Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Karena kamu wanitaku



Setelah Luma dan Dara pergi dari sana El dan Daniel kembali berdebat dan saling menyalahkan satu sama lain. Bagaimana tidak, Daniel lah yang menjadi korban dari celetukan asal-asalan yang keluar dari mulut El.


"Lo makanya kalo punya mulut dipake seperlunya! Heran gue, Gak punya aura bos sama sekali!. Jadi ribet gini kan urusan nya?!" Kata Daniel melemparkan kertas yang ia rebut secara paksa tadi kehadapan El. Bawahan mana yang berani melakukan hal sekurang ajar itu pada atasannya selain Daniel dan atasan mana yang rela menerima perlakuan seperti itu selain El.


"Ya maaf, Mana gue tau kalo mereka mau mampir kesini. Luna juga gak bilang apa-apa sama gue." Sahut El yang terlihat dari ucapannya merasa menyesal namun kalau dilihat dari raut wajahanya saat ini sama sekali tidak menunjukan rasa menyesal sedikitpun.


"Maaf-maaf! Udah gak ada gunanya maaf lo. Tetap aja entar dirumah gue mesti jelasin panjang lebar sama Dara tentang Jessy." Sahut Daniel yang benar-benar masih tidak bisa terima.


"Ya lo jelasin yang sebenernya, Kalo emang lo gak punya hubungan atau gak punya rasa untuk Jessy ngapain lo takut? Gue bilangin ya ke lo, Kita sebagai pria sekaligus kepala rumah tangga gak boleh takut sama istri." Kata El memberi masukan membuat Daniel makin ingin menarik mulutnya.


"Lo aja mati kutu depan Luna sosoan ngomong gitu ke gue!"


"Gue gak takut, Gue hanya bersikap lembut. Takut dan lembut punya arti yang berbeda jauh, Faham!"


"Lembut dan takut itu beda tipis." Sahut Daniel tidak mau kalah......


"Kalo yang tau bang Rendy gimana?" Tambah El menakut-nakuti Daniel membuat Daniel langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Lo emang bener-bener bangke ya El! Lo bilang sama gue lo punya dendam apa sama gue, Biar kita selesein secara laki." Kata Daniel makin melonggarkan dasinya membuat El makin bersemangat membuatnya kesal.


"Ya gak gitu, Coba lo pikir. Setelah sekian lama bang Rendy jomblo terus akhirnya dia punya pacar. Dan yang memprihatikan adalah pacar nya itu dulunya tergila-gila sama ade iparnya sendiri, Kan miris banget nasibnya."


"Lo ngomongin masalah ini sekali lagi gue bakalan telepon Luna dan gue bakalan ngasih tau ke dia kalo salah satu model yang kerja disini itu dulunya mantan lo!" Ancam Daniel membuat El bungkam.


"Oke lupakan." Kata El kembali fokus bekerja.


"Oh iya, Gue mau tanya sama lo." Sambung El meletakan pulpennya lagi dan melihat kearah Daniel.


"Gue gak mau jawab! Gue sibuk mikir!" Sahut Daniel cuek yang kini duduk di sofa melonggarkan dasinya.


"Serius, Lo tau gak cara untuk menyuburkan kandungan?" Awalnya Daniel sama sekali tidak tertarik dengan pertanyaan El namun saat ini El terlihat sangat serius membuat Daniel merubah pikiran nya.


"Maksud lo? Lo sekarang mandul?" tanya Daniel memperjelas pertanyaan yang diajukan oleh El. El diam sejenak ia tidak yakin ingin bicara hal yang dialami oleh Luna pada Daniel.


"Woy.......Berdoa dulu lo sebelum ngomong?" Tegur Daniel mengagetkan El yang sejak tadi belum juga bicara membuat Daniel merasa sangat penasaran.


"Ish sabar bangke gue juga lagi mikir! Jadi gini, Waktu itu gue nganterin Luna pergi ke Dokter kandungan untuk ngikutin program hamil. Tapi, Dari hasil pemeriksaan Luna gak bisa lagi hamil karena rahimnya mengering gak bisa menghasilkan sel telur. Kata Dokter itu disebabkan karena racun yang dulu gak sengaja Luna makan. Gue tau hatinya pasti ngerasa kecewa banget, Lo bisa bayangin gimana sakit hatinya seorang wanita saat dia di vonis gak bisa hamil lagi." Kata El yang akhirnya menceritakan masalah yang sedang berkunjung kedalam rumah tangga nya saat ini.


