
El yang sedang asik menikmati makan siang bersama Daniel dan Kenan mendapat telepon dari supir Luna.
"Kenapa pak Ali?" tanya El karena supirnya itu sangat jarang menghubungi El kecuali jika terjadi sesuatu.
"Mas El, Mba Luna pingsan dan saat ini saya berada di rumah sakit Hasannudin." Ucap pak Ali yang terdengar panik. Mendengar hal itu El langsung berdiri dan meninggalkan cafe membuat Ken dan Daniel bingung.
"El lo mau kemana?" Teriak Daniel yang menyusul El ke parkiran.
"Lo ikut Ken aja ya, Luna pingsan dan sekarang lagi dirumah sakit." Sahut El buru-buru masuk mobil dan langsung pergi dari tempat itu.
Baru saja Daniel ingin kembali Ken sudah datang menyusulnya ke area parkir.
"El kenapa? Kok buru-buru?" Tanya Ken penasaran.
"Bisa minta tolong buat anterin gue balik ke kantor gak? Tadi gue ikut mobil El, Tapi karena istrinya El pingsan dan ada dirumah sakit dia buru-buru kesana." Kata Daniel menjelaskan pada Kenan.
"Ya udah ayo gue anterin." Sahut Ken, Lalu mereka pergi dari cafe itu.
***
El yang baru tiba dirumah sakit langsung menuju tempat Luna dirawat.
"Pak Ali, Luna kenapa pak? Kok bisa pingsan?" Tanya El pada supir yang mengantar istrinya itu. Wajahnya terlihat sangat khawatir saat ini.
"Saya juga gak tau mas, Tadi mba Luna minta anterin kerumah mba Dara pas dijalan macet karena ada kecelakaan dan saat melewati tempat kejadian mba Luna buka kaca jendela terus pingsan mas. Karena panik saya langsung bawa mba Luna kesini baru ngabarin mas El." Supir itu menjelaskan secara detail pada El.
"Zea sama siapa dirumah?"
"Sama bi Irah mas."
"Ya udah kalo gitu pak Ali bisa pulang kerumah, Makasih ya pak."
"Sama-sama mas, Kalo gitu saya permisi dulu." Pria setengah baya itupun pergi, El langsung buru-buru masuk keruangan dimana Luna sedang dirawat.
"Sayang, Kamu kenapa? Kamu sakit? Kenapa kamu bisa pingsan?" Tanya El padahal Luna belum sadar saat itu. Ia meraih tangan Luna lalu menggenggamnya erat tangan istrinya itu sambil sesekali diciuminya pelan.
"Anda keluarga pasien?" Tanya Dokter yang baru saja datang keruangan Luna. El langsung berdiri saat itu juga.
"Iya dok, Saya suami pasien. Bagaimana keadaan istri saya? Dan apa yang menyebabkan dia pingsan dok?" Tanya El tidak sabar.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun ada hal yang perlu kita bicarakan tentang kondisi istri bapak saat ini." El memasang wajah serius, Ia takut terjadi hal buruk pada Luna.
"Mari ikut saya ke ruangan saya sebentar." El mengangguk lalu mengikuti dokter tadi menuju ruangan miliknya.
***
"Maaf sebelumnya apa istri bapak pernah mengalami kecelakaan?" Tanya dokter tadi saat mereka sudah berada di dalam ruangan.
"Iya, Dulu istri saya pernah mengalami kecelakaan tapi sudah sangat lama. Kecelakaan itu terjadi saat istri saya masih kecil." Sahut El mengingat kecelakaan yang dialami Luna.
"Apa istri bapak ingat kejadian itu? Atau mungkin detail kejadian itu." El menggeleng pelan, Luna bahkan tidak ingat dirinya pernah mengalami kecelakaan.Yang ia tau saat itu ia sakit hingga harus dirawat dirumah sakit.
