
Saat ini El sedang berada dipenjara, Sebelum pulang ia ingin bertemu dengan Baron. Pria ba*ingan yang sudah menyebabkan ayahnya meninggal dan meracuni istrinya hingga Luna tidak bisa lagi memiliki seorang anak.
"Gimana rasanya tinggal disini? Enak?" Tanya El dengan nada merendahkan membuat Baron memberontak ingin mencekik pria yang ada dihadapannya saat ini namun kedua tangannya di borgol. Baron dikenakan pasal berlapis selain sebagai pengedar nark*ba ia juga di kenakan tuntutan atas pasal pembunuhan terhadap pak Bram yang makin membuat hukumannya berat. Padahal Baron di jatuhi hukuman mati saat itu namun karena El ingin membuatnya lebih menderita ia meminta agar Baron tidak mendapatkan hukuman mati melainkan kurungan seumur hidup tanpa mutasi. Ia ingin melihat betapa menderitanya Baron menghabiskan sisa hidupnya ditempat itu.
"Gue pengen lo mati perlahan dan menyakitkan! Sedikit demi sedikit tubuh lo bakal kesakitan setiap waktu dan akhirnya mati lalu berlanjut ke otak lo yang akan ikut mati." Tambah El, Seandainya tidak ada petugas dan tidak ada jeruji besi yang menghalangi mereka mungkin El sudah menyiksa pria itu dengan kejam karena perbuatan nya pada Luna. Betapa ia sangat murka dan marah namun jika ia menunjukan rasa amarahnya di hadapan Baron, Maka Baron akan tau jika El saat ini sedang terluka dan tentu itu membuat Baron merasa menang.
"Lo liat aja, Gak selamanya lo bahagia. Akan datang saatnya lo menangis bahkan tangisan itu lebih menyakitkan daripada yang gue rasakan saat ini." Sahut Baron penuh penekanan, Namun El hanya tertawa menanggapi hal itu.
"Dan gue akan tunggu saat polisi ngabarin tentang kematian lo." Balas El, Lalu pergi dari tempat itu.
***
"Loh bun, Devan kenapa? Kok mukanya lebam gitu?" Tanya Daniel yang baru saja tiba dirumah dan langsung melihat wajah anaknya yang lebam.
"Biasa yah, Anak cowok." Sahut Dara sambil asik mendadani rambut Zea yang masih berada dirumahnya.
"Hai ayah, Kok daddy belum jemput Zea?" Sapa Zea saat Daniel menghampirinya.
"Iya sayang, Daddy mampir dulu ke suatu tempat. Tunggu bentar ya." Sahut Daniel mengusap lembut kepala Zea lalu mencium kening Dara. Setelah itu Daniel menghampiri kedua anaknya yang asik bermain game di hp masing-masing.
"Coba cerita sama ayah, Kenapa muka gantengnya Devan bisa jadi begini?" Tanya Daniel yang duduk diantara kedua anak kembarnya.
"Gara-gara Devan belain Zea yah. Ada anak laki-laki yang ganggu Zea dan mau mukul Zea." Celetuk Davin yang malah antusias bercerita pada Daniel. Sedangkan Devan tetap asik dengan gamenya.
"Oya? Hebat dong Devan bisa melindungi Zea. Tapi masa harus berantem sampai gitu sih nak?" Kali ini Daniel mengambil hp milik Devan agar anaknya mendengarkan ucapannya.
"Ish, Kan udah aku bilang aku gak belain Zea. Aku mukul dia karena dia mau ngambil uang jajan ku." Bela Devan tidak terima dengan cerita yang dibuat oleh kakaknya. Mendengar hal itu Dara tertawa saat menghampiri mereka bertiga.
"Devan juga tadi dipanggil ke ruang guru BK yah." Tambah Zea sambil duduk manja dipangkuan Daniel, Denhan polosnya ia mengadu membuat Devan marah.
"Kamu itu cerewet banget sih!" Kata Devan menegur Zea yang sudah merasa aman dalam pangkuan Daniel. Ia malah menjulurkan lidah mengolok Devan membuat Davin tertawa.
"Udah dong, Berantem mulu sih." Ucap Daniel menengahi perdebatan.
"Udah sana, Ini kan ayah aku ngapain kamu manja-manja sama ayah aku?" Ucap Devan yang masih kesal. Bukannya pergi Zea makin mengeratkan pelukannya ditubuh Daniel dan kini Davin ikut-ikutan memeluk ayahnya. Merasa kalah, Devan pun langsung menerobos dan ikut ambil bagian. Kini ketiga anak itu berebut memeluk Daniel hingga saat Daniel tertawa melihat tingkah mereka.
"Jadi cuma sayang sama ayah? Sama bunda gak?" Kata Dara duduk disamping Daniel.
"Ayah sayang bunda aja deh." Ucap Daniel memeluk Dara lalu ketiga anak itu mengikuti Daniel dan kini Dara yang jadi sasaran.
