
Sesampainya di Rumah Sakit, Luna langsung mendapatkan pertolongan. El menunggu dengan sangat cemas diluar sana, Ia takut jika terjadi hal buruk pada Luna.
Berselang beberapa menit kemudian Dokter yang memeriksa Luna keluar. El langsung menghampiri dan menanyakan keadaan istrinya itu.
"Bagaimana istri saya dok?" Tanya El tidak sabar ingin segera mengetahui keadaan Luna di dalam sana.
"Mari kita bicara diruangan saya karena ada beberpa masalah yang harus saya jelaskan." Kata Dokter tadi membuat jantung El serasa berhenti berdetak saat itu juga.
Dokter itu lalu berjalan menuju ruangannya dan di ikuti El, Kaki El terasa sangat berat untuk melangkah. Sepanjang jalan menuju ruangan Dokter ia terus berdoa semoga tidak terjadi apa-apa pada Luna.
"Silahkan duduk." Ucap Dokter tadi sambil meletakan stetoskopnya keatas meja.
"Ada dua hal yang ingin saya sampaikan mengenai kondisi istri anda. Pertama saya ucapkan selamat karena istri anda sedang mengandung dan usia kandungannya sudah memasuki usia 12 minggu." Mendengar hal itu El benar-benar kaget tidak menyangka bahkan rasanya ini semua seperti mimpi baginya memingat kemungkinan bahwa Luna bisa hamil itu sangat kecil. Andai ia sedang tidak berada dalam ruangan Dokter mungkin ia sudah melompat kegirangan saat ini.
"Dokter serius istri saya hamil?" Tanya El lagi memastikan, Takut jika ia salah mendengar. Dokter itu tersenyum dan memgangguk yakin.
"Dari hasil pemeriksaan istri anda positif hamil." Tambah Dokter meyakinkan El.
"Tapi disamping itu, Dengan berat hati saya sampaikan jika kandungan istri anda sangat lemah dan kemungkinan janin itu tidak bisa bertahan didalam sana dan jika janin itu bertahan maka nyawa istri anda yang menjadi taruhannya." Kali ini El benar-benar merasa setengah dari nyawanya menghilang, Kenapa Tuhan memberikan jika itu tidak bisa dipertahankan?
"Maafkan saya karena harus mengatakan hal ini, Tapi saran saya sebaiknya janin itu diangkat dari rahim istri anda sebelum terlambat." Kata Dokter memberikan pilihan yang sangat teramat berat untuk El. Apa yng harus ia katakan pada Luna? Apalagi Luna sangat mengingkan kehadiran seorang anak.
"Pak...." Panggil Dokter tadielihat El yang kini hanya bisa diam berkecamuk dengan semua perasaan dan pikirannya.
"Pak...." Kata Dokter sedikit nyaring membuat El tersadar.
"Apa tidak ada pilihan lain Dok?" Tanya El dengan penuh harapan.
"Kandungan istri anda memiliki masalah, Saya tidak tau apa penyebabnya tapi biasanya ini dikarenakan oleh racun yang bisa membuat seorang wanita hamil keguguran bahkan keadaan terburuknya ia tidak bisa memiliki anak untuk selamanya." Kata Dokter menjelaskan secara detail tentang keadaan Luna. El kini hanya bisa duduk terdiam, Seluruh tubuhnya terasa kaku pikirannya kacau tidak tau harus apa dan bagaimana.
"Saya harap anda dan istri anda memikirkan baik-baik tentang semua ini, Karena ini adalah masalah yang sangat serius." Kata Dokter tadi, El mengangguk lemas. Tenaganya seketika menghilang saat mendengar kenyataan terburuk dalam hidupnya.
"Kalau begitu saya permisi Dok." Kata El, Dokter itu mengangguk dan El pun pergi dari ruangan itu menuju kamar rawat Luna.
"Tuhan inikah rencana-Mu? Jika memang benar ini semua kehendak-Mu bagaimana bisa aku menjalankan tugasku sebagai seorang suami sekaligus seorang ayah jika aku tidak bisa melindungi istriku juga menyelamatkan anaku. Apa yang harus aku lakukan?" Ucap El dalam hatinya. El masuk keruangan Luna memasang senyuman manis seperti biasanya menyembunyikan semua perasaan hancurnya dibalik senyuman itu.