"Istri bapak mengalami amnesia Disosiatif , Ini merupakan suatu kondisi saat seseorang tidak mampu mengingat berbagai informasi pribadi yang bahkan dinilai sangat penting. Seseorang dengan jenis amnesia ini bisa saja lupa siapa namanya dan segala hal yang berkaitan dengan dirinya. Biasanya penderita amnesia Disosiatif pernah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan trauma pada kepalanya, Atau bisa juga karena mengalami kondisi stres. Saat saya menangani istri bapak, Ia terus menangis memanggil ibunya padahal dia sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Saat saya bertanya pada orang yang mengantar istri bapak kemari, Beliau mengatakan jika istri bapak pingsan setelah melihat kecelakaan yang kebetulan mereka lewati. Mungkin ingatan istri bapak yang sempat hilang saat kecelakaan secara tiba-tiba muncul kembali. Ini biasa terjadi pada penderita amnesia dan ini dinamakan Déjà Vécu perasaan yang lebih kuat dari Dejavu, Biasanya pasien akan mengalami perasaan yang lebih mendetail contohnya seperti aroma atau suara-suara di tempat kejadian."
Mendengar hal itu El tidak bisa mengucapkan apa-apa lagi saat ini, Ia tau bahwa Luna sudah mengingat kejadian malam itu. Malam disaat ayah kandung El mengejar mereka hingga mereka mengalami kecelakaan dan mengakibatkan kesalahan fatal yaitu kematian ibu Luna. Dalam sekejap El merasa telinganya tidak bisa mendengar suara apapun, Ia benar-benar tidak tau harus bagaimana saat ini. Kemungkinan terbesar Luna sudah mengingat kejadian naas itu.
"Pak.....Anda baik-baik saja?" Tanya dokter tadi melihat reaksi El saat ini.
"Ah.....I.....Iya dok, Saya gak apa-apa." Sahut El yang tidak bisa fokus saat ini.
"Hanya itu yang bisa saya sampaikan saat ini, Untuk selanjutnya kita bisa menuggu sampa istri bapak sadar." El mengangguk pelan lalu keluar dari ruangan dokter dengan langkah yang sangat berat.
"Apa Luna siapa penyebab dibalik kecelakaan itu? Dan jika sampai Luna tau apa Luna bisa memaafkan semua itu? Atau Luna akan meninggalkannya begitu ia tau." Semua pertanyaan itu muncul meiringi langkahnya menuju ruangan Luna di rawat saat ini.
Apa yang harus El katakan dan jelaskan pada Luna karena tidak ada satu hal pun yang ia tau selain kenyataan bahwa ayah kandungnya lah dalang dibalik hilangnya nyawa ibu dari Luna. El mengusap kasar wajahnya ia benar-benar belum siap dengan semua yang sudah di rencanakan Tuhan untuknya dan Luna. Dengan semua keberanian yang tersisa El berusaha tenang ia menarik nafas dalam lalu segera pergi menuju ruangan Luna.
"Sayang, Kamu sakit? Bilang sama abang kamu sakit apa? Kenapa bisa sampai pingsan?" Tanya El sekali lagi namun reaksi Luna tetap sama, Ia tidak memberikan respon sedikitpun membuat hati El terasa sangat sakit. El melepaskan pelukannya lalu duduk disamping Luna, Ia meraih tangan Luna yang masih terpasang selang infus.
"Apa yang lagi kamu fikirkan?" Tanya El lagi sambil terus menggenggam tangan Luna. Perlahan Luna melepas genggaman tangan El bahkan memalingkan wajahnya enggan melihat suaminya yang selalu ia puja selama ini.
"Aku pengen sendirian saat ini." Ucap Luna singkat tetap enggan melihat kearah El. Itu hanya sebuah kalimat tapi entah kenapa bagi El rasanya lebih sakit daripada sebuah tikaman belati. El mengerti perasaan Luna saat ini, Ia mengecup lembut punggung tangan Luna lalu pergi meninggalkan Luna sendirian di dalam sana. Sedangkan Luna saat ini hanya bisa menangis melihat punggung pria yang berjalan keluar ruangan. Melakukan hal ini pada El tidaklah untuk Luna, Sungguh hatinya terasa lebih sakit dari yang dirasakan oleh El. Namun ia benar-benar masih belum bisa menerima kenyataan terburuk dalam hidupnya ketika ia tau siapa sebenarnya pak Bram.
Airmata Luna jatuh tak tertahan melihat sosok El yang kini tidak berada disamping nya. Ia benar-benar tidak tau apa yang di inginkan hatinya saat ini dan apa yang ditangisinya saat ini. Entah hatinya hancur saat mengetahui sosok pak Bram atau karena ia sedang menyakiti dan menghukum El atas kesalahan yang tidak ia lakukan.
