
El yang sudah berpakaian lengkap mengetuk pintu kamar Luna dan tidak lama Luna membuka pintu kamarnya.
"Boleh masuk?" Kata El sambil melihat sekitar kamar Luna. Awalnya Luna sempat ragu tapi sepertinya El ingin membicarakan hal penting karena ada bu Mela ia jadi tidak leluasa ingin bicara.
"Bentar, 10 detik." Kata Luna ia kembali menutup pintu kamar dan langsung membereskan kamarnya yang sedikit berantakan. Dari kasur hingga pakaian dalam yang belum sempat ia lipat dan masukan kedalam lemari pakaian.
Setelah kamarnya beres dan rapi Luna kembali membukakan pintu kamarnya dan mempersilahkan El untuk masuk.
"Duduk aja dimana abang suka." Katanya sedikit canggung, Ini pertama kalinya ada seorang laki-laki yang masuk kekamarnya.
"Jadi gimana sekarang? Apa yang harus aku lakuin kalo tante Mela nanya-nanya tentang kerjaan kantor? Aku bener-bener gak tau masalah kerjaan kantor apalagi tentang perusahaan abang." Luna langsung to the poin, Bagaimanapun juga ia benar-benar merasa takut kalau tante Mela tau tentang pernikahan nya dan El.
"Gini, Kalo bunda tanya tentang kerjaan kamu. Kamu bilang aja bekerja sesuai perintah, Kadang cuma ngetik beberapa dokumen atau menemani saat meeting." El yang lebih berpengalaman tentu tau Luna harus apa.
"Gitu aja?" El mengangguk menjawab Luna.
"Yang penting kamu tenang, Bawaannya santai. Pasti mereka percaya. Ya udah kalo gitu kita turun untuk makan malam, Jangan terlalu takut semua akan baik-baik aja kok. Gak akan ada yang tau tentang kita." Ucap El lagi, Saat mengucapkan itu entah kenapa hati El merasa sakit sadar bahwa bukan itu keinginannya, Seandainya Luna mau menerima hubungan ini maka ia akan umumkan pada dunia siapa Luna tapi karena Luna tidak menginginkannya ia tidak bisa melakukan itu.
El berdiri namun kakinya tersandung kabel charge hape Luna membuatnya hilang keseimbangan dan terjatuh menimpa Luna yang duduk ditepi ranjang.
Tubuh mereka berdua terhempas keatas ranjang empuk milik Luna.
"El ay-......" Ucapan bu Mela langsung terhenti saat melihat El **** tubuh Luna. El langsung bangun begitu juga Luna, Ia merapikan rambut panjangnya yang sama sekali tidak berantakan.
"Bu.... Bunda...El.."
"Bunda tunggu penjelasannya dimeja makan." Kata bu Mela dengan wajah serius lalu pergi dari sana meninggalkan El dan Luna.
El menyapu kasar wajahnya sedangkan Luna mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Maafin abang ya, Abang gak sengaja." Kata El melihat Luna yang sudah berantakan.
"I.....Itu salahku, Naro kabelnya sembarangan."
"Ya udah kita kebawah sekarang, Kamu tenang aja biar abang yang jelasin semuanya ke bunda." El lalu beranjak dari kamar Luna disusul Luna yang melangkah berat.
Sesampainya diruang makan, Bu Mela sudah duduk rapi menunggu El dan Luna. El pun duduk diikuti Luna dengan wajah yang terus menunduk tidak berani melihat kearah bu Mela. Bu Mela menghela nafas panjang, Tanda ia minta penjelasan dari El saat itu juga.
"El, Kalian....."
"Gak bun. I.....Ini gak seperti yang bunda liat. Tadi El mau minta tolong sama Luna untuk meriksain berkas-berkas yang mau dipakai besok untuk meeting pas El mau keluar dari kamar, Kaki El kesandung kabel Charge hape dan akhirnya El jatuh menimpa Luna." Mendengar penjelasan El, Bu Mela melirik kearah Luna yang saat ini juga sedang melihatnya. Seketika Luna langsung menundukan kepalanya saat matanya beradu pandang dengan bu Mela.
"Jadi gak terjadi apa-apa antara kalian?" Raut wajah bu Mela mendadak kecewa setelah mendengar penjelasan El.
"Huh? Eng-......Ya enggak lah. Ya kan Lun?" Luna langsung mengangguk cepat menjawab pertanyaan El.
"Hmmmmm.......Padahal bunda udah berharap lebih. Bunda pikir kalian akan bilang kalo kalian punya hubungan yang cukup dekat." Sambung bu Mela mulai uring-uringan.
