Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Aku Elang Edgar Wirayudha



"Abang kenapa?" Tanya Luna pelan. El baru saja mandi dan membersihkan diri, Tubuhnya bau alkohol sangat menyengat membuat Luna merasa mual. El memeluk Luna, Rasanya tidak sanggup jika ia harus menceritakan hal yang begitu menyakitkan itu pada Luna.


"Maafin abang." Ucapnya sendu, Hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulut El saat ini.


"Seberapa besarpun kesalahan abang, Aku akan selalu maafin abang." El meng-eratkan pelukan nya pada Luna. Tidak terasa airmata nya pun jatuh mengingat kesalahan yang dilakukan oleh Bram ayah kandungnya, Sikap El saat ini membuat Luna bingung. Rasanya ingin sekali ia bertanya ada apa? Tapi, Ia tau jika suaminya itu sedang tidak ingin membahas hal itu.


"Oh iya, Tadi aku udah gendong si kembar loh. Walaupun mereka lahir belum cukup bulan tapi mereka berkembang dengan baik dan sehat jadi sekarang gak perlu lagi di inkubator." Kata Luna mengalihkan pembicaraan agar El bisa sedikit lebih tenang. El buru-buru menghapus airmata nya dan berusaha tersenyum mendengar ucapan istrinya itu.


"Jadi tadi mereka udah keluar dari ruang inkubator? Wah pasti Daniel seneng banget bisa gendong bayi-bayinya."


"Oh iya, Abang udah siapin nama belum buat anak kita?" El memiringkan kepalanya, Ia baru sadar jika ia dan Luna belum sempat mencari nama untuk calon bayinya.


"Kita bikin nama buat dede yuk." Ajak Luna tersenyum manis sambil menarik tangan El membawanya duduk ditepi ranjang.


"Abang maunya nama anak kita ada nama kita berdua." Sahut El, Luna mulai berpikir mencari nama yang pas dan memiliki arti yang indah untuk anaknya kelak.


"Ummmm.......Gimana kalo nama tengahnya Nael?" Saran Luna.


"Bagus, Unik juga namanya. Abang suka, Oke nama tengahnya kita kasih nama Nael." Katanya tersenyum membuat Luna senang.


Tidak peduli seberapa keras mereka berusaha untuk memisahkan yang aku tau, Aku hanya harus terus berjuang untuk mempertahankan.


Melihatmu tersenyum ibarat surga yang bisa aku rasakan tanpa harus mati dulu.


Aku bisa mendengarkan ceritamu tanpa bosan


Aku bisa menunggumu berjam-jam dari pagi hingga matahari terbenam.


Aku bisa bersamamu berlama-lama walau hanya diam


Namun satu hal yang tidak pernah aku bisa, Kau pun tau itu yaitu kehilangan mu.


***


"Sama ayah ya sayang, Biar bunda istirahat dulu." Ucap El sambil menggendong Davin sedang kan Devan sudah tertidur nyenyak setelah diberi minum susu.


"Kamu yakin bisa ngejagain mereka sendirian?" Tanya Dara ragu melihat Daniel yang menggendong pun masih kesulitan.


"Iya, Kamu tidur aja gak apa-apa biar aku yang jaga mereka berdua." Jawab Daniel yakin, Sebenarnya Dara ragu tapi karena pengaruh obat-obatan yang ia minum ia benar-benar sangat mengantuk.


"Aku telepon mamah aja ya suruh temenin kamu."


"Jangan, Kasian mamah kamu baru juga pulang masa iya disuruh balik lagi. Percaya deh aku bisa kok, Iya kan Davin.....Ayah bisa kan jagain Davin." Katanya lagi bicara dengan bayi yang ada didalam gendongannya.


"Ya udah kalo gitu aku tidur ya, Kalo mereka rewel bangunin aja aku." Dara lalu tidur meninggalkan Daniel sendirian untuk berjaga bayi kembar mereka.


Awalnya semua berjalan lancar, Bayi kembar itupun tidur nyenyak seperti harapan Daniel dan Daniel juga bisa segera tidur namun baru 10 menit Daniel tidur bayi kembar itu kompak menangis membuat Daniel kaget dan segera bangun.


