Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
will u marry me???



Kini sepekan sudah berlalu, Keadaan Luna juga makin membaik ia tidak lagi dirawat dirumah sakit namun si kecil Calla masih harus menjalani perawatan di rumah sakit, Kondisinya cukup baik hanya saja masih membutuhkan perawatan intensif, Namun hanya sisa tinggal 3 hari maka bayi laki-laki Leondra itu akan segera pulang kerumah berkumpul bersama keluarganya.


Begitu juga dengan Kenan yang sekarang sudah mulai aktif bekerja dikantornya.


"Eriska udah makan siang belum ya? Apa gue suruh aja kesini, Tapi masa dia yang datang. Harusnya kan gue yang kesana." Ucap Kenan bergumam sendirian. Ia berdiri lalu pergi keruang istirahat para cleaning servis untuk menemui kekasih hati.


"Hu.....Emmmm Ris, Keruangan saya sebentar." Kata Kenan untung masih bisa menahan panggilan sayangnya untuk Eriska. Semua orang melihat kearah Eriska seperti biasanya namun wanita itu lebih memilih untuk tidak menghiraukannya.


"Ris, Entar kita makan siang bareng ya." Kata Dhika setengah berbisik namun tetap terdengar oleh Kenan membuat wajah Kenan berubah sinis sambil menutup pintu.


"Oke." Sahut Eriska tersenyum sambil berlalu menuju pintu untuk menemui Ken yang sedang menunggunya di luar.


"Kenapa?" Tanya Eriska saat bertemu Kenan yang memasang wajah kesal..


"Ayo ikut aku." Kenan langsung menarik tangan Eriksa tidak perduli dengan Eriska yang bingung ingin melepas tangan Kenan karena saat ini mereka berada dikantor.


"Kenan, Orang-orang ngeliat kita." Kata Eriska sambil berjalan mengikuti langkah Kenan namun Kenan tidak perduli dengan semua itu. Justru jika mereka tau itu lebih baik menurut Kenan.


"Kita makan siang diluar." Katanya singkat tanpa peduli yang lain.


"Iya, Tapi jangan begini. Kita lagi dikantor semua orang ngeliat kita." Jawab Eriska mengingatkan pada Kenan tentang kesepakatan mereka.


"Untuk apa memusingkan tatapan mereka? Kamu pacarku! Perduli apa dengan tatapan mereka." Jawab Ken tegas membuat Eriska diam seribu kata. Pria itu sedang kesal karena Dhika mengajak Eriska untuk makan siang bersama.


Sesampainya di sebuah cafe Ken langsung memesan makanan, Begitu juga dengan Eriska.


"Hun." Panggil Kenan saat Eriska asik makan.


"Hmmmm....." Jawab Eriska singkat tanpa melihat kearah Kenan.


"Will you marry me?" Ucap Kenan menatap wajah Eriska dalam. Mendengar hal itu tentu Eriska kaget bukan main hingga ia tersedak makanan yang sedang ia kunyah. Kenan langsung buru-buru memberikan air pada Eriska.


"Hati-hati dong hun, Sampai kesedak gitu." Kata Kenan sambil memegangi gelas Eriska yang masih minum.


"Ya habisnya omongan kamu bikin aku kaget." Protes Eriska, Ken tersenyum sambil mencubit pelan pipi Eriska.


"Aku serius." Ucap Ken yang terlihat memang sedang serius. Eriska diam tidak tau ingin mengatakan apa lagi mendengar lamaran Ken. Ia salah tingkah dan langsung buru-buru kembali memakan makanannya.


"Hun, Kok kamu gak jawab?" Tanya Ken, Eriska menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah.


"Kita baru seminggu pacaran." Katanya terdengar ada sedikit penolakan.


"Gak perduli seminggu, Sebulan, Setahun atau sehari. Yang aku tau, Hatiku yakin dan saat hatiku sudah benar-benar yakin maka aku akan segera melakukannya." Sahut Kenan, Eriska tersenyum dan kembali memakan makanan nya meninggalkan pertanyaan dari Kenan.


"Kamu gak mau nikah sama aku?" Tanya Kenan lagi menatap kearah Eriska.


"Ken, Cepat habiskan makan siang kamu sebentar lagi jam istirahat selesai." Kenan menghela nafas panjang mendengar jawaban dari Eriska. Ia pun mengikuti keinginan Eriska dan berhenti membahas masalah itu.


***


"Gimana keadaan Luna?" Tanya Daniel yang saat ini juga sedang makan sianh bersama El.


"Makin membaik." Sahut El singkat sambil fokus makan karena ia baru saja bisa makan dengan nyaman setelah Luna sadar.