Kehidupan Daniel dan Dara benar-benar berubah saat mereka memiliki Davin dan Devan ditambah Zea yang kadang ikut membuat ramai rumah mereka. Kini bagi mereka berdua tidak ada hal yang lebih penting lagi selain keluarga. Rasa lelah bahkan seketika hilang saat bertemu anak-anaknya. Sedang asik bercanda El datang untuk menjemput Zea.
"Daddy......" Teriak Zea berlari kearah El. El langsung menggendong putri kecilnya itu dan menciumnya gemas.
"Kita pulang yuk. Kasian mommy sepi dirumah." Ucap El pada anaknya. El lalu menghampiri Dara dan Daniel.
"Makasih ya Ra udah jaga Zea setengah hari ini. Loh Devan kenapa?" Tanya El melihat wajah Devan.
"Iya sama-sama bang. Biasalah, Berantem disekolah."
"Dev.....Ummmmm bang Devan belain Zea daddy." Mendengar hal itu El duduk disamping Devan.
"Devan belain Zea? Emang Zea kenapa?"
"Kan udah aku bilang berulang kali. AKU GAK BELAIN KAMU!" Jawab Devan dengan nada penuh penekanan terdengar sangat kesal.
"Iya kok, Ya kan bang Davin? Bener kan?" Sahut Zea keras kepala tidak mau kalah dan tetap yakin jika Devan bertengkar karena dirinya. Davin yang memiliki sifat netral tidak memihak pada Zea ataupun Davin mengangguk saja ketika Zea bertanya dan begitu juga saat Devan yang bicara.
"Sama kakak kelas Devan, Dia rese suka mintain uang jajan. Sekali-kali Devan kasih aja pelajaran biar kapok." Ucap Devan yang malah lancar bercerita pada El membuat Daniel menggelengkan kepalanya.
Mendengar hal itu El membisikan sesuatu di telinga Devan membuat semua orang penasaran termasuk putrinya sendiri.
"Are you serious?" Ucap Devan dengan mata berbinar. El mengangguk menjawab pertanyaan anak angkatnya itu.
"Thank you dad, You are the best." Ucap Devan sambil tersenyum puas mengacungkan kedua jempolnya kearah El. El membalas senyum itu dan mengusap pucuk kepala Devan.
"Daddy ngomong apa sama Dev.....Sama dia?" Tanya Zea cemburu memasang wajah masam kearah El.
"Iya, Masa cuma Devan yang dibisikin?" Tambah Davin yang biasanya tidak banyak protespun kali ini ikut angkat bicara.
"Sorry, But this is our secret." Jawab Devan tersenyum puas. El, Dara dan Daniel juga ikut tertawa mendengar protesan dari kedua anak-anak itu lalu El dan Zea segera pulang kerumah mereka.
***
Sesampainya dirumah Luna menyambut El dan Zea dengan senyum mengembang di wajahnya. Walau hatinya sedang merasa kecewa ia harus tetap bisa tersenyum di hadapan El dan Zea.
"Seneng di rumah bunda?" Tanya Luna sambil membawakan jas hitam milik El sedangkan El menggendong anaknya.
"Seneng dong, Dibeliin es krim sama bunda."
"Ya udah kalo gitu Zea ganti baju dulu ya." Kata El menurunkan anaknya. Zea mengangguk lalu segera pergi ke kamarnya.
"Abang." Ucap Luna malu dengan sikap romantis suaminya.
"Apa sih sayang?" Sahut El manja makin membuat pipi Luna merona, Ia menggendong Luna membawanya ke kamar.
"Turunin."
"Apanya yang diturunin? Entar malam aja ya abang turunin." Mendengar ucap El, Luna langsung mencubit hidung El membuat El langsung menurunkan Luna dan tertawa.
"Apa sih sayang? Aku kangen tau." Katanya lagi memeluk Luna, Saat ini mereka sudah berada di kamar. Luna tersenyum mencium bibir El lalu melepaskan dasi di leher El.
"Sayang......" Panggil El yang masih memeluk Luna.
"Hmmmmmm?"
"Kamu kecewa?" Tanya El, Mendengar hal itu Luna menatap wajah suaminya yang kini juga sedang melihatnya.
"Tadinya aku ngerasa sangat kecewa, Terpukul dan merasa sangat sedih. Aku berpikir kenapa Tuhan begini? Rasanya tidak adil sekali berada di posisiku saat ini. Dan pikiran itu terus memenuhi otakku, Menghasut pikiranku. Tapi saat melihat kalian berdua pikiran egois itu hilang seketika. Tuhan sangat baik bahkan sangat menyayangi aku, DIA berikan abang sebagai pendamping paling sempurna yang gak semua wanita bisa memiliki pria seperti abang. DIA juga ngasih kita seorang bidadari kecil yang luar biasa cerdas, Pintar, Cantik dan baik. Di saat semua itu sudah aku miliki kenapa aku harus membingungkan hal-hal yang tidak pasti?" Ucap Luna tersenyum menyentuh pipi El dengan lembut.
