambil memakai masker wajah yang tadi juga ia beli di salon.
Namun Q-time nya terganggu dengan suara vase bunga yang jatuh dan pecah. Daniel langsung bangun dan melihat kearah vase itu ia mengerucutkan dahi, Kenapa vase itu bisa terjatuh dari atas meja. Ia melepaskan sheet masker dari wajahnya dan menghampiri vase itu.
"Kok bisa jatuh? Gak ada angin juga gak ada apa-apa juga." Celetuknya sambil mengumpulkan pecahan kaca agar tidak terinjak. Namun hal aneh kembali terjadi lagi, Kali ini gelas yang jatuh membuat Daniel kaget setengah hidup. Ia mulai merasa tidak tenang, Terlebih saat suhu AC meningkat secara otomatis. Jantung Daniel serasa ingin lari duluan meninggalkan tubuhnya, Wajah yang tadinya merona kini terlihat pucat pasi. Tanpa pikir panjang lagi Daniel langsung mengangkut semua koper dan barang-barang nya menuju kamar El.
Kamar mereka memang berbeda satu, Daniel berada di lantai 11 sedangkan El berada dilantai 10. Karena kamar yang berada di lantai 10 penuh itu sebabnya kamar mereka berjauhan.
"Jangan ganggu, Jangan ganggu, Jangan ganggu. Do not disturb please.... " Kata Daniel sambil berlari cepat tidak peduli dengan tatapan aneh orang-orang yang melihatnya ketakutan.
Baru saja El terhanyut dalam mimpi indahnya bersama Luna pintu kamar El langsung digedor kuat oleh Daniel membuat Luna kabur dari mimpi El dan El terbangun kaget.
"Siapa sih gedor pintu jam segini? Masa iya Daniel?" Kata El, Ia mengucek kedua matanya lalu pergi melihat tamu yang sangat tidak sopan mengetuk pintu kamar tidak tau waktu.
"El! Bukan El buruan El. Tolongin gue El!" Teriak Daniel dari luar, Mendengar suara Daniel yang bergetar seperti orang yang hampir menangis El buru-buru membuka pintu takut terjadi sesuatu pada sahabatnya itu. Walaupun Daniel bobrok dan gesrek tetap saja ia termasuk salah satu manusia yang disayangi oleh El.
"Lo kenapa? Ada apa?" Tanya El saat membuka pintu. Daniel langsung masuk membawa semua kopernya tanpa mengatakan hal apapun, Ia berlari kearah tempat tidur El dan membungkus diri menggunakan selimut tebal milik El membuat El keheranan. El mengunci pintunya lalu menghampiri Daniel, Dilihatnya badan Daniel menggigil dibalik selimut tebal itu seperti orang demam tinggi.
"Dan, Lo kenapa sih?" Tanya El lagi makin penasaran.
"El....Di.....Dikamar gue a.....Ada ha.....Hantu!" Katanya lalu memeluk tubuh El kuat-kuat tidak perduli El mendorongnya kuat ia tetap memeluk El dengan erat.
"Gue takut sumpah, Jangan jauh-jauh dari gue. Jangan lepasin pelukan gue please, Gue takut." Kata Daniel memohon dengan sangat mengiba pada El.
"Hantu? Lo apaan sih? Lo mimpi? Makanya kalo senja jangan tiduran." kata El sambil terus berusaha melepaskan pelukan Daniel.
"Gue gak tidur lol! Gue lagi maskeran, Terus vase bunga jatuh secara tiba-tiba padahal gak ada angin kencang, Gak ada orang lain disana. Gue beresin kacanya gak lama gelas yang diatas kaca juga ikutan jatuh terus suhu AC disana langsung naik jadi dingin banget." Kata Daniel menjelaskan sedetail mungkin pada El.
"Lo kecapean kea nya makanya lo berhalusinasi. Makanya gak usah habis-habisan jalan, Gitu kan jadinya."
"Makanya makanya aja sih lo dari tadi. Jantung gue udah hampir loncat gini lo makanya makanya mulu. Pokoknya malam ini gue tidur ditempat lo, Sama lo deket lo titik!"
"GILA! Gak mau gue, Balik ke kamar lo! Gak sudi gue lo pegang-pegang kea malam itu. Gak gak gak, Big no!" Tolak El mentah-mentah tidak ingin menampung Daniel.
"El please El, Gue gak bohong dikamar gue ada hantunya. Gue bener-bener takut El sumpah, Untuk kali ini tolongin gue El." Kata Daniel memohon kali ini bahkan ia mencium tangan El sangking seriusnya. El sebenarnya sangat sangat tidak ingin membiarkan Daniel tidur dikamarnya tapi ia juga merasa kasian jika tetap menolak Daniel
"Untung gue gak tegaan, Kalo gue tega aja udah gue tendang lo keluar." Akhirnya dengan sangat berat hati El menerima Daniel untuk bermalam dikamarnya. Entah benar atau tidak jika dikamar Daniel ada hantunya yang jelas, Banyak tamu yang tidak ingin tidur di kamar itu dengan alasan berbeda-beda.
**Berdambung.....
Sorry kalo ngebosenin n gaje alurnya......
Makasi buat yg sll dukung n nunggu. Karena akhir2 ini author banyak kegiatan dirumah jd agak lamaan up nya tp ttp diusahakan up ya**.