
"Kenalin ini pacar gue, Namanya Jessy." Ucap Rendy memperkenalkan wanita cantik yang berdiri di sampingnya. Jessy tersenyum pada semua orang yang ada disana namun hanya satu orang yang tidak ia berikan senyuman yaitu Daniel. Daniel pun merasa kaget saat mengetahui jika pacar Rendy adalah Jessy namun ia tetap berusaha bersikap santai berdiri tenang sambil menyelipkan kedua tangannya di kantung celana.
Jessy gadis yang dulu magang diperusahaan El yang dan mengakui perasaan nya pada Daniel. Tapi, Tentu saja Daniel menolaknya tanpa sedikitpun pertimbangan karena Daniel sudah memiliki keluarga yang sangat ia cintai. Padahal kontraknya saat itu diperpanjang dan ia juga diterima bekerja di perusahaan El. Namun karena tidak bisa melupakan sosok Daniel dan terus berharap pada pria yang sudah jelas tidak menghiraukan nya itu, Jessy memilih untuk resign tanpa alasan yang jelas. Ia tidak tahan jika harus terus menerus melihat dan bertemu Daniel.
Melihat wajah Jessy yang nampak familiar El berbisik pelan ditelinga Daniel.
"Kok mukanya gak asing gitu ya? Gue ngerasa pernah ngeliat dia tapi dimana ya?" Ucap El ditelinga Daniel.
"Perasaan lo aja kali." Sahut Daniel tidak ingin membahas. El diam namun tetap terus mengamati wajah Jessy secara tidak langsung. Mereka duduk kembali mengobrol dan Jessy menghampiri Zea untuk mengucapkan selamat serta memberikan hadiah ulang tahun nya.
"Lo ngpain meratiin pacarnya bang Rendy sampai segitunya? Kepergok Luna baru tau rasa." Celetuk Daniel yang sadar jika El terus memperhatikan gadis berambut panjang itu. Karena Jessy dulunya bekerja di departemen yang dipimpin oleh Daniel makanya El tidak seberapa mengenali gadis itu.
"Ya gak gitu, Gue yakin banget pernah ngeliat tuh cewek. Tapi dimana? Dan kapan?" Sahut El yakin dengan perasaan nya.
"Coba lo perhatiin bener-bener deh, Mukanya itu gak asing banget tau." Tambah El malah menyuruh Daniel untuk memperhatikan wajah Jessy. Bosan akan hal itu Daniel meletakan gelasnya lalu berdiri meninggalkan El sendirian disana.
"Mau kemana lo?" Tanya El, Namun Daniel memilih diam tidak menghiraukan nya.
"Beib...." Sapa Daniel sambil mencium pipi Dara, Ia menghampiri Dara yang sedang asik dengan hp nya.
"Ngapain?" Tanya Daniel yang duduk disamping Dara.
"Lagi liat-liat di sosial media aja. Kenapa kok lemes gitu?" Tanya Dara, Daniel lalu merebahkan kepalanya di bahu Dara dengan manja tidak perduli dengan orang-orang yang ada disana.
"Ngantuk." Sahut Daniel singkat ia lalu memejamkan matanya. Dara tersenyum mengusap pipi Daniel dengan lembut dan membiarkan suaminya beristirahat sejenak di bahunya. Tidak berapa lama Rendy datang menghampiri Daniel dan Dara tentu Jessy juga ikut bersamanya.
"Jessy kenalin ini ade aku Dara dan itu suaminya Daniel." Kata Rendy memperkenalkan Jessy pada kedua adiknya. Dara tersenyum hangat sambil menyambut uluran tangan dari Jessy dan mereka saling memperkenalkan diri. Karena sifat Jessy yang sangat friendly dan mudah bergaul mereka langsung terlihat akrab.
"Ay......Ay bangun." Kata Dara membangunkan Daniel yang memang tertidur nyenyak, Daniel membuka matanya dan pandangannya langsung disambut oleh sosok Jessy yang kini sudah duduk di meja yang sama dengan nya.
"Lo beneran tidur?" Tanya Rendy tidak yakin karena yang namanya Daniel tidak akan bisa melewatkan sebuah keramaian sedikitpun.
"Ngantuk gue bang, Kalo di kantor mana bisa tidur kek gini." Sahut Daniel yang masih tetap nyaman merebahkan kepalanya di bahu Dara dengan manja persis seperti Davin dan Devan saat bermanja ria pada Dara membuat Jessy melihat kesembarang arah tidak ingin melihat Daniel saat ini.
