
Tidak lama dokter keluar dari ruangan itu, Semua orang yang menunggu diluar sana langsung berdiri dan menghampiri Dokter.
"Kami sudah memberikan suntikan anti rabies, Luka dipunggungnya pun sudah kami sterilkan dan ada beberapa luka yang mendapat jahitan. Pasien saat ini masih dalam pengaruh bius, Semua baik-baik saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Terang Dokter tersebut, Mendengar hal itu semua orang bisa bernafas lega sekarang.
"Saya mau ketemu anak saya Dok." Ucap Dara tidak sabaran begitu juga dengan Daniel.
"Pasien boleh ditemui tapi secara bergantian." Daniel mengangguk lalu mereka berdua masuk lebih dulu.
Dara menangis melihat anaknya terbaring miring dengan punggung yang penuh perban. Daniel menggenggam tangan Dara ia tau betapa sakit hati wanitanya ini melihat anaknya dalam keadaan seperti itu.
"Abang......Ini Bunda sayang, Bunda sama ayah disini." Ucap Dara pelan sambil mengusap pipi anaknya yang masih belum sadarkan diri.
"Hei jagoan ayah, Laki-laki pemberani nya ayah." Sapa Daniel yang berdiri disamping Dara. Dara terisak melihat keadaan Davin, Ia bersandar pada tubuh Daniel sambil terus menangis.
"Jangan nangis beiby, Davin anak yang kuat dan berani. Dia gak akan suka ngeliat bundanya nangis gini." Kata Daniel menenangkan istrinya.
"Ini pertama kalinya dia sakit parah kek gini. Dulu bahkan aku sempat marah dengan kehadiran mereka dalam hidupku, Aku gak pernah menyangka jika akan sebesar ini rasa cintaku untuk mereka berdua. Aku bahkan rela mengorbankan segalanya untuk mereka termasuk nyawaku sendiri." Ucap Dara mengingat masa lalunya saat ia marah ketika ia tau bahwa ia hamil. Daniel mengusap pucuk kepala Dara dengan lembut ia tau betul bagaimana perasaan Dara saat ini.
"Ayah, Bunda boleh Zea ngeliat bang Davin?" Kata Zea yang baru masuk dan masih berdiri didepan pintu. Dara dan Daniel mengangguk lalu memanggil Zea untuk mendekat.
Gadis kecil itu berjalan, Lengan serta kakinya juga dioerban namun hanya luka kecil.
"Abang, Maafin Zea ini semua karena Zea." Ucap Zea menangis pelan, Ia tidak ingin suara tangisannya membangunkan Davin padahal Davin sedang dalam pengaruh bius.
"Abang cepat sembuh ya, Zea janji bakalan nungguin abang disini, Zea gak mau pulang sebelum abang bangun." Tambahnya lagi.
"Sayang, Abang Davin udah gak apa-apa. Dia cuma lagi ada dalam pengaruh obat bius aja. Zea kan juga pasti capek, Ada baiknya Zea pulang dulu nanti kalo udah istirahat baru kesini lagi." Bujuk Daniel tersenyum pada Zea.
"Tapi yah, Zea mau tungguin abang disini."
"Zea, Anak cantiknya bunda. Nanti kalo bang Davin udah sadar bunda pasti kabaran Zea lewat mommy." Tambah Dara, Zea diam lalu mengangguk setuju. Daniel dan Dara lalu mengantarkan Zea kedepan ruangan.
"Dan gimana keadaan Davin?" Tanya El saat mereka keluar dari kamar rawat Davin.
"Dia udah gak apa-apa kok." Sahut Daniel mulai terlihat tenang.
"Devan, Devan pulang sama mommy dan daddy aja ya. Biar ayah dan bunda jagain bang Davin disini." Kata Luna membujuk Devan yang sejak tadi diam duduk dibangku tunggu.
"Gak ngerepotin kamu Lun?" Tanya Dara yang menghampiri Devan dan duduk disampingnya.
"Kamu ngomong apa sih Ra? Devan juga anakku dan bang El gak mungkin kami repot." Jawab Luna.
"Sayang, Gak apa-apa ya Devan sama mommy dan daddy dulu. Kasian kalo Devan ikut nunggu disini." Bujuk Dara agar anaknya mau ikut bersama El dan Luna. Zea menghampiri Devan lalu meraih tangan anak laki-laki itu.
"Pulang sama aku ya." Katanya dengan polos, Devan tersenyum dan mengangguk.
"Ya udah Dan, Kita balik dulu. Kalo ada apa-apa atau butuh sesuatu kamu bisa langsung telepon aku atau Luna." Daniel mengangguk, Ia bersyukur memiliki teman seperti El dan Luna yang melebihi seorang saudara.
"Devan, Jadi anak pintar ya sayang." Pesan Daniel pada putra bungsunya. Devan mengangguk lalu mencium kedua pipi ibunya dan ayahnya dan ikut pulang bersama El.
***
Begitu mendengar kejadian yang menimpa keponakannya Rendy langsung pergi ke Rumah Sakit namun ia tidak pergi sendiri melainkan bersama kekasihnya Jessy.
"Dan, Gimana keadaan Davin?" Tanya Rendy terlihat sangat khawatir. Daniel baru saja kembali dari kantin Rumah Sakit membeli makan siang untuk Dara yang sejak tadi belum makan.
"Davin udah gak apa-apa kok, Sekarang tinggal nunggu dia sadar." Sahut Daniel yang membawa sekotak makanan dan sebotol air mineral untuk istrinya.