Mendengar ucapan bu Mela El dan Luna sama-sama bingung dan heran. Mereka pikir mereka akan segera disidang, Tapi sebaliknya bu Mela malah mengharapkan hal lain yang terjadi antara Luna dan El.
"Ma.....Maksud bunda?" Ucap El bingung melihat ibunya yang kecewa.
"Ya masa gak ngerti maksud bunda? Kalian itu orang-orang dewasa. Tinggal dalam satu rumah dan kamar bersebelahan masa gak ada rasa satu sama lain? Luna, Menurut kamu apa yang kurang dari El?" Bu Mela mulai lepas kendali, Pertanyaan bu Mela sontak membuat Luna bingung dan gelagapan harus menjawab apa.
"Huh?" Kata Luna kaget dengan pertanyaan yang diberikan bu Mela.
"Apa El jelek? Dia nyebelin? Atau kasar? Atau ada sifat jelek dan buruknya yang bikin cewek minder sama dia?" Tambah bu Mela, El mulai bingung harus berbuat apa pada ibunya itu. Sepertinya bu Mela mulai frustasi memikirkan masa depan El.
"Bu.....Bunda, Bunda ngomong apa sih?" Ucap El agar ibunya itu berhenti menanyai Luna dengan sederet pertanyaan anehnya.
"Ayo jawab, Jujur apa gak apa-apa. Tante gak akan marah sama kamu seandainya ada sifat El yang jelek ngomong aja." Luna langsung menggeleng cepat menjawab pertanyaan bu Mela.
"Apa menurut kamu dia ganteng?" Luna mengangguk.
"Apa dia baik?" Luna mengangguk lagi
"Dia gak kasar kan jadi cowok?" Kini Luna menggelengkan kepalanya. Semua pertanyaan bu Mela membuat El kehilangan muka didepan Luna. Ia hanya bisa pasrah menyaksikan itu semua terjadi didepan matanya.
"Ya terus kenapa dia gak punya pacar sampai saat ini?" Sambung bu Mela lagi membuat Luna mengerucutkan kedua alisnya dan ada rasa lucu yang timbul dihatinya.
"Bunda.....Udah deh gak usah ngebahas masalah itu lagi." Ucap El yang sudah tidak tahan dengan semua tingkah laku ibunya itu.
"Luna, Kamu gak naksir sama El?" Kata bu Mela setengah berbisik pada Luna. Membuat Luna makin kebingungan.
"Bunda." Kata El sedikit nyaring, Sebenarnya ia juga ingin mendengar jawaban Luna tapi ia tau bahwa Luna sangat terusik dengan semua pertanyaan yang diberikan oleh ibunya itu.
"Good night...."Suara seorang pria yang baru saja datang terdengar nyaring. Itu pak Angga Wirayudha ayah angkat El yang baru saja tiba dirumah El.
El langsung membuang nafas lega, Akhirnya ia dan Luna bisa terbebas dari suasana canggung yang dibuat oleh ibunya.
"Ayah....." Ucap El menghampiri pak Angga mengambil tas bawaannya dan menuntunnya untuk duduk disamping ibunya.
"Kok baru dateng sih beib?" Ucap bu Mela saat suaminya itu mengecup mesra kedua pipi dan kening bu Mela.
"Iya, Kerjaan baru selesai." Sahut suaminya yang sudah duduk disamping bu Mela.
"Ayah apa kabar?" Tanya El pada pria yang berusia 53 tahun itu.
"Seperti yang kamu liat." Sahutnya diiringi tawa. Pak Angga lalu melihat kearah Luna yang duduk disebelah El.
"Dia calon mantu kita?" Tanya pak Angga pada istrinya membuat El tersedak karena saat ini ia sedang minum, Sedangkan Luna tertunduk menyembunyikan wajahnya dibalik rambutnya yang terurai panjang.
"Tadinya juga bunda mengharap begitu. Tapi, Ya udahlah lupain aja. Mungkin anak kita tipe cowok yang nyebelin dimata cewek makanya dia belum punya calon sampai saat ini." Sahut bu Mela dengan wajah kecewa.
"Bundaaa......Jangan mulai lagi deh." Protes El sebelum ayahnya ikut membuat suasana aneh dengan pertanyaan yang tidak masuk diakal.
"Udahlah bun, Kalo waktunya juga dia pasti nikah kok. Mungkin dia belum nemuin yang bener-bener cocok untuk dia." Kata pak Angga berpikir lebih positif daripada istrinya. Luna benar-benar kikuk merasa sedang berada ditengah-tengah perdebatan keluarga.
