
***Terimakasih untuk kamu yang selalu merasa cukup hanya dengan kehadiranku.
Terimakasih untuk tangan yang selalu ada menggenggam erat jemariku.
Terimakasih sudah bertahan dan tetap bersamaku hingga kini sampai nanti.
_Elang Edgar***_
Matahari bersinar cerah, Pagi-pagi sekali El sudah bangun untuk menemani istrinya berjalan kaki walau hanya memutari halaman belakang rumah mereka yang terbilang cukup luas. Karena usia kandungan semakin tua, Dokter menyarankan agar Luna banyak bergerak dan melakukan aktifitas ringan itu dapat membantu proses persalinan.
"Sayang, Sesakit apa sih melahirkan itu?" Tanya El sambil berjalan bergandengan tangan.
"Ummmmm gak tau, Tapi kata orang saat seorang wanita melahirkan dua kakinya sedang menginjak dua alam, Kaki sebelah kanan berada didunia dan kaki kiri berada disurga. Antara hidup dan mati, Itulah perempuan." Jawab Luna, Langkah El seketika berhenti saat itu juga membuat Luna heran dan memandangi wajah El.
"Abang gak mau terjadi apa-apa sama kamu. Abang rela kehilangan apapun didunia ini asal jangan kamu." Ucap El mendadak serius.
Luna tersenyum manis pada El lalu menangkup kedua pipi El.
"Abang tau apa yang membuat seorang istri kuat menahan rasa sakit saat melahirkan seorang anak manusia?" El menggeleng tidak tau jawabannya.
"Karena doa suaminya." Jawab Luna singkat.
"Maka teruslah berdoa untukku dan anak kita." Sambung Luna, Mata El berkaca mendengar ucapan istrinya itu, El langsung memeluk Luna erat.
"Sesederhana itu yang kamu minta, Padahal kamu tau apapun yang kamu inginkan bakal abang kasih. Terkadang abang ngerasa sebaik apa abang hingga bisa mendapatkan seseorang wanita sempurna seperti kamu." Ucap El memeluk istrinya, Luna tersenyum bahagia mungkin ia egois jika ia merasa semua kebahagian ini hanya miliknya tapi hanya rasa itu yang ia rasakan saat ini.
"Auuuuu......" Kata Luna, Kaki mungil dan kecil itu menendang kuat dinding perut Luna dari dalam sana hingga El yang sedang memeluk Luna juga merasakannya. El tersenyum lalu menundukan wajahnya tepat berada didepan perut Luna.
"Hei sayang, Pelan-pelan dong. Kasian kan mommy sakit perutnya. Minta dipeluk juga ya sama daddy?" Katanya lalu ia mengusap dan mengecup perut buncit Luna dengan penuh rasa cinta.
"Dia langsung diem, Kamu cemburu ya sayang daddy nya peluk mommy?" Kata Luna tertawa lucu, Selama ini pergerakan bayi didalam perut Luna sangat aktif namun ketika mendengar suara El bayi itu langsung diam dan lebih tenang.
"Udah siang, Kita sarapan yuk." Ajak Luna, El mengangguk dan mereka kembali kerumah.
"Abang mau mandi dulu deh, Baru sarapan."
"Aku juga belum siapin baju kerja abang." Kata Luna ingin segera pergi kekamar menyiapkan baju kerja untuk El.
"Gak apa-apa sayang, Abang bisa kok nyiapin sendiri. Kamu duduk aja disini, Capek kan turun naik tangga dengan perut sebesar itu."
"Gak apa-apa abang, Malahan bagus kalo aku banyak gerak."
"Iya mas El bener kata mba Luna, Biar enak lahirannya." Sahut bi Irah sambil membawa menu sarapan ke meja makan. Setelah suami bi Irah meninggal, El langsung menjemput bi Irah dan membawa bi Irah untuk tinggal bersamanya dan Luna.
"Gitu ya bi? Ya udah tapi hati-hati ya. Apa kita perlu pindah aja ya kekamar bawah biar kamu gak capek naik turun tangga tiap harinya." Kata El akhirnya mengalah.
"Gak usahlah bang, Bentar lagi kan lahiran." Sahut Luna yang mulai menaiki anak tangga satu persatu dengan berhati-hati.
***
"Sayang, Hari ini kamu gak usah kekantor ya." Ucap Dara saat Daniel sedang bersiap-siap memakai baju untuk pergi ke kantor.
"Kenapa? Kamu gak enak badan? Apa yang sakit?" Tanya Daniel langsung panik.
"Gak sakit, Tapi gak tau kenapa aku maunya ditemenin sama kamu hari ini." Ucap Dara manja.
