Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Kamu milikku, Tetaplah menjadi milikku



Ay, Nitip ini ya buat kak Rendy. Kata mamah tadi pagi-pagi bangetbdia udah berangkat kerja gak sempat sarapan. Dia kalo udah kerja kek kamu lupa makan." Kata Dara menyerahkan sebuah kotak makan untuk Rendy.


"Walaupun aku selalu lupa makan, Tapi aku gak pernah lupa sama kamu." Jawab Daniel memeluk istrinya dari arah belakang.


"Morning mom, Morning dad." Sapa Davin dan Devan yang baru saja bangun. Setiap hari sabtu sekolah mereka meliburkan semua siswanya makanya jika hari sabtu mereka selalu bangun siang.


"Morning sweetys." Sahut Dara tersenyum pada kedua putranya yang ingin sarapan.


"Stop calling sweetys." Protes Devan cuek sambil berlalu.


Daniel dan Dara tersenyum, Ia lalu mencium Dara dan menghampiri kedua buah hatinya.


"Ayah berangkat kerja ya." Kata Daniel mencium pipi kedua jagoannya.


***


Sebelum ke kantornya Daniel lebih dulu mampir ke kantor Rendy karena kantor mereka melewati jalan yang sama. daniel masuk namun langkahnya terhenti di deoan pintu kaca besar. Ia melihat kearah kotak makan yang ada ditangannya lalu berniat kembali ke mobil.


"Dan......"Panggil Rendy yang melihat Daniel tidak jadi masuk keruangannya. Mau tidak mau Daniel menghampirinya padahal saat ini Rendy sedang bersama Jessy disana.


"Kok lo balik lagi?" Tanya Rendy menyuruh Daniel duduk, Sedangkan Jessy hanya diam enggan melihat kearah Daniel.


"Gue mau.....-" Belum selesai Daniel bicara Rendy memotong ucapan nya karena mendapat telepon.


"Bentar ada telepon dari mamah. Kalian bedua ngobrol aja dulu." Kata Rendy meninggalkan Daniel dan Jessy diruangan itu.


Daniel diam begitu juga dengan Jessy. Terasa sangat aneh memang karena harus diam-diaman seperti ini namun mau bagaimana lagi.


"Tolong bilang ke Rendy, Ada titipan dari Dara." Kata Daniel akhirnya bicara lebih dulu dan berniat segera pergi dari sana.


"Kenapa bapak menghindar? Bapak takut Rendy tau kalau dulunya saya pernah ngejar-ngejar bapak?" Jawab Jessy cukup membuat Daniel kaget.


"Saya rasa kita tidak perlu lagi membahas masalah itu." Sahut Daniel santai.


"Bagi bapak mungkin ini semua hanya sebuah pertemuan yang tidak disengaja. Bapak tau bagaimana saya melewati hari-hari setelah semua yang terjadi? Saya bahkan hampir gila karena bapak. Saya juga gak tau kenapa dan apa yang bikin perasaan saya sedalam itu buat bapak, Padahal bapak jelas-jelas menolak saya. Dan saya seperti orang yang tidak tau malu setiap hari saya bilang saya suka bapak. Anggaplah saat itu saya jahat, Setiap malam saya berdoa semoga rumah tangga bapak hancur dan bapak segera berpisah dengan istri bapak. Tapi, Tuhan tidak mau mendengarkan semua doa saya hingga membuat saya frustasi. Setelah sesulit itu dan seberat itu yang saya lalui kenapa harus bertemu lagi? Sedikit ada rasa penyesalan kenapa saya menerima orang yang ada hubungannya dengan anda." Ucap Jessy terlihat sedang menyimpan sebuah rasa kesal, Marah serta rindu yang bercampur aduk menjadi satu.


Daniel tersenyum mendengar hal itu. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar sebuah pengakuan dari mulut seorang wanita. Jauh sebelum ia dan Dara menikah banyak wanita yang lebih dulu mengakui perasaan nya pada Daniel. Satu-satunya wanita yang menolak Daniel ialah Dara itu sebabnya Daniel sangat tergila-gila pada wanita yang kini menjadi istrinya itu.


"Kamu cantik, Kamu juga seksi dan kamu kriteria semua pria. Kenapa harus berhenti disatu pria yang sudah jelas menolak kamu? Terimakasih untuk perasaan tulus yang kamu berikan dan terimakasih juga untuk semua doa-doa buruk kamu untuk rumah tangga saya. Tapi seperti yang kamu lihat di pesta ulang tahun waktu itu, Tiap detik perasaan cinta saya untuk istri saya makin bertambah. Bahkan jika doa-doa kamu terkabul, Saya akan tetap bertahan dengan cinta saya." Ucap Daniel yakin, Setelah mengucapkan semua yang ada didalam hatinya Daniel pergi dari kantor Rendy meninggalkan Jessy yang terlihat nyaris menangis karena rasa kesalnya.


