
"Dan keruangan gue sekarang juga." Panggil El dalam sambungan telepon. Dan tidak lama Daniel datang keruangan bosnya itu.
"El gue ud....-
"Ssssttttttt" Kata El pelan sambil meletakan jari telunjuknya didepan mulut sebelum Daniel sempat menyelesaikan ucapan nya. Melihat hal itu Daniel langsung menutup rapat mulutnya. El lalu menunjukan sebuah benda kecil dibalik frame photo Luna dan Zea yang ada diatas meja El dan benda kecil itu ternyata adalah sebuah penyadap suara.
El mengeluarkan hpnya dan mengirim pesan pada Daniel yang saat itu sedang berdiri disampingnya ia benar-benar kaget melihat benda kecil itu ada disana.
"Orang itu ada dikantor ini. Bicara seolah-olah kita gak tau tentang penyadap ini dan jangan ungkit data karyawan yang gue minta kemaren." Setelah membaca itu Daniel mengerti, El ingin tau siapa orang dalam yang berani bermain-main dengannya.
"Sorry El, Gue gak nemuin apa-apa dari pencarian data karyawan yang lo minta. Semua normal menurut gue." Kata Daniel mulai memainkan perannya.
"Gitu ya? Ya udah lupain aja dulu tentang masalah itu. Gue bosen, Temenin gue ngopi ke cafe langganan kita." Kata El seolah ia ingin pergi meninggalkan ruangan tersebut padahal nyatanya ia malah mengajak Daniel bersembunyi diruangan rahasia miliknya.
"El ini file sama berkas tentang rancangan bulan depan. Kalo mereka setuju sama rancangan kita, Majalah kita bakal meledak lagi kek bulan kemaren." Ucap Daniel sengaja agar orang yang ada dibalik alat sadap itu mendengar dan datang ke ruangan El. Mereka berdua lalu berjalan menuju ruang rahasia dibalik lemari buku besar yang tepat berada di belakang kursi miliknya.
Umpan yang mereka pasang berhasil, Setelah menunggu beberapa menit tidak lama seorang karyawan magang yang baru saja mereka terima bekerja ditempat itu masuk secara diam-diam sambil mengawasi sekitar ruangan El yang sepi. Ia berjalan kearah meja tempat file dan berkas tadi diletakan oleh Daniel lalu mengeluarkan hpnya dan memotret lembaran kertas itu lalu setelah mendapatkan copyan dari file tersebut ia buru-buru keluar sebelum El dan Daniel datang pikirnya.
"Dia anak baru kan?" Tanya El pada Daniel yang sedang menyaksikan dari dalam sana mengintip diselah lemarin buku.
"Ini datanya." Sahut Daniel sambil memberikan identitas lengkap milik pria yang baru saja masuk. Kini El tau harus dari mana ia memulai tugasnya. El langsung menghubungi orang-orangnya dan mengirim identitas pria tadi.
"Kok lo bisa nemu alat itu?" Tanya Daniel penasaran.
"Gak sengaja pas gue ngambil pulpen gue yang jatuh tiba-tiba gue liat alat itu udah kepasang disana. Gue gak tau siapa yang lagi ngawasin keluarga gue diluar sana, Tapi yang jelas dia bukan orang yang biasa." Kata El serius begitu juga dengan Daniel.
***
"Bang Davin aku boleh liat punggungnya bang Davin gak?" Tanya Zea yang saat ini sedang berada di rumah Daniel bersama Luna. Devan sudah keluar dari Rumah Sakit dua hari yang lalu.
"Punggungnya Davin luka dalam, Terus robek dan masih bedarah. Ditambah benang jahitan yang masih keliatan, Serem banget." Sahut Devan bergidik menakuti Zea. Mendengar hal itu Zea menyipitkan kedua matanya merasa ngeri.
"Dibohongin Devan, Orang punggung bang Davin udah sembuh kok." Jawab Davin bicara jujur menggagalkan niat Devan untuk menakuti Zea.
"Beneran udah sembuh?" Tanya Zea memastikannya lagi, Davin mengangguk lalu mengangkat bajunya dan memperlihatkan sisa luka dipunggungnya.
"Udah sembuh kan?" Ucap Davin tersenyum.
"Tapi banyak bekasnya, Entar aku kasih tau bunda deh biar bunda beliin abang lotion." Katanya polos sambil mengangguk yakin.
"Lo.....Lotion? Buat apa?" Tanya Davin heran.
"Mommy bilang lotion itu bagus buat kulit kita. Mommy pake, Bunda juga pake aku juga punya lotionnya tapi dirumah." Tambahnya menjelaskan pada Davin.
"Ih yang pake lotion itu cewek, Mana ada cowok pake lotion." Jawab Devan.
"Iya, Yang pake lotion itu cewek. Lagian entar juga pasti hilang kok bekasnya." Tambah Davin yang juga enggan mengikuti saran dari Zea.
"Ya udah kalo gak percaya." Sahut Zea sedikit ketus.
"Oh iya lupa, Ini gantungan kunci bang Davin." Kata Zea mengembalikan gantungan kunci berbentuk bintang milik Davin.
"Kamu suka? Kalo kamu suka, Kamu suka pake aja." Jawab Davin, Sedangkan Devan yang sejak tadi terlihat tidak banyak suara melirik kearah Zea dan Davin. Zea tersenyum senang namun tiba-tiba ia berdiri dari tempat duduknya dan berlari keluar dari kamar Davin membuat Devan dan Davin heran.
"Mau ke toilet." Teriak Zea yang sudah berlari keluar dari kamar Davin. Padahal dikamar Davin terdapat kamar mandi pribadi tapi ia malah berlari cepat menuju toilet lain.
***
"Sayang, Abang keknya sedikit terlambat pulangnya ada beberapa urusan yang mesti diselein." Kata El bicara dengan Luna melalui sambungan telepon.
"Lagi banyak kerjaan ya bang? Ya udah kalo gitu, Jangan terlalu capek ya."
"Iya, Titip cium buat Zea ya." Katanya lagi setelah itu ia mematikan sambungan telepon.
"Mending lo pulang aja deh. Kasian anak lo baru aja keluar dari Rumah Sakit." Kata El bicara pada Daniel yang berencana ikut bersama dengannya kesuatu tempat.
"Gue ikut lo, Ini juga ada hubungannya sama anak gue. Lo liat sendiri karena orang itu anak gue juga jadi korban." Jawab Daniel bersikeras ingin ikut El.
"Ya udah kalo gitu. Lo udah ngabarin Dara?"
"Aman, Tenang aja." Setelah itu mereka berdua langsung pergi kesuatu tempat.
***
Pria itu duduk disebuah kursi tunggal dengan tangan dan kaki terikat serta mata yang tertutup kain berwarna hitam. Tidak lama ia mendengar suara langkah kaki mendekat berjalan kearahnya.
"Si.....Siapa disana?" Ucap pria itu terbata mulai merasa tidak aman.
"Kamu pasti tau siapa saya." Ucap El datar, Dingin dan terdengar kejam.
"Pa.....pak El." Katanya terdengar ketakutan mengetahui siapa orang yang ada dihadapannya saat ini.
"Buka tutup matanya." Perintah El, Lalu kain berwarna hitam yang menutupi mata pria itu dibuka. Pria itu langsung membuka matanya dan betapa kaget sekaligus takutnya ia melihat tempat ini dipenuhi pria berpakaian serba hitam. Hanya ada dua pria yang mengenakan warna pakaian berbeda yaitu El dan Daniel yang saat ini sedang berdiri di depannya.
"Ke.....Kenapa ba... bapak membawa saya ketempat ini?" Tanyanya takut bahkan suaranya terdengar bergetar. El tersenyum berjalan santai mendekati tawanannya.
"Saya rasa kamu punya jawaban untuk pertanyaan kamu sendiri."
"Untuk siapa kamu bekerja?" Tanya Daniel mulai mengintrogasi.
"Ma.....maksud bapak, Sa.....Saya benar-benar tidak mengerti." Sahut pria itu masih mencoba bertahan menyembunyikan identiras atasannya.
"Sebelum masuk keperusahaan saya, Tentu kamu tau betul siapa saya. Dan saya yakin iamu pernah memdengar nama Elang Leondra." Kata El datar membuat keringat dingin mengucur deras di tubuh pria itu. Harusnya ia berpikir dua kali sebelum ditugaskan. Ini sama saja ia sedang menjadi umpan untuk seekor singa dan sekumpulan srigala lapar. Siapa yang tidak mengenal nama itu? Hanya dengan menyebutkan namanya saja itu bisa membuat seseorang ketakutan apalagi langsung berhadapan dengan si pemilik nama tersebut.
"Ma....Maafkan saya pak. Saya hanya diberi tugas oleh atasan saya jika saya menolak maka saya dipecat dan.....Dan biaya pengobatan anak saya juga akan terhenti. Saya mohon ampuni saya pak, Anak saya sekarang sedang melawan penyakit ganas yang menggerogoti tubuhnya. Dia baru saja menginjak usia 7 tahun bulan lalu, Saya terpaksa pak saya tau ini salah tapi saya bisa apa sebagai karyawan biasa yang mengharapkan gaji untuk kesembuhan anak saya." Kata pria itu menangis hebat dihadapan El. Seketika hati El langsung gemetar mendengar hal itu, Mungkin anaknya seumuran Zea saat ini sedang menunggu kedatangan ayahnya pikirnya.....
El mendadak mundur sambil mengusap kasar wajahnya. Bukan ia lemah hanya saja ia juga seorang ayah yang memiliki seorang anak yang sangat ia cintai melebihi nyawanya sendiri tentu itu mengganggu pikirannya. Daniel yang melihat itu semua tau apa yang sedang dipikirkan sahabatnya itu, Ia menepuk pundak El lalu mengambil alih posisi El untuk menanyai pria itu.
"Bagus kalo kamu tau siapa El sebenarnya? Kalo gitu kamu gak perlu takut. Cukup lakukan apa yang saya suruh maka kamu dan anak kamu akan aman. Saja jamin dan berjanji akan hal itu, Tapi sebaliknya kalo kamu mencoba lari dan tidak berperan dengan baik maka kamu tau akibatnya. El bukan orang yang kejam, Tapi berbeda dengan saya." Kata Daniel serius, Mendengar hal itu pria tadi langsung mengangguk setuju bahkan ia bersumpah akan melakukan apapun yang diperintahkan oleh Daniel.
"Serahin aja ke gue. Musuh lo, Musuh gue juga. Dan sekarang dia lagi ngajakin kita main apa salahnya kalo kita ikuti permainan nya sebentar sebelum menyingkirkan nya." Kata Daniel menghampiri El. El mengangguk paham, Mengerti apa yang akan dilakukan Daniel.
Bersambung..