"Tapi hari ini aku ada meeting sama klien sayang gimana dong? Jam 9 udah mulai." Sahut Daniel dengan berat hati karena ia tidak pernah menolak apapun keinginan Dara selama ini. Wajah Dara langsung terlihat kecewa membuat Daniel makin merasa bersalah.
"Gitu ya, Ya udah gak apa-apa deh kalo gitu." Sahut Dara pasrah, Ia juga tidak boleh egois karena ia tau Daniel memiliki tanggung jawab dengan pekerjaan nya.
"Aku janji selesai meeting aku izin sama El dan langsung pulang." Ucapnya lagi menenangkan hati Dara yang kecewa. Dara mengangguk setuju namun tetap dengan raut wajah sama.
"Entar aku minta kak Rendy kesini buat jagain kamu."
"Iya, Ya udah kita sarapan yuk."
***
Sesampainya dikantor El dan Daniel langsung pergi keruang meeting, Hari ini ada pertemuan antara petinggi-petinggi yang ada diperusahaan milik El. Walaupun Daniel hanya seorang manager perencanaan tapi siapa yang tidak tau jika ia adalah tangan kanan Elang si pemilik perusahaan.
Meeting kali ini membahas tentang rencana pengembangan perusahaan. Saat ini Diamond group dikenal sebagai perusahaan majalah fashion yang bekerjasama langsung dengan perusahaan majalah paling besar di paris. Namun baru-baru ini, El berencana melebarkan sayapnya untuk memproduksi barang-barang fashion seperti baju, Tas, Sepatu branded karena wabah barang-barang branded mulai tersebar luas dikalangan para artis dan pengusaha tentu ini akan menghasilkan banyak lagi keuntungan untuk perusahaan El dan yang lebih penting adanya lapangan pekerjaan baru untuk para pengangguran yang memiliki skill namun belum beruntung, Dan untuk para pengangguran yang non skill mereka juga menyediakan tempat.
Walaupun tidak banyak membantu tapi ini bisa mengurangi angka pengangguran dalam negara.
Sedang fokus pada bahasan meeting tiba-tiba hape El bergetar, Walaupun ia seorang CEO lantas tidak membuat El seenaknya dengan posisi itu. Seperti saat ini hapenya terus bergetar didalam saku namun ia tetap fokus mendengarkan usulan-usulan dari bawahannya.
Karena terus bergetar El mulai kepikiran jika itu telepon dari rumah. El meminta waktu sebentar untuk menerima panggilan telepon.
"El sorry gue nelepon lo. Daritadi gue nelepon Daniel tapi gak diangkat makanya gue nelepon lo." Ucap Rendy saat El menerima telepon.
"Oh, Biasanya Daniel gak bawa hape kalo lagi meeting. Kenapa bang lo kok keknya lagi panik banget."
"Dara, Dara kepeleset dikamar mandi dan mengalami pendarahan. Gue udah bawa dia kerumah sakit, Dan dokter nyaranin untuk ngelakuin operasi caesar. Gue bingung banget tolong suruh Daniel cepat kesini."
"Oh ya udah gue bilangin Daniel nya sekarang." El langsung mematikan sambungan telepon lalu berlari masuk keruang meeting untuk memberitahu Daniel.
Setelah mendengar kabar dari El, Daniel buru-buru pergi kerumah untuk menyusul Dara. Sepanjang jalan ia diliputi rasa cemas yang sangat luar biasa, Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai dirumah sakit. Dan El menutup meeting nya hari ini lalu pulang untuk menjemput Luna lalu pergi menyusul kerumah sakit.
***
"Sayang, Kamu gak apa-apa kan?" Tanya Daniel saat menemui Dara yang menangis menahan rasa sakit diperutnya. Disana juga sudah ada keluarga Dara menunggu dengan khawatir.
"Anda suaminya?" Tanya dokter yang menangani Dara. Daniel mengangguk menjawab dokter tersebut.
"Kita harus melakukan operasi caesar sekarang juga karena hentakan yang cukup kuat membuat bayi harus segera dilahirkan."
"Tolong lakukan yang terbaik dok, Selamatkan istri dan anak saya." Kata Daniel memohon pada dokter tersebut.
"Baik, Kalau begitu kita bisa lakukan operasi sekarang juga." Dokter lalu menyuruh para perawat membawa Dara keruang bedah untuk melakukan operasi. Daniel menangis melihat Dara yang benar-benar kesakitan itu, Tangannya terus menggenggam kuat tangan Dara.
"Dok, Biarkan suami saya ikut keruang operasi. Saya takut sendirian." Ucap Dara lirih sambil menahan sakit yang sangat luar biasa.