Begitu juga dengan El yang saat ini hanya bisa duduk diam di depan ruangan Luna. Semua prasangka buruk langsung datang hinggap di kepala El membuat pikirannya makin runyam. Ia hanya bisa pasrah sambil terus menunggu kapan Luna siap bicara dengannya.
"El, Gimana keadaan Luna? Dia sakit apa?" Tanya Daniel yang baru datang bersama Dara. Daniel dan Dara yang melihat El duduk dilantai rumah sakit seperti orang putus asa juga langsung mengira jika Luna sedang sakit parah.
"Bang, Luna gak kenapa-napa kan?" Sambung Dara yang juga sangat penasaran.
"Maaf kalo gue lancang, Luna gak terjangkit virus corona kan?" Mendengar hal itu Dara langsung mencubit kuat pinggang Daniel hingga pria itu kesakitan.
"Kamu bisa serius dikit gak sih?" Ucap Dara kesal dengan suaminya yang terkesan bercanda.
"Beib kamu gak liat berita? Virus itu udah masuk ke negara kita dan dua WNI positif terkena virus itu dan sekarang lagi menjalani perawatan. Aku gak becanda, Aku serius mengingat penularan virus itu terbilang cepat." Sahut Daniel serius karena ia memang tidak sedang bercanda saat ini mengingat wabah yang menggemparkan dunia itu mulai masuk ke Indonesia.
"Luna gak apa-apa, Dia juga gak sakit. Hanya saja dia sedang merasakan kekecewaan yang sangat menyakitkan." Sahut El dengan tatapan lurus dan kosong.
"Maksud abang?" tanya Dara yang masih belum mengerti apa yang dimaksud oleh El begitu juga dengan Daniel yang tidak mengerti dengan maksud dari ucapan El.
"Ingatan Luna tentang kejadian kecelakaan saat dia kecil, Sudah kembali." Mendengar hal itu Dara dan Daniel benar-benar kaget bukan main.
"Berarti Luna juga tau tentang bokap lo?" Tanya Daniel, Kini El mengalihkan pandangannya kearah Daniel dan Dara maka Daniel dan Dara langsung tau jawabannya.
"Tapi kan abang gak tau apa-apa, Itu juga bukan kesalahan abang." Ucap Dara membela El, Ia merasa tidak adil jika Luna marah pada El karena El benar-benar tidak ada keterkaitannya dengan kejadian saat itu.
"Tapi abang anak dari pembunuh ibu kandungnya." Sahut El yang merasa ia juga ikut bersalah pada Luna.
"Enggak-enggak El, Kali ini gue gak setuju sama pemikiran Lo. Dan seandainya Luna mikirnya juga gitu gue bener-bener gak setuju. Kita semua tau lo juga saat itu masih kecil, Lo gak tau apa-apa dan itu bukan kesalahan lo. Dan harusnya Luna juga mikir gitu." Daniel kini ikut duduk disamping El, Ia merasa jika Luna saat ini sedang melakukan kesalahan jika ia berpikir El juga terkait atas kematian ibunya.
"Daniel bener bang, Kita gak bisa diam aja dan membiarkan semua pikiran buruk Luna makin menjadi dan bertambah, Aku sendiri yang bakalan ngomong sama Luna." Dara berdiri ingin segera masuk keruangan Luna namun El langsung menahannya.
"Biarkan dia sendiri, Dia perlu waktu untuk bisa memikirkan semua ini. Dia gak salah karena dia juga baru ingat semua nya, Disini Luna lah korbannya dan Luna juga yang tersakiti." Ucap El menghentikan langkah Dara.
"Dan lo sendiri? Lo gak ngerasa tersakiti sama semua ini? Gue tau lo pria hebat, Gue tau lo pria yang kuat dan tegar tapi inget El lo cuma manusia biasa yang punya perasaan. Sesempurna apapun lo, Tetep aja disini (Menunjuk dada El) dihati lo ada satu titik lemah yang selalu berusaha lo tutupin. Mungkin gue gak sehebat lo, Dan gue gak sesempurna lo tapi satu hal yang bikin kita setara, Kita seorang pria. Kuat bukan berarti lo akan tahan dan abaikan perasaan sakit lo, Jangan sampai semua perasaan itu menguasai hati lo. Bediri yang tegap seperti El yang biasa gue liat dan jelaskan sama Luna tentang semuanya. Ceritain semua yang lo tau sampai semua kembali normal." Ucapan Daniel membuat Dara tertegun, Sejak kapan prianya itu menjadi sekeren dan sedewasa ini mengingat setiap harinya Daniel selalu bertingkah konyol hingga Dara takut jika kedua bayinya kelak akan mewarisi sifat ayahnya.