*Andai bahagia dan cinta itu terlihat jumlahnya maka kamu tidak akan tau sebanyak apa cinta dan bahagia yang aku rasakan saat ini. Memiliki seorang wanita yang mampu menggetarkan hatiku tiap saat. Wanita yang memiliki perbedaan umur jauh dengan ku namun paling bisa mengerti dan mengimbangi ku. Sebesar inikah cintaku untuknya? Bahkan melebihi segalanya. Dia hanya wanita biasa, Dengan penampilan sederhana apa adanya. Dia tidak secantik bidadari namun mampu menggetarkan hati tiap kali aku menatapnya. Dia tidak sesempurna malaikat yang taat namun ia membuat hatiku terikat*.
"Apapun yang sudah digariskan Tuhan untuk kamu, Maka akan tetap menjadi milikmu. Tidak akan pernah tertukar apalagi dimiliki orang lain. Maka teruslah melangkah walau ada sebuah batu besar menghalangi jalanmu, Karena kamu adalah aku." Sahut El menghujani wajah Luna dengan ciuman mesra.
"Sayang......" Panggil El lagi masih memeluk Luna.
"Mmmmm......."
"Ummmm.....Boleh gak kalo aku ngajarin taekwondo sama Zea?" Tanya El sedikit ragu. Dan benar saja mendengar hal itu Luna langsung mengernyit.
"Tapi...Zea masih terlalu dini untuk belajar bela diri. Aku takut Zea salah menggunakan kemampuannya." Sahut Luna memainkan kancing baju El yang sedikit lagi hampir terbuka.
"Sayang, Kamu ibunya Zea. Kamu lebih mengenal Zea daripada orang lain. Menurut kamu apa mungkin Zea bertindak hal seperti itu? Zea memiliki kamu dan hati yang kamu miliki juga dimiliki Zea." Bujuk El meyakinkan Luna. Luna diam sesaat masih memikirkan ucapan El.
"Sayang, Gak ada salahnya belajar bela diri walaupun dia seorang perempuan. Itu malah bagus untuk dia jaga-jaga diri, Kita gak selamanya ada disamping dia. Ada saatnya dia beranjak remaja dan gak selalu bersama kita." Tambah El, Sebenarnya ini adalah permintaan Zea untuk membujuk Luna karena dibanding El, Luna lebih sulit dibujuk oleh Zea.
"Ya udah tapi dengan satu syarat, Terus ingatkan Zea supaya gak semaunya menggunakan kelebihan itu untuk menyakiti orang lain." Sahut Luna yang akhirnya setuju.
"Yeeeeyyyyy.......Makasih mommy." Teriak Zea yang berlari dari arah pintu membuat El dan Luna kaget.
"Zea sejak kapan ada disana?" Tanya Luna penasaran.
"Daritadi." Sahut Zea jujur karena memang sejak tadi ia menguping pembicaraan serta mengintip aktifitas yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.
"Daritadi? Jadi dari tadi Zea nguping omongan daddy sama mommy?" Tanya El ikut mengintrogasi putri kecilnya.
"Iya, Gak cuma nguping Zea liat daddy gendong mommy, Terus hug mommy dan kiss mommy." Mendengar hal itu Luna langsung menutup mulut anaknya itu sedangkan El hanya bisa mengusap wajahnya karena tingkah laku Zea.
"Terus kenapa Zea gak marah daddy hug mommy dan kiss mommy?" Tanya El lagi, Zea buru-buru membuka tangan Luna yang masih menutup rapat mulutnya.
"Untuk kali ini gak apa-apa, Kan daddy bantuin Zea ngomong sama mommy. Its oke daddy, I'm not angry." Sahutnya lagi benar-benar polos dan apa adanya, Luna yang sudah tidak sabar karena gemas langsung menggelitik Zea hingga Zea berlari keluar dari kamar orangtuanya. Setelah Zea keluar El kembali memeluk Luna dari arah belakang.
"Sayang, Temenin mandi abang takut sendirian dikamar mandi." Kata El manja meletakan dagunya di bahu Luna.
"Ish udah ah manja-manjanya. Mandi sana bau asem tau." Sahut Luna enggan bicara aneh takut Zea kembali berulah.
"Temenin." Sahut El tetap manja sambil meniup telinga Luna membuat Luna merasa geli.
"Takut apa sih? Udah deh jangan macem-macem."
"Takut pas mandi terus ngebayangin kamu tapi kamunya gak ada di samping abang. Itu sangat menyiksa lahir batin."
"Mommy...." Teriak Zea, Mendengar suara Zea yang makin dekat Luna langsung melepaskan diri dari pelukan El lalu mendorong suaminya ke arah kamar mandi."
"Buruan mandi." Katanya lalu pergi menghampiri Zea. El hanya tertawa melihat istrinya, Ia meraih handuk dan langsung pergi menuju kamar mandi.
Tuhan, Terimakasih telah mengirimkan pendengar yang baik bagi setiap hal yang tak bisa ku tanggung sendiri rasa sakitnya.
Terimakasih telah mengirim dia sebagai pemberi peluk bagi semua mimpi buruk yang aku alami.
Keberadaanya membuatku tidak berhenti bersyukur.
\_Aluna\_