Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Aku merindukan seseorang yang sering memanggilku : Nye



Rendy masih duduk disana seorang diri tidak lama El dan kenan datang setelah Daniel dan Dara pulang mereka berdua langaung menghampiri Rendy. El membawa beberapa kaleng minuman bersoda, Duduk sambil bercerita dengan santai dan kepala dingin lebih baik saat ini daripada harus saling memajukan emosi masing-masing.


"Sorry El, Gue ngancurin pestanya." Ucap Rendy meraih sekaleng minuman dingin yang tadi dibawa oleh El.


"Santai ajalah bang, Gak apa-apa." Sahut El tersenyum sambil kembali menegak minuman kalengnya. Kenan yang duduk disamping Rendy langsung merangkul bahu pria itu.


"Kalian beneran tau tentang ini semua? Terus kenapa gak ada yang mau bilang sih ke gue? Tega ya lu pada." Tentu Rendy terlihat kesal karena mereka semua menyembunyikan hal itu dari Rendy. Mendengar hal itu Kenan langsung melepaskan rangkulannya di bahu Rendy dan berdiri untuk menjauhi Rendy namun tangan Rendy lebih cepat dari gerakan Kenan. Rendy menarik baju Kenan hingga Kenan terkunci tidak bisa pergi dari tempat awalnya.


"Mau kemana huh?" Kata Rendy terdengar sangat kesal. Ken melihat kearah Rendy lalu tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya.


"Oke gue duduk, Santai gak perlu keluarin urat apalagi otot oke." Ucap Kenan kembali duduk, Sedangkan El hanya menggelengkan kepalanya melihat kejadian itu.


"Jelasin ke gue cerita detailnya." Kata Rendy memasang wajah serius.


"Versi gue apa versi Ken?" Tanya El membuat rusuh ditengah-tengah perasaan gundah yang dirasakan oleh Rendy. Mendengar hal itu Kenan langsung menahan mulutnya agak tidak tertawa.


"Kita gelud aja yuk disini." Jawab Rendy menggulung lengan bajunya.


"Slow, Udah dikasih minum juga masih hot aja tuh brain." Jawab El tertawa santai sambil menegak minumannya sedangkan Kenan sudah tidak tau lagi caranya menahan tawa.


"Oke gue bakal cerita duluan." Sambung El puas membuat gaduh.


"Sebelum kenal lo, Si Jessy pernah magang di perysahaan gue dan kenetulan dia ada di departement Daniel. Awalnya dia mikir kalo Daniel itu gue, Lo kan tau gimana Daniel gitu-gitu dia menjunjung tinggi kesopanan apalagi sama yang namanya perempuan. Mungkin karena sikap Daniel itu si Jessy suka sama Daniel, Tapi Daniel gak pernah sedikitpun tanggapin perasaan Jessy. Daniel udah jelasin sama Jessy kalo dia punya anak istri yang sangat sangat dia cintai tapi Jessy gak ngaruh sama hal itu. Bahkan dia bersedia walau cuma sekedar jadi selingkuhan atau orang kedua. Maaf mungkin nyakitin, Tapi itu kenyataan." Kata El menumpang kakinya dan menyandarkan punggung.


Rendy masih diam mencoba memahami setiap kata yang di sampaikan oleh El karena ia tidak ingin kembali salah faham.


"Sumpah gue.....Gue gak tau apa-apa sama sekali gak tau dan kalian cuma diam ngeliat gue diginiin sama tuh cewek?" Ucap Rendy kesal. El dan Kenan mendadak serius, Mereka tau dan sadar kesalahan yang mereka lakukan mereka hanya tidak ingin menyakiti perasaan Rendy.


"Maafin kita bang, Kita gak bermaksud un-....."


"Untuk nyembunyiin dari gue karena takut gue sakit hati dan kecewa, Itu kan yang mau lo bilang?" Kata Rendy memutus ucapan Kenan yang belum selesai ia katakan.


"Liat sekarang akibatnya! Bahkan gue nyakitin ade gue sendiri karena hal ini, Segitu ribetnya sih pikiran kalian nyembunyiin hal itu dari gue? Kalian pikir gue bakalan sakit hati merana terus gila gak lama bu*uh diri gitu? Kalian baru ngenal gue? Gue tanya deh sekarang sama lu El, Dulu waktu gue tau si Clara cuma manfaatin gue buat deketin lo apa gue merana? Apa gue gila? Gak kan? Terus kenapa sekaeang kalian bisa mikir ribet kek gitu sih ya Tuhan sumpah kesel banget gue." Kata Rendy yang akhirnya menumpahkan kekesalannya pada El dan Kenan.