"Dan itu sebabnya lo ke penjara?" El mengangguk membenarkan ucapan Daniel.


"Gue udah jelasin ke dia kalo gue gak mempermasalahkan keadaan dia sekarang karena kita udah punya Zea. Dia ngerti tapi tetap aja gue tau dihatinya dia merasa kecewa banget" Ucap El, Mendengar hal itu Daniel ikut merasakan apa yang dirasa oleh El saat ini.


"Gue gak tau masalah begitu. Kenapa lo gak coba tanya bunda atau bi Irah. Biasanya kan orang-orang tua zaman dulu tau obat-obat herbal gitu." Sahut Daniel memberi saran.


"Gue ragu, Gue takut kalo gue cerita hal ini sama yang lain Luna makin merasa terpojok dan mikir kalo gue menuntut dia untuk punya anak lagi. Untuk saat ini gue dan Luna jalani semua dengan sabar, Karena gue percaya Tuhan gak pernah menutup mata walau sedetik. DIA akan selalu melihat gue dan Luna yang lagi usaha dan terus berdoa. Gue pasrahkan semuanya cuma itu yang bisa gue dan Luna lakuin." Ucap El membuat hati Daniel terketuk. Ia tau betapa ingin El dan Luna kembali memiliki seorang anak laki-laki sama halnya seperti dirinya yang sangat mengingikan seorang anak perempuan kembali hadir ditengah-tengah keluarganya namun Dara bersikeras tidak menginginkan nya.


"Orang yang pasrah bukan berarti orang yang menyerah. Justru karena ia puas berusaha dan menyerahkan hasil akhirnya pada Tuhan. Gue gak kasian sama Luna, Tapi gue bangga. Dia bukan cuma ibu untuk Zea tapi juga untuk Davin dan Devan." Kata Daniel tersenyum pada El memberikan dukungan pada sahabatnya lalu ia pergi dari ruangan itu.


Itulah mereka El dan Daniel dengan segala kekonyolan dan kebodohan yang kadang mereka lakukan tapi sedikitpun mereka tidak pernah mengkhianati arti persahabatan.


El tersenyum merasa sedikit lebih ringan beban yang ia rasakan.


"Lo emang gila, Kurang waras bahkan kadang rasanya pengen banget gue mukul lo sampai lo bonyok. Tapi lo sodara gue yang gak pernah mau lari kalo gue ada masalah." Celetuk El tersenyum melihat Daniel.


***


Sedangkan Luna dan Dara saat ini sedang berada disebuah restoran untuk arisan. Sebenarnya Luna tidak suka berkumpul seperti ini, Namun ini adalah acara yang diadakan oleh teman-teman kampusnya dulu. Selain untuk berkumpul karena arisan, Mereka juga berkumpul untuk menjaga silaturahmi.


"Lun, Hidup kamu kan serba berkecukupan. Punya suami CEO dari perusahaan terkenal. Kenapa gak nambah momongan? Mumpung masih muda. Dan lagi, Anak kamu baru satu kan?" Ucap salah satu teman arisan Luna.


"Lagi usaha." Sahut Luna singkat sambil tersenyum. Padahal dalam hatinya saat ini ia merasa sangat kecewa. Pertanyaan ini bagaikan sebuah tembakan yang dilepaskan ke udara dan tepat mengenai jantungnya.


"Usaha bikin atau usaha mencegah?" Ejek salah seorang lain nya lalu mereka tertawa beramai-ramai.


"Ya usaha nambah lah, Gimana sih kalian." Sambar Dara yang selalu bicara asal-asalan.


"Jangan lama-lama usahanya, Kemaren tetangga aku juga gitu. Kalo ditanya kapan nambah dia selalu bilang masih usaha. Suaminya pengen banget punya anak laki-laki karena dia punya anak 3 orang cewek semua. Dam ternyata dia malah usaha untuk mencegah kehamilan dengan alasan trauma sama rasa sc, Tau gak akhirnya gimana? Suaminya selingkuh dan punya istri lain yang udah hamil. Gak heran sih, Suaminya itu kan seorang Direktur dari perusahaan ***** tentu banyak dikelilingi cewek-cewek cantik yang lebih sempurna dan rela menyerahkan segalanya. Sedangkan istrinya malah sok-sok nolak. Kamu juga harus hati-hati, Apalagi suami kamu itu termasuk kriteria semua wanita." Kata wanita tadi sambil terus asik memakan makanannya. Mendengar hal itu Luna menghentikan makannya.