"Tadi kan bunda kenalin dia sama anaknya jeng Lina, Si Karin ayah inget gak? Sekarang dia udah jadi model top, Terkenal dan papan atas. Dia juga lulusan universitas oxford. Tapi ayah tau gak apa tanggapan anak kita? Dia bahkan gak tertarik sedikitpun sama Karin, Padahal kurang apa coba si Karin? Mereka itu cocok banget." El langsung batuk berharap ibunya berhenti membicarakan masalah ini, Terlebih didepan Luna. Biar bagaimanapun Luna saat ini adalah istri sahnya, Ia wajib menjaga perasaan gadis itu.
"Cocok kan belum berarti nyaman. Apalagi ini menyangkut kehidupan dua orang, Ada yang merasa cocok satu sama lain tapi tidak nyaman dengan sebuah ikatan hubungan itu gak akan berhasil kalaupun diteruskan dan dipaksakan, Hanya akan menyakiti dua belah pihak." Ucapan pak El seperti sebuah mata panah yang langsung melesat cepat mengenai hati El dan juga Luna, Beginilah hubungan mereka saat ini. El dan Luna sesaat diam satu sama lain mereka bicara dengan hatinya masing-masing.
"Huh?.....Mmmmm yang dibilang ayah bener." Jawabnya singkat.
"Ya udah, Iya kita lupain aja. Tapi tetap berusaha ya nak untuk cari yang terbaik, Siapapun pilihan kamu bunda dan ayah akan selalu merestui dan mendukung asalkan dia benar-benar mencintai kamu." Kata bu Mela mengalah, Ucapan bu Mela membuat Luna merasa bersalah pada El. Tanpa disadari ia seperti sedang mengunci El didalam sebuah ruangan dan tidak memperboleh kan nya untuk keluar dari ruangan itu. Membuat El terkurung hingga waktu yang ia sendiri tidak tau kapan pintu itu bisa dibuka dan apa boleh pintu itu dibuka agar El bisa segera terbebas dari sana.
"Luna maaf ya atas semua keributan ini, Beginilah kalo udah ngumpul." Kata bu Mela tertawa namun Luna tidak merespon ucapannya. Luna masih sibuk berkecamuk dengan semua pikirannya.
"Lun......Luna." Panggil bu Mela, El yang duduk disamping Luna menyentuh tangan Luna hingga Luna kaget dan sadar jika bu Mela sedang bicara padanya.
"Kamu melamun?" Tanya bu Mela pada Luna.
"Huh?... Eng-....Enggak kok tante. Luna, Tiba-tiba aja Luna kangen suasana rumah." Kata Luna mengalihkan pembicaraan.
"Oh, Ya udah kalo gitu. Karena semua udah ngumpul ayo kita makan." Mereka pun makan malam bersama sambil sesekali mereka mengobrol dan tertawa.
***
Setelah selai makan malam bi Irah membersihkan meja makan dibantu oleh Luna sedangkan El, Bu Mela dan pa Angga sedang asik berbincang diruang keluarga.
"Gak usah mbak, Biar bibi aja. Mbak istirahat aja." Ucap bi Irah menyuruh Luna pergi kekamar untuk istirahat namun Luna menolak cepat. Ia tetap membantu bi Irah mencuci piring bekas makan malam tadi.
"Luna, Kamu ngapain?" Tanya bu Mela membawa buah-buahan untuk dicuci.
"Oh, Luna cuma bantuin bi Irah beberes tante." Kata Luna sambil tersenyum.
"Kamu tamu dirumah ini, Masa beberes sih. Udah biar tante yang ngerjain." Bu Mela memaksa Luna untuk berhenti mencuci piring namun Luna tetap melakukannya.
"Udah gak apa-apa sisa dua piring lagi kok. Tanggung, Kata ibu saya kerjain sesuatu itu gak boleh nanggung-nanggung." Katanya menyelesaikan sisa cucian piringnya.
"Pasti orang tua kamu mengajari kamu dengan sangat baik hingga kamu benar-benar tumbuh menjadi anak yang baik." Puni bu Mela pada Luna, Luma hanya tersenyum pada bu Mela.
"Oh iya kamu tinggal di daerah mana? Boleh dong sekali-sekali tante main kerumah kamu ya untuk sekedar berkenalan sama orang tua kamu terutama mama kamu, Pasti seru deh ngobrol sama mama kamu." Kata bu Mela lagi, Luna langsung menghentikan aktifitasnya saat ini dan mematikan air kran.
"Kedua orang tua saya sudah meninggal tante." Kata Luna pelan sambil tersenyum namun senyum yang sangat dipaksakan nya.
"Maafin tante ya Lun, Tante gak tau. Maafin tante ya sayang." Ucap bu Mela menyesal atas semua ucapannya.
