Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Jelek dan Gendut!



El yang saat ini sedang sibuk dikantornya tengah fokus bekerja.


Trinng.......Telepon kantor berbunyi, El langsung menerima panggilan itu.


"Pak ada yang mau bertemu bapak." Ucap resepsionis bernama Evi.


"Siapa? Bukannya hari ini saya gak punya janji?"


"Iya, Tapi dia bilang bapak udah lama nunggu dia." El mencoba mengingat-ingat takut jika ia lupa kalau memiliki janji dengan klien.


"Ya udah kalo gitu suruh keruangan saya." El langsung menutup telepon dan kembali melanjutkan pekerjaan nya.


Tidak lama terdengar suara pintu ruangan El diketuk. El pun langsung mempersilahkan orang yang mengetuk itu masuk.


"Sudah lama sekali kita gak ketemu El." Mendengar suara itu tangan El langsung berhenti menulis, Mataya melirik tajam kearah asal suara. Seorang pria paruh baya mengenakan setelan serba hitam sedang berdiri disana sambil tersenyum memandang El.


"Kamu gak mau nyuruh papa kamu untuk duduk?" Ucapnya lagi, El langsung berdiri dari kursi nya namun tetap diam tidak mengeluarkan suara. Pria itu tersenyum melihat sikap El saat ini, Ia adalah Bram Leondra ayah kandung El yang sudah hampir 20 tahun tidak pernah bertemu dengannya. Sebenarnya hal yang sangat gampang bagi Bram untuk menemukan keberadaan El terlebih El sering lalu lalang di media mau itu televisi, Majalah atau internet semua memuat nama dan photo El namun ia sengaja memilih untuk mengawasi anak semata wayangnya itu dari jauh.


"Mau apa papa kesini?" Tanya El datar terlihat seperti bukan anak dan ayah.


"Kamu masih sama seperti dulu." Katanya sambil tertawa lalu menyalakan sebatang rokok membuat El jengah.


"Gimana keadaan istri kamu? Papa bawain beberapa hadiah kecil untuk calon pewaris papa." Ucap pria itu duduk santai sambil meletakan beberapa tas belanjaan keatas meja menyerahkan nya pada El, Membuat El mengepal kuat kedua tangannya.


"Jangan pernah berpikir untuk mendekati keluargaku." Kata El penuh penekanan, Bukan tanpa alasan El bersikap seperti sekarang ini. Ia hanya ingin melindungi keluarga kecilnya dari bos mafia sekaligus ayah kandungannya ini.


"Ayolah, Kita sudah 20 tahun gak ketemu. Liat kamu menjadi orang sukses dan besar seperti saat ini bikin papa ingat kalo papa punya seorang anak laki-laki. Kamu gak mau ngenalin istri kamu sama papa?" Tanya nya lagi, El yang hampir meledakan emosinya langsung berjalan kearah pak Bram dengan langkah tegas, Ia berdiri tepat di depan pak Bram.


"Aku peringati satu kali lagi, Jauhi keluargaku atau papa akan liat sisi buruk papa yang ada didalam darahku." Ancam El, Tentu ia tau betul jika pak Bram memiliki maksud sehingga ia berani datang setelah sekian lama tidak mengusik kehidupan El.


Pak Bram berdecih melihat El yang begitu ingin menghajarnya jika saja pak Bram bukan ayah kandungnya mungkin El sudah menendangnya keluar dan membuat pria ini babak belur.


"Elang Edgar Leondra, Pada kenyataan nya nama Leondra sudah melekat pada diri kamu sejak kamu masih didalam kandungan ibumu. Dan itu artinya kamu tidak jauh berbeda denganku. Kamu pikir papa gak tau kamu punya ratusan anak buah diluar sana? Kamu pikir papa gak tau kehidupan kamu dipanti asuhan? Kamu sama seperti papa, Karena kamu seorang singa jantan yang haus akan kekuasan dan karena kamu Elang yang memiliki mata tajam dan mampu melewati badai. Apa kamu gak sadar akan hal itu?"