"Abang...." Panggil Luna tersenyum manis sambil memegangi perut datarnya. Wanita itu sedang duduk bersila diatas ranjang Rumah Sakit sambil menunggu kedatangan El.
"Iya sayang." Kata El menghampiri Luna dan duduk disampingnya. Betapa sakit hatinya saat melihat senyum bahagia terus menghiasi wajah Luna saat ini mengetahui jika dirinya sedang hamil. Luna langsung memeluk El membuat hati El makin terasa hancur.
"Aku hamil, Kita bakalan punya anak lagi." Katanya terlihat sangat bahagia dalam pelukan suaminya yang sedang berusaha kuat menahan airmatanya.
"Iya, Tadi Dokter juga ngomong sama abang." Sahut El, Ia bingung harus seperti apa saat ini dan bagaimana caranya ia memberitahu Luna tentang masalah kehamilannya. Mendengar hal itu Luna melepaskan peluaknnya dari El.
"Dokter bilang apa? Anak kita sehat?" Tanya Luna sambil menggenggam kedua tangan El. El hanya bisa tersenyum sambil mengangguk pelan, Ia tidak bisa menghancurkan senyuman Luna saat ini melihat Luna begitu sangat bahagia.
"Sayang, Mommy udah gak sabar pengen cepat-cepat ketemu kamu." Kata Luna menunduk melihat kearah perutnya dan mengusap lembut perut datarnya membuat hati El serasa tercabik.
"Abang kok nangis?" Tanya Luna saat melihat El. El yang tidak lagi merasa jika airmatanya jatuh langsung menghapus butiran bening itu.
"Abang seneng, Abang bahagia." Kata El tersenyum pada Luna. Luna pun membalas senyuman itu lalu kembali memeluk El.
"Dan abang tersiska." Katanya dalam hati, El mengusap lembuat punggung Luna dalam pelukannya.
"Ku mohon Tuhan, Aku mohon. Jangan biarkan ia menangis, Jangan biarkan ia hancur. Aku mohon Tuhan, Aku.mohon."
***
Saat ini Kenan sedang menuju ruang istirahat khusus cleaning servis. Ia ingin mengajak Eriska untuk makan siang sekaligus menyatakan perasaan nya pada Eriska. Terasa aneh mendapat pandangan lain dari semua karyawan saat ini, Mengunjungi ruangan kecil itu bukanlah hal yang biasa dilakukan oleh Ken sipemilik perusahaan ini.
Kenan membuka pintu ruangan, Disana nampak benerapa karyawan sedang istirahat dan sebagian lagi sedang makan siang. Tentu mereka kaget melihat pimpinan mereka ada ditempat itu.
"Ummmm Eriska disini?" Tanya Kenan sedikit malu.
"Eriska gak masuk hari ini pak." Jawab Dhika, Satu-satunya orang yang peduli dengan wanita itu ditempat ini. Apalagi setelah hubungannya dengan Kenan makin dekat ia kerap kali mendapat perlakuan buruk dari karyawan lain hingga tuduhan kasarpun diberikan padanya namun ia tetap menutup telinga untuk semua itu.
"Gak masuk? Kenapa?" Tanya Kenan lagi penasaran, Karena pagi tadi ia langsung menuju kantor El karena meeting hingga ia tidak tau jika Eriska tidak masuk bekerja hari ini.
"Kami juga kurang tau pak."
"Oh ya sudah, Maaf menggangu waktu istirahat kalian." Sahut Kenan lalu menutup pintu itu kembali.
"Gue telepon, Tapi kan si Eriska gak punya hape." Kata Kenan yang masih bicara pada dirinya sendiri dalam ruangannya. Karena merasa tidak tenang Kenan berdiri dan memutuskan untuk pergi kerumah Eriska.
"Pak ini berkas yang bapak minta untuk di...-"
"Taruh dimeja saya, Saya ada urusan penting." Bel sempat karyawan itu menyelesaikan ucapannya Ken langsung memotongnya.
Ia buru-buru mengambil mobil dan pergi kerumah Eriska.