"Hei hei hei kenapa? Ada ayah kok disini, Kenapa sayang? Kalian haus? Aduh ini kenapa sih? Dua-duanya nangis lagi." Kata Daniel mulai panik, Ia menggendong Devan dan Davin secara bergantian tapi dua anak laki-laki itu tetap saja menangis kencang membuat Dara terbangun.


"Mereka kenapa?" Tanya Dara berusaha sadar dan membuka kedua matanya.


"Gak tau, Mungkin mereka haus." Kata Daniel sambil memberikan kedua anaknya susu namun kedua bayi itu menolak dan tetap saja menangis.


"Coba sini sama bunda." Daniel lalu membawa Davin pada ibunya sedangkan Devan digendongnya. Dalam sekejap kedua bayi kembar itu diam dan tertidur kembali.


"Kalian maunya bobo digendong gini ya? Maaf ya ayah gak ngerti." Ucap Daniel, Dara tersenyum dalam rasa ngantuknya. Ia bersyukur memiliki suami sehebat Daniel yang rela tidak tidur untuk berjaga.


***


Pagi ini El tidak masuk bekerja. Entahlah tapi pikirannya masih belum bisa tenang, Hari ini ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama Luna.


"Sayang hari ini kamu mau kemana biar abang temenin." Ucap El sambil memeluk istrinya yang sedang duduk didepan cermin merias diri.


"Loh emang abang gak kerja?"


"Gak ah. Capek, Males, Terlebih selalu kangen kamu kalo dikantor." Ucap El membuat Luna tersenyum.


"Ada satu tempat yang pengen banget aku datangin." Ucap Luna.


"Kemana?"


"Aku pengen ke makam ayah dan bunda." Ucap Luna sontak membuat El terdiam.


"Sayang, Kok diem?" Tanya Luan bingung melihat El.


"Gak kok gak apa-apa, Iya entar kita kesana ya." Jawab El berat, Bukan karena ia tidak ingin pergi kesana tapi ini membuatnya merasa sangat bersalah pada Luna.


"Tapi kita mampir kerumah sakit sebentar ya, Abang pengen ketemu sama Davin dan Devan." Luna mengangguk setuju karena ia juga sangat merindukan dua bayi kembar itu.


***


Daniel dengan kantung mata hitamnya tetap berusaha membuka mata agar tidak tertidur pagi ini, Paling tidak sampai mertuanya datang.


"Sayang, Kamu ngantuk ya? Kalo ngantuk tidur aja. Lagian Devan sama Davin lagi urusin sama suster." Kata Dara melihat suaminya yang berantakan tidak seperti biasanya.


"Gak kok beib, Aku kekantin bentar ya." Daniel pun pergi kekantin sudah pasti ia akan membeli segelas besar kopi hitam agar matanya bisa kembali segara.


El dan Luna pun sampai kerumah sakit dan langsung menuju kamar Dara.


"Pagi bundanya si kembar." Sapa Luna, Dara tersenyum hangat menyambut kedatangan Luna dan El. Luna langsung menghampiri Dara sedangkan El langsung menuju kedua bayi kembar itu.


"Morning handsome twins....."Sapa El, Wajahnya tersenyum manis melihat dua bayi Daniel yang baru selesai dimandikan itu.


"Liat tuh bang El, Keknya udah gak sabar deh pengen cepet-cepet ketemu anaknya." Ucap Dara, Luna tersenyum mendengarnya lalu menatap pria yang sedang bicara pada dua bayi kembar itu.


"Aku gak tau apa yang lagi dia sembunyikan, Yang jelas aku gak pengen liat dia sedih." Ucap Luna, Dara diam ia tau masalah yang sedang dihadapi El saat ini. Walaupun ia dan Luna bersahabat tapi ia tidak bisa langsung memberitahu Luna karena itu bukanlah haknya dan ia menjaga batasan itu.


"Apapun masalah yang dihadapi bang El saat ini, Kamu harus tetap yakin kalo bang El bener-bener mencintai kamu." Luna mengangguk mengerti maksud Dara.


"Oh iya Ra, Daniel dimana?" Tanya El yang tiba-tiba ingat pada Daniel.


