Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Menuju happy ending



El yang kini sudah diobati gelisah menunggu Kenan dan sampai saat ini ia tidak tau jika Luna pun sangat membutuhkannya. Sejak El menunggu Kenan hp miliknya terus saja berbunyi tanpa henti.


El melihat nama si pemanggil yang terus-terusan menelepon sejak tadi.


"Eriska."


Dan El akhirnya menerima panggilan itu.


"Ken, Kamu-...."


"Saya bukan Kenan." Jawab El memutus ucapan Eriska.


"Ken saat ini sedang dirumah sakit." Tambah El memberitau Eriska, Dan betapa kaget Eriska mendengar hal itu. Ia langsung berlari keluar kantor mencari taksi dan meninggalkan semua pekerjaannya untuk pergi kerumah sakit.


"Apa yang terjadi dengan Kenan?" Tanya Eriska yang sedang mencari taksi.


"Kenan mendapat luka tembak, Saat ini dia menjalani operasi pengangkatan peluru." Kata El menjelaskan pelan, Ia bahkan masih merasa jika ini semua karena salahnya hingga Ken terluka. Setelah El memberikan alamat rumah sakit Eriska buru-buru menyusul kesana.


El duduk terdiam, Pikirannya benar-benar terbagi antara Luna, Zea juga Kenan. Ia benar-benar hanya bisa diam saat ini mencoba mengendalikan pikiran dan perasaanya yang benar-benar kacau. Bahkan ia juga belum mengobati luka-luka diwajah dan tubuhnya. El benar-benar sangat berantakan saat ini. Dalam kesendiriannya nada hp Kenan kembali berdering, Kini giliran Daniel yang menghubungi. El langsung hergegas menerima panggilan itu untuk menanyakan keadaan istri juga anaknya.


"Ken lo lagi sam-....


"Gue El, Dan gimana Luna dan Zea? Mereka baik-baik ajakan?" Tanya El penasaran


"El syukurlah ini lo. Luna diruang operasi sekarang, Dia butuh lo. Dan Zea udah sadar sekarang dia lagi sama gue dan Dara nunggu Luna." Kata Daniel, Mendengar hal itu rasanya El ingin langsung pergi kesana namun ia tidak akan bisa meninggalkan Kenan sendirian ditempat ini. Bagaimana pun juga Kenan begini karena melindungi nya.


"Gue gak bisa kesana sekarang, Gue dirumah sakit nunggu Kenan. Dia nahan peluru yang yang ditembakan Tommy buat gue." Kata El menjelaskan keadaannya saat ini pada Daniel.


"Jadi gimana keadaan Kenan saat ini?


"Gue juga gak tau dia masih menjalani operasi pengangkatan peluru." Jawab El pelan memperlihatkan ke gundahan hatinya saat ini.


"Ya udah kita tukaran aja. Gue kesana dan lo disini karena anak istri lo lebih butuhkan lo dsni." Kata Daniel, El setuju untuk bertukar tempat lagipula sejak tadi pikirannya merasa sangat tidak tenang.


Setelah sambungan telepon terputus, El kembali duduk untuk menunggu Daniel datang.


"Gimana keadaan Ken?" Tanya Eriska yang akhirnya tiba ditempat itu. El melihat kearah wanita itu merasa wajahnya tidak asing namun saat ini otaknya terlalu sulit untuk mengingat hal itu.


"Dia masih di dalam." Sahut El datar tanpa ekspresi.


Baru saja Eriska duduk seorang perawat memakai baju khusus untuk operasi keluar dari ruangan itu dengan tergesa-gesa membuat El dan Eriska ikut panik melihatnya.


"Maaf suster, Apa ada masalah?" Tanya El berdiri menghampiri suster tadi.


"Pasien kehilangan banyak darah, Denyut jantungnya mulai menurun. Kami harus mencari pendonor golongan darah AB karena golongan itu termasuk golongan darah yang langka dan rumah sakit kami sedang tidak memiliki stok untuk darah itu." Jelas perawat tadi ingin segera pergi.


"Saya! Golongan darah saya AB ambil darah saya." Kata Eriska menghentikan langkah perawat tadi dan melihat kearahnya.


"Anda AB? Kalau begitu mari ikut saya, Kita harus mengeceknya lebih dulu apa darah bisa didonorkan atau tidak." Eriska mengangguk, Dengan cepat ia berjalan mengikuti perawat tadi.


"Please Ken, Jangan buat gue ngerasa bersalah seumur hidup gue. Please lo harus kuat, Lo bisa bertahan." Ucap El mondar-mandir di depan pintu ruang operasi.


***


Setelah lama menunggu akhirnya bayi itu lahir dengan selamat memecah suasana tegang dan hening dengan suara tangisnya yang keras dan lantang.


"Itu suara ade Zea bun?" Tanya Zea yangnsaat ini duduk disebelah Dara. Dara mengangguk tersenyum bahagia hingga airmatanya menetes dengan sendirinya.


"Zea boleh liat?" Tanya Zea lagi, Gadis kecil itu masih bingung harus bagaimana mengekspresikan perasaan nya saat ini.


"Inkuba.....-" Katanya ingin mengulang namun tidak bisa.


"Inkubator sayang. Itu kotak penghangat untuk ade bayi yang masih kecil biar adenya tetap merasa hangat." Jelas Dara dengan sabar, Zea mengangguk pelan mulai mengerti maksud dari ucapan Dara.


Tidak lama Dokter bedah pun keluar dari ruang operasi.


