Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Kenan stories 1



Pagi ini Dave sudah siap pergi ke kampus, ini hari pertamanya ia masuk.


"Dave, kenapa gak ikut abang aja ke kampusnya?" Tanya Dara melihat anak bungsunya membawa helm.


"Dave kangen naik motor bunda." Jawab Dave duduk disebelah ayahnya yang lebih dulu menyantap sarapan pagi.


"Gak apa-apa bunda, asal gak serasa di sirkuit aja." Tambah Daniel ikut bicara.


"Yach, kok ditebak duluan? Padahal Dave kangen balapan." Sahut Dave bercanda membuat ibunya berkacak pinggang.


"Dave......." Tegur Dara menyipitkan kedua matanya.


"Becanda bunda." Jawab Dave tertawa.


"Pagi bunda, pagi ayah." Kata Davin yang baru saja keluar dari kamarnya dan langsung bergabung dimeja makan.


"Tumben siang, kamu gak jemput Zea?" Tanya Dara.


"Gak bun, Zea dijemput sama Tian." Sahut Davin sambil mengoles selai ke roti miliknya. Mendengar hal itu Dave buru-buru menghabiskan sarapannya dan langsung berpamitan pada kedua orangtua nya.


"Dave kenapa?" Tanya Dara heran melihat Dave yang terburu-buru.


"Anak baru gak mau telat mungkin bun, atau mau milih tempat duduk paling depan makanya buru-buru."


"Emang ade kamu anak SD?" Sahut Dara membuat Davin dan Daniel tertawa.


"Lagi semangat mungkin, kan udah lama banget dia gak jadi anak kuliahan." Sambung Daniel ikut bicara.


Setelah kelaur dari rumah Dave langsung menelepon Zea sambil berjalan menuju motornya.


"Dimana lo? Lama banget angkatnya." Sambar Dave saat sambungan telepon terhubung.


"Apaan sih pagi-pagi udah nyebelin heran deh. Aku dirumah, nunggu Tian. Kenapa emang?" Jawab Zea kesal memasang wajah masam.


"Gue jemput." Ucap Dave singkat lalu mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari lawan bicara.


"Ya Tuhan, kenapa ada manusia sebegitu menyebalkan kek dia?" Kata Zea bicara sendiri sambil mengelus dada.


"Oke, sabar Zea masih pagi jangan marah-marah. Selain gak baik untuk kesehatan untuk kulit juga gak bagus." Tambah gadis itu menarik nafas panjang mencari udara segar. Zea kembali meraih hpnya dan menghubungi Tian.


"Hallo Tian, maaf banget ya. Aku gak bisa ikut kamu deh, soalnya Dave udah dijalan dan sebentar lagi sampai. Aku gak tau kalo dia mau jemput." Ucap Zea menyesal.


"O.....oh gitu ya. Ya udah gak apa-apa aku juga belum jalan kok masih dirumah." Sahut Tian berbohong padahal sebenarnya ia sudah berada di depan rumah Zea.


"Iya, maaf banget ya. Entar kalo perjanjian kemaren udah gak berlaku aku janji deh kamu boleh antar jemput kapanpun kamu sudi." Kata Zea tertawa mencoba menghapus rasa tidak nyaman karena sudah menolak niat Tian untuk menjemputnya.


"Apaan hahaha. Ada-ada aja deh, iya santai aja gak apa-apa. Ya udah aku siap-siap dulu ya. Kita ketemu dikampus." Tain membuang nafas panjang lalu mengemudikan mobilnya menuju kampus.


***


"Pagi mommy, pagi daddy and morning brother." Sapa Dave yang baru tiba dirumah El dan langsung bergabung dimeja makan.


"Pagi Dave." Sahut Luna dan El bersamaan.


"Morning too brother." Sambung Calla.


"Dave, kamu jemput Zea?" Tanya El yang sedang menikmati segelas jus mangga, kesukaannya.


"Iya dad, soalnya Davin ada urusan dikit jadi minta tolong sama Dave buat jemput Zea." Jawab Dave tersenyum menyembunyikan kebenaran.


"Tadi kata Zea Tian yang mau jemput." Sahut Luna menatap kearah Dave.


"Tuh si nona jutek udah turun dari persembunyian nya." Celetuk Calla santai.


"Calla, masih pagi jangan mulai deh." Tegur Luna melihat anak laki-lakinya yang fokus menikmati nasi goreng buatan ibunya.


"Hehehe iya mommy, maaf." Sahut anak itu tersenyum manis membuat El mengacak-acak rambut Calla.


"Ayo berangkat sekarang." Kata Zea datar tanpa melihat kearah Dave.