"Daniel lagi dikantin bang, Mungkin lagi ngopi soalnya tadi malam dia begadang gendong si Devan hampir semalaman. Tau ayahnya rela begadang Devan jadi manja gak mau tidur ditempat tidurnya jadi semalaman Daniel gak tidur." Jelas Dara, El tertawa mendengar ucapan Dara. Dalam hatinya yang sedang kalut ia merasa sedikit terhibur entah dimana letak lucunya tapi mendengar Daniel seperti sedang dikerjai oleh Devan membuatnya senang.


"Ya udah abang kekantin ya nyusul Daniel." El lalu pamit untuk menyusul Daniel. Sesampainya di kantin El melihat Daniel sedang merebahkan kepalanya diatas meja dengan segelas kopi di hadapannya, El langsung menghampiri Daniel yang ternyata sedang tertidur itu.


"DOOOORRRR....." Kata El sambil menggebrak meja membuat Daniel bangun dengan gelagapan sontak El langsung tertawa melihat sahabatnya itu.


"Lo bangke banget sih El! Gue baru aja tidur dan lo dengan senengnya ngagetin gue!" Kata Daniel yang langsung kesal pada El.....


"Sstttt......Sorry-sorry." Katanya sambil menahan tawanya lalu duduk didepan Daniel.


"Kok mata lo kek kungfu panda? Penampilan lo sekarang ancur banget sumpah. Itu rambut juga pomade nya udah pada luntur ya?"


"Kampret mana pernah gue pake pomade! Ngapain lo kesini? Lo kabur lagi?"


"Gue......Kabur? Lo sadar gak lagi ngomong sama siapa? Emang pernah gue kabur huh?"


"Cih! Tadi malam aja lo sok kalem depan gue, Sok ngomong dramatis udah persis banget kek drama yang sering ditontonin Dara dan Luna. Pake acara nangis-nangis segala lagi." Sontak El langsung menyemburkan kopi milik Daniel yang baru saja ia minum tepat mengenai wajah Daniel.


"Lo yang bangke! Ngapain ngomongin itu lagi?" Protes El tidak terima dengan ucapan Daniel.


"Ya fakta kan?"


"Emang lo gak pernah gitu? Kemaren aja istri lo yang lahiran lo yang nangis."


"Ya kan wajar gue terharu. Lo juga entar gitu kalo Luna lahiran, Syukur-syukur kalo gak pingsan liat darah."


"Ah udah ah ngeselin aja sih pagi-pagi."


"Lo ngapain pagi-pagi kesini bukan nya ke kantor udah tau istri mau lahiran perlu biaya yang besar buat persalinan dirumah sakit mewah ini lo malah keluyuran."


"Sialan! Mau gue mutasi lo? Gue mau ke makam orangtua Luna. Karena tadi malam Luna cerita kalo si kembar udah keluar dari ruang inkubator makanya gue mampir kesini."


"Hari ini udah boleh pulang sama dokter. Anak-anak gue sehat, Cuma kasian sama Dara, Mau gerak aja butuh perjuangan extra karena luka operasinya."


"Lo carilah ART atau pengasuh buat si kembar. Gue untungnya udah ada bi Irah dirumah ditambah lagi entar bunda yang bisa-bisa pindah kerumah gue tau sendiri kan dia gimana."


"Gue juga maunya gitu, Tapi belom gue omongin sih sama Dara. Gimana masalah lo? Udah beres? Lo udah ngomong sama Luna?"


"Belum, Gue masih nyari waktu yang tepat."


"Bagus deh, Mending lo buruan ngomong langsung ke Luna daripada Luna denger dari orang lain." Saran Daniel, El mengangguk membenarkan ucapan Daniel. Mereka lalu kembali keruangan Dara.


"Kita berangkat sekarang yuk takutnya entar kesiangan." Ajak Luna saat El sampai disana, El mengangguk mereka berdua lalu pamit dan pergi ke makam kedua orangtua Luna.


***


Sesampainya disana mereka berdua segera turun, El tidak pernah melepaskan tangan Luna karena padatnya area pemakaman tentu akan sulit memilih jalan.


"Loh itu siapa yang berdiri di makam ayah dan bunda?" Kata Luna menunjuk kearah pria yang sedang berdiri tepat didepan makam kedua orangtua Luna.


El yang melihat pria itu langsung menghentikan langkahnya, Matanya terbuka lebar dan menatap dengan tajam. Luna terus berjalan namun El menahannya membuat Luna bingung.