"Lo tau gak waktu itu gue berperan penting untuk Luna. Bener-bener ngerasa jadi kakaknya." Sambung Daniel, Mendengar hal itu El berhenti mengunyah dan melihat kearah Daniel.


"Walaupun gue gak suka dengernya tapi, Okelah gue akui and thanks for all." Kata El sambil mengangguk.


"Harusnya lo panggil gue abang."


"Apa ini yang dimaksud dengan istilah dikasih hati minta jantung?" Tanya El meletakan sendok dan garpunya.


"Lo gak tau aja waktu itu gue ngusap lembut pucuk kepala Luna dan berusaha menguatkan Luna." Tambah Daniel, Entah apa maksud yang ada dibalik semua ucapannya.


"Terusin deh kalo mau gue cubit ginjal lho." Sahut El menaikan satu alisnya. Mendengar hal itu Daniel tertawa puas, Hal yang sudah sangat lama tidak mereka lakukan yaitu menjadi orang konyol.


"Oh iya entar pas Calla pulang kerumah, Bikin pesta keluarga yuk. Udah lama kita gak ngumpul bareng." Usul Daniel, El memikirkan saran dari sahabatnya itu dan ia setuju.


"Bang Rendy belum pulang?"


"Belum, Seneng gue dia di luar negeri jadi si Jessy gak ada alasan mau kecentilan." Jawab Daniel meraih gelas minumannya.


"Masih berlanjut cerita cinta jajaran genjang nya?" Jawab El cuek


"Bangke lo! Tuh cewek aja yang kecentilan, Kurang apa lagi coba gue ngasih tau dia."


"Gue rasa masalahnya bukan dari si Jessy. Lo nya aja yang suka kasih sikap berlebihan sama cewek sampai cewek-cewek mikir kalo mereka itu lagi diperhatiin sama lo."


"Gue? Gue emang gini bambang! Gue baik sama semua orang yang baik sama gue." Kata Daniel tidak terima dengan pernyataan El.


"Justru hal itu yang bisa bikin orang salah tanggap. Baik seperlunya, Selebihnya cukup bersikap sopan."


"Gue terlahir dengan sikap baik dan sopan." Sahut Daniel membuat El merasa ingin menjejali mulut pria itu dengan sambal yang ada diatas meja.


"Tau ah serah lu, Gue mau pulang duluan. Jagain kantor sana!" Kata El berdiri dari tempat duduknya.


"Lo mau kemana lagi sih? Ya ampun harusnya kita tukar jabatan. Gak cocok lo jadi bos, Kerjanya ngilang mulu." Gerutu Daniel kesal karena selalu menjadi sasaran empuk jika El tidak pergi ke kantor.


"Sekarang lo tau kan apa gunanya lo gue tampung di perusahaan. Sekalian lo bayarin ya, Gue gak bawa duit cash." Kata El pergi meninggalkan cafe dan Daniel yang nyaris meneriakinya.


"Bangke sampe ketulang-tulang ya gitu!" Celetuk Daniel pelan menahan kesal.


***


"Masa iya Eriska gak mau nikah sama gue? Apa kurangnya coba? Gue ganteng, Gue keren, Masa depan gue alhamdulillah cerah kurang apa lagi?" Kata Kenan yang saat ini sudah ada didalam ruangannya. Bukannya bekerja ia malah sibuk memikirkan penolakan Eriska. Kenan meraih hapenya lalu menghubungi seseorang yang menurutnya bisa membantunya mencari solusi siapa lagi kalau bukan Gibran Daniel.


"Dan....Lo sibuk gak?" Kata Kenan saat sambungan telepon terhubung dengan Daniel.


"Sibuk banget gue. Kenapa?" Sahut Daniel yang memang benar-benar sibuk saat ini mengurusi pekerjaan seorang diri.


"Ya udah deh gak jadi. Lagian gak bakal konsen kalo diajak cerita lewat telepon." Ucap Kenan tidak jadi bicara.


"Baguslah lo ngerti." Jawab Daniel, Dan setelah itu sambungan telepon dimatikan Kenan lalu Daniel kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Si bangke kurang ajar banget! Giliran kerjaan numpuk gini dia pake acara pulang segala, Giliran dikantor santai dia malah stay." Ucap Daniel yang masih belum terima dengan kepulangan El.


***


"Daddy, Mommy kalo Calla pulang Zea masih disayang kan?" Tanya Zea saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk menemui Calla.


"Ya tetap disayang dong kakak, Daddy sama mommy sayang kakak Zea dan ade Calla." Jawab Luna tersenyum begitu juga dengan El yang tersenyum mendengar pertanyaan polos anak sulungnya itu.