"Aku bukan seorang Leondra, Tapi aku Wirayudha." Ucapnya tegas membuat pak Bram tertawa mendengar hal itu.


"Dan satu lagi yang perlu papa ingat. Walaupun aku seorang Elang dan bahkan seorang singa pada kenyataannya kita berbeda!" Tambahnya lagi.


"Baiklah, Tapi ingat satu hal yang papa ingin seorang cucu laki-laki yang kelak akan meneruskan semua kerajaan besar milik papa. Apapun dan bagaimana pun keinginan Bram Leondra harus terwujud." Katanya sambil berdiri lalu pergi dari kantor El.


El yang benar-benar kesal memukul kuat mejanya hingga tangannya terluka apalagi jika ia kembali mengingat bahwa ibu kandungnya meninggal karena perbuatan jahat ayahnya itu makin membuat El murka pada sosok pria yang terlihat gagah diusia yang tidak lagi muda.


***


Luna dan Dara sedang asik berbelanja di mall ditemani Daniel, Usia kandungan Luna yang kini menginjak 7 bulan dan Dara 8 bulan membuat kedua suami mereka kompak untuk menyuruh kedua nya cuti kuliah.


"Sayang, Bawain belanjaan nya." Ucap Dara menarik tangan Daniel yang sudah penuh dengan tas belanjaan.


"Masih banyak ya yang mau dibeli?" Tanya Daniel meraih tas belanjaan yang entah keberapa.


"Gak, Bentar lagi pulang kok. Sekalian punya Luna juga bawain ya." Katanya santai sambil menambah beban Daniel. Mereka kembali masuk ke toko pakaian bayi dan kembali memilih lagi dan lagi membuat Daniel memutar bola matanya.


"Kampret si El, Harusnya dia ada disini. Gue telepon aja ah suruh kesini, Gak sanggup gue kalo bawa semua belanjaan kedua nyonyah-nyonyah besar itu sendirian." Katanya lagi lalu ia menghubungi El agar El menyusul mereka.


"Lo udah gak sibuk kan? Buruan kesini, Mereka lepas kendali. Penuh tangan gue, Tiap kali ditanya jawabnya udah mau pulang tapi masuknya ke toko mulu kapan pulangnya kalo gitu ceritanya?" Ucap Daniel langsung tanpa basa-basi.


"Lo ngeluh mulu sih kerjaannya jadi bapak? Bawa barang belanjaan gitu gak sebanding sama pengorbanan mereka jadi ibu. Lo liat tuh jangankan buat jalan, Buat tidur aja susah mesti nyari posisi yang bener-bener pas baru bisa tidur belum lagi waktu tidur ditendangin mulu perutnya gak mikir sampai sana lo?" Balas El membuat Daniel diam.


"Iya sih tau gue, Tapi ya gak adil dong lo santai dikantor, Lah gue kek babu disini. Pokoknya gak mau tau gue, Buruan kesini." Katanya langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu El bicara.


"Sayang, Sini......" Panggil Dara kembali melambaikan tangannya dengan dua buah kantong belanjaan membuat Daniel menghela nafasnya namun tetap berjalan menghampiri Dara.


"Masih banyak yang mau dibeli?" Tanya Daniel lagi pada istrinya.


"Gak sayang, Bentar lagi deh kita pulang ya." Bujuk Dara yang benar-benar lupa segalanya jika sedang berbelanja keperluan bayi.


"Kalo masih banyak biar entar aku sama El beliin aja sekalian mall nya." Luna tertawa mendengar ucapan Daniel yang secara tidak sengaja ingin istrinya berhenti untuk belanja.


"Eh iya ya, Kok aku gak kepikiran sampai sana?" Sahut Dara menanggapi ucapan suaminya dengan serius.


"Ish kamu ini apaan sih. Maksud kak Daniel itu untuk hari ini cukup dulu belanjanya Dara sayang." Kata Luna meluruskan maksud Daniel, Daniel mengangguk membenarkan ucapan Luna.


"Kenapa? Kamu gak suka? Kamu capek? Atau kamu marah karena aku banyak ngabisin uang kamu?" Kata Dara, Daniel hanya bisa mengusap kasar wajahnya frustasi menghadapi istrinya.