***
Sesampainya di rumah Eriska, Ken melihat pintu itu tertutup rapat. Ia mencoba mengintip dari celah pintu, Suasana rumahnya sepi seperti tidak ada orang namun Ken tetap mencoba mengetuk pintu rumah sederhana itu.
Cukup lama ia berdiri disana sambil celingak-celinguk dan akhirnya pintu itu terbuka.
"Kenan....Kamu ngapain kesini?" Tanya Eriska, heran.
"Kamu kok gak kerja? Muka kamu pucat banget, Kamu sakit?" Tanya Kenan melihat wajah pucat Eriska dan matanya yang terlihat sayu. Eriska menggeleng pelan menjawab semua pertanyaan Ken.
"Ris...." Panggil ibu Eriska dari dalam.
"Ibu kamu sakit?" Tanya Kenan lagi, Eriska langsung mengangguk cepat.
"Apa perlu kita bawa ke Rumah Sakit?"
"Gak usah, Ibuku sudah minum obat. Ummmm maaf tapi sebaiknya kamu kembali ke kantor." Kata Eriska menyuruh Kenan pergi dari rumahnya.
"Ris, Siapa yang datang?" Tanya ibu Eriska menghampiri Eriska dan Kenan.
"Bu...." Sapa Kenan ramah dan sopan.
"Loh nak Ken, Ayo masuk kenapa bediri disana? Ris, Kok gak disuruh masuk?" Tanya ibunya, Kenan mengangguk dan langsung masuk kedalam rumah sempit juga kecil itu.
Mau tidak mau Eriska menerima Kenan sebagai tamu dirumahnya apalagi saat ini Kenan sudah duduk rapi di sofa.
"Ibu sakit? Mau saya antar ke Dokter?" Tanya Ken penuh perhatian.
"Buk...-"
"Ibu udah ke Dokter tadi pagi." Sahut Eriska memotong ucapan ibunya dan duduk disamping wanita itu.
"Oh syukurlah, Maaf kalo saya mengganggu waktu istirahat ibu."
"Gak kok nak, Ibu juga bosen kalo cuma baring aja. Nak Ken mau minum apa biar ibu buatin."
"Ibu, Ibu duduk aja biar Riska yang buatin minum." Kata Eriska memegangi tangan ibunya yang sudah berdiri dari tempat duduknya.
"Kamu temani nak Kenan aja disini. Lagian badan ibu sakit kalo.gak banyak gerak." Kata bu Tiwi, Ibu dari Eriska.
Setelah bu Tiwi pergi ke dapur, Ken mengeluarkan hp mahal model terbaru dari saku jasnya.
"Aku tau kamu gak akan mau terima ini, Tapi please aku mohon ambil ini biar aku bisa ngubungin kamu." Kata Kenan memberikan hp itu, Eriska langsung menolak dan menggeleng cepat ia tidak mau menerima pemberian dari Ken.
"Dengan membantuku bekerja di perusahaan kamu itu lebih dari cukup buatku." Jawab Eriska tegas tidak ingin menerima benda itu.
"Ris, Please. Hargailah usaha aku sebagai teman yang pengen ngebantu kamu, Ini cuma untuk kita komunikasi aja."
"Tapi Ken, Ini berlebihan."
"Kamu anggap aku apa? Temen kan? Kalo gitu anggap ini hadiah dari seorang teman." Kata Ken langsung berdiri dari tempat duduknya dan pergi menuju dapur untuk pamit pada bu Tiwi karena jika ia tetap bertahan ditempat ini maka Eriska tetap tidak akan mau menerima hp itu.
"Bu, Maaf saya harus segera kembali ke kantor." Katanya lagi, Ia mengambil gelas yang berisi teh hangat itu dari tangan bu Tiwi lalu meminumnya habis.
"Maaf ya bu saya gak sopan, Kasian ibu kalo minuman nya gak saya minum. Terimakasih dan saya permisi." Kata Ken buru-buru bahkan ia tidak menghiraukan Eriska yang terus memanggil namanya. Kini tidak ada pilihan lain selain menerima hadiah kecil itu dari Kenan.
**Bersambung.....
Jgn lupa vote, like, komen ya besok lanjut lagi**