"Kenapa bang?" Tanya Luna penasaran namu. El tidak menjawab hingga pria itu menoleh dan melihat kearah El dan Luna yang berdiri tidak jauh darinya.


Pria tersenyum lalu berjalan menghampiri Luna juga El, Membuat El makin murka.


"Kebetulan kita ketemu disini El." Ucap pria itu yang tidak lain adalah Bram Leondra. El hanya diam menatap tajam pada ayahnya seolah menegaskan cepat pergi dan jangan muncul lagi.


"Kamu Luna ya istrinya El?" tanya Bram pada Luna, Luna mengangguk pelan pada Bram. El kini yakin bahwa selama ini ayahnya itu mencari tau semua hal tentang Luna. El langsung menarik Luna membawanya kebelakang tubuh besarnya benar-benar membuat Luna bingung.


"El, Kenapa kamu gak kenalin papa kamu sama Luna?" Tambah pak Bram sambil tersenyum.


"Papa?" Kata Luna kaget, Karena selama ini yang ia tau pak Angga Wirayudha lah ayah El.


"Iya saya papa kandung El, Bram Leondra." Katanya mengulurkan tangan, Luna langsung ingin menyambut uluran tangan itu namun lebih dulu ditepis oleh El.


"Aku udah pernah bilang, Jangan pernah dekati keluargaku!" Kata El penuh penekanan membuat Luna melihat penuh tanya kearahnya.


"Papa cuma ingin menyapa. Oh iya Luna, Kebetulan saya dan orangtua kamu adalah teman lama, Saya kaget mendengar berita kematiannya. Walaupun terlambat saya turut berduka cita ya."


"I....Iya." Sahut Luna ragu apalagi ia tau saat ini suaminya sedang marah besar.


"Kalo kamu belum terbiasa kamu bisa panggil saya om. Oh iya, Udah berapa bulan usia kehamilan kamu? Dan apa jenis kelamin anak kalian?"


"Udah 8 bulan, Dan jenis kelaminnya-.......


"Cukup! Cepat pergi sekarang juga dan jangan pernah muncul lagi." Luna kaget saat mendengar El bicara seperti itu. Ia yakin El dan ayah kandungnya pasti memiliki hubungan yang tidak baik. Pak Bram tersenyum kearah Luna tanpa memperdulikan ucapan El.


"Ya begitulah El, Dari kecil dia sangat membenci om makanya dia lebih memilih untuk pergi dari rumah daripada harus tinggal dengan om dan mengganti nama belakangnya."


"Aku bilang cukup! Apa papa gak malu ketemu Luna? Karena papa mam......-" El langsung menghentikan ucapannya. Ia lupa dan hampir saja mengatakan hal itu didepan Luna membuat Luna penasaran.


"Kenapa? Kenapa kamu berhenti bicara?" Kata pak Bram mulai memancing emosi El.


"Ayo Lun, Gak ada habisnya kalo kita ngeladenin seorang penjahat seperti dia!"


"Abang, Om Bram ini orangtua abang sendiri. Walaupun kalian gak punya hubungan baik se'enggaknya jangan bicara gitu sama orangtua." Protes Luna menegur kesalahan suaminya. Namun El tidak perduli, Ia tetap menarik tangan Luna membawanya berjalan menjauh dari Bram.


"Bang, Abang kenapa sih? Kenapa abang berubah jadi orang yang kasar begini? Siapa sebenarnya abang? Aku bahkan gak kenal sama suamiku sendiri." Kata Luna membuat langkah El berhenti saat itu juga. Tangannya yang tadi memegang tangan Luna perlahan terlepas.


"Kenapa aku baru sadar saat ini? Aku bahkan gak tau siapa abang sebenarnya. Entah itu Yudhistira ataupun Leondra aku benar-benar gak tau. Jawab apa cuma aku orang yang gak tau siapa abang yang sebenarnya?" Tambah Luna, El perlahan menoleh menatap dalam kearah mata Luna.


"Aku Elang Edgar Wirayudha. Semenjak mamaku meninggal aku juga ikut mengubur nama Leondra." Jawab El tegas tidak ingin ada Leondra di namanya.