"Kita emang salah bang, Maafin kita." Kata El yang akhirnya meminta maaf pada Rendy. Ia tau perasaan Rendy saat ini marah sudah pasti dan jelas terlihat dari raut wajah pria bercambang itu.


Rendy mengusap kasar wajahnya, Sangat terlihat jika ia sedang frustasi namun bukan karena mengetahui kenyataan tentang Jessy kekasihnya melainkan rasa penyesalannya pada Dara adik semata wayang nya yang kini sudah pasti marah dengannya karena secara tidak sengaja Rendy mengangkat tangannya pada Dara hal yang tidak pernah ia lakukakan seumur hidupnya dan malam ini ia melakukan hal itu tentu hati Dara sangat kecewa dan terluka.


Sedang dalam suasana hening, Hp Kenan berdering. Kenan langsung menerima panggilan telepon dan meninggalkan El juga Rendy disana.


"Dara udah berusaha kasih kesempatan buat Jessy, Dia gak mau nyakitin lu makanya dia diam padahal dia tau kalo Jessy sedang berusaha mencuri perhatian suaminya. Dara masih berharap jika Jessy bisa berubah dan menjalani hubungan yang serius sama lu bang. Tapi nyatanya, Jessy makin nekat." Tambah El membuat Rendy makin merasa bersalah pada adik perempuannya.


"Sorry brother, Gue gak bisa ikut dengerin suara hati kalian karena gue mesti ke KL malam ini juga. Ada urusan mendadak." Kata Kenan yang baru saja selesai menerima telepon.


"Lo terbang malam ini?" Tanya El


"Iya, Tiket udah dipesan sama asisten gue. Gue balik cuma ambil baju doang habis itu langsung kebandara." Jelas Ken yang terlihat sangat buru-buru saat ini.


"Ya udah hati-hati." Jawab Rendy berdiri lalu memeluk Ken begitu juga dengan El. Setelah itu ia pergi dari rumah El.


"Gue juga pamit dulu lah El. Udah malam, Gue perlu tenangin diri." Kata Rendy berdiri dari tempat duduknya.


"Mau gue kasih saran biar bisa cepat tenang?" Tanya El terlihat serius membuat Rendy tertarik untuk mendengarkannya.


"Apa?" Tanya Rendy penasaran.


"Minum ba*gon bang." Jawab El santai tanpa ada rasa takut. Mendengar candaan receh temannya Rendy menghampiri El dan menghadiahi sebuah gebukan pelan di perutnya.


"Lo ******." Kata Rendy sambil tertawa.


"Tenangin dulu pikiran lo, Entar kalo udah waras lagi baru atur waktu untuk ketemu Dara." Saran El, Rendy mengangguk mendengar hal itu lalu ia pamit dan segera pergi dari rumah El karena hari makin malam.


Istirahat, Kawan. Lewati malam dengan menepi dari dunia yang akhir-akhir ini lebih sering mempermainkanmu. Bermimpilah apa saja, Tidak ada salahnya selama tidak tenggelam didalamnya.


***


Di dalam kamarnya Dara masih juga belum tidur, Ia masih memikirkan semua kejadian yang baru saja ia alami tadi.


"Ay.....Kamu kok belum bobo sih?" Tanya Daniel yang baru selesai mandi dan mengenakan pakaian. Ia duduk disamping Dara yang sejak tadi duduk diam diatas ranjang.


"Aku masih kepikiran sama yang tadi. Kamu bayangin aja, Kak Rendy sama sekali gak pernah marah sama aku apalagi sampai mau mukul dan tadi, Dia bahkan ngankat tangan nya untung kamu cepat nangkap kalo gak?" Ucap Dara terlihat sangat kesal pada kakaknya. Daniel membawa Dara kedalam pelukannya mencoba menenangkan pikiran dan hati wanitanya itu.


"Ay, Dia gak bermaksud untuk nyakitin kamu. Sama halnya kek kamu, Dia juga kaget dia shock denger semua itu. Kamu kan tau bang Rendy berniat serius pacaran sama Jessy, Disini aku yang harusnya merasa gak enak sama bang Rendy." Ucap Daniel sambil mengusap lembut rambut panjang istrinya.


"Tapi gak seharusnya dia langsung mau mukul gitu kan? Harusnya dia tanya dulu." Sahut Dara tidak ingin kalah, Saat ini hatinya sedang terluka itu sebabnya menurutnya ia lah yang paling benar saat ini.


"Udah jangan nangis lagi, Tenangin dulu pikiran kamu lupain semua. Bang Rendy juga pasti kepikiran banget sama hal ini." Bujuk Daniel, Dara menarik nafas panjang lalu memeluk erat tubuh Daniel seperti seorang bocah kecil yang sedang mengadu.


***


"Gimana kak Rendy?" Tanya Luna saat ia kembali dari kamar Zea.