"Enggak sayangku, Cintaku, Istriku, Jiwaku, Duniaku. Ya udah, Kamu pilih-pilih aja lagi ya, Aku tunggu disini entar kalo udang panggil aja oke." Katanya memamerkan senyuman yang sangat sangat terpaksa.


"Nah gitu dong, Ayo Luna kita belanja lagi." Ajak Dara sambil menggandeng tangan Luna kembali memilih-milih.


"Kalo sampe El gak datang liat aja entar, Gue kirimin guna-guna dia entar malam." Gerutu Daniel duduk sambil meregangkan otot-ototnya.


***


"Kamu banyak banget sih belanjanya, Keknya kak Daniel kecapean deh." Kata Luna sambil melihat-lihat baju untuk bayi perempuan.


"Gak tau padahal kamar baby udah penuh sama barang-barangnya. Clara juga kalo kerumah pasti bawain sesuatu, Entah itu baju, Bantal atau mainan. Tapi kamu kan tau sendiri, Aku kurang begitu suka sama dia dari awal sampai dia pacaran sama kak Rendy."


"Kenapa? Dia baik kok. Aku juga sering dibawain perlengkapan bayi sama dia."


"Mmmmm gak tau kenapa gak suka aja pokoknya."


"Jangan gitu, Siapa tau mereka berjodoh berarti kan otomatis dia jadi kakak kamu juga. Lagian punya dendam apa sih sama Clara sampai-sampai segitu bencinya. Kamu lagi hamil loh, Jangan suka benci sama orang entar anak kamu kek orang yang kamu benci mau?"


"Ih amit-amit, Jangan sampai nak ya." Sahut Dara cepat sambil mengusap perut buncitnya membuat Luna tertawa lucu.


"Gue ngerasa dia tuh gak tulus sama kak Rendy, Gue juga udah sering bilang sama kak Rendy untuk gak terlalu hanyut sama perasaan nya ke Clara."


"Udah, Lebih baik positif thinking aja daripada ngira-ngira yang belum pasti." Sahut Luna meyakinkan Dara


***


"Untung lo cepet datang, Kalo gak datang gue santet lo entar malam biar struk sekalian." Kata Daniel saat El datang menghampirinya.


"Dimana para kanjeng mulia ratu?" Daniel menunjuk kearah toko baju dan mainan yang dimasuki Luna dan Dara.


Sambil menunggu para istri mereka berbelanja mereka asik mengobrol. Dua pria tampan sedang duduk bersama di mall tentu menjadi pusat perhatian bagi para kaum hawa.


"Misi boleh kita duduk disini?" Ucap dua orang gadis cantik bertubuh tinggi langsing dan memakai pakaian seksi. Daniel mengangguk tanpa mengatakan apapun lalu kembali mengobrol dengan El.


"Ummmm......Bisa minta tolong bukain gak? Keras banget aku gak kuat." Ucap salah satu wanita tadi ia memakai baju kaos v neck ketat berwarna merah memamerkan belahan dadanya yang montok juga dipadukan dengan hot pants yang juga sama ketat memperlihatkan paha putih mulusnya dan kaki panjangnya. Sedangkan wanita yang satu lagi memakai mini dress ketat bercorak bunga memperlihatkan bentuk full body nya.


El menghela nafasnya lalu meraih botol minum yang diberikan gadis tadi lalu membuka kan tutupnya. Terlihat gadis itu menikmati pemandangan yang tepat berada didepan nya saat ini sambil sesekali ia membusungkan dadanya agar terlihat lebih seksi dihadapan El namun El cuek bahkan tidak meliriknya sedikitpun begitu juga dengan Daniel yang sejak tadi terus disenyumi oleh gadis yang memakai mini dress disampingnya.


"El dan Daniel sebenarnya tau maksud dari kedua gadis yang mendekati mereka tapi mereka lebih memilih cuek dan tidak menghiraukannya. Sampai-sampai demi perhatian El dan Daniel salah satu gadis tadi dengan sengaja menumpahkan minuman yang ia minum tadi ke dadanya membuat dada besar dan montok itu terlihat licin seperti sedang berkeringat.