"Loh Daniel udah pergi?" Tanya Rendy yang baru selesai dengan teleponnya. Jessy hanya bisa mengangguk sambil tersenyum menjawab pertanyaan kekasihnya.


***


"Pagi pak Daniel." Sapa resepsionis kantor tersenyum manis pada salah satu idolanya.


"Pagi juga Poppy." Balas Daniel tersenyum tidak kalah manis membuat hati wanita membeku melihatnya.


"Oh iya, Pak El sudah datang?" Tanya nya lagi pada Poppy yang masih melayang-layang karena senyuman Daniel.


"Belum pak, Biasa kan weekend." Katanya lembut, Daniel mengangguk lalu kembali berjalan menuju ruangannya.


***


"Sayang, Daddy mau ke kantor loh. Kiss dulu dong." Kata El membangunkan Zea yang saat ini masih tertidur nyenyak.


"Keknya dia bener-bener nikmati hari liburnya. Ya udah abang berangkat ke kantor dulu ya." Ucap El mencium bibir Luna lalu mencium kedua pipi Zea.


Luna membawakan jas El dan mengantar suaminya sampai kedepan pintu.


"Daddy.... " Teriak Zea berlari mengejar El yang sudah ingin masuk ke dalam mobil.


"Pelan-pelan dong sayang, Entar jatuh." Ucap Luna.


"Kalo Zea gak lari entar gak sempat ngejar daddy." Jawab bocah berumur 7 tahun itu membuat ibunya merasa gemas.


"Kenapa sayang?" Tanya El menghampiri putrinya.


"Entar kita jadi latihan kan?" Tanya Zea penuh semangat mengingatkan El dengan janji yang sudah ia buat waktu itu.


"Iya, Entar pas daddy pulang kerja ya anak cantik. Entar kita berangkat sama-sama bang Devan ke sasana." Sahut El tersenyum sambil merapikan rambut panjang Zea yang masih berantakan.


"Oke, Kalo gitu daddy hati-hati ya ke kantornya." Jawab Zea mencium kedua pipi El. El membalasnya lalu ia segera berangkat karena hari sudah mulai siang.


"Mom, Entar main kerumah Devan ya."


"Devan?" Sahut Luna melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap serius kearah Zea.


"Ehehehe maksud Zea bang Devan mommy." Kata Zea lagi sadar akan kesalahan nya lalu memeluk tubuh Luna. Luna tertawa lalu membawa Zea masuk kedalam rumah.


***


Sejak dimobil tadi Daniel dan Kenan terus menelopon El secara bergantian. Dan tidak lama El tiba di kantornya.


"Pak, Ada pak Kenan dan beberapa investor lain sedang menunggu bapak di ruang meeting." Ucap Poppy terlihat serius, Berbeda dengan tadi pagi saat ia menyapa Daniel. El mengangguk lalu langsung menuju keruang meeting.


"Selamat pagi, Maaf saya terlambat apa ada masalah?" Tanya El bingung karena disana sudah ada Daniel, Pak Derry, Kenan dan juga beberapa orang investor lainnya.


"Pak, Ada yang mencuri dokumen rahasia mengenai peluncuran produk baru untuk bulan depan. Saya sudah melacak alamat IP mereka dan temuan nya sangat mengejutkan." Kata Daniel memperlihatkan hasil kerjanya pada El.


"GC Company?" Ucap El kaget.


"GC Company baru aja membuka perusahaan mereka di Negara ini, Perusahaan itu hampir bangkrut makanya di mutasi oleh kantor pusat ke Negara ini. Karena persaingan yang ketat di Prancis mau tidak mau mereka pindah kemari. Dan yang lebih parahnya lagi, Mereka akan segera merilis project rahasia kita minggu depan." Tambah Kenan menjelaskan pada El jika perusahaannya saat ini sedang terancam kerugian besar.


"Jadi gimana ini pak El? Kami selaku investor sudah juga akan terancam bangkrut besar jika begini keadaannya." Ucap salah satu investor yang hadir disana.


"Harap tenang jangan langsung menyimpulkan sesuatu yang akhirnya saja kita belum tau. Saya yakin pak El mampu mengatasi ini semua, Jadi tolong bersabar." Sahut pak Derry selaku manager penjualan.


"Pak Daniel, Kita harus pergi ke GC. Company saat ini juga, Ini sudah jelas tindakan kriminal." Kata El lalu pergi dari ruangan itu.


"Untuk sementara sampai masalah ini selesai, Tolong simpan baik-baik kabar ini pastikan jangan sampai diketahui dewan direksi lain. Dan satu lagi, Kalian harus percaya jika pak El pasti bisa menyelesaikan masalah ini. Pak Ken, Pak Derry tolong urus sisanya." Kata Daniel lalu pergi mengikuti El.