"Dia Daniel ade ipar aku. Dan anak kembar yang lagi duduk disana, Itu anak mereka." Jelas Rendy pada kekasihnya. Untuk menjaga perasaan Rendy dan yang lain Daniel sedikit tersenyum sambil melambaikan tangan nya pada Jessy dan Jessy pun membalas senyuman itu walau terlihat sedikit terpaksa diwajanya.
"Ummmmm Ren, Aku gak bisa lama-lama deh keknya, Soalnya ada janji juga sama temen." Ucap Jessy yang ingin berpamitan pada Rendy.
"Oh ya udah aku anterin kamu ke depan ya."
"Ra aku pulang duluan ya." Ucap Jessy berpamitan pada Dara.
"Iya, Makasih ya udah nyempetin datang." Jawab Dara sopan walau mereka seumuran Dara tetap menghormati Jessy karena ia memiliki hubungan dengan kakak semata wayang nya.
Setelah Jessy dan Rendy pergi Daniel kembali melanjutkan tidurnya.
"Ay......." Panggil Dara lagi.
"Hmmmmm......" Sahut Daniel singkat tetap memejamkan matanya. Sepertinya kali ini Daniel memang benar-benar diserang oleh rasa ngantuk.
"Kamu kok gitu sih bawaan nya sama Jessy?" Tanya Dara yang sadar jika Daniel tidak begitu menghiraukan pacar kakaknya itu.
"Gimana emang?"
"Ya kek lagi menghindar gitu, Ummmm gimana ya? Ya pokoknya keliatan banget kalo kamu bersikap dingin. Emang kenapa sih? Jangan bilang kalo dia itu sebenernya salah satu dari sekian banyak mantan kamu." Mendengar hal itu Daniel langsung membuka matanya dan segera bangun dari bahu Dara.
"Apaan sih beib? Kok tiba-tiba ngebahas mantan? Kan kamu tau sendiri aku bener-bener lagi ngantuk beiby." Sahut Daniel menangkup kedua pipi Dara dengan tangannya.
"Ya Tuhan beib, Udah ah jangan ribut gak enak sama El dan Luna." Daniel meraih tangan Dara lalu mengecup lembut punggung tangan Dara.
"Kalian ngapain? Please deh jangan pacaran mulu ini party nya anak-anak sesuaikan dong sama tema." Ucap Kenan mengagetkan Dara juga Daniel.
"Bodo amat, Dia istri gue dan gue suaminya kenapa emang?" Sahut Daniel cuek dan malah memeluk Dara di hadapan Kenan membuat Kenan menggelengkan kepalanya lalu pergi meninggalkan dua manusia itu.
***
Malam ini Zea bersama kedua orangtua nya dan juga opa serta oma nya sedang asik membuka kado diruang keluarga. Zea terlihat sangat antusias padahal benda apa yang tidak dimiliki oleh gadis kecil ini? Bahkan di umurnya yang baru 7 tahun ia sudah memiliki rumah, Mobil serta saham perusahan atas namanya sendiri itu semua adalah warisan yang ditinggalkan oleh almarhum pak Bram untuk Zea. Namun tetap saja bagi anak seumuran nya mendapatkan sebuah hadiah di hari bahagianya itu adalah momen yang sangat membahagiakan.
"Daddy, Daddy belum ngasih Zea hadiah." Ucap Zea menghampiri ayahnya dan duduk di pangkuan El.
"Belum ngasih hadiah? Bukan nya udah daddy beliin yang kemaren yang Zea mau." Sahut El membenarkan rambut Zea yang panjang.
"Bukan itu, Daddy lupain sesuatu." Jawab Zea cemberut. El benar-benar tidak tau apa yang di inginkan oleh anaknya itu karena ia sudah memberikan hadiah yang sangat di inginkan oleh Zea. El melihat kearah Luna mencoba bertanya keinginan anaknya namun Luna pun sama dengan El ia juga tidak tau hadiah apa lagi yang di inginkan Zea.
"Zea, Serius deh daddy gak tau kamu mau apa. Mommy juga gak tau hadiah apa lagi ya Zea mau, Zea mau apa sih sayang? Bilang sama daddy." Ucap El mengangkat wajah Zea yang menunduk.