"Seperti yang kita bayangkan." Jawab El sambil meletakan handuk yang baru saja ia pakai.


"Kasian kak Rendy. Pasti dia merasa kecewa banget, Aku jadi gak enak sama dia." Kata Luna merasa bersalah karena ikut diam.


"Dia sakit hati bukan karena tau kalo Jessy ternyata naksir Daniel tapi karena merasa bersalah sama Dara." Sahut El memeluk istrinya yang sedang menghapus riasan didepan cermin.


"Iya, Dara pasti sedih banget saat ini. Masalah kecil bisa jadi seribet ini, Andai Jessy bisa lebih menerima kenyataan semua gak akan terjadi."


"Sayang, Semua yang terjadi itu sudah diatur sama sang penguasa. Kita cuma menjalankan peran masing-masing, Besok Rendy mau kerumah Daniel buat ngomong sama Dara dan Daniel."


"Semoga aja masalahnya cepat selesai dan gak berlarut lama." Ucap Luna lalu mencium pipi El lembut membuat suaminya tersenyum memamerkan lesung pipinya yang dalam.


"Ya udah, Udah malam kita tidur yuk." Kata El, Luna tersenyum dan mengangguk.


***


Sepanjang jalan menuju bandara hingga ia duduk dalam pesawat, Ken terus menelepon Eriska, Namun Eriska tidak menjawab panggilan telepon itu.


"Pak, Tolong segera mematikan ponsel anda karena sebentar lagi kita akan lepas landas." Kata seorang pramugari cantik memperingatkan Kenan. Kenan tersenyum tipis dan mengangguk, Ia lalu mematikan telepon genggamnya itu.


Dan rencana Kenan untuk melamar Eriska kembali gagal karena urusan pekerjaan nya yang mendesak.


"Tunggu aku pulang ya hun, Secepatanya aku pulang dan aku bakalan langsung ngelamar kamu." Kata Kenan pelan, Ia menutup matanya sekedar untuk istirahat sejenak.


Waktunya mensyukuri hari yang telah dilewati, Dan berdoa untuk esok hari agar lebih baik dari hari ini. Selamat malam


***


Matahari enggan menampakan sinarnya pagi ini, Hawa dingin pun masih sangat terasa menembus kulit hingga ketulang. Pagi ini langit terlihat gelap seperti akan turun hujan deras.


Eriska terbangun karena rasa sakit yang begitu terasa sangat luar biasa, Semalaman ia hanya bisa berbaring manahan rasa sakit bahkan telepon dari Kenan pun ia abaikan.


Dengan masih menahan rasa sakit ia kembali melihat hp nya, Banyak panggilan tidak terjawab dari Ken dan beberapa pesan yang dikirim oleh pria itu.


Baru saja Eriska ingin membalas pesan itu rasa sakit yang luar biasa itu datang kembali membuat nya meringkuk menahan sakit.


"Ris, Kamu gak ker......"


"Ris!........." Teriak ibu Eriska melihat anaknya yang saat ini sudah terbaring di lantai tidak sadarkan diri. Wanita paruh baya itu langsung menelepon ambulan dan membawa Eriska kerumah sakit.


Sesampainya dirumah sakit Eriska langsung ditangani dokter, Beberapa peralatan medis langsung dipasang di tubuh wanita itu.


"Gimana keadaan anak saya dok?" Tanya ibu Tiwi terlihat sangat khawatir.


Dokter menarik nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan wanita berumur 47 tahun itu.


"Doakan yang terbaik untuk anak ibu, Kami hanya bisa berusaha memampu mungkin." Kata Dokter tidak mau memberi harapan lebih pada bu Tiwi.


Medengar hal itu sama rasanya ia sedang di sambar petir yang membuat tubuhnya terpental jauh bahkan rasanya lebih sakit saat ini daripada luka menganga yang ditaburi garam. Tubuh bu Tiwi seketika melemah tidak kuat menopang berat badannya sendiri, Sungguh rasanya tidak sanggup mengetahui kenyataan ini.


***


"Morning daddy, Morning mommy." Sapa Zea sambil mencium pipi kedua orangtua nya, Zea sudah siap dengan seragam sekolah serta tas ransel berwarna pink kesukaannya.


"Morning honey." Sahut kedua orangtua Zea


"Besok Calla pulang kan mom?" Tanya Zea duduk di bangku meja makan siap untuk menyantap sarapannya.


"Iya dong, Udah gak sabar ya pengen ketemu ade Calla ya?" Tanya El tersenyum. Zea terdiam tidak langsung menjawab pertanyaan dari ayahnya.


"Kenapa sayang?" Tanya Luna penasaran melihat reaksi Zea.