El dan Daniel segera pergi ke perusahaan tersebut, Sepanjang jalan El terlihat sangat tidak tenang. Tentu saja ini masalah yang sangat serius karena perusahaan El terancam kerugian besar, Apalagi dokumen yang dicuri adalah dokumen khusus diperuntukan majalah luar negeri yang bekerjasama dengan perusahaan nya.


"Kok bisa mereka nyuri dokumen kita?" Tanya El serius.


"Tapi mereka sudah mulai mengiklankan lebih dulu dan mereka akan merilis majalah itu minggu depan. Dalam hal ini tentu banyak orang yang menilai jika perusahaan kita lah yang sebenarnya mengikuti ide-ide mereka."


Saat ini mereka benar-benar dilanda masalah yang cukup serius. Setelah sampai ditempat tujuan Ep dan Daniel segera turun dan masuk kedalam kantor GC Company.


"Saya ingin bertemu dengan pimpinan disini." Ucap El tegas pada resepsionis yang berjaga.


"Maaf, Apa anda sudah membuat janji?" Tanya resepsionis itu ramah.


"Kami bahkan belum saling kenal, Bagaimana membuat janji terlebih dulu." Sahut Daniel mulai tidak sabaran.


"Maaf pak, Untuk saat ini Direktur Utama kami tidak ingin menerima tamu siapapun itu tanpa terkecuali." Katanya lagi tersenyum sopan sambil mengantupkan kedua tangan di depan dada.


"Bisa gitu? Direktur kalian itu pencuri! Pasti dia sengaja sembunyi kan saat ini karena tau kami dari perusahaan DM Group bakalan datang untuk nyari dia!" Bentak Daniel sengaja nyaring agar terdengar oleh semua orang yang ada disana. Ia tidak bisa lagi menahan emosinya karena hasil jerih payahnya bersama El dan karyawan lain di rampas begitu saja tentu ia merasa sangat marah.


"Maaf pak, Saya hanya menjalankan tugas." Kata resepsionis tadi merasa takut.


"Dan, Dia gak tau apa-apa. Kita balik dulu ke kantor, Kita bahas masalah ini sama anggota lain oke." Bujuk El menenangkan Daniel.


"Titip pesan buat Dirut kalian. Caranya untuk maju seperti sampah!" Kata Daniel lalu mereka pergi dari tempat itu.


***


"Mommy, Kok daddy belum pulang?" Tanya Zea yang kini sedang menunggu El. Ia juga sudah berpakaian lengkap baju taekwondo.


"Sabar ya sayang, Mungkin daddy lagi banyak kerjaan." Bujuk Luna memberikan pengertian pada putri kecilnya. Luna meraih hp nya lalu mencoba untuk menghubungi El namun El tidak menjawab teleponnya membuat Luna merasa khawatir.


Zea kembali menunggu ayahnya dengan sabar sambil sesekali dibawanya bermain agar waktu cepat berlalu.


"Mommy, Ini udah sore kok daddy gak pulang-pulang? Telepon daddy dong mommy." Rengek Zea yang mulai rewel karena sudah sangat lama menunggu El. Luna kembali menghubungi El namun tetap sama, Tidak ada jawaban hingga akhirnya ia menelepon nomor kantor.


"Hallo, Poppy pak El ada dikantor?" Tanya Luna pada resepsionis kantor.


"Ada bu, Tapi sepertinya lagi gak bisa diganggu bu karena ada masalah yang sangat serius terjadi di perusahaan. Pak El, Pak Daniel, Pak Kenan dan beberapa staf lain sedang sibuk di ruang meeting." Jelas Poppy menjawab rasa khawatir Luna.


"Oh, Ya udah kalo gitu makasih ya." Luna mematikan sambungan telepon. Ia tau saat ini suaminya sedang sibuk dan mungkin janji El pada Zea tidak bisa ditepati hari ini.


"Mom, Gimana? Apa kata daddy? Daddy udah pulang belum?" Tanya Zea penuh harap, Bagaimana cara menjelaskan pada gadis kecil jika ayahnya sedang sibuk.


"Ummmmm, Sayang kita main kerumah oma yuk. Kan udah lama Zea gak ketemu oma." Kata Luna mengalihkan perhatian Zea.


"Daddy gak bisa pulang ya? Terus janjinya gimana?" Ucap Zea sedih dan kecewa. Luna berjongkok memeluk Zea yang saat ini hampir menangis.


"Sayang, Daddy beneran lagi sibuk. Disana juga ada ayah Daniel dan om Kenan. Mommy tanya sama Zea, Apa pernah daddy lupain janjinya selama ini sama Zea?" Zea menggeleng lambat menjawab pertanyaan ibunya.