"Bigbos." Ucap Zea pelan hampir menangis. Mendengar hal itu El dan Luna baru ingat tentang hadiah tahunan yang disiapkan oleh almarhum kakeknya itu.
"Ya ampun, Maafin daddy ya sayang. Daddy bener-bener lupa surat dari bigbos. Ya udah tunggu sebentar daddy ambilin ya." Ucap El menurunkan Zea dari pangkuannya lalu mengambil surat yang dititipkan mendiang pak Bram untuk Zea.
Tidak lama El datang membawa sebuah amplop berwarna merah muda serta sebuah kotak kecil di tangan nya. Zea yang melihat dari jauh langsung melompat kegirangan membuat Luna dan kedua orangtua El tertawa melihat tingkah lucu Zea.
"Ini hadiah spesial punya Zea." Ucap El memberikan surat beserta kotak kecil yang ia bawa tadi.
"Ya udah kalo gitu Zea ke kamar dulu ya. Makasih daddy, Makasih mommy, Makasih opa dan oma." Ucap Zea sambil mencium anggota keluarganya satu persatu. Ia benar-benar tidak sabaran ingin segera membaca surat itu dan setiap tahun selembar kertas itulah satu-satunya hadiah yang ia tunggu.
Zea langsung masuk ke kamar dan menutup rapat pintu kamarnya. Semenjak ia bisa membaca, Ia selalu ingin membaca surat itu sendirian di dalam kamarnya. Walaupun Zea tidak pernah melihat langsung sosok pak Bram, Namun ia sangat mengagumi serta menyayangi kakeknya itu.
Setelah selesai membaca surat itu, Zea membuka kotak kecil berwarna cokelat muda itu. Di dalamnya ada sebuah kalung dengan liontin mirip sebuah logam kecil namun terlihat ukiran kepala seekor singa dan dibaliknya terdapat nama Leondra. Zea mengambil kalung itu lalu membawanya ke depan cermin dan langsung memakainya.
Wajahnya terlihat sangat senang melihat kalung itu melingkari lehernya. Ia lalu berlari mendatangi El dan Luna yang masih duduk santai di ruang tamu.
"Daddy mommy.....Coba deh liat hadiah dari bigbos, Bagus kan?" Tanya Zea duduk diantar Luna dan El sambil memamerkan kalungnya.
"Itu kalung bigbos." Ucap El tersenyum sambil memegangi liontin kalung tersebut.
"Bagus kan mom?" Tanya Zea pada Luna, Luna tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya pada Zea membuat gadis kecil itu tersenyum menyipitkan matanya.
"Bigbos yang ada di surga aja ngasih Zea hadiah pas ulang tahun. Devan yang tiap hari ketemu malah gak bawa apa-apa buat Zea." Celetuk Zea membuat El menyipitkan mata. Luna tersenyum lalu mengusap lembut pucuk kepala Zea.
"Sayang, Kamu gak boleh ngomong gitu. Ulang tahun itu bukan berarti semua yang datang harus bawa hadiah nak, Yang terpenting itu adalah doa tulus dari mereka untuk Zea. Karena gak ada hadiah yang lebih baik dari sebuah doa."
"Gitu ya mom? Ya udah Zea gak gitu lagi." Sahut Zea berjanji pada Luna.
"Dan satu lagi, Daddy gak mau lagi denger Zea manggil bang Devan dengan sebutan nama. Bang Devan itu lebih tua dari Zea, Sama kek bang Davin. Diantara kalian bertiga yang paling muda itu Zea, Jadi gak boleh manggilnya dengan sebutan nama. Itu sama aja Zea gak sopan sayang." Tambah El menasehati putri kecilnya itu. Walaupun Zea adalah anak tunggalnya, Itu tidak membuat El dan Luna memanjakan nya hingga berlebihan. Bahkan tidak semua keinginan Zea mereka penuhi dan berikan. Mereka tidak ingin Zea tumbuh sebagai anak yang manja dan selalu mengandalkan orangtua. Ada saatnya El dan Luna bersikap tegas pada putrinya.
Bersambung.......
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ jadi ini sebenernya author udah nulis panjang banget smpai 2k lebih.....Tapi tiba2 kepencet aja gt sistem pembaruan android alhasil sisa ini doang yang ke save ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ mau ngulang lagi udah lupa. Jadi dilanjut besok lagi ya.....
Â