"Saya mohon dok, Biarkan saya masuk." Kata Daniel, Dokter mengizinkan Daniel masuk kesana untuk menemani Dara.
Setelah dibius operasi pun dimulai, Daniel dengan setia menemani Dara. Ia mengajak istrinya itu bercerita agar Dara tidak merasakan takut saat perutnya disayat selapis demi lapis.
"Kamu tau gak walaupun kak Rendy itu kuat banget tapi dia masih kalah sama El. Waktu aku dihajar, El nahan dia sampai-sampai dia gelagapan gak bisa nafas. Keknya entar anak kita harus belajar beladiri sama El deh." Sambungnya lagi sambil mengusap lembut kepala Dara, Dara hanya bisa menjadi pendengar dokter melarangnya untuk bicara karena Dara sudah mengalami pendarahan saat jatuh jika ia bicara takut tenaganya akan terkuras dan pendarahan kembali terjadi.
Daniel hanya bisa melihat bahasa Dara dari tatapan sayu matanya, Walau bibirnya tersenyum tapi sorot mata wanita itu menggambarkan ketakutan yang sangat luar biasa. Daniel terus bicara mengenang saat-saat pertama mereka bertemu air mata Daniel pun terus mengalir ia benar-benar tidak bisa mengendalikan diri saat ini.
Tidak lama terdengar suara tangisan nyaring memenuhi ruang operasi. Ya anak kembar Daniel lahir ke dunia tangis Daniel dan Dara pun makin jadi mendengar suara tangisan kedua bayi laki-laki itu.
Tubuh Dara dibersihkan kedua bayi kembar itu langsung dimasukan ke inkubator karena mereka belum cukup umur saat dilahirkan.
Dengan perasaan yang benar-benar bahagia Daniel membuka pintu ruang operasi. Disana semua orang menunggu dengan tidak tenang El dan Luma juga berada ditempat itu.
El tersenyum bahagia sontak El langsung memeluknya. Begitu juga dengan kedua orangtua Dara yang tidak hentinya bersyukur karena cucu dan anak mereka selamat.
"Selamat, Akhirnya lo jadi bapak." Kata El memeluk sahabatnya itu, Luna juga ikut bahagia.
"Gimana keadaan Dara?" tanya bu Fina menghampiri Daniel.
"Dara masih dibersihkan, Semua berjalan lancar. Bayi kembar kami juga lahir dengan selamat dan sehat. Terimakasih untuk semua doa kalian." Kata Daniel tersenyum lebar menghapus airmata nya.
Tidak lama Dara dibawa keluar oleh para suster menuju ruang perawatan. Daniel dan yang lain ikut mengantarkan Dara kesana.
"Tolong untuk sangat berhati-hati karena luka operasinya masih baru." Kata suster memperingati Dara dan anggota keluarga lainnya.
"Sakit?" Tanya Daniel duduk disamping, Dara mengangguk serasa masih tidak bisa membuka mulutnya entah karena bius atau karena rasa sakit pasca operasi.
"Kamu istirahat aja ya. Kalo ada apa-apa bilang aja ke aku." Dara kembali mengangguk. El dan yang lain sedang melihat bayi kembar Daniel dan Dara yang dirawat di ruang inkubator. Kulit kedua bayi itu putih bersih dengan hidung yang mancung mereka berdua mewarisi ketampanan yang dimiliki Daniel.
"Terimakasih sudah memberikan dunia yang sangat indah untuk ku." Kata Daniel mengecup kening Dara, Dara tersenyum sambil memejamkan matanya.
***
Pagi ini El mengantarkan Luna kerumah sakit untuk kembali menjenguk Dara. Mereka juga banyak membawa bingkisan untuk kedua bayi laki-laki yang diberi nama Davindra Gibran Raniel Pratama dan Devandra Gibran Raniel Dwika.
"Itu nama atau kereta api tut....tut....tut....?" Tanya El saat sudah berada dirumah sakit.
"Sialan! Itu nama udah gue siapin dari gue siuman pasca koma tempo hari."
"Oh waktu lo dihajar itu ya, Oke....oke."
"Udalah, Gue lagi senang ini gak bakal kepancing emosi gue sama kerikil macam lo." Sahut Daniel santai tidak berniat melawan semua ucapan bosnya itu.
"Davindra itu artinya anak tersayang yang mulia dan bijaksana karena dia seorang kakak dia harus bijaksana dan karena dia seorang laki-laki dia harus memiliki jiwa dan hati yang mulia."
"Terus kenapa dikasih nama Gibran? Ganggu aja itu nama mending dibuang." Saran El santai.