"Ya jelas gak mau lah istrinya gila aja. Dikira enak sc? Aku yang baru satu kali aja udah trauma sama rasanya. Lagian kalo misalnya si istri hamil lagi dan ternyata anak ke 4 cewek lagi apa si suami bisa terima? Belum tentu kan? Dan aku rasa si suami emang sengaja nuntut untuk istrinya hamil lagi bukan karena dia pengen anak cowok. Tapi karena ada alasan lain, Mungkin dia mau nikah lagi makanya bersikeras menuntut padahal dia tau resikonya gimana. Suami yang bener-bener mencintai istrinya itu gak pernah menuntut apapun dari pasangannya. Kalo pun dia menginginkan sesuatu dia bakal ngomong dengan baik dan lembut, Gak main belakang gitu. Emang dasar laki-lakinya aja yang gatal." Kata Dara membuat satu meja yang beranggotakan 10 orang itu bungkam.


"Udahlah gak usah bahas itu, Lagian yang namanya anak, Jodoh dan rezeki itu udah di atur sama Tuhan. Seberapa kuat pun menolak kalo Tuhan emang mau ngasih bisa apa? Dan sebaliknya sekuat apapun berusaha kalo Tuhan belum mau ngasih giamana? Intinya jangan pernah berhenti berusaha dan berdoa. Kalo untuk masalah suami selingkuh mungkin laki-laki lain bisa dengan gampang melakukan hal itu tapi gak sama suami kita. Iya kan Lun?" Luna mengangguk membuat Luna kembali tersenyum dan percaya diri.


***


Malam ini El dan Daniel menghadiri undangan pesta ulang tahun pernikahan yang diadakan oleh salah satu manajer bagian penjualan diperusahaan milik El. Anak-anak mereka tidak ikut, Zea saat ini sedang berada di rumah Daniel karena ia bosan jika harus ditinggalkan dirumah hanya dengan bi Irah.


Mereka semua tiba di tempat acara, El dan Daniel tampak sangat tampan dengan setelan jas berwarna hitam serta dasi kupu-kupu mereka. Sedangkan Luna memakai gaun panjang berwarna putih bersih warna kesukaan El jika melihat istrinya memakai gaun berwarna putih. Dan Dara memakai gaun diatas lutut berwarna hitam senada dengan warna jas suaminya. Dara memang suka memakai gaun pendek karena ia akan merasa tinggi tubuhnya bertambah jika memakai gaun diatas lutut.


"Selamat datang pak El dan pak Daniel. Terimakasih karena menyempatkan diri bersama keluarga untuk datang ke pesta saya." Ucap pak Derry ramah dan sopan, Ia tuan rumah sekaligus yang mengadakan acara ini.


"Selamat ya pak Derry, Semoga langgeng terus sampai maut memisahkan." Ucap El tersenyum begitu juga dengan Daniel.


"Mari pak silahkan dinikmati acaranya dan jangan sungkan. Mari bu Luna, Bu Dara saya permisi dulu." Kata pak Derry undur diri, Luna dan Dara mengangguk tersenyum.


"Ayo kita duduk." Ajak El menggandeng tangan istrinya begitu juga dengan Daniel, Mereka duduk di satu meja yang sama menikmati makanan ringan sebelum acara di mulai.


"Loh, Kamu bukannya ibu dari anak yang mukul anak saya waktu itu? Huh, Ngapain kamu disini?" Ucap seorang wanita yang ternyata adalah ibu dari Bintang, Yang tempo hari memiliki masalah dengan Devan.


"Siapa beib?" Tanya Daniel heran. Begitu juga dengan El dan Luna.


"Oh saya tau, Suami kamu ini pasti anak buah suami saya ya makanya kalian ada disini untuk menghadiri pesta anniversary saya." Tambah wanita itu, Dara masih diam enggan menanggapi wanita yang terus menerus bicara di sampingnya ini. Melihat Dara yang jelas tidak menghiraukannya membuat wanita itu merasa bertambah kesal.


"Oh iya kebetulan ada suaminya disini. Eh, Tolong ya ajarin istri kamu ini sopan santun. Dia itu masih sangat muda, Tapi gak ada sopannya ke orang tua. Gimana anaknya gak ikutan kurang ajar coba." Tambahnya lagi bicara asal-asalan.


"Maaf bu, Ibu siapa dan apa maksud ibu bicara kurang sopan begitu dengan istri saya?" Tanya Daniel bingung, Andai Dara saat ini sedang tidak menjaga kehormatan suaminya mungkin ia akan mengajak lawannya ini bertengkar sejak tadi. Namun karena banyak mata yang melihat kearah mereka, Dara bersikap cuek.


"Ya ampun, Jadi kamu gak tau kalo istri dan anak kamu ini kemarin bikin masalah sama saya dan anak saya? Kenapa kamu gak cerita sama suami kamu? Kamu takut suami kamu tau?" Tanya wanita itu terus menerus mendesak Dara sampai-sampai ia mendorong Dara hingga Dara hampir jatuh dari tempat duduknya untung El menahannya karena kebetulan El berada disebelah Dara.


"Maaf bu jika saya lancang, Tapi tindakan anda sudah keterlaluan." Kata El ikut bicara namun tidak dihiraukan oleh wanita itu.


"Bu harap jaga sikap anda, Saya gak tau siapa anda jadi tolong jangan merusak suasana." Tambah Daniel mulai kesal melihat perlakuan kasar wanita itu pada Dara.


"Apa kemaren belum cukup untuk membungkam mulut kotor anda?" Kata Dara yang akhirnya bicara dan berdiri berhadapan dengan wanita tadi.


"Sekali lagi kamu bilang anak saya berandalan, Maka saya gak akan tinggal diam!" Ancam Dara sambil menunjuk wajah wanita tadi.


"Kamu kurang ajar!" Teriak wanita tadi ingin menampar wajah Dara namun tangannya lebih dulu ditangkap oleh Daniel.


"Saya rasa saya tau apa permasalah nya dan saya juga tau siapa yang benar-brnar salah." Ucap Daniel tegas menggenggam kuat tangan wanita itu membuatnya merasa kesakitan.


"Ada apa ini mah?" Tanya pak Derry yang baru saja datang.


"Pah, Kedua anak buah kamu ini kurang ajar. Apalagi istrinya ini(Menunjuk Dara). Sekarang juga mamah mau, Papah pecat mereka berdua biar mereka tau rasa." Kata si wanita tadi mengadu manja pada suaminya.


"Kamu apa-apaan sih mah? Cepat minta maaf sama mereka." Perintah suaminya malah membuatnya bingung dan heran.


"Pak Daniel, Pak El. Tolong maafkan kesalahan istri saya karena sudah bersikap tidak sopan dan kurang ajar terlebih pada bu Dara." Kata pak Derry menyesali perbuatan istrinya. Ia benar-benar merasa malu karena ulah istrinya itu.


"Pah, Kok malah papah yang minta maaf sama mereka? Papah tau? Anaknya dia(Menunjuk Dara) yang udah mukulin Bintang pah." Ucap wanita itu masih tidak mengerti dengan keadaan yang sebenarnya.


"Mamah tau siapa mereka? Beliau adalah pak Elang pemilik dari perusahaan DM Group. Dan beliau adalah pak Daniel asisten pribadi pak El sekaligus Direktur bagian perencanaan. Dan kedua wanita ini adalah istri mereka." Jelas sang suami, Mendengar hal itu wajah wanita tadi serasa ditampar keras oleh kenyataan. Betapa kaget si wanita tadi. Ia benar-benar tidak menyangka jika kedua bos besar perusahaan DM Group semuda ini.


"Pak El, Pak Daniel, Bu Luna dan bu Dara. Atas nama istri saya, Saya minta maaf yang sebesar-besarnya." Hanya itu yang bisa diucapkan oleh pak Derry sangking ia merasa malu dan tidak enaknya pada kedua bigbos ini.