"Sorry, Punya tissu atau sapu tangan gak? Kebetulan aku lupa bawa." Katanya menanyai El dan Daniel.


"Gak ada, kenapa gak ke toilet aja disana banyak tissu." Sahut El cuek tidak ingin melihat gadis itu.


"Kan jauh, Keburu basah ampe dalem dong." Katanya mengeluarkan suara manja membuat El risih.


***


"Eh itu bukannya bang El." Tunjuk Dara melihat kearah El dan Daniel, Luna lalu melihat kesana dan benar saja El dan Daniel sedang asik mengobrol.


"Tapi itu dua cewek ngapain disana? Masa iya mereka ngobrol sama cewek-cewek itu?" Kata Dara mulai emosi melihat suaminya didempeti seorang gadis cantik dan seksi.


"Kali aja mereka juga cuma duduk, Inikan tempat umum." Sahut Luna cuek tidak ingin ambil pusing.


"Ngapain duduk disitu coba? Kan disampingnya banyak tuh bangku yang kosong. Gak bisa dibiarin, Istri sebulan lagi melahirkan dia malah ngobrol sama cewek-cewek gatal gitu." Dara langsung menarik tangan Luna untuk menghampiri El dan Daniel.


"Ehhhhemmmmm......" Kata Dara berdeham saat mereka tiba disana.


"Udah belanjanya?" Ucap Daniel berdiri sambil tersenyum manis pada Dara yang sudah memasang wajah masam. Sedangkan El langsung berdiri lalu mengecup bibir istrinya dan perut buncit istrinya itu. Membuat dua wanita tadi melihat heran kearah El dan Daniel.


"Udah, Ayo kita pulang. Aku capek!" kata Dara sambil meraih tangan Daniel untuk menegaskan pada dua wanita itu jika Daniel hanya miliknya.


"Capek ya, Ya udah kita pulang sekarang ya." Sahut Daniel lembut.


"Mereka siapa kalian?" Tanya salah satu gadis yang mamakai baju kaos tadi penasaran.


"Istri kita." Sahut Daniel penuh percaya diri membuat dua gadis tadi menganga tidak percaya.


"Ayo buruan." Desak Dara, Mereka berempat lalu pergi dari tempat itu.


Setelah jauh dari sana Dara langsung melepaskan genggaman tangannya pada Daniel dan berjalan jauh dari suaminya. El dan Luna yang melihat mereka berdua tau jika sebentar lagi akan ada perang ketiga.


"Sayang, Kamu kenapa sih?" Tanya Daniel heran melihat perubahan sikap istrinya.


"Laper mau makan." Ucap Dara cuek enggan melihat kearah Daniel.


"Bang, Luna kita makan dulu ya baru pulang." Katanya lagi mengajak El dan Luna sedangkan Daniel tidak ia ajak. El dan Luna mengangguk mengikuti keinganan Dara lagipula Luna juga merasa lelah.


"Salah apa lagi coba gue ya Tuhan..." Keluh Daniel pada El, El hanya tersenyum menanggapi ucapan sahabatnya itu.


"Kamu mau pesen apa sayang?" Tanya Daniel saat mereka sedang melihat buku menu.


"Es krim coklat dikasih saus coklat dan taburan coklat." Jawab Dara singkat.


"Coklat? Ta......Tapi kan kata dokter kamu gak boleh terlalu banyak makan es krim dan coklat."


"Kenapa? Karena aku tambah gendut? Gak kek cewek-cewek tadi" Sahut Dara ketus membuat Daniel mengacak-acak rambutnya karena frustasi. Sedangkan El dan Luna hanya tertawa pelan melihat keduanya.


"Gak gitu cinta. Ya ampun kamu kenapa sih? Tiba-tiba badmood gini?"


"Kamu pasti seneng kan habis kenalan sama cewek-cewek gatel barusan. Dipamerin body gitu pasti seneng banget tuh pasti."