"Bangke! Itu nama gue bapaknya! Terus Raniel itu gabungan nama Dara dan Daniel dan Pratama karena dia yang dikeluarin duluan sama dokter dari rahim Dara.
Terus kalo untuk adenya Devandra artinya seorang laki-laki yang bertanggung jawab dan melindungi dengan penuh rasa cinta." Jelas Daniel membuat El mengangguk.
"Terus kenapa semua harus berawal dengan huruf D? What's wrong with D? And why does it have to be D?" Tanya El lagi membuat sahabatnya itu mulai merasa kesal.
"Biar enak bikin kartu kaluarga! Lo lama-lama bener-bener ngeselin ya, Mudahan aja anak lo entar gak kek lo ngeselin nya. Sumpah rasa mau gue daftarin operasi caesar juga biar diem tu mulut." Umpat Daniel yang akhirnya tidak bisa lagi menahan emosinya menghadapi El.
Mereka berdua kembali keruangan Dara, Disana ada Rendy dan Clara.
"Hi young dad, Congratulations on your new title as parents." Ucap Clara memeluk Daniel memberikan ucapan selamat. Sebenarnya Daniel merasa risih jika harus tetap menjalin persahabatan sedekat ini dengan Clara, Kadang Clara dengan santainya memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri Daniel sedangkan status Daniel saat ini sebagai seorang suami biarpun Dara tidak pernah mempermasalahkan nya tetap saja ia harus menjaga perasaan Dara.
Dan terlebih sekarang Clara menjalin hubungan cinta dengan Rendy, Membuat Daniel merasa harus membatasi sikap Clara pada dirinya.
"Makasih udah nyempetin datang." Ucap Daniel duduk disamping Dara.
"Bayi kamu ganteng-ganteng banget. Sama persis kek kamu, Dari bibirnya, Hidungnya pokoknya bener-bener bikin gemes. Udah gak sabar pengen cepet-cepet gendong." Sambung Clara.
"Daniel nge-gemesin emang orangnya." Sahut Dara menambahi, Padahal Dara sambil tersenyum saat mengucapkannya tapi entah kenapa bulu kuduk Daniel merinding saat itu.
"Oh iya, Luna kapan lahiran?" Tanya Clara lagi.
"Dua bulan lagi kak." Sahut Luna tersenyum.
"Oh semoga selalu sehat dan dilancarkan ya persalinan nya."
"Sayang sebentar ya abang terima telepon dari kantor dulu." Kata El melepaskan rangkulannya Dari Luna lalu keluar dari ruangan Dara. Hal yang sama juga terjadi pada Clara hapenya juga berbunyi dan ia pun pamit untuk mengangkat telepon.
"Gimana hasilnya?" Tanya Clara dengan wajah serius bicara ditelepon.
"Oke, Kerja bagus. Saya akan transfer sisanya plus bonus untuk kamu." Lalu ia mematikan sambungan telepon berjalan untuk mencari El.
Tidak berapa lama ia melihat El yang sedang berjalan kembali keruangan Dara, Clara langsung mengejar El saat itu juga dan menghentikan langkah pria itu.
"El bisa bicara sebentar gak?" Tanya Clara, El diam sejenak lalu mengangguk dan mengikuti Clara.
"Kenapa? Ada masalah?" Tanya El penasaran.
"Mungkin ini saat yang tepat buat ngasih tau ke kamu sebuah rahasia besar." Ucap Clara membuat El bingung.
"Maksud kamu?"
"Elang Edgar Leondra. Itu nama kamu kan?" El kaget karena Clara mengetahui nama Leondra karena hanya Daniel lah satu-satunya orang yang tau asal-usul Daniel bahkan Luna pun sampai saat ini tidak tau tentang El.
"Darimana kamu tau nama itu?" Wajah El mendadak berubah menjadi serius begitu juga dengan wajah Clara.
"Gak penting aku tau darimana, Tapi ada satu hal yang harus kamu tau." Ucap Clara membuat El makin penasaran.
"15 tahun yang lalu tepat dimalam ulang tahun kamu, Papa kamu Bram Leondra secara gak langsung membunuh seseorang wanita yang memiliki anak berusia 5 tahun." Ucapan Clara sontak membuat El kaget bukan main.
"Dan kamu tau siapa wanita itu?" Ucap Clara yang kini benar-benar memasang wajah serius tidak kalah dari wajah El.
***Bersambung
-Karena ada masalah jaringan Eluna jadi telat up.....
Jangan bosen nunggu up nya ya, Karena mungkin 2 hari baru nge-up lagi......Biasalah emak-emak jadi mohon untuk mengerti.
Vote komen like jangan sampai lupa kalo lupa gue cabut nyawa Daniel 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣***