Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Pengganggu 1



"Ratu." Ucap Devan singkat.


"Bagus." Sahut Zes melipat kedua tangannya didepan dada. Setelah itu Zea menyelonong masuk kekamar Devan yang terlihat gelap. Ruangan itu hanya diterangi cahaya redup dari lampu tidur.


"Kamar kamu gelap banget sih. Nyalain lampu." Perintah Zea sekali lagi, dan kali ini pun sama, Devan tidak menghiraukan ucapan Zea yang saat ini terlihat seperti seorang boss besar.


"Ih nyalain, sportif dong sportif." Tambah Zea sadar jika ucapannya tidak dihiraukan oleh Devan. Mau tidak mau Devan menyalakan lampu kamarnya, dan kini kamar itu menjadi terang benderang menunjukan semua yang ada didalamnya.


"Nah gini kan enak, jangankan muka kamu. Nyamuk yang terbang aja keliatan." Gadis kecil itu terus menerus bicara sendirian. Tidak heran bagi Devan karena itu memang sudah menjadi bakat Zea yang paling menonjol.


"Eh black widow sama cat women lebih keren cat women tau." Celetuk Zea mengomentari idola Devan, bukan tanpa alasan gadis kecil itu berkomentar. Ia memang sengaja sedang memancing emosi lawan bicaranya. Dave sudah terlalu lama berdiam diri dan tidak mengajaknya bertengkar. Zea sangat merindukan saat-saat itu, saat ia dah Dave beradu mulut dan saling melempar ejekan. Bahkan terkadang Zea nekat memukul anak laki-laki itu tanpa sungkan karena ia tau bahwa Devan tidak akan membalasnya.


"Heh gak sopan ratu ngomong dicuekin! Mau ratu kasih hukuman hah?" Zea lalu mengeluarkan sebuah buku dan pulpen dari dalam ranselnya.


"Nyuekin ratu ngomong, hukumannya denda pakai cokelat yang banyak."


Setelah selesai menulis Zea menempel kertas berisi hukumannya tersebut di dinding bahkan ia tidak ragu menempelkannya tepat disamping poster black widow yang berukuran besar.


"Wow, berkat tulisanku black widow mu bercahaya. Tulisanku memang luar biasa." Katanya memuji diri sendiri.


"Kamu ngapain sih? Kalo gak ada yang penting mending pergi deh. Aku sibuk banyak kerjaan." Kata Dave yang akhir membuka mulut dan mengeluarkan suara, hal yang sangat ditunggu-tunggu sejak tadi oleh Zea.


"Eh....Eh kata siapa gak ada yang penting? Justru ini penting banget makanya aku aku belain datang." Zea lalu duduk dan meletakan tasnya diatas tempat tidur Devan lalu ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas membuat Devan memiringkan kepala saat melihatnya.


"Taraaaaaa....." Ada banyak aksesoris dan pernak-pernik black widow ditangan Zea saat ini. Gadis kecil itu mulai mengoleksi benda-benda tersebut dari bulan lalu.


"Ini semua buat kamu." Ucap Zea, Devan mengerutkan dahi. Entah apa yang membuat Zea sangat berniat mengumpulkan semua benda-benda tersebut. Dari miniatur, gantungan kunci, stiker dan masih banyak lagi macamnya. Bukan hal yang sulit bagi Zea untuk mengumpulkan benda-benda tersebut, karena sang ayah tentu menuruti apa saja yang di inginkan gadis kecil itu.


"Buat apa kamu ngumpulin semua ini?" Tanya Devan mulai melihat-lihat koleksi milik Zea.


"Buat kamu." Jawab Zea jujur tanpa basa-basi, hal itu membuat Devan kaget dan melepaskan barang-barang yang sedang ia pegang.


"Kenapa? Gak mau? Kalo gak mau aku kasih ke anak-anak dikelas aja." Ucap Zea memunguti barang-barang tersebut. Dengan cepat Devan meraih kembali benda-benda kesayangannya tersebut. Tentu ia tidak rela jika Zea memberikan semua itu pada orang lain.


"Ya udah sini." Kata Devan cuek membuat Zea tersenyum. Zea mendekati Devan lalu menyentuh dahi anak laki-laki tersebut membuat Devan kaget.


"Apa?" Tanya Devan heran.


"Gak apa-apa cuma meriksa aja. Kamu kenapa sih penakut banget jadi cowok?" Tanya Zea santai tanpa ia mengerti masalah yang kini sedang dihadapi Devan.


"Takut? Takut apa?" Tanya Devan lagi


"Takut minum obat. Ngaku kamu ini sebenarnya sakit kan? Tapi gak berani minum obat makanya gak sembuh-sembuh." Mendengar hal itu Devan diam, andai ada yang bisa merasakan perasaannya saat ini. Ia bahkan tidak ingin begini tapi saat ia mencoba acuh dan melupakan semua kejadian itu, semakin kuat juga bayangan itu muncul. Tersiksa batin, itu yang dirasakan oleh Devan saat ini.