"Tadi temen Zea disekolah cerita, Katanya dia udah gak disayang lagi sama mami dan papinya karena mami papinya udah punya ade bayi."


"Gitu ya? Kalo gitu gak apa-apa deh Calla diajak pulang." Mendengar hal itu El dan Luna memgerucutkan dahinya.


"Emang tadinya ade Calla gak boleh diajak pulang?" Tanya Luna memutar badan melihat kearah anaknya yang duduk dibangku belakang.


"Tadinya mau Zea kasihkan sama ayah bunda. Kasian mom, Ayah juga pengen punya ade bayi kayak Calla tapi bunda bilang gak bisa, Padahal ayah udah bikin terus tiap malam tapi gak bisa jadi ade." Kata gadis kecil itu polos membuat kedua orangtuanya membulatkan mata.


"Bangke si Daniel! Ngomong apa lo depan anak gue, Liat entar." Gerutu El pelan, Sedangkan Luna hanya bisa diam bingung harus mengatakan apa.


"Sa......Sayang. Zea gak boleh nguping omongan ayah dan bunda dan orang dewasa nak." Kata Luna sedikit canggung.


"Zea gak sengaja mommy, Air minum di kamar Zea habis jadi Zea kedapur ambil minuman terus pas lewat depan kamar ayah bunda Zea gak sengaja denger ayah ngajakin bunda bikin ade, Tapi bunda bilang dia gak mau lagi capek. Kasian ayah, Emang capek ya mommy bikin ade? Bahannya apa?" Tambah Zea memasang raut wajah sedih sekaligus penasaran.


"Entar kalo orangtua lagi ngomong Zea gak boleh lagi ya dengerin omongannya. Itu namanya gak sopan sayang." Kata Luna menyudahi obrolan itu. Sedangkan El sudah menyiapkan sekotak besar umpatan untuk diberikan pada Daniel saat mereka bertemu nanti.


"Iya mommy, Maaf." Kata Zea menyesal, Luna tersenyum menyentuh lembut pipi Zea lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan.


***


Tok.....Tok...Tok.... Suara ketukan pintu diruangan Daniel.


"Masuk." Ucap Daniel dari dalam, Ia benar-benqr fokus dalam pekerjaannya.


"Hai bro....." Kata Ken nyaring saat membuka pintu membuat Daniel kaget bukan main.


"Lo bangke nya bener-bener tanpa batas ya ternyata!" Gumam Daniel menghempas lembaran kertas keatas mejanya.


"Hehehehe sorry, Gue gak maksud ngagetin. Maksud gue biar lo terkejut." Jawab Kenan santai duduk disofa tanpa rasa bersalah.


"Bangke! Apa bedanya beg....." Daniel menghentikan umpatannya dan menarik nafas panjang berusaha tenang.


"Ngapain lo kesini?" Tanya Daniel kembali duduk dibangkunya.


"Tadi gue ngelamar Eriska." Katanya langsung to the point.


"Diterima?" Tanya Daniel sambil melanjutkan pekerjaannya.


"Gak tau, Dia gak jawab apa-apa." Jawab Kenan memasang wajah masam.


"Lo ngelamar dimana?"


"Di cafe tadi pas makan siang." Jawab Kenan santai.


"Lo niat ngelamar gak sih sebenrnya? Kalo mau ngelamar itu cari moment yang pas, Yang tepat suasan romantis biar cewek merasa kalo lo beneran serius sama dia."


"Harus gitu ya? Lo dulu sama Dara gimana?" Tanya Kenan memasang wajah serius.


Daniel kembali mengingat-ngingat kejadian saat itu dan sepertinya itu bukanlah contoh yang baik untuk diceritakan pada Kenan.


"Woy! Lo dulu bisa nikahin Dara gimana caranya? Kok bisa ngelewatin bang Rendy?" Tanya Kenan penasaran karena ia memang tidak tau tentang cerita pernikahan Dara mantan kekasihnya itu.


"Lo gak tau aja kalo gue hampir mati dibuat Rendy." Jawab Daniel dalam hati.


"Yang jelas gak kek lo barusan. Ngajak nikah kek ngajak jajan, Dimana letak keseriusannya?" Tanya Daniel menutup cerita tentang dirinya sendiri.


"Apa gue mesti beli cincin biar tambah serius?" Tanya Ken sambil menopang dagunya dengan tangan.


"Boleh juga." Mendengar hal itu Kenan langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Mau kemana?" Tanya Daniel heran.