"Kalo ada Calla, Zea tetep disayangin kan daddy, Mommy?" Rasa takut terabaikan selalu menghantui pikiran Zea selma ini. Bukan ia tidak menerima kehadiran adiknya hanya saja gadis kecil itu takut jika semua perhatian dan kasih sayang yang selama ini ia dapatkan tidak bisa lagi ia rasakan.


Mendengar hal itu kedua orangtua nya tersenyum melihat kearah Zea.


"Sayang, Zea itu segalanya buat daddy dan mommy. Zea separuh hidup daddy, Zea separuh hidup mommy begitu juga sama ade Calla, Kalian berdua adalah anugerah paling indah dari Tuhan untuk mommy dan Daddy." Kata Luna mengusap pelan pipi Zea, Zea tersenyum kembali bersemangat.


"Nanti kalo Calla udah pulang, Boleh gak kalo Kikan sama Tasya main kesini? Mereka mau liat adenya Zea." Ucap gadis kecil itu tersenyum memicingkan mata.


"Boleh dong. Sekarang buruan lanjutin sarapannya bentar lagi jam setengah 8 lho. Jawab El sambil tersenyum, Zea mengangguk siap dan melanjutkan sarapannya.


***


"Bunda, Kok gak semangat sih kek biasanya." Tanya Davin melihat ibunya yang memang tidak seperti biasanya.


"Gak apa-apa sayang, Bunda lagi kurang enak badan aja." Kata Dara tersenyum manis menyembunyikan perasaannya di depan Davin dan Devan. Sedangkan anak bungsunya terlihat cuek tidak ingin bertanya tentang keadaan Dara saat ini, Entah mengapa kadang Dara merasa jika sifat dingin Devan membuatnya terlihat sedikit lebih dewasa dibanding kakaknya.


"Devan." Panggil Dara, Devan mengangkat kepalanya melihat kearah Dara.


"Devan cuek banget sih nak sama bunda." Kata Dara memasang wajah sedih. Devan menarik nafas dalam melihat wajah ibunya.


"Devan gak suka sama om Rendy." Jawab Devan sedikit ketus membuat Daniel dan Dara kaget.


"Van, Devan ngomong apa sih nak?" Tanya Daniel mulai mencari tau sejauh apa anak bungsunya itu mengetahui persoalan antara Dara dan Rendy.


"Devan bukan anak kecil lagi yah." Jawab Devan cuek. Mendengar hal itu Dara dan Daniel saling melempar pandangan ingin sekali mereka memberitahu pada Devan agar jangan ikut memikirkan masalah orangtuanya namun karena hari semakin siang dan mereka harus pergi kesekolah maka niat itu di pendam sejenak oleh Dara dan Daniel.


"Ya udah buruan sarapannya, Entar terlambat lho." Kata Kenan sambil melanjutkan sarapannya.


***


Pagi ini Eriska bangun karena rasa sakit kembali datang. Ia mengambil hp miliknya yang diletakan diatas meja samping ranjangnya.


Dibacanya satu persatu pesan yang Kenan kirim. Pria itu dengan setia mengirim pesan tiap 15 menit padahal sudah nyata jika ia sedang sibuk bekerja.


"Kamu belum ngasih tau Kenan tentang keadaan kamu?" Tanya bu Tiwi yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat Eriska.


"Ibu, Ibu dari mana?" Kata Eriska balik bertanya mengalihkan pembicaraan.


"Nak, Kamu harus jujur sama Ken. Ibu liat Ken benar-benar tulus mencintai kamu." Eriska memalingkan wajahnya enggan melihat kearah ibunya saat ini karena ia sedang berusaha menahan airmatanya.


"Ada beberapa hal yang bisa disampaikan dengan sangat mudah dan gampang, Tapi ada juga beberapa hal yang tidak bisa disampaikan dan perlu disimpan sendiri." Kata Eriska pelan dan akhirnya airmata itu terjatuh tanpa bisa ditahan lagi. Ibu Tiwi mendekati Eriska mengusap lembut rambut panjang putrinya, Ia tau apa yang dirasakan Eriska saat ini.


"Ibu beliin kamu stroberry ya." Kata ibunya lalu pergi meninggalkan Eriska sendirian. Ia tau anaknya butuh ruang untuk menyendiri saat ini. Dan setelah ibunya pergi Eriska menangis sejadi-jadinya ditempat itu.


🎶***Embun dipagi buta, Menebarkan bau basah. Detik demi detik ku hitung, Inikah saat ku pergi?


🎶Oh Tuhan ku cinta dia, Berikan lah aku hidup. Tak kan kusakiti dia, Hukum aku bila terjadi.


🎶Aku tak mudah untuk mencintai, Aku tak mudah mengaku ku cinta. Aku tak mudah mengatakan aku jatuh cinta.


🎶Cintaku sampai ke menutup mata***.