"Gak apa-apa kok tante, Tante kan emang gak tau. Sini biar Luna yang nyuci buahnya." Luna lalu mengambil piring yang berisi beberapa macam buah dari tangan bu Mela. Ia mencuci bersih buah tersebut, Sedangkan bu Mela hanya diam melihat Luna saat ini. Saat semua buah sudah selesai dicucinya ia menyerahkan piring itu pada bu Mela dan bu Mela menyambutnya.
"Ayo kita makan diruang keluarga." Ajak bu Mela namun Luna langsung menolaknya, Ia tidak mau merusak moment kebersamaan keluarga bahagia ini.
"Gak tante, Luna ke kamar aja." Katanya menolak dengan sopan, Namun bu Mela tetap memaksa bahkan ia menggandeng lengan Luna dan membawanya keruang keluarga.
"Luna, Sini gabung sama kita." Ajak pak Angga yang melihat Luna datang bersama istrinya. Mau tidak mau Luna akhirnya duduk bersama disana, Luna mengupas semua buah mereka berempat asik bercengkrama, Bercanda saling bertukar cerita satu sama lain. Kehangatan keluarga yang sudah lama tidak Luna rasakan semenjak kedua orangtua nya meninggal.
***
Hari kian larut, Kini mereka berada dikamar masing-masing. Hari ini Luna merasa sangat bahagia, Ia merasa seperti dulu saat keluarganya masih utuh. Makan malam bersama lalu makan buah sambil menonton tv juga mengobrol semua itu bisa mengobati sedikit rasa rindu Luna pada kedua orang tuanya terlebih bu Mela dan pak Angga benar-benar orang yang baik.
🎶Not sure if you know this but when we first met I got so nervous, I couldn't speak.
(Tidak yakin apakah kamu tau ini, Tapi saat pertama kita bertemu aku sangat gugup, Aku tidak bisa bicara.)
🎶In that very moment, I found the one and my life had found its missing piece.
(Pada saat itu juga, Kutemukan seseorang dan hidupku telah menemukan bagiannya yang hilang.)
🎶So as long as I live I"ll love u, Will have and hold u.
U look so beautiful in white.
(Selama aku hidup, Ku kan mencintaimu, Akan memiliki dan memelukmu. Kau sangat terlihat cantik bergaun putih.)
🎶And from now til my very last breath, This day I'll cherish
U look so beautiful in white, Tonigh.🎼🎶
(Dan mulai sekarang hingga akhir nafasku, Hari ini akan selalu ku kenang. Kau terlihat cantik bergaun putih malam ini.)
Luna mendengar suara El diiringi nada gitarnya. Itu terdengar jelas dari kamar El. Luna turun dari tempat tidurnya lalu membuka pintu balkon dan benar saja El sedang asik menyanyi di balkon itu ditemani sebuah gitar dipelukan nya. Luna berdiri di balkon itu menikmati lagu yang dinyanyikan El. Suara El yang merdu beradu dengan suara indah petikan gitarnya.
🎶What we have is timeless, My love is endless and with this ring I say to the world.
(Apa yang kita miliki adalah abadi, Cintaku tiada akhirnya dan dengan cincin ini, Ku katakan pada dunia)
🎶You're my every reason, You're all that I believe in with my heart I mean every word.🎶
(Kau adalah semua alasanku, Kau adalah segala yang aku percayai dengan sepenuh hatiku ku ucap setiap kata sungguh-sungguh)
Luna tepuk tangan membuat El tersadar keberadaan Luna yang sejak tadi menontonnya dari balkon kamarnya.
"Kamu dari tadi disana?" Tanya El meletakan gitarnya dilantai.
"Mmmm......Suara abang bagus, Enak didengar aku suka." Katanya jujur serasa habis nonton konser. Pujian Luna membuat El sedikit malu.
"Kamu berlebihan banget." Sahut El tersenyum.
"Serius. Aku baru tau abang bisa nyanyi dan bisa main gitar."
"Rasa gak percaya ya ngeliat abang pegang gitar, Biasanya nya cuma pegang pulpen dan map." Sahut El tertawa renyah, Luna juga ikut tertawa mendengar ucapan El.
"Terimakasih." Kata Luna membuat El bingung, El lalu melihat kearah Luna yang juga ikut duduk dilantai seperti yang ia lakukan. Karena kamar mereka bersebelahan dan balkon mereka hanya dibatasi pagar tralis mereka masih bisa melihat satu sama lain saat mengobrol.
"Terima kasih untuk?" Tanya El heran
"Untuk semua. Untuk perlindungan yang selama ini abang kasih dan untuk kehangatan keluarga malam ini." Kata Luna matanya lurus menatap langit terang dan berbintang. El tersenyum dan ikut menatap langit itu.
Bersambung.......