"Maaf pak, Saya tau ini berawal dari masalah anak-anak. Tapi melihat sikap istri bapak saya merasa sangat kecewa. Dan satu lagi, Mohon tarik ucapan anda(menunjuk istri pak Derry) tentang anak saya karena ia bukan seorang berandalan. Wajar jika ia marah saat melihat adiknya yang kebetulan adalah anak dari pak Elang di ganggu. Tadi sepulang dari kantor saya sudah bertanya apa masalahnya hingga ia memukul anak bapak, Dia bilang anak bapak kerap kali meminta uang dari adik-adik kelasnya dan saat itu ia meminta uang pada Zea anak dari pak El namun Zea tidak mau memberikan uangnya hingga ia mendorong Zea dan mengakibatkan kedua kaki Zea terluka. Anak saya hanya membela adiknya, Anak saya bukan seorang berandal. Ia hanya merasa bertanggung jawab dengan apa yang ia jaga." Kata Daniel makin membuat kedua suami istri ini tertunduk bungkam.


"Saya sara tidak pantas membahas masalah ini sekarang, Mengingat ini adalah hari bahagia untuk pak Derry dan juga istri. Oleh sebab itu mari kita bicarakan hal tersebut besok pagi di ruangan saya. Kalo begitu kami permisi." Tambah El lalu meraih tangan istrinya begitu juga dengan Daniel.


"Sekali lagi maafkan kami." Jawab pak Derry menunduk malu, Malu pada El dan Daniel dan juga malu pada tamu undangan yang nyata menyaksikan kejadian itu.


"Maafin aku ya, Gara-gara aku jadi kacau gini." Ucap Dara penuh penyesalan saat mereka dalam perjalanan pulang. Sejak dulu jika mereka pergi berempat, Mereka lebih suka menggunakan satu mobil karena lebih seru ketimbang membawa mobil masing-masing.


"Kamu gak salah kok, Emang istrinya pak Derry aja yang keterlaluan. Aku juga bakalan gitu kalo dia ngomong hal yang sama pada Zea." Sahut Luna merangkul pundak Dara dan meyakinkan Dara jika yang ia lakukan sudah benar.


"Iya, Kamu gak salah. Lagipula terlalu berlebihan jika urusan anak-anak di ikuti hingga seperti tadi." Tambah El sambil fokus menyetir.....


"Makasih ya El, Sebenarnya gue gak enak banget ngomong gitu sama pak Derry. Selain karena beliau jauh lebih tua dibanding kita, Beliau juga salah satu orang yang berperan aktif dan baik di perusahaan." Ucap Daniel


"Ya gue juga sebenernya gak enak, Tapi kalo gak digituin istrinya gak akan jera dan merasa bersalah." Sahut El, Ia hanya ingin memberikan efek jera pada istri pak Derry agar lebih bisa menjaga sikap dan menghargai orang lain siapapun dan apapun jabatannya.


***


Selagi kedua orangtua mereka sedang menuju perjalanan kembali. Davin asik bermain dengan Zea sedangkan Devan asik menonton film kartun kesukaannya. Karena besok mereka libur sekolah jadi mereka bebas untuk malam ini.


"Kalian berisik banget sih mainnya, Daripada ribut mending kita main tebakan. Siapa yang kalah dan gak bisa tebak dia didandani kek orang gila gimana?" Ajak Devan kepada dua orang anak itu.


"Dandanin pakai apa?" Tanya Davin penasaran begitu juga dengan Zea.


"Tunggu sebentar." Devan lalu berlari meninggalkan Zea dan Davin. Tidak lama ia kembali membawa sekotak alat makeup milik Dara.


"Van, Itu punya bunda. Entar bunda marah loh." Tegur Davin memperingatkan Devan.


"Gak akan marah, Kan ada daddy dan mommy apa lagi kalo Zea ikut main gak mungkin bunda marah, Ayo seru tau." Kata Devan terus membujuk, Awalnya Davin menolak tapi karena Devan terus menerus membujuknya akhirnya Davin setuju.


Kini mereka bertiga duduk melingkari tempat makeup itu.


"Oke, Aku duluan ya. Peraturannya gini, Yang ngasih pertanyaan bisa milih siapa yang harus menjawab pertanyaan nya. Misal Zea yang kasih pertanyaan dia boleh milih antara aku dan kamu(Menunjuk Davin) untuk ngejawab pertanyaan dia." Jelas Devan dengan serius memberi tau aturan permainan, Setelah semua mengerti mereka mulai permainan itu.


"Yes, Aku duluan."Ucap Devan bahagia karena ia yang mendapat giliran pertama.