"Maafin daddy ya sayang, Kalo daddy gak bener-bener sibuk gak mungkin daddy lupain janjinya." Bujuk Luna, Zea tidak menjawab ucapan ibunya. Ia langsung pergi ke kamarnya dan mengunci pintu tidak ingin diganggu. Luna tau bagaimana perasaan Zea saat ini namun ia juga lebih tau bagaimana keadaan El saat ini. Baru saja Luna ingin menelepon Dara untuk memberitahu jika El tidak jadi melatih Zea, Devan dan Davin. Dara lebih dulu menghubungi Luna.


"Hallo Ra, Iya aku mau ngasih tau keknya bang El gak jadi deh ngajarin anak-anak latihan taekwondo soalnya jam segini dia masih di kantor."


"Iya, Barusan aku telepon Poppy dia bilang bang El, Daniel dan Kenan lagi sibuk di ruang meeting. Pantes aja daritadi aku telepon Daniel gak dijawab.


"Sama, Aku juga tau dari Poppy. Sepertinya ada masalah serius sampai-sampai mereka gak angkat telepon dari kita." Jawab Luna menerka-nerka.


"Keknya gitu, Mudahan aja bukan masalah yang berat dan bisa segera di selesaikan."


"Maaf ya, Devan sama Davin pasti kecewa banget. Zea juga gitu, Sekarang lagi ngambek dikamarnya."


"Mereka ngerti kok, Lagian besok masih ada waktu. Kak Rendy juga besok gak kerja bisa ngajarin mereka." Sahut Dara.


"Ya udah kalo gitu, Aku mau bujuk Zea dulu ya Ra." Sambungan telepon pun mereka akhiri. Luna kembali berusaha membujuk Zea agar mau mengerti keadaan ayahnya saat ini, Namun Zea masih sangat terlalu muda untuk bisa faham tentang posisi dan tanggung jawab ayahnya sebagai pemimpin perusahaan. Ia tetap marah dan mengunci diri dikamar enggan membuka pintu walaupun untuk Luna ataupun bi Irah.


***


Sudah jam 9 malam namun El belum juga pulang kerumah membuat Luna merasa sangat khawatir, Terlebih nomer hpnya tidak bisa dihubungi. Zea juga sudah tertidur sejak tadi. Luna terus berdiri menunggu di teras rumah sambil sesekali duduk di bangku teras.


Setelah cukup lama menunggu akhirnya mobil El terlihat. Luna buru-buru berdiri dan menunggu El.


"Sayang." Sapa El, Terlihat wajahnya yang kusut serta lelah. Baju yang ia kenakan juga sangat berantakan. Luna membawa jas milik El lalu mereka segera masuk ke dalam rumah.


El yang merasa sangat lelah langsung pergi ke kamarnya bersama Luna. Ia tidak banyak bicara seperti biasanya, Luna tau saat ini suaminya sedang menghadapi masalah.


Luna melepaskan dasi yang sejak tadi sudah tidak tau tataan nya lalu melepas kancing baju El satu persatu hingga nampak tubuh kekar El. El yang saat ini duduk ditepi ranjang langsung memeluk pinggang Luna yang berdiri dihadapannya.


"Abang capek banget ya? Aku siapin air hangat ya untuk mandi biar seger lagi." Kata Luna mengusap lembut rambut El yang berantakan.


"Jangan pergi, Biarkan seperti ini sebentar aja. Abang capek." Katanya sambil memejamkan kedua matanya. Hati Luna merasa sakit saat melihat El seperti ini, Semua yang El lakukan untuk keluarga kecil mereka, Untuk membahagiakan anak dan istrinya tentu melihat El seperti ini membuat hati Luna merasa sakit. Luna mengikuti keinginan El, Sambil ia terus mengusap lembut rambut El.


"Sayang....." Panggil El pelan.


"Hmmmmm......"


"Abang akan terus manggil kamu, Karena cuma kamu yang bisa buat abang merasa lebih baik dan tenang." Kata El, Luna tersenyum mendengar hal itu.


"Sayang......" Panggil El lagi


"Ya...." Sahut Luna yang tetap setia berdiri sambil memeluk El.


"Sayang....."


"Iya....."


"Sayang....."


"Iya....."


"Sayang....."


"Iya...."


"Aku ingin menghabiskan waktu dengan mu, Selalu belajar Memahami kamu. Dan berjalan bersama melewati waktu. Aku hanya ingin membuat mu sempurna walau aku tidak sempurna karena nyawaku dan nyawamu telah dijodohkan oleh langit maka penduduk langit selalu mendengar saat aku memanggil kamu Aluna, Kamu milik ku akan selalu begitu hingga di kehidupan lainpun kamu akan tetap menjadi milik ku." Kata El dalam pelukan Luna.


"Dan kamu adalah sempurnaku, Tetaplah menjadi milikku hingga kita kembali menjadi tanah." Sahut Luna mencium pucuk kepala El.