"Ya tuhan.......El buruan jelasin ke Dara kalo kita tadi sama sekali gak ngehirauian mereka."


"Gak perlu! Yang aku liat banyak ngomong ya emang kamu." Kata Dara menghentikan El yang baru saja ingin membuka mulutnya.


"Kamu cemburu sama mereka? Sumpah cinta, Aku gak ngehirauin mereka. Aku ngobrol sama El ngebahas masalah kerjaan dikantor." Ucap Daniel berusaha menjelaskan pada Dara, Tapi siapa yang bisa mengalahkan keras kepala Dara. Sebanyak apapun penjelasan yang diberikan Daniel tidak akan mengubah pola pikirnya.


"Ra, Udah dong kak Daniel kan udah jelasin." Bujuk Luna membantu Daniel yang sudah kehabisan akal membujuk istrinya itu.


"Iya Ra, Yang dibilang Daniel bener. Kita bedua sama sekali gak ngehirauin mereka." Tambah El ikut bersaksi.


"Ya gak gitu, Udah tau dideketin kenapa gak pergi menjauh? Cari tempat lain kan bisa, Kenapa harus tetap duduk disana? Seneng dideketin mereka? Atau emang seneng ngeliat mereka?" Tepis Dara membuat semua diam.


"Iya ya, Kalo dipikir-pikir kamu emang bener. Padahal bangku disebelahnya kosong, Kenapa gak pindah aja?" Kini Luna mulai ikut terpengaruh oleh ucapan Dara.


"Sayang, Kamu kok ikutan mikir gitu sih?" Kata El mulai merasakan hawa tidak nyaman disekitarnya terlebih tatapan hangat dan lembut dari Luna perlahan mulai berubah.


"Ya gak, Coba deh dipikirin lagi. Kalian pasti tau banget kan kalo dua cewek tadi deketin kalian, Gak mungkin dong kalian gak tau maksud mereka sepolos apa sih emang sampai-sampai gak ngerti kalo mereka lagi ngedeketin? Kenapa gak pindah tempat duduk aja gitu loh? Gak ribet kan tinggal pindah doang, Jarak bangkunya juga gak jauh gak perlu capek jalan kaki." Kini dua pria itu hanya bisa pasrah menerima semua ucapan dan pikiran istri mereka.


"Besok-besok kita belanja online aja ya gak usah nge-mall." Ucap Daniel tidak tau lagi harus bilang apa, Toh semua akan sia-sia ditambah dukungan dari Luna maka El dan Daniel sudah pasti END!


"Emang kalian salah, Masih gak ngaku?" jawab Dara tegas membuat Daniel merasa tidak sanggup lagi dan ingin sekali menangis saat ini juga.


"Sayang, Dengerin abang baik-baik ya. Abang dan Daniel sama sekali gak ada sedikitpun pokoknya walau sedikit banget gak ada ngehirauin cewek-cewek itu. Kenapa kita gak pindah karena kita berdua emang ngerasa kita cuma berdua disana gak ada yang lain apalagi mereka. Karena semenjak kamu hadir abang gak pernah tertarik sama siapa pun selain kamu." Ucap El meyakinkan Luna.


"Dan semenjak kamu hadir kamu adalah awalku sekaligus akhirku." Tambah Daniel meyakinkan Dara.


"Kita siap menghadapi masalah seberat apapun itu, Asal jangan kehilangan kalian." Kata El lagi, Tanpa menunggu hitungan menit Dara dan Luna langsung memeluk para lelaki mereka berdua.


El dan Daniel tersenyum puas karena akhirnya semua kembali normal.


"Biarpun aku sekarang jelek dan gendut kamu tetep sayang?" Tanya Dara pada Danie, Daniel tersenyum lalu mengecup kening, Kedua mata, Kedua pipi dan bibir Dara.


"Gak ada wanita yang lebih cantik daripada kamu, Karena kamu adalah seorang istri sekaligus seorang ibu." Ucap Daniel tersenyum, Dara dan Luna kini merasa lega tidak lagi memikirkan hal-hal yang aneh.


Bersambung.......