"Hewan apa yang punya sodara? Aku pengen Zea yang jawab." Ucap Devan santai menunjuk Zea.


"Kok aku? Kenapa gak bang Davin?" Protes gadis kecil itu tidak terima.


"Loh, Kan tadi udah dijelasin peraturannya kamu gimana sih." Sahut Devan tidak ingin kalah. Dan akhirnya Zea mulai menebak jawaban dari pertanyaan Devan namun semua salah dan tidak ada yang benar.


"Apa sih Van jawabnya?" Tanya Davin yang ikut penasaran.


"Aku nyerah, Mana ada hewan bersaudara." Kata Zea lelah menjawab. Mendengar hal itu Devan tersenyum lebar karena memiliki kesempatan untuk menjahili Zea.


"Ada dong, Kalian aja gak tau." Sahut Devan tersenyum penuh kemenangan.


"Apa jawaban?" Tanya Zea lagi pasrah menerima kekalahannya .


"Kalo kamu nyerah berarti kamu kalah loh." Kata Devan memperingatkan lebih dulu. Zea mengangguk menerima kekalahannya.


"Jawabannya adalah KATAK BERADIK (KAKAK BERADIK)..." Ucap Devan tertawa. Kesal dengan Devan yang terkesan sedang mengerjainya Zea melempar wajah Devan dengan bantal sofa.


"Mana bisa begitu! Kamu curang!" Bantah Zea tidak terima.


"Kok bisa curang? Namanya juga tebak-tebakan." Bela Devan tidak mau kalah.


"Kalian tuh kenapa sih ribut mulu? Entar aku aduin sama bunda loh." Ancam Davin membuat kedua adiknya diam.


"Pokoknya aku gak mau di dandanin!" Ucap Zea sambil menjulurkan lidah mengolok Devan.


"Dasar curang!" Sahut Devan pergi meninggalkan Davin dan Zea membawa kembali alat makeup mahal milik ibunya.


***


"Jadi bener Jessy yang kamu maksud itu adalah Jessy pacarnya kak Rendy?" Tanya Dara memastikan. Ini sudah pukul 23:00 malam dan mereka sudah membahas hal itu 1 jam yang lalu namun tidak juga selesai. Daniel juga sudah menceritakan semuanya pada Dara dari awal sampai paling akhir namun siapa yang tidak tau sifat cerewet ibu dari dua orang anak itu.


"Iya beiby, Semuanya kan udah aku jelasin. Kamu masih gak percaya sama aku?" Ucap Daniel lelah membujuk wanitanya.


"Ya gak gitu, Heran aja gitu kenapa selalu ketemu sama cewek-cewek yang ada hubungannya sama kamu. Waktu itu yang nolongin bang El mantan kamu, Dan sekarang pacarnya kak Rendy juga mantan kamu."


"Beiby ini udah hampir tengah malam loh, Kita bahas ini dari tadi gak selesai-selesai. Jessy itu bukan mantan aku sayang." Andai lawan bicaranya saat ini adalah El mungkin Daniel akan mengajak El gelud saat ini juga sangking kesalnya namun karena Dara lawan bicaranya adalah ratunya maka mau tidak mau ia harus terus menerus bersikap sabar.


Daniel beranjak dari tempat duduknya dan duduk di hadapan Dara yang saat ini duduk di tepi ranjang. Daniel meraih kedua tangan istrinya itu sambil memandangi wajah Dara membuat Dara sedikit salah tingkah.


"Kamu tau kenapa aku memilih kamu diantara mereka?" Tanya Daniel pelan, Dara hanya mengangkat kedua bahunya enggan bicara.


"Karena kamu satu-satunya wanita yang mampu membuat hatiku bergetar untuk pertama kalinya. Ini bukan tentang siapa yang paling pertama aku kenal atau paling pertama datang tapi ini tentang siapa yang datang dan memilih untuk tidak pergi. Kamu memang bukan wanita pertama dalam hidupku, Tapi cuma kamu yang pantas menjadi wanitaku hingga nanti di saat Tuhan memanggilku kamu tetap akan menjadi wanitaku." Ucap Daniel mencium punggung tangan Dara dan seketika hati Dara luluh. Ia tersenyum melihat suaminya itu lalu mengecup kening Daniel.


Bersambung...