"Lho, kamu gak sarapan?" Tanya Luna.


"Gak sempat mom, Zea ada kelas pagi ini." Sahut Zea mencium tangan serta pipi kedua orangtua nya.


"Ya udah mom, dad. Kita berangkat dulu." Tambah Dave beranjak dari tempat duduknya lalu mencium tangan El juga Luna.


"Bro, duluan." Tambah Dave mengankat tangan kearah Calla.


"Oke abang bro, hati-hati digigit cewek galak." Kata Calla membuat kedua.orangtuanya melihat kearahnya secara bersamaan. Untungnya Zea lebih fokus pada pikirannya saat ini tentang menjadi pembantu Dave ketimbang olokan dari adiknya, jika tidak mungkin Zea akan langsung kembali dan memberikan sedikit sentilan pada anak laki-laki itu.


"Buruan aku ada kelas." Kata Zea berdiri dekat motor Dave membuat Dave mengerutkan kedua alisnya.


"Sini bentar deh kita perjelas dulu. Jadi gini ya, taruhan disetujui oleh kedua belah pihak tanpa paksaan dari pihak manapun. Pemenangnya juga sudah jelas siapa, tapi kenapa gue ngerasa kek ada yang salah ya? Berasa gue yang terzholimi." Kata Dave duduk dimotor besarnya.


Sekali lagi Zea manarik nafas dalam dan menghembuskannya, mencoba meredam emosi yang kian bertambah dan diberikan oleh orang yang sama.


"Baik tuan muda Devandra Gibran Raniel Dwika, apa yang bisa hamba lakukan untuk tuan muda? Tapi saya mohon, sebelum menyuruh saya untuk melakukan hal tersebut bisakah kita pergi sekarang karena saya benar-benar ada kelas pagi hari ini." Ucap Zea lemah lembut penuh taburan senyum. Mendengar hal itu Dave merasa lucu, ia tersenyum gemas lalu memakaikan helm pada Zea membuat Zea terdiam sesaat merasakan jantung yang berdetak terasa begitu cepat.


Seketika Zea terpana melihat sosok pria tinggi yang memakai setelan serba hitam didepannya saat ini. Aroma maskulin tercium kuat dari tubuh Dave, dan caranya memakaikan helm sangat lembut tidak seperti sifatnya yang terkadang kasar.


"Udah, ayo berangkat." Ucapnya menepuk pelan pucuk helm sambil memamerkan senyuman dari bibir tipisnya membuat jantung Zea sarasa ingin lompat dari tempatnya.


Zea yang sudah terhipsnotis akan pesona Dave tidak lagi bisa berkata apa-apa selain mengikuti semua ucapan Dave.


"Pegangan." Kata Dave dan dengan patuhnya Zea mulai memeluk pinggang pria yang paling sering membuatnya kesal itu.


***


Sesampainya dikampus, Zea buru-buru turun dan langsung melepaskan helmnya takut jika ia kembali terhipnotis oleh pria yang sedang memarkirkan motornya tersebut.


"Heh, lo kemana?" Teriak Dave.


"A....aku buru-buru, udah telat." Teriak Zea betlari cepat tidak ingin melihat kearah Dave yang saat itu mengambil helm milik Zea yang diletkan Zea disembarang tempat.


"Lo itu ngegemesin sumpah." Ucap Dave tersenyum melihat Zea yang sambil berlari kecil menuju gedung kampus.


***


Pagi itu sebelum pergi kekantor Ken mampir kesebuah tempat yang sudah sangat lama tidak ia datangi. Ya, untuk pertama kalinya setelah pulang ke Indonesia Ken mengunjungi makam Eriska dan seperti biasa, pria itu membawa seikat mawar namun tidak hanya mawar mawar tapi juga mawar berwarna putih yang memiliki arti sebuah persahabatan.


"Hai.....Sudah lama kita gak ketemu, maaf aku baru baru sempat datang." Ucap Ken tersenyum pada batu nisan Eriska. Ken membuka dompetnya lalu mengeluarkan sebuah photo keluarga kecilnya....


"Kenalin, dia istriku namanya Vanny dan ini anak ku namanya Cinta. Aku juga udah ceritain tentang kamu ke Vanny dan next time dia mau berkunjung kemari. Sesuai keinginan kamu, aku bisa melanjutkan semua walau itu sangat sulit tapi aku berhasil melakukannya.


"Hun, I miss u. Realy, I miss u. I miss your smile, I miss your voice, I miss your eyes, I miss u hun." Tambah Ken menatap sendu kearah batu nisan tersebut.


**bersambung.....


maaf dikit karena udah bener2 stuck 😶 moga bsok bisa up lg 😣**