"Saya turut berduka ya pak atas apa yang terjadi dengan Davin." Kata Jessy yang secara tiba-tiba menyentuh bahu Daniel membuat Daniel kaget dan langsung menghindar. Jessy tersenyum lalu masuk untuk menyusul Rendy sedangkan Daniel hanya duduk diluar enggan ikut masuk kesana karena ia sedang malas untuk menanggapi sifat sok akrab ataupun omongan ngawur Jessy.
"Kasian Davin, Pasti rasanya sakit banget. Tapi aku bangga sama dia, Pasti sifat beraninya itu diturunkan sama ayahnya." Celetuk Jessy saat berada di dalam ruangan bersama Rendy dan Dara. Dara hanya diam, Saat ini ia benar-benar malas untuk menanggapi ucapan gadis ini, Yang ia pikirkan hanyalah Davin.
"Dara juga dulunya anak yang pemberani, Dia gak pernah takut sama apapun selama dia benar." Balas Rendy, Dara tersenyum hambar. Ia tau kakaknya sedang berusaha menghiburnya agar ia tidak terus-terusan sedih.
"Gitu ya, Soalnya biasanya kan anak laki-laki lebih mirip sama ayahnya." Jawab Jessy tersenyum, Dara hanya menyunggingkan sedikit senyuman itupun hanya karena ada Rendy disana.
***
Waktu berlalu begitu cepat bagi yang tidak begitu menginginkannya dan sebaliknya waktu terasa berputar sangat lambat saat seseorang ingin cepat hari itu berlalu.
Pagi-pagi sekali Eriska sudah datang ke kantor Kenan untuk bekerja. Ia benar-benar bersemangat bahkan disaat rekan kerjanya yang lain belum datang ia lebih dulu datang dan membersihkan tiap sudut kantor.
"Kamu karyawan baru ya?" Tanya seorang wanita yang baru datang, Ia juga bekerja dibagian cleaning service sama seperti Eriska.
"Iya kak, Saya baru disini dan ini hari pertama saya masuk." Sahut Eriska ramah dan sopan.
"Perasaan anggota udah cukup deh. Kamu masuk lewat mana?" Tanyanya lagi dengan nada ketus tidak bersahabat.
"Maksud kakak?"
"Kamu masuk lewat tes atau ada orang yang ngebantuin kamu untuk bisa bekerja ditempat ini? Kemaren saya mau bawa ade saya dari kampung tapi pihak perusahaan bilang kalo lowongan ini sudah terisi full." Katanya lagi tidak menyukai kehadiran Eriska. Eriska benar-benar bingung harus menjawab apa karena jika ia jujur mengatakan kalau Kenan lah yang memasukannya bekerja ditempat ini maka ia tau itu hanya akan membuatnya terpojok.
"Selamat pagi.....Hai anak baru ya?" Sapa seorang pria yang baru saja datang. Eriska bersyukur karena ia tidak perlu menjawab pertanyaan dari rekan kerja sebelumnya.
"Iya mas." Sahut Eriska tersenyum.
"Kenalin namaku Dikha...Nama kamu siapa?" Katanya lebih ramah dari orang sebelumnya.
"Saya Eriska."
"Buruan kerja jangan kebanyakan ngobrol!" Ucap wanita tadi memasang wajah kesal lalu ia pergi dari ruangan khusus untuk bagian cleaning servis.
"Yang barusan itu namanya Widya, Orangnya emang judes." Kata Dhika lalu tertawa, Eriska pun ikut tersenyum.
"Ummmm kalo gitu saya permisi dulu ya mas mau lanjutin kerjaan." Ucap Eriska juga ikut pergi dari ruangan itu dan kembali melanjutkan pekerjaan nya.
"Ris, Kamu datang jam berapa?" Tanya Kenan yang baru datang saat melihat Eriska sibuk mengepel.
"Dari tadi pagi pak." Sahut Kenan lebih ramah dari biasanya membuat Kenan mengerucutkan dahinya.
"Kok aneh ya dipanggil bapak sama kamu." Katanya lagi tertawa, Eriska ikut tersenyum kecil.
"Tentu harus begitu. Dan satu lagi, Anda seorang pemimpin ditempat ini. Ada baiknya kita menjaga jarak karena jika anda bersikap seperti ini, Itu akan mempengaruhi nama baik anda." Kata Eriska lagi karena saat ini ia sadar beberapa mata sedang melihat sinis kearahnya.
"Kenapa? Aku emang biasa akrab kok sama karyawan lain. Yang penting sekarang kamu bisa biayain pengobatan ibu kamu, Aku seneng bisa bantu kamu sebagai teman. Kalo gitu aku keruanganku dulu ya." Ucap Kenan tersenyum pada Eriska, Eriska mengangguk tersenyum tipis.
"Kalo menurutku sih dia itu sengaja menggoda pak Ken, Buktinya dia bisa masuk kerja begitu aja padahal kita semua tau bahwa lowongan untuk dibagian cleaning servis udah ditutup seminggu yang lalu." Samar di dengar oleh Eriska suara dari orang-orang yang tidak menyukai kehadirannya, Namun ia berusaha menutup telinga dan fokus bekerja. Eriska hanya seorang gadis biasa dan sederhana, Ia bekerja bukan untuk merias diri dengan barang-barang mahal dan mewah atau untuk mengoleksi barang-barang bermerk seperti yang dilakukan oleh orang lain. Ia bekerja untuk menghidupi kebutuhannya bersama ibunya serta untuk pengobatan ibunya jadi tidak ada waktu untuk menanggapi semua ucapan mereka.
**Bersambung
Lanjut nnt mlam y dears 😘**