"Siapa bilang aku sakit? Apa aku terlihat seperti orang yang sakit?" Tanya Devan berkilah. Zea langsung melihat kearah Devan sambil terus memperhatikan wajah Devan membuat Devan salah tingkah.


"Kamu ngapain sih?!" Protes Devan menyembunyikan malu.


"Aku liatin kamu, kamu itu kek orang sakit apa enggak. Iya sih, mana ada orang sakit begini." Sahut Zea sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu emang gak sakit tapi kamu berubah. Kamu bukan Devan yang biasa aku kenal. Devan yang usil, jahil, judes, pemarah, gak mau kalah, nyebelin. Pokoknya kamu beda. Dan aku gak suka Devan yang sekarang." Tambah Zea lagi sambil melipat kedua tangannya didepan dada.


"Udah gak ada yang penting lagi kan? Kalo gitu pulang sana." Usir Dave sambil melempar Zea dengan bantal berbentuk bola.


"Apaan sih? Aku masih mau disini kok. Kalo perlu aku nginep disini, tidur dikamar kamu dan kamu tidur dikamar aku."


"Hei!... Pulang sana, ngerepotin banget sih." Kata Devan, Dara dan Luna yang saat itu berjalan menuju kamar Devan mendengar percakapan kedua anak mereka dan tentu hal itu membuat Dara merasa sangat bahagia.


"Devan Lun, Devan mau becanda kek biasa lagi." Kata Dara, Luna pun ikut tersenyum bahagia.


"Zea, pulang yuk sayang. Udah sore, nanti ade Calla bangun." Ajak Luna tersenyum.


"Yach kok pulang sih Mom? Baru sebentar." Rengek Zea enggan diajak pulang.


"Pulang sana." Celetuk Devan memalingkan wajahnya.


"GAK MAU!" Ucap Zea berkacak pinggang membuat Dara tersenyum.


"Ya udah Zea nginep aja disini, udah lama juga Zea gak tidur disini." Ucap Dara memberi saran.


"Yeay nginep... " Sorak Zea yang senang, padahal ibunya belum memberi izin.


"Bunda apaan sih? Kenapa juga dia disuruh nginep. Gak asik ah." Protes Devan dengan wajah kesal.


"Kenapa? Kan bener kalo Zea udah lama gak nginep disini. Tapi Zea harus izin dulu sama Daddy dan Mommy." Kata Dara tersenyum bahagia melihat ada sedikit perubahan pada diri Devan saat Zea datang.


"Mommy....Boleh ya. Lagian besok kan hari minggu, gak sekolah." Rengek Zea menariki tangan Luna.


"Ummmm boleh gak ya? Tanya Daddy dulu deh." Sahut Luna tersenyum, dengan cepat ia meraih hp milik Luna yang sedang dipegang oleh Luna dan langsung menelepon El yang saat ini masih berada dikantor.


"Kenapa sayang?" Ucap El saat sambungan telepon terhubung.


"Ini bukan mommy, ini Zea." Sahut Zea langsung protes.


"Eh iya, kenapa tuan putri?" Kata El tersenyum.


"Daddy, Zea boleh ya nginep dirumah ayah. Kan besok hari minggu." Kata Zea berusaha membujuk El dengan semua keahliannya.


"Emang ada acara apa kok nginep segala?"


"Gak ada acara apa-apa, kan udah lama Zea gak nginep disini. Boleh ya Dad, please."


"Ummmm....Boleh gak ya? Tapi Zea harus janji sama Daddy. Gak boleh nakal atau ganggu bang Devan."


"YES, makasih ya Daddy. Daddy memang yang paling terbaik. Lagian ngapain juga Zea gangguin Devan, mending main sama bang Davin." Sahut gadis kecil itu membuat Davin mengerucutkan dahi. Padahal sejak tadi ia terus menerus mengganggu Devan.


"Daritadi juga ganggu banget." Celetuk Devan pelan memasang wajah bosan.


"Ya udah kasih dulu hpnya sama Mommy. Daddy mau ngomong."


"Nih mom, daddy mau ngomong." Kata Zea memberikan hp itu pada Luna.


"Bentar ya Ra." Ucap Luna, Luna lalu pergi ke taman untuk bicara dengan El.


"Gimana keadaan Devan?" Tanya El yang juga ikut khawatir.


"Zea selalu usilin dia, tapi Devan ngerespon itu. Walau sedikit dia udah mau ngomong kek biasa sama Zea."


"Ya udah kalo gitu biar aja dia nginep disana. Kamu bawa mobil sendiri atau dianter supir? Mau abang jemput?"


"Gak usah bang, aku bawa mobil sendiri kok."


"Ya udah kalo gitu hati-hati dijalan ya." Setelah sambungan telepon terputus, Luna langsung berpamitan pada Dara dan anak-anaknya untuk pulang kerumah.


Bersambung.....