"Mungkin selama ini kamu masih berpikir jika kematian mama kamu itu disebabkan oleh papa, Itu wajar tapi kamu juga tau papa sudah menghabisi semua anggota keluarga pembunuh mama kamu."


"Papa tau kenapa aku gak mau jadi anak papa? Karena hati papa hati seorang pembunuh! Pikirkan lagi, Berapa banyak nyawa yang papa hilangkan? Aku heran kenapa papa bisa hidup dengan tenang." Ucap El dalam membuat suasana hening dikuburan bertambah menjadi hening. El mengulurkan kembali tangannya pada Luna dan melihat Luna.


"Aku El suami kamu." Ucap El menunggu tangan Luna meraih tangannya. Tanpa berpikir panjang Luna langsung meraih tangan suaminya itu lalu pergi ikut El menuju makam kedua orangtua Luna.


***


"Jadi semua yang dibilang Daniel itu bener? Kamu cuma manfaatin aku untuk bisa ngedeketin El dan keluarganya?" Teriak Rendy pada Clara saat ia tau yang sebenarnya.


"Mungkin ini sudah keterlaluan, Tapi begitulah kenyataannya. Aku gak nyangka kamu bisa tau secepat ini." Balas Clara santai tidak perduli.


"Heh, Wajar El menolak kamu dan lebih memilih Luna karena Luna wanita terhormat sedangkan kamu! Kamu hanya seorang wanita murahan yang rela melakukan segala hal untuk cinta. Bukankah itu sangat menjijikan?"


"PLAAAAKKKKKKK......"


Tangan Clara mendarat diwajah Rendy, Namun bukannya marah ia malah tersenyum pada Clara.


"Jaga baik-baik ucapan kamu!" Ucap Clara dengan suara parau hampir menangis.


"Heh......Clara-Clara. Aku kasian sama kamu, Seandainya aku tau sifat kamu dari awal aku juga gak akan mau berhubungan sama kamu. Dan satu lagi, Kalo kamu cuma manfaatin aku kamu gak perlu mengorbankan tubuh kamu untuk aku nikmati sekarang aku tanya dimana letak harga diri kamu sebagai perempuan?" Kata Rendy santai tidak peduli.


"Kamu lupa kalo ade kamu juga seorang yang murahan? Dia bahkan hamil diluar nikah dan kalian dengan sangat senang menyambut kelahiran anaknya padahal itu adalah anak haram." Rendy langsung mendekati Clara menatapnya tajam andai yang berdiri dihadapannya saat ini adalah seorang pria mungkin Rendy akan langsung mematahkan lehernya.


"Bahkan disandingkan dengan Dara yang hamil diluar nikah pun kamu gak pantas. Dara emang nakal tapi dia gak semurah kamu yang rela tubuhnya dinikmati pria lain hanya untuk mencapai tujuannya bukannya itu sama aja kek PE-LA-CUR!" Rendy langsung pergi meninggalkan Clara yang tidak terima dengan ucapannya. Clara meneriaki Rendy dengan semua sumpah serapahnya namun Rendy tidak perduli ia berjalan santai seolah tidak terjadi apa-apa.


Bersambung


***Terimakasih banyak untuk penikmat perfect husband yang baik hati dan selalu kasih dukungan buat author.


Jadi gini author mau jelasin sedikit tentang perfect husband yang waktu itu ada bilang konfliknya gitu2 aja ngebosenin, Atau terlalu biasa bgt story nya.


Kuy ngobrol yuk, Dibaca ampe abis ya sayang2 kuh.


Jadi cerita perfect husband ini bukan mengarah pada konflik. Konflik itu cuma sebagai bumbu tambahan biar gak bosen kan baca yang bahagiaaaaaa mulu gak ada konflik hidupnya.


Inti dari story ini adalah yg namanya jalanin pernikahan itu gak gampang sumpah author udah ngalamin sendiri. Gak melulu bahagia, Gak melulu seneng. Tapi disini sosok El sebissaaaaa mungkin selalu berusaha menjaga pernikahannya, Mau dia jungkir balik juga tetep gak akan goyah. yaaa pkox bgitulah kira-kira 🤣🤣🤣🤣.....


Next smg makin baik n memuaskan ya story ini.....


Jgn lupa vote nya 😘😘😘😘😘***