"Beli cincin." Sahut Kenan singkat


"Sekarang?"


"Ya masa tunggu tahun depan? Dah lah gua balik, Thanks ya." Kenan lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


"Semoga lo gak akan pernah tau cerita gue dan Dara dulunya." Kata Daniel bicara sendirian lalu melanjutkan pekerjaanya kembali.


***


Setelah kembali dari makan siang bersama Kenan, Eriska kembali memulai pekerjaannya dan sedang asik mengepel tiba-tiba salah seorang staf wanita menghampiri Eriska.


"Heh cewek gatal! Ikut gue." Katanya bicara dengan nada kasar. Eriska menarik nafas dalam, Panggilan itu memang sudah ia dapatkan sejak masuk keperusahaan ini.


"Buruan!" Katanya lagi membentak kesal saat Eriska diam tidak bergerak.


"Maaf mbak kalo sekarang saya gak bisa ikut karena kerjaan saya belum selesai." Jawab Eriska tetap bicara sopan sambil memegangi alat pel.


"Lo berani ngelawan gue? Kurang ajar banget sih lo ge*bel!" Wanita itu langsung mendorong Eriska hingga wanita itu jatuh kelantai. Ia tersenyum licik sambil mengangkat ember yang berisi air bekas pel-pelan yang kotor lalu berjalan kearah Eriska.


"Ini pantes buat lo!" Katanya sambil menumpah air kotor itu ditubuh Eriska. Semua orang yang ada disana melihat kejadian itu, Sebagian tertawa sambil merekam kejadian itu.


Eriska diam mendengar tawa gelak orang-orang yang menertawakaannya. Tidak ada rasa kasian dalam diri mereka. Eriska berdiri sambil membersihkan diri, Bajunya basah kuyup begitu juga rambutnya.


Tidak bisa lagi rasanya ia menahan semua tindakan tidak adil itu. Eriska melangkah kearah perempuan tadi yang masih tertawa puas melihat penampilan Eriska.


Pllllllaaaaaaakkkkk......


Sebuah tamparan keras diberikan Eriska dipipi wanita yang menyiramnya tadi.


"Lo pel*cur berani kurang ajar sama gue?!" Kata wanita tadi tidak terima sambil memegangi pipinya yang merah bekas tamparan Eriska.


"Lo kira selama ini gue diem itu karena gue takut sama lo dan temen-temen lo huh?" Ucap Eriska mulai menunjukan kekesalan yang ia pendam selama ini.


"Lo sia*an!" Kata wanita tad ingin membalas tamparan Eriska namun tangan itu buru-buru ditangkap Eriska. Eriska menggenggam kuat tangan itu hingga si pemilik tangan kesakitan dan suasana dikantor makin ramai karena kejadian langsung itu.


"Jangan terus-terusan nguji gue karena gue bisa lebih jahat dari yang lo bayangkan!" Kata Eriska tegas sedangkan wanita tadi berusaha kuat untuk melepas tangannya dari genggaman Eriska. Kenan yang baru saja datang langsung melihat kejadian itu dan langsung menghampiri Eriska.


"Ris, Kamu kenapa? Kok badan kamu bisa basah gini?" Tanya Kenan sambil menghapus air yang menetes dari rambut Eriska diwajah manis wanita itu.


"Ken, Kalo aku minta kamu untuk mecat perempuan ini apa kamu mau melakukannya? Bukannya kamu bilang kamu akan melakukan apapun yang aku mau." Tanya Eriska tidak lagi perduli dengan tanggapan orang lain. Kenan melihat kearah wanitanya itu, Terlihat raut wajah marah sangat marah saat itu. Sedangkan orang-orang yang ada disana serta wanita tadi terkejut mendengar Eriska bicara seperti itu pada bos besar mereka.


"Dia yang buat kamu begini?" Tanya Kenan serius, Eriska diam tidak menjawab pertanyaan itu.


"Bu......Bukan saya pak! Emang dia aja yang suka cari masalah, Disini bukan cuma saya yang bermasalah sama dia tapi banyak." Kata staf wanita tadi membela diri.


"Saya akan segera tanda tangani surat PHK kamu. Bukan dia yang selalu membuat masalah dengan kalian, Tapi kalian yang salah memiliki sikap kasar pada calon istri saya." Kata Kenan membuat semua orang kaget bukan main mendengar hal itu termasuk wanita yang tangannya sedang digenggam kuat oleh Eriska.


Mendengar hal itu wanita tadi langsung diam tertunduk lesu seperti harimau kehilangan taring dan cakar sedangkan Kenan langsung membawa Eriska keruangannya.


Bersambung......