"Jadi cuma aku yang gak tau sama semua kenyataan ini?" Suara Luna mengagetkan ketiga orang itu. Mereka langsung berdiri dan melihat Luna yang juga sudah berdiri sejak tadi mendengarkan semua pembicaraan mereka.
"Ra, Bahkan kamu tau tapi kamu gak ngomong sana aku? Setega itu? Kamu biarin aku seperti anak durhaka yang melupakan kematian ibunya." Suara Luna mulai bergetar menahan tangisannya, Tadinya ia ingin bicara dengan El tapi setelah mengetahui bahwa hanya ia satu-satunya orang yang belum tau penyebab ibunya meninggal hal itu kembali membuatnya merasa sedang dipermainkan oleh ketiga orang yang paling dekat dengannya.
"Lun, Aku bisa jelasin semua itu." Dara langsung berdiri ingin bicara dengan Luna namun Luna menolak dan memilih untuk pergi dari tempat itu. Mendapatkan penolakan dari Luna lantas tidak membuat Dara putus asa untuk bicara dengan sahabatnya itu. Dengan cepat Dara berlari menyusul Luna bahkan Dara menarik tangan Luna dengan kasar membuat El dan Daniel sama-sama kaget melihatnya.
"Kamu pikir kamu siapa berhak untuk menyalahkan semua orang? Kamu pikir kamu siapa berhak memutuskan siapa yang salah dan siapa yang benar?" Bentak Dara yang mulai kesal karena sejak tadi ia berusaha menjelaskan pada Luna namun Luna tidak ingin tau dan tidak ingin mendengar penjelasan Dara.
"Beib, Luna perlu waktu biarin dia sendiri dulu ya." Bujuk Daniel yang langsung berlari menghampiri kedua wanita itu. Ia takut Dara bersikap lebih kasar lagi pada Luna mengingat sifat Dara yang terkadang bisa bermain kasar dengan orang yang menurutnya menyebalkan seperti saat ini.
"Gak! Kita selesaikan hari ini juga. Kamu bahkan bisa dengan mudah dan gampangnya menyalahkan suami kamu sendiri sementara kamu gak tau apa yang sebenernya terjadi. Kamu pikir kamu sudah benar? Kamu liat, Liat kesana (Memutar paksa tubuh Luna agar melihat kearah El) Sekarang kalo menurut kamu dia salah sekarang juga jelasin ke aku dan Daniel apa kesalahannya? Apa kesalahannya yang bikin kamu marah dan gak mau ngomong sama dia?" Luna terdiam menatap kearah El yang saat ini juga sedang menatapnya.
"Apa kesalahannya? Apa karena dia anak dari seseorang yang menyebabkan terjadinya kecelakaan itu? Apa dia yang memilih untuk menjadi anak dari orang itu? Dia bahkan gak tau apa-apa saat itu yang ia tau malam itu tepat hari ulang tahun nya. Seperti anak-anak lain, Dia menunggu kepulangan ayahnya dengan membawa hadiah untuknya tanpa tau hal buruk apa yang sedang terjadi diluar sana.
Kalo kamu marah karena dia nyembunyiin semua itu dari kamu, Kamu tetap salah. Bahkan kamu tau sendiri jangankan untuk memanggil ayah dengan orangtua kandungnya sendiri melihatnya pun ia enggan. Itu semua dia lakukan untuk kamu, Dan demi kamu. Sekarang bilang ke aku, Hal apa yang bikin kamu marah dan gak mau ngomong sama dia? Kalo kamu mau marah sama aku, Kamu berhak.....Silahkan lakukan." Daniel benar-benar merasa tidak enak saat ini, Ia tidak percaya jika istrinya itu bisa sekasar ini dengan Luna mengingat Luna sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri.
Luna hanya bisa menangis hebat mendengar semua ucapan Dara, Ia ingin sekali bersikap egois dan keras kepala tapi semua ucapan Dara merusak semua itu. .
***Bersambung.....
Likenya dong katanya kemaren sepi like krn jarang up tp skg udh tiap hari loh up nya tetep aja sepi* 🥺☹️☹️☹️☹️☹️😥😥😥😢😢😢😢**