"Operasinya berjalan lancar. Bayi ibu Luna juga lahir dengan selamat dan sehat namun belum bisa ditemui karena harus berada di dalam ruang inkubator. Namun kita masih harus tetap menunggu sampai ibu Luna sadar." Katanya menjelaskan keadaan Luna pada Dara yang hanya berdua dengan Zea saat ini.


"Maksud Dokter?" Tanya Dara lebih ingin jelas.


"Ibu Luna mengalami ketidaksadaran diri dalam waktu jangka panjang. Biasanya itu berlangsung selama 24 jam dan bisa lebih hingga sampai 1 bulan lamanya, Tapi kita lihat dulu semoga ibu Luna bisa cepat siuman." Kata Dokter, Dara kembali lemas mendengar hal itu namun sekuat tenaga ia menybunyikan itu dihadapan Zea.


"Kalau begitu saya permisi dan sebentar lagi bu Luna akan dipindahkan keruang perawatan." Kata Dokter tadi, Dara mengangguk pelan serasa kehabisan semangat bel sempat ia larut dalam kesedihan Zea menghampirinya lalu menarik tangan Dara.


"Mommy kenapa?" Tanya Zea polos menatap wajah Dara dengan mata berbinar membuat Dara serasa ingin menangis saat itu juga. Dara duduk sambil mengusap lembut pucuk kepala Zea.


"Kata Dokter, Untuk saat ini mommy perlu banyak iatirahat dan tidur biar luka operasinya cepat sembuh biar bisa main lagi sama Zea dan ade." Ucap Dara berusaha menipu gadis kecil yang tidak tau apa-apa itu.


"Zea...."Panggil El, El berlari kearah Zea berdiri lalu memeluk membawa putri kecilnya itu dalam pelukannya.


"Zea sayang, Zea gak apa-apa kan nak? Zea gak sakit kan? Zea bilang sama daddy apa yang sakit?" Tanya El sambil memeluk Zea erat-erat.


"Daddy, Wajah daddy bedarah." Katanya polos sambil meniup-niup luka El yang belum juga di obati seperti hal yang biasa dilakukan kedua orangtuanya jika ia terjatuh dan terluka.


"Makasih ya sayang kamu bertahan, Zea anak hebat, Anak pemberani." Ucap El menangis sambil memeluk Zea.


"Daddy, Ade udah lahir tapi gak dibolehin Dokter liat. Padahal Zea pengen liat mukanya." Kata Zea mengadu, El memghapus airmatanya lalu melepaskan pelukan dari tubuh Zea.


"Bang...." Panggil Dara yang sejak tadi berdiri melihat ayah dan anak itu. El berdiri lalu menghampiri Dara.


"Bayinya lahir dengan selamat tapi....-" Kata Dara makin berat dan sesak menahan perasaannya ia juga tidak ingin Zea tau keadaan Luna yang sebenarnya.


"Tapi apa Ra? Bilang sama abang tapi apa?" Tanya El memegangi kedua bahu Dara yang berusaha tidak menangis. Dara menarik nafas panjang mengambil rasa nyaman dihatinya lalu menarik El agar sedikit lebih jauh dari Zea dan menjelaskan keadaan Luna pada El. El benar-benar terguncang, Rasanya kedua kaki nya melemah tidak sanggup lagi menahan tubuhnya.


"Jangan buat Zea tau tentang keadaan Luna bang. Abang harus kuat di depan Zea, Jangan buat anak itu menangisi ibunya." Kata Dara berusaha menegarkan El. El pun sadar jika saat ini gadis kecil itu sedang memperhatikannya.


Tidak lama ranjang yang membawa tubuh Luna keluar dari ruang operasi. El, Dara dan Zea pun langsung ikut mengantarkan Luna ke ruangannya.


***


Operasi Kenan pun berhasil, Kenan bisa diselamatkan karena darah milik Eriska kini mengalir dalam tubuhnya.


"Lo mantan Baron kan?" Tanya Daniel yang sedang menunggu Kenan bersama Eriska. sejak tadi mereka berdua tidak saling bicara satu sama lain.


"Seperti yang anda kira." Jawab Eriska datar, Ia muak sangat muak selalu dihubungkan oleh pria brengsek yang hanya memanfaatkannya saja. Namun mau tidak mau ia harus menerima semua itu karena itu adalah sebuah kenyataan.


"Lo udah lama dekat sama Kenan? Maaf kalo gue terlalu berlebihan menanyakan hal ini."


"Saya mengerti maksud anda, Tenang saya tau batasan yang tidak boleh saya lewati." Jawabnya lagi dengan pandangan kosong.


"Kenan orang yang baik, Bahkan sangat baik. Pria mana yang mau menjalin hubungan baik dengan suami dari mantannya sendiri. Cuma dia pri konyol dan gila namun memiliki hati yang tulus. Jangan berpaling saat dia menatap lo karena kita gak pernah tau kapan kita bisa bertemu orang itu lagi. Jangan membuang waktu hanya karena memikirkan hal yang tidak berguna, Jalani dan nikmati setiap alurnya." Kata Daniel, Mendengar hal itu Eriska kaget ia pikir Daniel akan mengatakan jika Eriska bukanlah wanita yang baik untuk Kenan.


Dan disaat bersamaan ranjang yang membawa Kenan keluar dari ruang operasi menuju kamar perawatan. Hal yang sama dilakukan Daniel juga Eriska yaitu menemani Kenan ke dalam kamar rawatnya.


Bersambung


maaf ya akhir2 ini sikit2 kali upnya, Serius mumet mikirnya....Nantikan selalu kelanjutannya jangan lupa vote, Komen n like ya tayank2kuh 😘😘😘😘